Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 17 : Us and The Mask Festival (3)


__ADS_3

"Jadi kapan lo bakal mulai, Ren?"


Rei menyesap cappucino-nya sambil menatap keluar jendela. Memandangi kembang api di kejauhan. Mengabaikan seorang gadis yang duduk di hadapannya.


Renata tak menjawab. Gadis itu tampak termenung sambil menatap laki-laki yang bertanya padanya. Renata pun tersenyum tipis ketika Rei menoleh dan menatap ke arahnya.


"Lo nunggu apa lagi?" Rei menatap Renata dengan mata yang berkilat.


"Waktu!" jawab Renata cepat.


"Gue nunggu waktu yang tepat buat ngejalanin semua rencana gue," sambung gadis itu.


Waktu? Rei mencibir perkataan gadis bergaun putih di dalam hatinya. Ia tak habis pikir. Ia sudah terlalu lama menunggu. Enam bulan bukan waktu yang sebentar untuknya melakukan penantian. Namun, hingga hari terakhir di kelas duanya, Renata masih belum bergerak juga. Jika saja Rei bersekolah di sekolah yang sama, mungkin ia sudah bertindak sendiri. Ia tak perlu repot-repot bekerja sama dengan gadis di hadapannya itu.


"Kapan pun lo mulai, Chia bukan cewek yang gampang diusir gitu aja dari sekolah. Lo tau dengan sikap dingin dan cueknya, gue yakin cewek itu..."


"Rei!" Renata menghentikan perkataan Rei. Matanya menyipit, menatap tajam pada kedua bola mata laki-laki di hadapannya.


"Terkadang gue berpikir, sedeket apa lo sama cewek itu? Lo yakin lo gak deket sama Chia? Tapi kayaknya lo kenal baik sama dia."


Rei menatap Renata lurus-lurus. Ia menarik garis tipis di sudut bibirnya. Ia mencoba terlihat tenang. Ia tak ingin Renata menaruh kecurigaan padanya sekarang. Ia belum siap menjelaskan apa pun. Tidak. Ia tak akan menjelaskan apa pun hingga dendamnya terbalaskan.


"Cewek itu terkenal di kalangan cewek-cewek kali. Dan kenapa gue bisa tau, karena Agnes selalu cerita tentang cewek itu." Rei berkata dengan tenang.


Hatinya tersenyum ketika Renata telah merubah tatapannya. Gadis itu terlihat tenang kembali. Ia berhasil menutupinya dengan mudahnya dari gadis berambut bergelombang itu.


"Lo tenang aja, Ren. Gue gak mungkin ngebohongin lo. Yang perlu lo khawatirin adalah gimana caranya lo balas dendam sama Riga dan Chia."


"Riga?" Renata mengalihkan pandangannya. Ia menatap jendela yang berada tepat di samping kanannya. Suasana yang gelap di luar restoran favoritnya itu, membuat Renata bisa melihat bayangannya sendiri yang terpantul samar di kaca jendela.


"Soal Riga, gue serahin sama lo aja. Karena menurut gue, Riga udah cukup menderita dengan hilang ingatannya. Dan gue gak tertarik ngusik orang yang lagi amnesia."


"Gak tertarik? Gue rasa lo kasihan sama dia. Atau mungkin, lo mulai suka sama Riga?" Rei memicingkan matanya.

__ADS_1


"Mungkin."


Gadis itu melirik coklat panasnya yang masih tersisa setengah lagi di dalam cangkir berwarna putih. Ia lalu meraih cangkir itu, lalu memegangnya dengan kedua tangan. Berharap kehangatan dari dalam cangkir itu menjalar ke telapak tangannya yang kedinginan sejak tadi.


"Gue pasti bakal bikin mereka pisah selamanya. Gue bakal bikin Riga membenci Chia secara perlahan. Gue bakal bikin pasangan itu kehilangan satu sama lain. Dan saat ingatan Riga balik lagi, semuanya udah terlambat. Riga gak akan pernah bisa balikan lagi sama Chia."


"Gue harap rencana lo berhasil Ren!" Rei menatapnya serius.


Renata tersenyum sambil mengalihkan pandangan.


"Lo tenang aja. Gue pasti bakal bikin mereka ngerasain gimana rasanya jadi gue. Ngerasain gimana rasanya kehilangan seseorang yang berharga. Seperti perasaan sakit saat gue harus kehilangan adik gue." Renata bicara pada dirinya sendiri, tepat pada bayangannya di dalam kaca.


● ● ●


Satu hari sebelum festival topeng.


"Udah lah, Bro! Lo kalah taruhan sama kita-kita!"


"BRENGSEK LO!" Fachri memelototi Asta sebelum mendaratkan tinjunya tepat di wajah lelaki itu.


Sekali. Dua kali. Berkali-kali Fachri meninju lelaki yang bahkan tak melakukan perlawanan padanya. Namun, tindakannya itu terhenti saat Dipa, Dimas dan Damar mencengkeram tangan dan tubuhnya.


"BRENGSEK LO, ASTA!!" Fachri meronta berusaha melepaskan diri dari penjagaan ketiga sahabat Asta. "BANCI LO!"


"DIEM LO! Mau gue pukul biar mulut lo diem, hah?!" Dipa melotot ke arahnya sambil menekan pergelangan tangan Fachri, hingga Fachri merintih pelan karenanya.


"Lo cowok pengecut yang ngejadiin Mara cuma taruhan lo, hah?!" Fachri menatap tajam pada Asta yang sedang mengelap darahnya.


"Taruhan?" Asta bertanya dengan nada datar. Ia terdiam sejenak lalu tiba-tiba tersenyum tipis.


"Lo bener! Cewek itu cuma taruhan buat gue!" Mata Asta tersenyum ke arah Fachri. Hal itu tentu saja membuat sahabat Mara itu semakin geram.


Fachri memberontak. Dilepaskannya tangannya dari cengkeraman Dipa dan Dimas sekuat tenaga. Ia berlari ke arah lelaki yang berdiri beberapa meter di depannya. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Dihantamnya Asta dengan seluruh tenaganya hingga lelaki itu jatuh tersungkur di tanah.

__ADS_1


Tindakan Fachri terhenti lagi saat ia akan meluncurkan tendangan pada Asta yang tak melawan sedikit pun. Uh, Fachri kesal saat tubuhnya dijaga lima orang sekaligus. Matanya membulat saat melihat Asta bangkit berdiri dan menatap tajam ke arahnya.


"Ini udah kedua kalinya lo datang tiba-tiba, dan mukulin gue kayak gini." Asta berkata dengan santai meski tatapan matanya berkata lain.


"Lo inget waktu pertama kali, lo berakhir kayak gimana?" lanjutnya. "Mungkin sekarang bakal lebih!"


Fachri terdiam. Ia masih meronta, berusaha membebaskan dirinya dari penjagaan kaki tangan Asta. Matanya menajam ketika Asta berjalan mendekatinya.


Lelaki itu tiba-tiba melepaskan jas sekolahnya. Ia melempar jasnya begitu saja ke tanah. Sorot matanya begitu dingin menatap Fachri, meski tangannya masih bergerak melepaskan beberapa kaitan kancing di kemejanya sendiri.


"Lawan gue! Satu lawan satu!" bisik Asta tepat di wajah Fachri. Laki-laki itu tersenyum simpul memandanginya.


Dengan satu gerakan dari kepala Asta, tubuhnya pun terlepas dari cengkeraman anak buah Asta.


Fachri menyeringai. Tanpa basa-basi ia memukul lelaki di hadapannya. Namun kali ini ia gagal. Fachri justru mendapat pukulan bertubi-tubi dari cucu kepala sekolahnya itu tanpa sempat melawan.


Fachri dikalahkan dengan mudah. Ia terkulai lemas di tanah. Mulutnya mengeluarkan banyak darah. Seluruh tubuhnya terasa ngilu luar biasa. Kesadarannya pun nyaris hilang.


Dari balik matanya yang setengah terpejam dan hampir berubah menjadi kebiruan, ia melihat sepatu milik Asta mendekatinya. Sambil mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal, ia menatap Asta yang telah berjongkok tepat di depan wajahnya.


"Gue udah bilang sama lo buat gak ikut campur urusan gue." Asta berkata dengan datar.


Laki-laki itu terdiam sejenak. Fachri bisa merasakan bahwa Asta sedang mengamati tubuhnya yang dipenuhi luka memar. Sungguh tak adil memang. Karena Asta sendiri hanya mendapat beberapa luka kecil di lengannya dan di ujung bibirnya.


"Seandainya lo gak nolak ajakan gue buat gabung di kelas S waktu dulu, mungkin sekarang kita berteman." Asta masih berkata dan perkataannya itu hanya ditanggapi dengan desisan kecil yang keluar dari mulut Fachri.


Asta tersenyum tipis. Dari penglihatan Fachri, laki-laki itu bangkit berdiri. Samar-samar Fachri masih bisa mendengar suara laki-laki itu ketika mulai beranjak pergi meninggalkannya.


"Jangan salahin gue kalo lo harus pergi dari sekolah..."


Sebelum Fachri mendengar seluruh perkataan yang diungkapkan Asta, matanya telah terpejam. Kesadarannya menghilang. Ia jatuh pingsan.


● ● ●

__ADS_1


__ADS_2