
Riga memarkirkan mobilnya di sebuah toko kue. Sebelum berangkat mengantar bekal untuk kakaknya, ibu Riga berpesan untuk membawakan kue di toko langganannya. Maka, Riga berada di sana sekarang.
Riga menutup pintu mobil setelah turun. Dia berjalan sambil sesekali mengamati kue-kue yang dipajang di toko itu. Coklat dan wangi khasnya, membuat Riga teringat seseorang. Riga tersenyum tipis. Dia tidak mengira, mendatangi toko kue justru membuat rasa rindunya makin menyesakkan dada.
Mata Riga terpana pada sebuah kue coklat yang bertaburan buah strawberry. Kue cantik itu terlihat menggugah selera. Riga hampir saja membeli kue itu kalau saja tidak ada yang mendahuluinya.
Ya, seorang perempuan berambut gelombang, dengan setelan biasa namun rapi, baru saja membeli kue itu. Perempuan yang berdiri di depan sambil memunggunginya itu kemudian menoleh ke belakang. Dia terlihat sedang buru-buru.
"Renata?" sapa Riga begitu tatapan mereka tanpa sengaja saling beradu.
Yang disapa melebarkan pupil matanya. "Riga? Utaraka Meteoriga?"
Riga mengangguk. Rupanya dia tidak salah mengenali orang. "Lo apa kabar?" tanya Riga dengan memberi sedikit senyuman.
Renata menyambut pertanyaan Riga dengan antusias. Rasanya bertemu dengan kawan lama, membuatnya terharu dan merasa senang. Seolah kenangan di masa putih abu-abu terangkat ke permukaan lagi. Ya ... meski sejujurnya dia tidak punya terlalu banyak kenangan baik dengan Riga.
"Gue baik," jawab Renata sambil tersenyum. "Lo gimana? Lo udah lama balik ke Indonesia?"
"Baru dua hari yang lalu."
Renata mengangguk mengerti. Perhatian Renata teralih pada pelayan toko yang memberikan bungkusan plastik padanya. Renata mengintip ke dalam bungkusan itu. Sepertinya dia sedang memastikan jika dus di dalam bungkusan itu sudah diletakkan dengan benar.
"Lo beli kue itu buat siapa?" Entah kenapa Riga hari ini memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Sejujurnya, dari lubuk hati yang paling dalam, Riga masih menginginkan kue itu.
"Oh, ini buat kakek gue. Dia ulang tahun hari ini." Jawaban Renata membuat Riga mengangguk dan mencelos secara bersamaan.
"Pak Dan ulang tahun?"
Kali ini Renata yang mengangguk sambil nyengir. "Keinget dulu ya? Dulu lo selalu pusing mikirin acara buat ulang tahun kakek gue waktu masih menjabat sebagai ketua OSIS."
__ADS_1
Riga mengulum senyum. "Salam ya, buat Pak Kepala Sekolah. Salam juga buat Asta. Maafin. Gue belum sempet ngunjungin kalian. Gue pikir kalian masih tinggal di Bandung."
Itu adalah kalimat terpanjang yang baru saja diucapkan Riga selama dua hari tinggal di Indonesia lagi. Kalimat panjang yang membuat Renata menjadi gagu seketika. Perempuan itu menatap Riga dengan nanar.
"Riga ...," Renata menelan salivanya. Rasanya seluruh kata tiba-tiba hilang dan tak bisa diutarakan. "... Lo, belum denger berita itu? Berita yang sempet heboh tiga tahun yang lalu?"
Riga menggeleng. Rasa penasaran jelas tercetak di wajah datarnya itu.
"Jadi, lo belum denger kabar soal Asta?"
"Emangnya Asta kenapa, Ren?"
Renata tidak menjawab. Bibirnya bergetar. Air mata terkumpul di pelupuk matanya. Mungkin nyaris terjatuh, kalau saja konsentrasi gadis itu tidak dibuyarkan oleh suara pelayan toko yang memanggil nama Riga. "Lo ke sini mau beli kue 'kan? Ambil dulu gih."
"Sebenernya, gue cuma disuruh nyokap buat ngambil kue pesanannya," jawab Riga tanpa beranjak sesenti pun dari tempatnya berdiri. "Tapi sebelum itu, gue minta lo janji bakal ceritain soal Asta setelah gue ambil pesanan gue."
"Janji?" tanya Riga. Manik matanya memandang lurus dengan ekspresi yang tak terjelaskan.
Lagi-lagi Renata terpaku. Ditatap Riga seserius dan sedalam itu, membuat dirinya tak bisa berkutik. Dia benar-benar membuat dirinya sendiri terjebak dalam situasi yang tidak diinginkan. Yaitu, membicarakan soal Asta.
∆ ∆ ∆
Sejak dirinya melewati pagar rumah, alis Mara terus saja mengerut dan saling bertaut. Baru hari ini, tidak, tepatnya malam ini rumah Mara terasa ramai kembali. Bahkan gelak tawa yang sejak tadi bersahut-sahutan hingga terdengar sampai keluar, membuat perempuan berusia 26 tahun itu penasaran.
Bukan. Bukan rasa penasaran yang membuatnya seperti ingin bergabung. Justru rasa penasaran yang membuat Mara merasa sangat terganggu, dan ingin mengusir secepatnya si pembuat onar. Meski sejujurnya, Mara sudah bisa menebak siapa pelaku dari keonaran tersebut.
Mara melewati ruang tamu dengan cepat. Dia bahkan tidak ingin melirik ke arah ruang keluarga sama sekali. Padahal semua mata di ruangan itu sedang memandanginya dalam diam.
"Kak Mara! Sini! Kok malah nyelonong pergi gitu aja," tegur Alfa, satu-satunya orang yang berani menyuarakan suara.
__ADS_1
Melihat ajakan Alfa tidak digubris, Alya berinisiatif menghampiri kakaknya itu. Dia menarik pergelangan tangan Mara dengan pelan dan sukses menghentikan langkahnya. Padahal tinggal sejengkal lagi, kaki Mara menyentuh undakan tangga paling bawah.
"Kak Mara jangan ke atas dulu. Ada Kak Fachri loh. Dia sengaja berkunjung ke rumah kita. Katanya mau makan malem bareng kita sekeluarga. Dia bahkan gak mau mulai makan, kalo Kak Mara gak ada," tutur Alya. Dalam hatinya dia berharap semoga kali ini Mara akan tergugah hatinya. Semoga, kali ini hati kakaknya yang beku itu akan mencair.
Mara melirik sinis ke arah ruang keluarga. Satu persatu ditatapnya dengan intens. Permainan uno di atas meja, juga wajah-wajah yang memandang Mara sambil tersenyum. Tak terkecuali Fachri.
Laki-laki itu bahkan menyahut, "Iya, Mar. Sini, Mar. Lo gak kasihan apa sama gue? Gue udah kelaparan. Gue udah nungguin lo dari tadi. Kita makan malam bareng yuk? Gue kangen banget sama masakan bunda lo."
Fachri mengelus-elus perutnya sambil menunjukkan ekspresi orang yang sangat kelaparan. Dia memajukan bibirnya. Fachri terlihat imut. Dulu, Mara akan menghampiri lelaki itu, apabila berekspresi seperti perempuan. Lalu memukulinya dengan sandal sampai puas. Tapi sekarang, Mara justru memalingkan wajah. Tak berminat sama sekali.
Kaki Mara sudah menaiki dua anak tangga. Namun, Mara berhenti sambil mengembuskan napas panjang. "Kalau kalian mau makan, makan aja. Gak usah nunggu gue. Gue ... mendadak gak lapar," ujar Mara dengan melirik tajam ke arah Fachri. "Dan lain kali ... tolong jangan bawa dia ke sini. Gue males lihat dia berseliweran di sekitar gue. Apalagi di rumah ini."
Setelahnya, Mara berlari menuju kamar. Fachri buru-buru bangkit berdiri. Bergegas menyusul Mara dan berhasil mencegah gadis itu masuk ke dalam kamar. "Mar!"
"Apa sih?" seru Mara. Berusaha melepaskan lengannya dari cekalan Fachri. "Lo mau apa sih? Hah?"
"Mar, lo boleh marah sama gue. Lo boleh benci sama gue. Tapi lo gak boleh bersikap kayak gitu di depan keluarga lo. Ini bukan Mara yang gue kenal."
EMANG! MARA YANG LO KENAL UDAH MATI! Mau apa lo, hah? Udah sana pergi! Jangan ganggu gue lagi!" Mara memutar kenop pintu. Dia menutup pintu dengan membantingnya keras tetap di depan wajah Fachri.
"Mar! Mara! Mara! Naigisa Amaranth!" Fachri berusaha memanggil Mara dan beberapa kali mengetuk pintu kamar itu. Namun, Mara sama sekali tidak ingin membukakan pintu itu.
Mara justru melempar dirinya ke atas kasur. Menutup telinganya dengan bantal. Agar dia tak dapat mendengar suara sahabatnya itu. Tapi suara Fachri bagaikan virus komputer. Yang dengan kurang ajarnya menyelusup masuk ke dalam telinga Mara, dan terus bergema di kepala tanpa dirinya minta.
Sementara di luar, Fachri tampak frustrasi. Dia memejamkan mata sambil mengembuskan napas perlahan. Dia memutar badan untuk kembali ke bawah. Namun, bola matanya mendapati Alya sedang tersenyum getir dengan air mata yang perlahan jatuh di pipi.
∆ ∆ ∆
Dapet gak sih feelnya gengs? Udah tau belum Astanya kemana? 🤧🤧 😫😫😅😅
__ADS_1