
"Dasar psikopat gila! Dia beneran gak ngangkat telpon gue?"
Mara mendecakkan lidah sambil meremas ponselnya. Ah, ia sudah sangat lelah menunggu. Setengah jam bukan waktu yang sebentar untuk menunggu lelaki menyebalkan itu.
Mara keluar dari dalam mobil sambil menggenggam tas jinjingnya, lalu menyalakan ponselnya untuk memberi penerangan. Dengan ragu ia mulai berjalan memasuki hutan.
"Asta! Dimana lo? Raja curut! Keluar lo! Raja kingkong! Sini lo! Hoi! Asta!"
Mara memerhatikan sekitarnya. Ah, benar-benar gelap. Menyebalkan! Ia merutuki keputusannya memasuki hutan itu. Awas aja kalo lo ketemu! Gue acak-acak muka lo!
Mara melambatkan langkahnya. Matanya memerhatikan cahaya dari ponselnya yang semakin meredup. Bahkan cahayanya hilang tepat saat Mara menghentikan langkahnya.
"Yah beneran lowbat deh!" keluhnya.
Mara termenung sambil berusaha melihat sekelilingnya yang tampak gelap itu. Ini buruk! Komentarnya sambil mulai berjalan kembali. Ia mulai merasa kedinginan saat tubuhnya semakin jauh memasuki hutan itu. Mencari jalan kembali rasanya percuma, ia sendiri bahkan tak tahu ke mana arahnya berjalan.
Tiba-tiba sekelebat cahaya kecil menghampirinya. Mara mengamati benda kecil yang terbang di depan wajahnya sejenak. Kunang-kunang? Mara terperangah. Diam-diam ia mengikuti hewan yang mulai jarang dijumpainya di perkotaan itu.
Ada lagi! Pekiknya senang saat cahaya lain menghampirinya. Ah, tidak! Bukan hanya satu, lebih dari itu. Banyak sekali kunang-kunang beterbangan di sekitarnya. Mara tersenyum.
● ● ●
Lama!
Setengah jam lebih Asta berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada sebuah batang pohon. Tiba-tiba ia melihat seorang gadis yang dikelilingi kunang-kunang berlari menuju pagar pembatas.
Akhirnya datang juga! Asta hampir menyerah. Tadinya ia akan kembali saja jika gadis itu tak datang juga. Asta tersenyum mengamati tingkah Mara yang terperangah saat melihat kelopak bunga sakura jatuh di wajahnya. Rencananya berhasil. Cukup sulit juga menemukan tempat kesukaan gadis itu. Namun semuanya tak sia-sia.
"Lama banget lo nyampenya!" ujar Asta saat ia telah berdiri di belakang gadis itu.
Tanpa menunggu jawaban Mara, Asta melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi di sampingnya. Dengan tenang ia duduk di sana. Dari ujung matanya, Asta melihat gadis itu berjalan menghampirinya dan langsung duduk di sebelahnya.
"Eh Raja monyet!" Mara mulai protes.
"Lo tuh ke mana aja sih? Tega banget lo ninggalin gue sendiri di dalem mobil! Kalo gue sampe dimakan hewan buas gi ...."
"Ssst!" Asta mengatupkan mulut Mara dengan tangan kanannya. Membuat gadis itu tak menyelesaikan ocehannya.
"Lo pikir berapa lama gue nungguin lo di sini?" ujar Asta dengan santai.
Mara tak menjawab. Ia menepis tangan Asta dari wajahnya sambil merengut.
"Sorry!" Gadis itu menundukkan kepala.
Asta tersenyum sesaat. Namun, ia kembali berekspresi datar, saat ia melihat gadis itu kembali mengangkat wajahnya.
"Lagian siapa yang nyuruh lo nungguin gue di sini? Gue kan mau pulang!" protesnya.
Asta tak menjawab. Ia membiarkan keadaan hening di sekitarnya cukup lama.
"Asta! Sebenernya ini dimana?"
__ADS_1
Asta melirik sebentar gadis yang duduk di sebelahnya itu.
"Ini taman sakura," jelas Asta singkat. "Karena sekarang udah malem, pohon sakuranya gak kelihatan."
"Taman sakura? Jadi ini bukan hutan?" Mara tampak histeris. Ia terlihat senang.
"Gue baru denger nama tempat ini. Kok gue gak tau ada tempat bagus banget kayak gini?" sambung gadis itu.
Asta hanya tersenyum tipis.
"Thanks udah ngajakin gue ke tempat sebagus ini!" Mara tersenyum lebar.
Lagi-lagi Asta malas menjawab. Ia hanya berdeham pelan membalas ucapan gadis itu.
"Maaf!"
Asta mengernyitkan alisnya.
"Maaf gue gak tau kalo lo ulang tahun hari ini. Gue bahkan gak nyiapin kado apa-apa buat lo. Sorry!" sambung Mara lagi.
Asta tersenyum tipis. Darimana dia tahu gue ulang tahun hari ini?
"Gue denger, lo ngadain pesta ulang tahun lo sekarang. Tapi kenapa lo ada disini? Lo kabur?"
Asta tertegun. Ah, ia benar-benar tak menyangka Mara mengetahui pestanya juga. Pasti kerjaan Renata! Asta tahu sepupunya itu sangat membenci gadis itu, dan Asta tahu betul siasat Renata untuk membuatnya bertengkar dengan Mara, gadis yang saat ini duduk di sebelahnya.
"Mmh," gumam Asta pelan. "Gue bosen!"
Asta menghela napas sejenak. "Gue gak suka pesta."
"Gue lebih suka ngerayain ulang tahun sama orang yang gue suka," sambungnya lagi.
"Oooh."
Asta hanya diam saja melihat ekspresi polos Mara. Dasar bego! Umpatnya ketika melihat gadis itu belum sadar juga dengan ucapan Asta barusan.
"Terus, kenapa lo di sini? Kenapa lo gak pergi dan ngerayain ulang tahun sama orang yang lo suka?"
Asta menatap Mara lekat-lekat, lalu memalingkan wajahnya. "Karena dia bego!"
"Hah? Ya bisa aja kan orang itu gak tau kalo lo suka? Coba lo temuin dia dan kasih tau kalo lo suka sama dia. Jadi kan lo bisa ngerayain ulang tahun lo bareng dia. Iya gak?"
Asta mulai geram. Ia menatap tajam gadis di sebelahnya itu.
"Apa lo gak bisa diem?"
Mara segera mengatupkan bibirnya. Asta kembali memusatkan perhatiannya pada lampu-lampu rumah di kejauhan. Ia tak tahu rasanya sangat canggung diam berdua dengan gadis itu. Ia bahkan tak tahu harus berkata apalagi untuk mencairkan suasana.
"Selamat ulang tahun!"
Asta terperangah. Baru saja ia berharap Mara mengatakan sesuatu agar keadaan tak sehening itu. Asta menoleh. Ia mendapati sebuah kotak berwarna merah muda yang diulurkan gadis itu kepadanya. Asta tersenyum samar.
__ADS_1
"Nih buat lo! Jangan berharap banyak. Soalnya isinya cuma coklat. Gue gak tahu lo bakal suka atau engga," sambung Mara.
Asta masih terkejut. Ah, rasanya ia sangat senang. Ini pertama kalinya ia mendapat ucapan dan hadiah dari gadis itu.
"Tadinya gue mau ngasih ini besok. Tapi karena sekarang kita udah ketemu. Jadi gue kasih sekarang, tepat di hari ulang tahun lo."
Asta mengambil kotak itu, lalu memandangi wajah yang sedang menatap polos ke arahnya.
"Lo gak perlu nyiapin apa-apa atau ngasih kado buat gue," ujar Asta datar. Ia memerhatikan kotak berwarna merah muda yang sudah jatuh ke tangannya.
"Kenapa?"
"Lo ada di sini aja, itu adalah kado paling istimewa buat gue," jawab Asta datar.
"Bentar!" Mara tampak berpikir.
Asta tersenyum ketika wajah gadis itu berubah bersemu merah. Akhirnya lo sadar juga! Melihat ekspresinya yang malu-malu itu, Asta malah semakin ingin menggodanya.
"Yah gue terima deh hadiah lo ini." Asta berpura-pura menghela napas.
"Kenapa? Kok gitu ekspresinya?" Gadis itu cemberut.
"Hadiah lo sih belum ada apa-apanya sama hadiah gue." Asta tersenyum jahil.
"Maksud lo?"
Asta memainkan jari-jarinya pada ponselnya, memberi kode pada Dipa, Dimas dan Damar yang telah menyulut kembang api di tempat yang telah direncanakannya.
Asta tersenyum melihat gadis itu terperanjat senang melihat kejutan yang telah dipersiapkannya sejak kemarin.
"Gimana? Lebih bagus kan?" Asta berjalan menghampiri Mara yang telah berdiri di dekat pagar pembatas. Ia lalu berdiri di sebelahnya.
"Kereeen!!!" Mara berteriak kencang, tak mau kalah dengan suara letupan kembang api di atas sana.
"Jauh lebih bagus malah! Bagus bangeeet! Makasih," tambahnya.
Syukur deh! Tadinya ia pikir gadis itu tak akan menyukainya, tapi justru gadis itu terlihat bahagia. Seenggaknya ini bisa gantiin permohonan maaf gue.
"Sebentar!" Mara menatap Asta penuh tanya. "Kok gue yang dikasih kado semenakjubkan ini? Kan lo yang lagi ulang tahun sekarang?"
Asta terkejut. Ia tersenyum lalu tertawa renyah. "Karena gue udah dapetin apa yang gue mau," jawabnya dengan santai.
Mara menganggukkan kepalanya dengan polos. Ah, Asta hanya bisa pasrah ketika gadis itu tak menyadari kode-kode yang telah dikatakannya.
"Kalo gitu, ayo make a wish!"
"Hah?"
"Kenapa? Setiap ulang tahun kan lo harus niup lilin sambil buat harapan lo ke depannya. Anggap aja kembang api itu pengganti lilin lo. Oke?"
Asta tertawa. Tanpa banyak bicara ia mengikuti permintaan Mara. Ia segera menutup matanya sebentar. Lalu membukanya lagi. Ia meniupkan napasnya ke langit. Tepat ke arah kembang api di atas sana. Seolah-olah tiupan napasnya akan sampai pada kembang api itu.
__ADS_1
● ● ●