Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Tiga Puluh Tiga


__ADS_3

"Menurut lo, gue lagi apa?" jawab Riga dengan balik bertanya. Kedua matanya terus mengunci wajah perempuan yang masih membuang muka itu. Dengan jarak yang sedekat itu, entah kenapa Chia terlihat begitu manis. Apalagi ketika sedang malu-malu sambil membuang muka seperti itu. Garis lengkung terbit di wajah Riga.


"Punggung lo bisa kebasahan. Mending lo balik ke tempat awal," perintah Chia yang masih tak berani menatap balik Riga.


"Yang penting lo gak kebasahan."


"Lo gak perlu di situ. Gue gak apa-apa," tukas Chia dengan kepala tertunduk.


Riga tersenyum lagi. "Kalau gitu gue juga gak apa-apa. Biarin gue tetep di sini."


Chia mendelik sebal ke arah Riga. Entah kenapa lelaki itu begitu keras kepala. Chia mendengus pelan. "Terserah."


Setelahnya, keadaan di antara mereka mendadak hening kembali. Hanya suara dedaunan yang dijatuhi air dan suara cipratan di atas tanah yang menjadi musik di antara keduanya. Diam-diam Riga mengulurkan kedua tangannya di atas kepala. Menutupi kepala Chia dari tetesan air hujan yang lolos dari celah daun-daun di atas pohon.


"Hei, Chia!" panggil Riga untuk membuat perhatian Chia tertuju kepadanya. "Pernah gak terlintas di kepala lo untuk bertanya, apakah ingatan gue udah kembali atau belum?"


Chia mengangkat wajahnya. Dia menatap lurus-lurus pada netra berwarna coklat itu. Kalau ditanya begitu, ya, sejujurnya pertanyaan itu sering terlintas dibenaknya. Apalagi setelah bertemu kembali dengan Riga. Namun, Chia sudah tahu dengan jawabannya dan segala kemungkinan yang terjadi. Makanya, dia tidak pernah ingin bertanya. Bahkan tak ingin tahu mengenai hal itu.


"Terlepas ingatan lo balik atau enggak, Riga yang sekarang gue lihat di depan gue itu, tetaplah Riga yang gue kenal. Lo masih tetap Riga yang sama dengan Riga bertahun-tahun yang lalu. Jadi, gue gak terlalu memikirkan soal hal itu. Yang penting, lo ... tetaplah jadi diri lo sendiri. Itu yang gue mau," aku Chia sambil menyunggingkan senyuman tipis di wajahnya.


Riga membalas senyuman itu. "Kalau seandainya gue ngasih tahu lo, apa yang akan lo lakuin?"


Chia menatap lamat-lamat ke arah Riga. Dalam naungan hujan di sore itu, dan dekapan semilir angin dingin yang diam-diam menyelusup di antara keduanya, hari itu ... perasaan Chia semakin tak tentu arah. Semakin meragu akan banyak hal. Semakin diselimuti rasa bimbang dengan keadaan.


∆ ∆ ∆


"Mar, duluan!" seru Gita, Amel dan Selo bergantian sambil melambaikan tangan kepada Mara.


Mara membalas sambil melemparkan senyum. Masih berdiri di posisinya, mata Mara mengekor ke arah mana ketiganya pergi. Ketiga perempuan yang menggunakan kendaraan sendiri itu, dapat segera pulang dengan aman. Tanpa harus menunggu hujan lebat yang sedang turun saat ini.


Mara mendengus. Dia sangat iri pada ketiga rekannya, karena di saat dirinya memiliki kendaraan, justru kendaraan pribadi itu dibajak oleh Fachri. Entah dibawa kemana selama seharian. Bahkan, kali ini Mara dibuat menunggu lagi seperti hari kemarin. Menyebalkan.

__ADS_1


Rasa kesal Mara bertambah ketika seseorang bergabung untuk ikut berteduh di teras depan. Menunggu hujan lebat segera mereda agar dia bisa pulang. Mara melirik sinis si pengantar makanan yang berdiri di ujung kanan. Dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celana dan pandangan lurus ke depan, Mara berdecak sebal.


"Sok cool," cibir Mara sambil bergumam dan membuang muka.


"Gue denger." Si pengantar makanan berbicara tanpa melihat ke arah Mara.


Mara melongo. "Gimana bisa denger sih? Gue ngomongnya pelan gini juga. Kecuali dia itu dukun, baru gue percaya," dengus Mara.


Asta--si pengirim makanan yang tidak diingat namanya oleh Mara itu--seraya memutar kedua bola matanya lantas berbalik badan. Pandangan datarnya mengamati Mara pelan-pelan. "Tanpa perlu jadi dukun pun, semua kata-kata yang lo ucapin, terpampang jelas di jidat. Artinya, lo itu mudah kebaca."


Wah! Lelaki itu sungguh membuat Mara dongkol setengah mati. Mara tak habis pikir, apa yang membuat pria jutek itu begitu dikagumi Amel dan Selo. Dilihat dari segi mana pun, Mara sama sekali tak tertarik dengannya. Mara malah ingin jauh-jauh, demi menjaga hati dan emosinya agar tetap aman terkendali.


"Dan lo ... mendingan berhenti berkomat-kamit sendiri deh. Karena, gue lagi gak mau berinteraksi sama orang yang agak-agak ... yah, lo tau sendiri tanpa gue sebutin pun."


Astaga! Boleh tidak Mara melepas sepatunya sekarang dan melemparkan benda berhak tinggi itu kepada lelaki yang berdiri di ujung sana? Paling tidak, Mara ingin membuat lelaki itu kesakitan seperti saat di dalam kamar mandi tadi.


Belum sempat niat Mara terlaksana, suara dering ponsel membuyarkan niatnya untuk membalas ucapan lelaki tadi. Menahan dongkol, Mara mengambil benda yang berisiknya tidak tahu tempat dan waktu itu dengan segera.


"Apa sih Fachri?" sewot Mara. "Lo kemana aja dari tadi gue tungguin? Buruan jemput gue sekarang juga!"


Ah, sebenarnya, Asta bisa saja pulang dari tadi. Dia membawa jas hujan di motornya. Tinggal berlari ke parkiran, Asta sudah bisa kembali ke restoran. Namun, rasa penasaran Asta yang tiba-tiba naik ke permukaan, membuat lelaki itu memilih berdiam diri sejenak. Dia penasaran ketika melihat Mara berdiri sendiri di luar. Asta ingin tahu apa yang membuat perempuan itu tidak segera pergi dari sana. Namun ternyata ... seperti dugaan Asta sejak tadi. Mara sedang menunggu seseorang untuk menjemputnya.


"Pulangnya bareng Riga lagi yah," ujar Fachri di seberang sana.


"Riga? Lo gila? Kemaren gue udah pulang bareng Riga. Masa hari ini juga? Gak mau! Cepetan lo ke sini." Mara menghentakkan kakinya tanpa sadar. Sebal dengan sikap Fachri yang seperti itu.


"Gue udah bilang kok ke Riga. Dia emang belum jawab sih. Tapi gue yakin dia pasti mau. Udah yah, gue masih di restoran. Sibuk. Good luck." Fachri menutup panggilannya tanpa tahu wajah Mara berubah merah seperti orang habis kebakaran jenggot.


Orang yang namanya Fachri ini ... benar-benar membuat Mara mencak-mencak. Habis sudah kesabarannya. Sahabatnya itu memang minta dijadikan santapan komodo. Atau mungkin akan Mara giling dan dibuang ke lautan untuk dijadikan santapan ubur-ubur. Menyebalkan!


Mara buru-buru mengirimkan pesan singkat pada Riga untuk tidak menjemputnya hari ini. Mara sungguh tidak ingin pulang dengan lelaki itu dan membiarkan Fachri menang taruhan. Mara sampai berbohong kalau dia sudah pulang dengan menggunakan taxi. Untung Riga tidak banyak bertanya dan bisa memaklumi.

__ADS_1


Uh! Siapa juga yang mau jadian sama pacar dari sahabatnya? Fachri beneran gak waras sampai jodohin gue sama Riga. Itu orang isi kepalanya apa sih? Heran. Mara bergumam pelan. Lagi-lagi tanpa sadar Mata justru menyuarakan perkataannya dengan keras.


Dalam keheningan dengan ditemani hujan, di ujung sana Asta dapat mendengar semua ucapan Mara. Bahkan sangat jelas. Ada rasa tak enak hati begitu mendengar nama Riga disebut. Ada rasa cemburu, tapi dia sudah tak memiliki hak.


Siapa dirinya yang sekarang? Mara bahkan tak ingat nama samarannya. Mara bahkan tak sekali pun pernah melihat ke arahnya. Asta harusnya sadar diri. Di tak boleh bertemu Mara lagi, atau hatinya yang beku akan meleleh kembali.


Tidak. Tidak boleh. Tidak untuk sekarang.


Asta belum mencapai tujuannya. Dia tak bisa membiarkan Mara berada di sisinya saat ini. Biarkan Mara tetap dengan kehidupan barunya. Bahkan, jika pada akhirnya Mara mendapatkan seorang pasangan, Asta harus ikut merasakan bahagia. Asta siap mengorbankan apapun agar senyum Mara tidak terbenam lagi. Bahkan, jika dia harus membuang seluruh perasaannya hingga tak bersisa, demi Maranya, akan dia lakukan.


Tapi ....


"Dasar manja!" ejek Asta tanpa melirik Mara. Ya! Tetap saja, jika melihat Mara tiba-tiba pulang bersama dengan Riga tepat di depan matanya, Asta tentu saja tidak terima.


Enak aja mau selingkuh di depan mata gue! dengus Asta kesal.


"Apa lo bilang?" balas Mara sewot.


Asta memutar kedua bola matanya. "Da-sar man-ja. Dasar manja. Kurang jelas?"


"Segede gini lo masih dianter-jemput? Kayak anak TK," cibir Asta.


Wah! Kedongkolan di dalam hati Mara bertambah dua kali lipat. Apalagi melihat si pengantar makanan melengos pergi begitu saja. Meninggalkan Mara sendirian. Tanpa pamit pula padanya. Padahal Mara ingin melampiaskan rasa kesalnya saat itu juga. Akhirnya, dinding di sebelah kiri Mara yang dijadikan kambing hitam.


∆ ∆ ∆


cut di sini yah 🤧🤧


tunggu kelanjutannya besok yah. ❤️❤️


jangan lupa untuk kasih dukungan buat cerita ini yah. dengan kasih like kalian biar aku makin semangat 🤩🤩

__ADS_1


makasih manteman.❤️


luv luv untuk kalian semua. ❤️❤️❤️


__ADS_2