
"Gue kangen Andra! Fix!" seru Amel sambil menggebrak pelan meja kerjanya.
Selo yang duduk di samping perempuan itu sampai terkejut, dan jarinya terpeleset hingga salah mengetikkan kata di dalam komputernya. Selo menyembulkan kepala. Menengok bilik milik Amel.
"Kenapa sih lo?" Mata Selo mengamati kepala Amel yang tertunduk lemas lalu dijatuhkan di atas meja secara perlahan. Selo mendapati wajah perempuan itu lesu dan tak bersemangat. "Udah mau jam pulang tuh harusnya lo makin seger. Ini malah kusut kayak benang jahit."
Selo terkekeh sementara Amel mendelik sebal. "Gue kangen Andra, Sel. Lo tahu arti kangen gak sih? Gue kangen dia. Gue kangen Mas-Mas Ganteng. K-A-N-G-E-N. Udah titik. Gak pake nawar," rengek Amel seperti anak kecil.
Diam-diam Mara yang masih fokus mengerjakan pekerjaannya, menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua temannya itu. Begitu pun Gita yang terkikik geli, sambil sesekali tangannya terulur ke bawah meja untuk mengambil satu buah kue dari laci. Teman kerja Mara yang satu itu memang kerjaannya makan terus. Mulutnya tak bisa berhenti mengunyah. Namun, berbanding terbalik dengan tubuh Gita yang selalu langsing meski makan banyak sekalipun. Bikin iri.
"Gimana gue mau semangat kalo sehari aja gak ketemu Mas Ganteng? Ini udah seminggu doi gak ada kabar. Apa dia selingkuh? Gue gak sanggup," lanjut Amel masih memasang wajah meringis. "Sungguh teganya dirimu teganya, teganya, teganya~"
Selo memutar kedua bola mata sambil melempar sebuah penghapus karet pada temannya itu. "Bangun woi! Kebanyakan halu lo! Ya kali Mas Andra mau sama lo. Kalau pun doi punya selingkuhan, gue bakal dukung selingkuhannya dari pada lo. Lagian lo alay banget. Emangnya Andra pernah ngabarin lo? Sekaliiiiii aja, pernah?" Selo tertawa dalam diam. Puas mengejek Amel yang semakin cemberut.
"Dasar temen paling tega. Lo pilih selingkuhannya dari pada gue. Temen macam apa itu? Kalau pun Mas Andra pernah ngabarin gue, gak bakalan gue bilang sama lo. Siapa lo?"" Amel menyerang balik Selo. Matanya berkilat senang melihat Selo mendengus.
"Biarin! Gue juga gak bakalan bilang kalau gue ketemuan sama Mas Andra yah." Selo tertawa sambil berpose ala-ala pemeran ibu tiri yang berhasil menyiksa anak kandung dari suaminya.
"Huss! Udah, udah. Kalian ini kayak anak kecil. Udah gak usah debat terus. Awas nanti bos marah dan berpikir kita ini kebanyakan ngobrol," tegur Gita dengan mulut yang baru selesai mengunyah. "Ayo! Ayo! Fokus kerja lagi."
"Kamu lagi ngerjain apa, Mar. Dari tadi diem terus?" tanya Gita beralih pada Mara.
Mara menjawabnya dengan senyuman. Tak ingin bersuara karena takut konsentrasinya menjadi buyar. Gita yang mengamati sebentar layar komputer Mara lalu terkekeh. Perempuan itu paham Mara sedang tak ingin diganggu. Maka Gita duduk kembali di kursinya. Terdiam. Tampak merenung.
Mata Gita mengamati layar komputer di mejanya sendiri. Gita sudah selesai setengah jam yang lalu. Makanya dia memilih untuk memakan cemilan yang belum habis dimakan saat jam istirahat tadi. Kemudian Gita melirik jam dinding. 15 menit lagi menuju jam pulang. Senyum Gita tiba-tiba terbit.
__ADS_1
"Guys! Jalan yuk nanti sore!" seru Gita tiba-tiba.
Selo dan Amel seraya menoleh ke arahnya dengan heran. "Kemana?"
"Rahasia! Kalian wajib ikut yah. Gak ada acara 'kan sepulang kerja nanti?" tanya Gita lagi seolah tak peduli dengan jawaban kedua temannya itu. Jari telunjuknya mengetuk bilik Mara pelan. "Lo wajib ikut juga yah, Mar. Kali-kali kita hangout bareng."
Mara terdiam. Tampak berpikir sejenak. "Boleh deh. Kebetulan gue lagi suntuk."
∆ ∆ ∆
Raja Makan!
Sebuah tulisan di atas papan kayu berukuran sedang yang dihiasi lampu adalah hal yang membuat Mara tertarik. Sisanya, tidak memberikan kesan yang akan membuat Mara merasa tercengang.
Mara dan ketiga temannya melangkah masuk. Mata Mara berlayar mencari tempat kosong. Malam Minggu. Malam akhir pekan yang akan menjadi malam yang sangat ramai terutama bagi kaula muda seperti Mara. Sejak tadi mata Mara terus menangkap beberapa pasangan yang hilir mudik masuk dan keluar dari restoran itu.
"Betapa mirisnya gue. Lihatin banyak orang pacaran, dan gue ... malah sama kalian ke sininya," rengek Amel sambil menggigiti syal warna abu-abu di lehernya. "Mas Ganteng gue manaaa?"
"Bawel lo. Makanya Mba Gita bawa kita ke sini 'kan supaya bisa lihat Mas Andra," dengkus Selo sambil berpangku tangan.
Amel celingak-celinguk. Mencari sosok yang tengah menjadi topik hangat pembicaraan di antara keempat perempuan yang masih single itu. Namun, meski menyapu seluruh ruangan berkali-kali, orang yang dibicarakan belum terlihat batang hidungnya.
"Percuma gue ke sini kalau Mas Andranya lagi ngirim. Tempat ini 'kan rame terus. Bisa-bisa keburu gue 'diusir' sebelum ketemu dia. Nasib emang." Amel masih mengeluh. Wajahnya keruh. Apalagi perasaannya.
"Segitu sukanya lo sama dia?" tanya Mara heran.
__ADS_1
"Buat amunisi penyemangat kerja. Di kantor stok cowok gantengnya dikit. Gue butuh yang bikin mata fresh terus."
Gita geleng-geleng kepala. Lalu menepuk bahu Mara pelan. "Gak usah digubris. Mending pesen makanan aja yuk."
Mara mengangguk. Namun, matanya tidak ikut menatap daftar menu di dalam buku seperti ketiga temannya. Mara justru melihat ke luar jendela. Barusan dia melihat dua orang yang tampak sangat tidak asing melewati halaman menuju ke dalam restoran. Dua orang yang Mara tak menyangka terlihat sangat akrab ketika bercengkerama.
"Ah! Kayaknya gak mungkin deh. Cuma pikiran gue," gumam Mara yang tak disangka terdengar oleh ketiga temannya.
Perempuan-perempuan yang tadi sibuk memilih makanan di daftar menu seraya mendongakkan kepala. Menatap Mara tanpa berkedip. "Kenapa, Mar?" tanya Gita.
"Apanya yang cuma pikiran lo?" Selo ikut bertanya.
Dengan cepat Mara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum getir. "Enggak, bukan apa-apa." Mara melirik buku menu yang terabaikan sebentar. Buru-buru dia memutar buku itu hingga menghadap ke arahnya. "Kalian pesen yang mana aja?"
"Omaygat!" seru Amel tiba-tiba.
"Kenapa sih? Tadi Mara, sekarang elo. Jangan bikin gue merinding deh dengan keanehan kalian," komentar Selo.
Amel tidak menjawab. Dia justru menggoyang-goyangkan tangan Mara yang sedang memegangi buku. "Mar! Itu, Mar!"
"Apaan sih?" Mara ikutan gemas. Mara menoleh dan mendapati tangan Amel terulur ke arah pintu. Penasaran, Mara menarik pandangannya mengikuti arahan Amel.
Detik itu juga Mara tercengang. Yang tadi Mara lihat di luar jendela rupanya bukanlah sebuah kekeliruan. Sosok Andra yang sedang bercengkrama dengan Chia dan tampak begitu akrab, sekarang terlihat sangat jelas di depan matanya. Kedua orang itu sedang berdiri sambil mencari tempat duduk. Entah kenapa, saat itu seperti ada yang berbisik di telinga Mara. Dia tidak suka dengan kedekatan itu.
∆ ∆ ∆
__ADS_1