
Uh, Chia mulai kehilangan fokus pada buku yang sedang dibacanya. Sudah lima menit ia melihat Sani mondar-mandir di hadapannya, berjalan mengelilingi ruangan mencari sesuatu.
Tiba-tiba mata Chia terhenti pada bukunya ketika mendengar suara pintu ruang klub sastra terbuka. Keadaan semakin hening dengan berhentinya suara sepatu Sani.
Ah, Chia mulai tak menyukai keadaan hening seperti itu. Bahkan suara orang berjalan cepat ke arahnya terdengar sangat jelas sekali.
"Lo tau apa yang gue pikirin?"
Ah, suara itu pasti milik Riga, lelaki yang dijumpainya saat di pancuran tadi. Chia malas menatapnya. Ia malas melihat bola mata coklat yang selalu
menatapnya dingin itu.
"Sebanyak apa pun gue berpikir, cewek berhati dingin kayak lo gak mungkin jadi pacar gue." Riga melanjutkan perkataannya tanpa menunggu jawaban Chia.
"Gue gak tahu apa yang lo lakuin sampe semua orang ikut nganggap kita itu pacaran ...."
"Riga!" bentak Sani.
Chia tampak tertegun sejenak. Ia menutup buku yang dibacanya lalu mendongakkan kepala, menatap datar laki-laki yang berdiri di hadapannya.
"Lo bener," jawab Chia santai sembari merapikan buku-buku di atas meja. Ia bangkit berdiri tanpa melepaskan pandangannya dari Riga.
"Karena lo ada di sini, gue serahin Sani sama lo!" Chia menggeser kursi dengan kakinya. Ia berjalan keluar tanpa menoleh ke arah Sani ataupun Riga sedikit pun.
● ● ●
"Seharusnya lo berbaring biar darah lo berhenti. Bukan mondar-mandir kayak tadi," ucap Riga sembari memberi kapas pada gadis yang masih menutupi hidungnya dengan tangan.
Sani menerima kapas dari Riga dan mulai mengelap darahnya yang tercecer sejak tadi.
"Gue gak apa-apa kok. Bentar lagi juga berhenti. Gue udah biasa mimisan." Sani menjawab dengan ketus.
"Apa lo serius sahabatan sama cewek itu?"
"Hah?"
"Dia cewek dingin. Seharusnya lo bisa milih siapa yang bakal jadi sahabat lo. Sahabat yang bener-bener peduli sama lo ...."
"Riga!" Lagi-lagi Sani membentaknya. "Lo tau gue sekarang lagi marah sama lo?"
Riga mengendikan bahunya, tak terlalu peduli.
__ADS_1
"Lo tau apa yang lucu? Chia tuh takut darah, dia bisa pingsan meski lihat darah sedikit pun. Dan lucunya, gue taunya dari lo!" Sani menekan setiap kata yang diucapkannya. "Gue heran! Otak lo tuh jenius! Tapi lo gak bisa milih mana yang harus lo ucapin atau engga!"
"Terserah lo deh!" Riga menjawab datar. Ah, ia paling tak suka beradu mulut, apalagi dengan seorang perempuan.
"Lo berubah drastis Riga!" Bentak gadis itu.
"Emangnya gimana Riga di masa lalu?" Tatapan Riga mulai menyorotkan kemarahan, membuat gadis di hadapannya terkejut.
"Dia nyebelin! Dingin! Seenaknya sendiri! Meskipun jujur, tapi kata-kata lo kasar, gak peduli apakah orang itu bakal sakit hati atau engga!"
"Terus apa bedanya sama gue yang sekarang, hah?" Riga membentak Sani. Ia hilang kendali.
"Beda! Jauh banget! Lo yang sekarang diliputin sama rasa benci! Benci yang gak beralasan! Gak kayak dulu! Lo suka tersenyum. Meski ga selalu lo tunjukin di depan banyak orang, tapi lo masih bisa tersenyum. Sorot mata lo selalu penuh cinta. Gak kayak sekarang. Cuma ada kebencian di mata lo. Riga yang dulu bahkan bisa ngendaliin emosinya dan gak pernah bentak orang kayak gini!"
"Lo gak akan pernah tau gimana rasanya jadi gue. Karena lo gak pernah hilang ingatan, Sani." Riga setengah berbisik dengan setiap kata yang penuh penekanan.
"Tadinya gue berharap lo bisa balik kayak dulu. Tapi itu sebelum kejadian ini! Sekarang terserah lo mau gimana! Satu hal, kalo lo emang gak suka sama Chia, putusin dia! Gue gak mau lihat dia nangis cuma karena cowok brengsek kayak lo!"
Deg! Jantung Riga berdebar tak karuan. Ia bangkit berdiri. Ia hampir kehilangan kendalinya lagi. Ia berjalan keluar meninggalkan gadis itu dengan cepat.
● ● ●
● ● ●
Suara itu. Ya Riga mendengarnya. Suara yang selalu muncul di dalam mimpinya. Suara tangisan lirih seorang gadis.
Menyebalkan! Lagi-lagi ia ditarik ke dalam kegelapan yang pekat. Riga tak bisa melihat dan menyentuh apa pun. Berjalan pun tak tentu arah.
Saat Riga menyerah dan tak ingin berjalan lagi, sebuah titik cahaya muncul di hadapannya. Begitu kecilnya hingga membuat cahaya itu terlihat samar. Buru-buru Riga mengikuti cahaya itu. Tergopoh-gopoh untuk sampai di ujungnya.
Tiba-tiba sekelebat cahaya itu membesar. Menyilaukan matanya. Lalu dalam hitungan detik, cahayanya kembali seperti semula. Meredup dan tampak samar-samar lagi.
Riga menatap sekeliling. Cih taman ini lagi! Riga mengedarkan pandangannya, dan benar saja seorang gadis sedang duduk di atas ayunan sambil menangis seperti yang sering dilihatnya.
Deg! Perasaan itu lagi. Riga mulai menitikkan air matanya sambil menatap lekat-lekat gadis itu. Siapa sebenernya cewek itu?
Riga terpaku. Tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit, berdenyut dan rasanya sakit luar biasa. Rasa sakit yang tak tertahankan. Riga menjerit. Tubuhnya tersungkur di tanah. Kegelapan mulai memenuhinya lagi. Membuat rasa sakit di kepalanya semakin terasa.
Riga membuka matanya. Ia terbangun dari mimpinya. Napasnya tersengal-sengal. Kepalanya berdenyut. Selain kegelapan dan gadis di ayunan itu, tampaknya rasa sakit di kepala Riga lah satu-satunya yang nyata. Riga mengerang. Menjerit kesakitan. Ia berguling-guling di kasurnya untuk menekan rasa sakit di kepalanya. Ia pun terjatuh ke lantai.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Kamar yang semula gelap, mendadak bercahaya kembali. Seseorang yang tadi membuka pintu, tampaknya telah menyalakan lampu.
__ADS_1
"Riga!!!" Jerit seorang wanita yang lebih tua dari Riga.
"Ada apa Mah?" Suara berat seorang pria menyahuti jeritan wanita itu.
"Telepon ambulan Pah!" Wanita itu mulai menangis tersedu-sedu.
● ● ●
Mara membuka pintu rumahnya. Tampaknya ia begitu terkejut mendapati pintu rumahnya yang tidak terkunci. Sedangkan lampu-lampu di rumahnya tak ada satupun yang menyala. Rumahnya itu tampak begitu hening dan sepi.
Ke mana lagi nih orang-orang? Gue ditinggal sendirian lagi nih ceritanya? Mara mendengus. Ia berjalan sambil meraba-raba dinding, mencari stop kontak ruang tamunya.
"Kejutaaaaan!!!"
Mara tersenyum sambil mengerutkan dahinya menatap setiap orang yang memakai topi pesta berdiri berjajar di ruang tamunya.
"Ada apa?" Mara menarik kursi dan duduk dibalik meja makan.
"Gak ada yang ulang tahun kan hari ini? Kok pake topi pesta segala? Makanan juga banyak nih di atas meja. Ada kue bolu juga plus lilinnya. Ngerayain ulang tahun siapa?" heran Mara.
"Ini bukan ngerayain ulang tahun Kak!" Alfa tersenyum.
"Terus?" Mara menatap adik laki-lakinya itu.
"Hari ini kita ngerayain kemenangan Alya di lomba cerdas cermat tempo hari. Adik kamu juara satu loh," jelas wanita yang duduk di samping Mara sambil tersenyum. Wanita yang sudah pasti adalah ibunya sendiri.
Mara mengangguk sambil tersenyum.
"Selamat yah Alya!"
"Ayo cepet makan! Perut Alya udah kelaparan nih!" Alya mulai mengelus-elus perutnya.
"Kamu nih!" seru Mara, "yuk makan!"
Baru saja Mara selesai bicara, tiba-tiba saja perutnya berbunyi dengan keras. Membuat seluruh keluarganya menatap heran ke arahnya.
"Jadi? Siapa nih yang lapar? Alya atau Kak Mara?" goda Alfa sambil terkekeh.
Wajah Mara bersemu merah menatap keluarganya yang sedang tertawa.
● ● ●
__ADS_1