Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 16 : Us and Tonight (2)


__ADS_3

Riga masih mencuci mukanya sejak sepuluh menit yang lalu. Pikirannya terasa kacau. Ia mengangkat wajahnya, lalu menatap bayangannya di cermin.


Sebuah kilasan tentang kejadian tadi masih terus terlintas di pikirannya. Riga menatap bayangannya sendiri dengan kesal. Bego! Apa yang barusan gue lakuin? Kenapa gue refleks nyium dia?


Riga menghela napas sambil menutup air kran di wastafelnya. Ia keluar dari kamar mandi dengan langkah panjang. Diraihnya sebuah ponsel yang tergeletak di samping kostumnya malam ini.


Ya, Riga memang belum berganti baju juga. Ia masih memakai seragam sekolahnya. Pikirannya kalut ketika tiba di rumah tadi. Ia bahkan lupa untuk berganti pakaian.


Riga menekan beberapa tombol lalu menempelkan ponsel itu di telinganya. Ia menelepon seseorang.


"Lo dimana? Sebutin alamat rumah lo!" ujarnya sambil meraih tuxedo putihnya dan berjalan meninggalkan kamarnya.


● ● ●


Siapa sih?


Dengan malas Mara membungkukkan badan dan meraih ponselnya yang sejak tadi dibiarkan begitu saja di lantai.


Gak mungkin Asta kan? Iseng banget tuh oran nelepon gue pake nomor yang gak dikenal. Masa iya dia ganti nomer buat ngerjain gue? Komentar Mara sambil terpaku menatap layar ponselnya.


"Halo," sapa gadis cantik itu setelah memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.


"Lo dimana? Sebutin alamat rumah lo!"


"Bentar, ini siapa?" Mara tampak berpikir. Kayaknya gue kenal suara ini. Mara terdiam sejenak. Gak mungkin!


"Riga?" tanya Mara berusaha memastikan si penelepon.


"Lo pikir siapa? Asta?"


Uh, Mara hampir jantungan saat tebakannya benar. Kenapa nih cowok nelpon gue? Mara mulai tersipu. Bisa dipastikan jantungnya hampir lepas dari tempatnya. "Darimana lo tau nomor gue?"


"Sebutin alamat lengkap rumah lo!"


"Lo mau ngapain nanya alamat rumah gue?"


"Lo belum punya pasangan buat ke pesta kan?"


Riga kok bisa tau sih ah! Gue jadi salting gini, duh! Mara terdiam sesaat. "S..si..siapa bilang? Punya kok."


"Siapa? Asta?"


"Enggak! Ogah gue sama Asta."


"Trus? Fachri? Atau Chika?"


"Kok lo tau gue deket sama Fachri atau Chika? Lo nyari tau tentang gue yah?" Oke! Sekarang Mara telah memuntahkan rasa penasarannya, dan hal itu membuatnya merutuki dirinya sendiri.


Lihat! Riga bahkan tak menjawab pertanyaannya barusan. Uh Mara makin menyesal telah mengajukan pertanyaan bodoh.


"Kok diem?" Mara mendengus.


"Lo gak punya pasangan kan? Sebutin alamat rumah lo. Atau lo mau gue cari tau sendiri?"


"Lo belum jawab pertanyaan gue."


"Kalo gue ngaku, gue emang cari tau tentang lo, lo mau sebutin alamat rumah lo?"


Deg! Jawaban Riga membuat Mara mematung. Ah, menyebalkan saat tubuhnya mulai bergetar tak karuan dan ia tak bisa mengontrol hal itu.


"Kok diem?"


"Y-ya udah deh, gue kirim via sms," sahut Mara gelagapan. Buru-buru ia mematikan teleponnya.

__ADS_1


Ia menekan beberapa tombol pada ponselnya. Lalu menekan tombol kirim setelah menulis pesan. Tak berapa lama, sebuah pesan singkat hinggap di layar ponselnya yang membuat Mara meloncat girang :


Ok gue ke sana.


● ● ●


Uh! Tuh curut bertiga berisik banget! Erang Asta saat mendengar suara ribut dari ruang tamunya.


Buru-buru Asta menutupi seluruh badannya dengan selimut, saat ia mendengar suara knop pintu diputar. Ah, ia benar-benar sebal pada ketiga sahabatnya yang saling bersahutan dengan suara keras untuk membangunkannya.


Bodo amatlah! Nyatanya Asta malas menanggapi ketiga temannya itu yang menyuruhnya untuk bersiap pergi ke festival sekolah malam ini. Siapa juga yang mau dateng ke acara itu? Asta tak menggubris saat ia mulai merasakan injakan pelan pada sekujur tubuhnya.


"Oh, nantangin, Dip!"


"Tumpahin aja tuh lumpur di kantong plastik ke kasurnya, Dim!"


Asta mendengus saat mendengar suara Damar yang mengiyakan perbuatan kedua temannya. Perbuatan yang Asta sendiri tak tahu. Tubuhnya yang telungkup membuatnya tak bisa melihat apa yang dilakukan ketiga temannya. Asta hanya bisa merasakan basah yang mulai menjalar dari selimutnya.


Tuh orang beneran lemparin lumpur? Asta bangun dan langsung mengamati kasurnya yang basah, namun tak ada tanda-tanda noda lumpur di atas kasurnya.


Sialan! Gue dikerjain! Asta melotot ke arah Dipa, Dimas dan Damar yang berdiri berjajar di pinggur kasur sambil menertawainya.


Asta mendengus dan berbaring sambil bersembunyi dibalik selimutnya lagi.


"Yaelah, malah tidur lagi! Cepet bangun woi!"


"Buruan ganti baju lo!"


Asta menatap tajam pada Dipa dan Dimas yang menarik selimutnya barusan. Ia mendecakkan lidah sebelum berbaring dan merebut kembali selimutnya.


"Ganggu aja lo semua! Kalo lo semua mau pergi ke pesta itu, pergi aja. Gue males! Gue gak suka pesta! Mending gue tidur!" Asta nyaris membentak.


"Oke! Lo tau mood gue lagi jelek? Gue mau bikin rusuh di sana tanpa terkecuali."


"Oh iya jelas, Mar! Kalo lo Dip?"


"Gue mah setuju aja! Gue udah punya dendam kesumat sama tuh cewek."


"Ya udah! Ayo cabut, Dip! Mar!"


Terserah lo bertiga deh mau bikin rusuh acara sekolah. Tapi, awas aja lo bertiga kalo gangguin cewek gue!


Asta memejamkan matanya saat mendengar bantingan suara pintunya yang ditutup. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Asta mendecakkan lidah sambil bangkit berdiri.


"Sialan! Awas lo semua!" umpatnya sambil turun dari kasur. Lalu bergegas berganti pakaian.


Dengan gerakan super cepat, Asta telah mengenakan setelan tuxedo-nya. Ia mengambil sebuah topeng lalu segera membuka pintu kamarnya.


Ia terdiam di depan pintu ketika mendengar suara siulan. Ah, rupanya Dipa masih ada di depan kamarnya, bersandar dengan santai di samping pintu kamarnya.


Dipa melempar senyuman jahilnya sambil berkata dengan santai, "Gimana?"


Asta menatap temannya itu dengan kesal. Tiba-tiba ia menendang kaki Dipa dengan cepat sebelum berjalan melewati laki-laki itu.


"Gue ikut!"


Dipa tertawa. Asta menatapnya dengan sinis.


● ● ●


Mara tampak terkesima melihat sekolahnya yang disulap sedemikian rupa. Wajah semringahnya jelas tak bisa ditutupinya. Pohon-pohon di kanan-kirinya berhiaskan lampu berwarna-warni yang indah. Lampion-lampion cantik berwarna putih yang dikaitkan pada seutas tali dan dipasang di langit-langit di seluruh area sekolah membuat Mara takjub.


"Itu! Keren banget! Gue gak nyangka ada tempat khusus buat pameran topeng punya Pak Kepsek," seru Mara ketika keduanya berdiri di sebuah area terbuka bernuansa putih.

__ADS_1


"Lukisan tentang Pak Kepala Sekolah bagus banget. Hitam-putih, tapi menarik. Menunjukkan kewibawaannya dengan sangat baik," komentar Mara ketika melihat sebuah lukisan berukuran besar terpampang di antara jajaran topeng-topeng di kejauhan.


"Coba lo lihat lebih deket," ujar laki-laki yang berdiri tak jauh darinya sambil tersenyum.


Mara mengangkat salah satu alisnya. Ia berjalan mendekati lukisan yang tadi dilihatnya. Mara begitu takjub ketika melihatnya dari dekat. Lukisan itu rupanya terbuat dari topeng juga. Topeng-topeng yang diatur sedemikian rupa dari yang berwarna putih hingga yang paling gelap membentuk wajah Pak Kepala Sekolah.


"Keren banget!" serunya takjub. "Kalo lo gak ngasih tau, gue pasti bakal beranggapan ini cuma lukisan cat minyak biasa."


Mara tertawa renyah. Matanya masih berlayar ke segala arah. Memandangi setiap topeng yang beragam jenisnya terpampang pada sebuah bingkai lukisan.


"Lo cantik," ujar Riga tiba-tiba seraya menghentikan tawa Mara.


Mara berbalik badan lalu menatap Riga. Gue gak salah dengerkan? Barusan Riga muji gue kan? Pipi Mara merona merah. Sementara laki-laki di hadapannya justru tertawa pelan, membuat Mara semakin ingin menyembunyikan wajahnya yang merah itu.


"Lo cantik malam ini," Riga memperjelas ucapannya.


Mara menundukkan kepalanya. Siapa yang gak seneng dipuji sama orang yang disuka?


"Thanks. Gue pikir lo bakal bilang gue aneh karena perubahan drastis gue." Mara tertawa getir. "Jalan lagi yuk!"


Riga hanya mengangguk kecil sambil berjalan di samping Mara.


Mara menoleh saat Riga tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Kenapa?"


Laki-laki itu tak menjawab.


"Kenapa?" tanya Mara lagi.


"Gue mau siap-siap," jelas Riga sambil menunjukkan tuxedo putihnya.


Mara tersenyum. "Ya udah. Ganti baju dulu gih."


Riga tak segera beranjak. Laki-laki itu mematung sambil menatap Mara.


"Gue bukan anak kecil kali. Gue gak apa-apa. Lagian gue pake topeng. Gak akan ada yang kenal gue. Gue bisa jalan sepuasnya di sana."


Mara berkata lagi, seolah ia mengerti apa yang sedang dipikirkan lelaki itu sambil menunjuk ke arah lapang.


"Tunggu gue di lantai dansa. Gue bakal ke sana."


Mara terdiam, lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Gue tunggu lo di sana."


● ● ●


Riga membuka pintu dengan pelan. Berpuluh-puluh pasang mata di dalam ruangan, langsung terfokus padanya yang berdiri dengan tenang di depan pintu.


"Sorry gue telat," ujar Riga dengan nada datar khasnya.


"Lo datang sendirian? Chia mana? Dia kan panitia juga," tanya Sani tanpa berbasa-basi. Gadis itu memang salah satu anggota panitia. Termasuk anggota klub lainnya juga, yang ditunjuk Riga secara langsung.


Riga tak menjawab pertanyaan gadis itu. Ia justru mengalihkan pandangannya dan menatap Adit yang berdiri paling belakang. Adit sendiri membalas tatapan Riga dengan seribu makna.


"Dia bukan pasangan pesta gue. Dan kenapa gue harus pergi sama dia?" jawab Riga santai tanpa melepaskan tatapan dinginnya dari Adit, dan membuat seluruh penghuni ruangan ikut memandangi sahabat Riga itu.


"Gue pergi!" ujar Riga lagi seraya berbalik badan.


"Lo mau kemana? Lo udah telat dan sekarang mau pergi gitu aja?" Sani ketus.


"Acara penyambutan sebentar lagi harus dimulai," tambah Gian yang berdiri di dekat pintu, tepat di sebelah Sani. Ia menatap penuh harap agar Riga tak pergi lagi kemana pun. Ia lelah sejak tadi harus mencari laki-laki itu.


"Mau ganti baju!" jawab Riga sambil berlalu pergi begitu saja.


● ● ●

__ADS_1


__ADS_2