Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 11 : U’r Life and My Life are Different (3)


__ADS_3

"Asta! Sebentar lagi kita mendarat."


"Gue tau!" jawab Asta ketus. Dengan malas Asta memasang sabuk pengamannya, tanpa melepaskan pandangannya dari jendela.


Asta dan kakeknya turun setelah pesawat pribadinya mendarat. Ah, ia paling malas ketika melihat para pengawalnya telah berbaris menyambutnya di bandara seperti saat ini.


Asta tak banyak bicara ketika melewati bandara dan masuk ke dalam mobil mewahnya. Ia bahkan bersikap 'cuek' saat orang-orang memerhatikannya.


Bodo amat! Asta memejamkan mata, mengabaikan pria paruh baya yang duduk di sampingnya.


Saat mobilnya telah terparkir di depan rumah, Asta buru-buru keluar. Ia menaiki tangga dengan cepat menuju kamarnya.


"Hei! Ini terakhir kalinya gue datang ke acara penting kayak tadi. Selebihnya lo harus perbaiki cara kerja lo. Lo yang harus urus semuanya. Lo ngerti kan?" Asta berhenti sejenak. Ia membalikkan tubuhnya.


Ditatapnya pria paruh baya yang terpaku di depan anak tangga. Asta memicingkan matanya menatap laki-laki yang sebenarnya adalah kakeknya sendiri itu. Diperhatikannya laki-laki itu. Rambut yang sudah mulai memutih. Wajah yang mulai terlihat lipatan-lipatan keriput di sana-sini. Baju jas yang tampak sedikit kebesaran. Warna jasnya bahkan sedikit memudar. Lalu sabuknya yang terlihat agak longgar. Asta menggelengkan kepalanya. Lalu ia menghembuskan napas.


"Dan perbaiki penampilan lo. Lo itu orang penting kan? Lo harus rawat diri lo sendiri. Dan banyak makan. Gue gak mau lihat lo sakit. Ngerti kan?" Asta melenggang lagi menaiki anak tangga.


"Iya saya mengerti."


Asta hanya melambaikan tangan mendengar jawaban singkat laki-laki itu.


● ● ●


Sebuah panggilan tiba-tiba masuk di ponselnya. Ia menatap layar ponsel yang memang sejak tadi digenggamnya. Suaminya yang baru saja keluar dari kamar pasien berjalan menghampirinya. Lalu laki-laki itu berdiri di hadapannya dengan tatapan teduhnya. Ia pun melempar senyuman tipis pada suaminya itu.


"Siapa?" tanya suaminya setengah berbisik sambil tersenyum.


"Sun," jawabnya pelan, nyaris berbisik.


Suaminya mengangguk-anggukkan kepala. "Angkat! Aku pergi dulu beli makanan yah?" Katanya lagi dengan lembut.

__ADS_1


"Iya," jawab sang istri sambil menekan tombol berwarna hijau.


Ia menempelkan ponselnya di telinga. Bersamaan dengan itu, suaminya pergi meninggalkannya, memberinya waktu untuk berbicara dengan seseorang di seberang sana.


"Sun?" Wanita itu berjalan menuju sebuah kursi dan duduk di sana. Ia masih menempelkan ponsel di telinganya.


"Gimana keadaannya? Maaf yah aku belum bisa pulang, padahal aku pengen peluk Mamah sekarang."


"Mamah mengerti kok. Selesaikan pekerjaanmu dengan baik di sana, yah?" jawab wanita yang masih duduk di kursi itu dengan lembut.


"Iya. Anak mamah yang paling tampan ini bekerja dengan baik di ibukota. Mamah belum lihat wajahku terpampang di televisi dan reklame iklan di mana-mana?" Terdengar suara tawa lelaki di seberang sana. Sun anaknya memang seorang artis papan atas di tanah air.


"Kamu ini!" Wanita itu tertawa pelan.


"Iya Mamah udah lihat. Iklanmu selalu berhasil membuat semua perempuan rebutan beli produk yang kamu iklankan."


Hening sejenak.


"Iya aku tahu Mah. Seharusnya Mamah dan Papah yang lebih menjaga kesehatan."


"Jadi gimana sama Riga?"


"Riga baik-baik saja Sun. Sekarang dia masih tidur. Lusa dia udah bisa pulang ke rumah. Dokter cuma minta supaya Riga gak berpikir terlalu keras tentang masalah ingatannya." Wanita itu menghela napas berat.


"Bilangin sama adik laki-lakiku itu. Berhenti bikin mamahnya khawatir! Kalo enggak, aku bakal balik ke Bandung dan mencakar wajahnya yang kayak es itu."


Wanita itu tertawa pelan lagi. Lalu keadaan hening sejenak. Tak ada suara dari keduanya.


"Apa mamah harus memberitahunya?" Tanya wanita itu tiba-tiba. Nadanya terlihat ragu-ragu.


"Mmh ... gak perlu."

__ADS_1


"Mamah tahu kan kalo dia terpukul banget dengan kondisi Riga saat ini. Sebaiknya kita simpen berita hari ini dari dia. Aku gak pengen ngelihat dia nangis kayak waktu itu."


"Mamah ngerti. Tapi mamah kangen. Udah beberapa bulan mamah gak ngelihat dia. Mamah pengen mastiin kalo kondisinya baik-baik aja. Belakangan ini Mamah merasa seperti dia bakal pergi jauh. Dia gak mungkin melakukan itu kan Sun?" Wanita itu menahan air matanya yang hampir menetes.


"Mamah tau kan, dia anak yang baik. Dia cuma lagi mulihin dirinya sendiri. Jadi buat sementara, kita biarin dia sendiri dulu."


"Mamah ngerti." Wanita itu mengelap air mata yang tak disadarinya telah terjatuh sejak tadi. Ia menganggukkan kepalanya pelan.


"Ya udah, kalau gitu aku tutup telponnya ya, Mah. Si Jono udah ngomel-ngomel soal kerjaan tuh."


"Iya. Salam buat Mr. Jhon dari Mamah yah."


"Iya, Mah. JONO!! Ada salam dari Mamah!"


Wanita itu tersenyum sambil menggeleng-ngelengkan kepala ketika anak sulungnya itu menutup telepon setelah mengucapkan salam.


● ● ●


Chia memarkirkan sepeda tua kesayangannya di halaman rumahnya. Ah ia berjalan santai memasuki rumahnya. Lampu-lampu yang mati dan pemandangan gelap dari dalam rumahnya sudah tak asing baginya.


Karena setiap hari ia selalu mendapati pemandangan seperti itu.


Chia berjalan sambil meraba-raba sekitarnya menuju ruang tamunya. Ketika ia sampai dan meyakini bahwa ia sedang berdiri di depan sebuah sofa berukuran sedang, Chia melemparkan tas ranselnya di atas sofa itu. Ia pun membanting tubuhnya di atasnya.


Sembari bersandar di sofanya, ditatapnya sekeliling. Ruangan yang begitu gelap. Tak ada cahaya yang tersisa di sana. Chia bahkan tak bisa melihat apa pun.


Namun, tak ada keinginan untuknya bangkit berdiri dan meraih stop kontak, yang tak terlalu jauh dari tempatnya duduk. Chia memang sengaja tak menyalakan lampu-lampu di setiap ruangan rumahnya. Ia sedang ingin membenamkan dirinya di antara kegelapan, tenggelam di sana.


Toh semuanya akan sama saja. Baik keadaan gelap ataupun terang, Chia akan tetap sendirian di dalam rumah itu. Tak akan ada yang menyambutnya atau sekedar melempar senyum ketika ia pulang.


● ● ●

__ADS_1


__ADS_2