
Brukk!
Suara sesuatu yang jatuh di kakinya, membuat Mara perlahan membuka mata. Dia sadar jika yang jatuh tadi adalah Tirta, karena mulut Mara tiba-tiba saja terbebas.
"Ngapain lo diem di situ kayak orang bodoh?"
Dahi Mara berkerut. Netranya fokus menatap seseorang yang berdiri di kegelapan. Namun, tanpa perlu Mara pastikan, dia sudah tahu siapa orang itu.
"Malah diem. Buruan! Mau pulang gak? Sebelum dia sadar lagi," ajak orang itu sambil mengulurkan tangan.
Mara yang terlalu lama meraih tangan itu karena masih gemetar, membuat seseorang di depannya menjadi tak sabar dan merasa gemas sendiri. Orang itu menarik paksa tangan Mara agar mengikutinya menuju sebuah motor yang di parkir tidak jauh dari tempat itu.
"Pake nih helmnya!" ucap orang itu sambil menyodorkan sebuah helm berwarna pink. Helm yang Mara sadari adalah helm kesayangannya sendiri.
"Kenapa lo bisa tau gue ada di sini, Fachri?"
Fachri--orang yang menolong Mara barusan--berdecak kesal. "Lama lo! Kalo mau wawancara, nanti di rumah aja!" dengusnya sambil memakaikan helm pada Mara. "Cepetan naik!"
Mara mengangguk. Lalu duduk di boncengan sambil melingkarkan tangan dengan erat. Juga membenamkan kepalanya di bahu lelaki itu. Fachri tidak menolak. Tidak merasa keberatan. Dia malah membetulkan posisi tangan Mara agar lebih erat memeluknya.
"Lo gak keberatan 'kan, kalo gue gak anterin lo ke rumah?" tanya Fachri dengan pelan, memastikan persetujuan Mara sebelum melajukan motornya.
Mara mengangguk lemah. "Gue ikut, kemana pun lo pergi," lirih Mara dengan bahu yang mulai bergetar naik-turun.
∆ ∆ ∆
"Minum dulu, Non. Biar anget badannya," ujar Bi Narti sambil memberikan secangkir wedang jahe pada Mara. Lalu memberikan cangkir lainnya pada Fachri.
Bi Narti adalah salah satu pembantu di keluarga Fachri. Sejak Mara kecil, perempuan yang selalu menggulung rambutnya itu telah mengabdikan diri untuk menjaga villa bersama suaminya, Mang Agus. Iya, saat ini Mara dan Fachri berada di villa milik keluarga lelaki itu yang ada di Lembang.
Saat duduk di bangku SD, Mara dan Fachri biasa menghabiskan liburan sekolah di sana dengan sanak saudara. Namun, mulai sejak SMP, Fachri dan Mara lebih sering ke tempat itu berdua saja secara diam-diam. Saat Fachri kena omelan dan tak ingin pulang, saat keduanya tak sengaja bolos sekolah, saat keduanya sedang lelah dalam menghadapi masalah, Mara dan Fachri akan datang ke villa bersama. Untuk berbagi penat. Untuk saling mendukung.
Villa keluarga Fachri memang asri. Sekelilingnya ditanami berbagai macam bunga. Keadaan di sana sejuk. Sehingga membuat pikiran menjadi tenang. Yang menjadi favorit Mara adalah main ayunan di bawah pohon coklat setelah memanjat pohon itu untuk mengambil buahnya. Mara dan Fachri sangat suka memakan buah coklat.
"Oya, Non Mara. Kamar di atas sudah saya rapikan. Sudah bisa dipakai untuk Non Mara istirahat. Pasti Non Mara lelah," ujar Bi Narti lagi ketika Mara masih menyesap wedangnya secara perlahan.
"Iya, Bi. Makasih yah. Lagi-lagi Fachri ngerepotin Bi Narti. Maaf udah ganggu jam tidur, karena kita datang jam segini." Fachri menjawab setelah melihat Mara hanya diam saja dengan pandangan kosong. "Kamar Fachri yang di bawah, udah disiapin juga 'kan Bi?"
__ADS_1
"Udah Den. Silakan kalo Aden mau istirahat."
"Makasih, Bi."
"Ada yang bisa Bibi bantu lagi?" tanya Bi Narti dengan senyuman merekah di wajahnya.
"Enggak, Bi. Makasih ya. Bibi istirahat lagi aja."
"Kalo gitu saya pamit ke belakang dulu ya, Den," ucap Bi Narti sambil bangkit berdiri. Dia beralih menatap Mara yang bekum berkutik. "Non Mara, kalau ada apa-apa, panggil Bibi aja yah?"
Mara tidak menyahut. Dia masih tenggelam dengan pikirannya. Fachri memberi isyarat pada Bi Narti kalau Mara akan ditanganinya sendiri. Bi Narti yang paham lalu pergi dan menghilang di pintu dapur. Setelah Bi Narti tak terlihat, barulah Mara angkat bicara.
"Kenapa lo bisa tau gue ada di sana?" tanya Mara tanpa memandang ke arah Fachri. Kepalanya tertunduk. Mengamati wedang jahenya yang tinggal separuh di dalam cangkir. "Lo ... gak ngikutin gue 'kan?"
"Gue ngikutin lo. Dari semenjak lo mulai gak bawa mobil beberapa hari lalu, dan lo lebih milih diantar jemput sama cowok brengsek itu. Bahkan saat lo ada di bar."
Deg!
Mendengar jawaban dari Fachri, hati Mara dilema sendiri. Haruskah dia merasa senang karena Fachri mengikutinya seperti itu, dan membuat Mara tertolong dari jeratan Tirta. Atau, haruskah dia merasa sial, bahwa sahabat terbaiknya itu telah menemukan sisi lain seorang Mara.
Duk! Mara menaruh cangkir di tangannya yang telah kosong itu di atas meja. Matanya membalas tatapan Fachri. Mata yang tengah berkaca-kaca itu melihat Fachri dengan tajam. Selama sepersekian detik, keduanya saling diam. Saling tatap. Saling bergumul dengan pikiran masing-masing.
Sampai pada akhirnya, Mara lah yang memutuskan tatapan. Dia berdiri. "Istirahat sana! Omongan lo udah mulai ngaco!"
"Jangan kabur dan terus-menerus menghindar Mar. Pada akhirnya ... lo harus hadapi kenyataan."
Perkataan Fachri barusan mampu melumpuhkan sendi-sendi Mara. Langkahnya terhenti sebelum dirinya berjalan mendekati tangga. Melihat Mara yang seperti itu, Fachri bangkit berdiri. Dia berdiam di depan Mara. Menghadang gadis itu untuk tidak pergi ke mana-mana.
"Gue kangen Mara yang dulu." Fachri mengulurkan tangan. Mengelus puncak kepala perempuan di depannya itu dengan lembut dan sayang. "Gue kangen Mara yang ceria. Mara yang suka ngomel sendiri. Mara yang tomboy tapi suka banget sama pink. Mara yang berubah jadi anak kecil ketika berhadapan dengan es krim. Mara yang gak jago-jago meski udah sering gue latih main basket di belakang rumah. Mara yang kuat. Mara yang gak pernah kapok manjat pohon coklat. Gue kangen Mara yang seperti itu."
Perlahan, air mata Mara lolos dari pelupuk mata. Air mata yang entah sejak kapan telah mengering. Air mata yang selama ini dipagari oleh dinding tebal agar tak bisa meloloskan diri. Namun ... kini mengalir sempurna di pipinya hanya karena mendengar ucapan dari Fachri.
"Tau apa lo tentang gue?" tanya Mara lirih. Tubuhnya masih kaku untuk digerakkan.
"Gue tau, Mar. Gue tau lo berubah. Lo jadi sering ke klub malam. Lo sering minum. Lo sering gonta-ganti cowok. Lo mempermainkan perasaan cowok. Lo menjauh dari keluarga lo. Lo dingin sama orang tua lo. Lo jutek sama adik-adik lo. Yang pasti, lo menghindari gue."
"Apapun yang terjadi sama gue, itu bukan urusan lo!" seru Mara di depan wajah Fachri.
__ADS_1
"Ada, Mar! Lo sahabat gue! Gue gak akan ngebiarin lo jadi kayak gini hanya karena seorang Asta! Apapun yang terjadi antara lo sama dia, lo gak bisa jadi sefrustrasi ini, Mar. Lo gak perlu berubah ... "
"Terlambat!" potong Mara. "Lo terlambat Fachri. Lo terlambat! Mara yang sekarang gak akan bisa kembali menjadi yang dulu."
"Bisa, Mar!" yakin Fachri sambil memegang bahu Mara dengan erat. "Gue bakal bantu lo."
"Yang gue butuhin itu dulu. Kemana lo kemaren-kemaren saat gue butuh lo? Kemana lo di saat gue butuh lo sebagai pegangan? Kemana lo saat gue ketakutan sendirian?" Air mata Mara semakin mengalir deras. Dia memandang Fachri dengan nanar.
"Pada kenyataannya, lo gak ada di sana. Lo gak ada di saat gue butuh lo. Lo gak ada ketika gue terjatuh sendirian. Lo gak ada di samping gue," lanjut Mara sambil terisak.
Rasa sesak, rasa pilu, rasa sedih, kecewa, marah, tiba-tiba menyelusup kembali di dadanya. Mara kebingungan. Sudah terlalu lama Mara tidak merasakan emosi menggebu-gebu seperti itu. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menyegel kembalk segala rasa agar tak berusaha naik ke permukaaan.
Satu hal yang Mara tahu. Dinding pertahanan Mara telah hancur. Mara ... kalah. Mara lelah. Pada dirinya sendiri. Pada seluruh perasaannya yang sudah lama dia tekan agar mati.
Fachri memeluk tubuh Mara dengan erat. Merengkuh tubuh ringkih yang nyaris ambruk itu. Dadanya sesak. Ikut merasakan nyeri di hatinya. Bagaimana pun juga, dia punya andil yang membuat Mara seperti sekarang. Bahwa, Fachri belum menjadi sahabat yang baik bagi perempuan itu. Bahwa, Fachri masih terlalu egois dengan dirinya sendiri.
"Maafin gue, Mar. Maafin gue," lirih Fachri yang justru membuat tangisan Mara semakin mengeras. "Gue janji gak akan pernah ninggalin lo lagi. Gue janji bakal selalu ada di samping lo. Gue janji akan selalu ada buat lo. Mendukung lo. Memberikan bahu di saat lo butuh. Semuanya. Apapun bakal gue lakuin. Tapi, please. Lupain Asta. Lupain apapun yang membuat lo seperti ini. Raih tangan gue. Gue bakal bantu lo. Gue bakal narik lo lagi. Gue yakin, Mara yang dulu bisa kembali. Percaya sama gue."
Mara tersenyum tipis di balik punggung Fachri. Tidak mengangguk. Tidak menggeleng. Tidak berkata iya, ataupun tidak. Pada dasarnya, melupakan Asta adalah masalah yang membuat Mara seperti sekarang ini. Andai melupakan semudah menuliskan kata-kata itu dalam bentuk tulisan, Mara tidak akan merasa seterpuruk sekarang.
Pada kenyataannya, Asta selalu menjadi bayang-bayang Mara selama ini. Dalam tidur, dalam mimpi, dalam kenyataan. Entah pagi, siang, sore dan malam, sosok Asta dalam bentuk semu itu terus terlihat di mana pun Mara berada. Sosok itu terus mengikuti Mara ke manapun dia pergi. Sosok itu selalu tersenyum dan membuat Mara terluka sendiri pada akhirnya.
Lalu, bagaimana cara Mara menghapus bayangan Asta, sedang sekarang pun, di dalam hatinya Mara terus menjeritkan nama itu. Nama yang selalu dicintainya, yang bahkan masih menempati ruang khusus yang tak tergantikan.
Semesta Udaraja, nyatanya, sesulit itu memang untuk melupakanmu.
∆ ∆ ∆
Yuhuu~ bonus nih untuk kalian yang setia baca Unbeatable. Semoga dapet feelnya yah.. 🤧🤧
ditulisnya sambil mewek ini aku 😫😫
apalagi sambil dengerin lagunya Younha yang ost. School 2015 dengan judul Pray.
uh ~ aku tak berhenti berderai. 😅😅
Yo wes, tunggu lanjutannya besok. Semoga aku bisa kasih bonus lagi dengan up 2 chapter. Aamiin. ❤️❤️❤️
__ADS_1