
Asta baru saja sampai di restoran tempatnya bekerja setelah mengantarkan pesanan pelanggan. Dia memarkirkan motor tapi tidak segera turun. Pikirannya terganggu pada perempuan yang dijumpainya tadi. Perempuan berambut panjang sebahu dengan aksesoris serba pink. Perempuan yang sangat dirindukannya sejak lama. Sekaligus perempuan yang ingin dihindari untuk selamanya. Bahkan kalau bisa, Asta tak ingin bertemu dengannya lagi.
Namun nyatanya, takdir berkata lain. Sekeras apa pun Asta menghindar, pada akhirnya dia tetap dipertemukan dengan perempuan itu. Kadang takdir memang selucu itu. Asta tersenyum getir. Dia juga tak bisa memungkiri, bahwa ada rasa bahagia ketika melihat perempuan itu baik-baik saja. Perempuan yang sangat dicintainya hingga detik ini. Perempuan yang masih tetap mengisi relung hatinya. Perempuan yang namanya tetap abadi. Naigisa Amaranth.
"Ndra, ada yang nyariin lo," ujar seorang pelayan yang tiba-tiba menghampiri Asta lewat pintu belakang.
"Siapa?" Asta bertanya balik setelah melepas helm dan turun dari motor.
"Gak tau gue. Kayaknya dia orang kaya deh. Setelannya berjas gitu."
Mendengar penjelasan Dian--si pelayan--membuat kening Asta mengerut. Lelaki itu segera masuk ke restoran lewat pintu depan. Matanya berlayar mencari sosok yang dijelaskan Dian barusan. Asta segera maju mendekati satu-satunya orang yang memakai jas saat itu.
"Kenapa? Lo kangen gue karena hari ini gue belum neror lo?" ujar Asta dengan senyuman di sorot matanya.
"Duduk," perintah orang yang berjas itu.
Asta berdecak malas, tapi tetap mengikuti perintahnya. Dia melemparkan tatapan dingin pada Jun yang duduk di seberang meja.
"Langsung ke intinya. Gue gak mau basa-basi. Tolong jangan libatin Chia dalam masalah lo. Lo udah janji sama gue." Jun berkata dengan tegas.
Sementara Asta justru tampak santai dengan duduk bertumpang satu kaki. "Gue gak pernah melanggar janji."
Jun mengepalkan kedua tangannya. Sorot tajamnya menelisik ke dalam bola mata milik Asta. Dia tidak bisa mempercayai perkataan pemuda itu begitu saja. "Lo bakal terima konsekuensinya kalau sampai lo bohong," ucap Jun pada akhirnya dengan penuh penekanan.
Asta menganggukkan kepala. Bahunya bergetar tiba-tiba. Pria yang berumur sepuluh tahun lebih tua dari Asta itu ternyata sangat lucu. Asta jadi semakin ingin menggodanya. "Kalau melibatkan Chia ternyata bisa buat lo membantu gue, maka ... akan gue lakukan. Asalkan tujuan gue tercapai, apa pun bakal gue lakuin."
"LO GILA HAH?" seru Jun tak terima. Hampir saja dia melayangkan kepalan tinju pada lelaki di depannya itu. Sialnya, kepalan itu justru beralih pada meja hingga menarik perhatian seluruh orang di dalam restoran.
__ADS_1
"Lo gak bisa manfaatin orang lain demi mencapai tujuan lo. Apalagi taruhannya adalah nyawa," tambah Jun dengan suara pelan penuh penekanan, setelah dia mulai merasa tenang kembali.
"Lalu ... gimana caranya supaya lo mau bantuin gue, Jun? Sementara, satu-satunya orang yang bisa gue mintai tolong saat ini cuma lo." tanya Asta.
Kali ini tatapan Asta tidak lagi menyorotkan tantangan seperti tadi. Yang terlihat sekarang adalah sorot penuh luka dan putus asa di matanya.
Melihat ekspresi Asta yang seperti itu, Jun pun terdiam. Sejujurnya dia sangat paham dengan perasaan lelaki itu. Namun, permintaan Asta sangatlah tidak masuk akal. "Permintaan lo terlalu berat, Ndra. Gak masuk akal."
"Gak masuk akal gimana?" Asta tak terima.
"Menyelidiki seseorang yang berpengaruh di negeri ini gak mudah, Ndra. Apalagi lo minta gue untuk cari bukti kesalahannya? Gue gak sekuat yang lo bayangkan."
"Tapi lo mampu." Asta merubah posisi duduknya. Dia menegakkan punggung lalu menaruh ke dua tangannya di atas meja. "Gue hanya minta lo cari informasi seperti yang gue minta. Sisanya, biar gue yang lakuin sendiri."
Jun menggeleng. "Apa yang bakal lo lakuin setelah dapat informasi? Balas dendam? Itu gak akan menyelesaikan masalah apa pun."
Beruntung Asta selamat meski wajahnya rusak parah akibat terbakar saat itu. Juga dia harus kehilangan satu kakinya karena berusaha meloloskan diri dari maut. Kini, meski dia telah melakukan operasi wajah dan berjalan dengan kaki palsu, juga diberi identitas baru oleh Jun, Asta tetap merasa tak bisa tinggal diam.
Dia tidak bisa membiarkan harta ayahnya yang dirampas oleh orang-orang tak bertanggung jawab itu disalahgunakan. Sudah cukup Asta melihat banyak orang menerima akibat penyalahgunaan itu. Sudah cukup Asta melihat orang-orang di sekitarnya menderita. Sudah cukup dia melihat hidup kakeknya dan Renata menjadi tak layak. Jadi, bagaimana Andra bisa memilih diam dan mengabaikan hal itu begitu saja? Tidak! Dia tidak bisa.
"Ndra, sebaiknya lo menyerah aja. Bukannya lebih baik lo kembali sama orang-orang tercinta lo, dan memulai hidup baru dengan mereka sebagai Baruna Andromeda. Sebagai Andra," ujar Jun mencoba membujuk Asta.
Asta menggeleng. "Itu nanti ... akan gue pikirkan, tapi, setelah tujuan gue tercapai."
Jun mengusap wajahnya dengan kasar. Dia frustrasi sendiri. Entah ke berapa kalinya dia mencoba membujuk dan meyakinkan lelaki bernama asli Semesta Udaraja ini untuk memilih mundur. Namun, usahanya selalu gagal, gagal, dan gagal. Nyatanya, Asta tetap berpegang teguh terhadap pendiriannya. Astaga!
Asta berdiri dengan tatapan dingin menusuk. "Sampai lo berkata iya, gue bakal terus datang dan mengganggu lo, Jun."
__ADS_1
"Gue bakal menolak terus."
Asta menepuk bahu pelan sambil mengangguk. "Gue permisi dulu. Gue harus kerja lagi." Setelahnya, Asta meninggalkan Jun sendirian duduk di kursi restoran tempat lelaki itu bekerja.
∆ ∆ ∆
Riga menyipitkan kedua matanya. Memandang sebal pada ponsel yang digenggam di tangan.
"Gimana? Sun udah bisa dihubungin?" tanya seorang wanita paruh baya dengan dandanan modis.
Riga menggeleng lemah pada ibunya. "Belum, Ma. Nomor Kak Sun masih gak aktif."
Wanita yang dipanggil 'mama' oleh Riga itu seraya membuka tirai jendela kamar anaknya yang berada di lantai dua. Wanita itu menengok ke luar jendela. Beberapa wartawan dan awak media yang cukup keras kepala, masih bersikukuh menunggu di depan rumah mewah yang ditempati Riga.
Selalu seperti ini. Setiap kali awak media berkumpul di depan rumah hingga berhari-hari, selama itu pula Sun mendadak hilang tanpa kabar. Nomor ponselnya pun sengaja tidak diaktifkan. Lalu, begitu berita gosip telah mereda, barulah lelaki itu pulang sambil menyunggingkan senyum. Tanpa merasa bersalah sedikit pun. Tak tahu bahwa wanita di samping Riga itu sangat frustrasi menunggu kabar dari anak sulungnya.
"Biasanya Kak Sun pergi kemana, Ma?" tanya Riga yang mulai jengah mendengar keluhan ibunya yang hampir diucapkan setiap hari.
"Bilangnya sih menginap di rumah temennya. Cuman Mama gak pernah tau alamat rumah temennya itu."
Astaga! Riga menghela napas pelan. Kalau tak ada petunjuk begini, bagaimana Riga bisa menyusul dan menjemput kakaknya itu pulang ke rumah? Riga mengedsrkan pandangan lalu mengambil jaketnya dan kunci motor.
"Mau kemana?" tanya ibunya.
"Cari informasi keberadaan Kak Sun."
∆ ∆ ∆
__ADS_1
segini dulu yah. ❤️❤️