
Ah, ini sudah ke sekian kalinya Chia menangis dalam waktu lima bulan. Kepalanya tertunduk, tatapan pilunya masih tertuju pada lelaki yang terbaring tak berdaya di atas kasur, yang masih menggunakan bantuan alat medis hanya untuk sekedar bernapas.
Chia mengulurkan tangannya. Menggenggam lembut tangan Riga, menghangatkannya agar tak kedinginan. Rasa getir memenuhi rongga dadanya. Sesak. Harapannya agar lelaki itu sekali saja merespons tindakannya pupus sudah. Riga masih belum bergerak sedikitpun, masih tenggelam dengan komanya.
"Hei! Apa lo gak bisa menggerakan sedikit jari jemari lo?" Chia melirik sebentar pada tangan Riga yang mulai basah karena air matanya.
"Apa lo terlalu benci sama gue, jadi lo gak mau bangun juga?" Chia terdiam sejenak. Ah, ini terlalu berat untuknya memandangi mata Riga yang masih terpejam.
"Hei! Apa lo gak mau bangun buat ngelihat gue? Lo janji bakal dengerin suatu hal yang mau gue kasih tau waktu itu. Apa lo gak mau bangun dan dengerin hal itu?"
Chia menguatkan genggamannya. Berharap Riga bisa merasakan kehadirannya meski sejenak. "Riga bangun! Lo gak mau makan bekel makan siang lo dari gue lagi? Lo gak mau ngehabisin waktu istirahat lo sama gue lagi?"
Chia makin tak bisa mengontrol air matanya mengalir. Pedih. Terlalu sakit menerima kenyataan mendapati keadaan Riga seperti ini. Salahnya! Ya, Chia tahu ini adalah salahnya. Jika Riga tak pernah datang ke festival itu, tidak! Jika Riga tak pernah bertemu Chia, Riga mungkin akan baik-baik saja. Mungkin sedang bahagia dengan gadis impiannya.
"Riga bangun. Gue janji. Saat lo bangun, gue bakal ngilang dari kehidupan lo. Gue janji, gue gak akan pernah ngeganggu lo. Gue janji, gue gak akan pernah nangis lagi seperti yang lo minta. Gue janji, gak akan pernah ada gue di kehidupan lo. Please bangun. Demi gue, lo harus bangun, Riga!"
● ● ●
Chia merapatkan tubuhnya di dinding. Kakinya lemas dan bergetar. Ia menutup mulutnya, meredam suara isak tangisnya. Riga bangun! Laki-laki itu telah bangun dari komanya.
Namun, tangisan Chia bukan tangisan bahagia. Ah! Berapa kali ia harus terpukul. Riga hilang ingatan! Laki-laki itu akan kesulitan untuk mendapatkan ingatannya kembali. Perlu perawatan medis lebih lanjut dan terapi khusus untuk membantu ingatan Riga kembali. Dan tak ada yang bisa menjamin ingatannya kembali dengan cepat.
Berakhir sudah! Kini Chia sungguh telah menghilang sepenuhnya dari kehidupan Riga. Chia berjongkok, menenggelamkan kepalanya di antara kedua tangan dan lututnya. Merutuki semua kebodohannya hingga Riga harus berakhir seperti ini.
● ● ●
Apakah ini surga? Chia mendengus kecewa. Kasarnya butiran pasir mulai terasa olehnya saat kesadarannya berangsur kembali. Chia terbatuk berkali-kali. Ah rongga dadanya sakit. Mungkin karena ulah dari air laut yang tak sengaja terminum olehnya.
__ADS_1
Chia menutupi matanya dengan punggung tangan kanannya dari sengatan matahari yang mulai sedikit demi sedikit naik ke puncaknya. Masa bodoh! Tak peduli seberapa lama ia terbaring di sana. Hanya rasa kecewa dan sakit yang memenuhi hatinya.
"Kenapa lo nyelamatin gue, Jun?" isak Chia tanpa menatap laki-laki yang duduk di sebelahnya dengan pakaiannya yang basah.
"Dari semalem gue udah tau. Saat kedatangan lo dengan potongan rambut berantakan dan berjalan pincang, gak akan berakhir dengan baik.
"Lo tau? Sedikit aja gue terlambat tadi, mungkin sekarang keadaan lo udah kritis. Lo sadar kan dengan hal itu?" tambah lelaki itu dengan penuh amarah di setiap perkataannya.
Chia tak menjawab.
"Di dunia ini, banyak orang bersusah payah, mati-matian buat bertahan hidup. Dan lo? DENGAN BEGONYA LO NGELAKUIN HAL INI?"
Chia tersenyum tipis, miris. "Iya. Seharusnya lo biarin gue ketemu sama orang tua gue tadi."
"Gue lelah bertahan. Di dunia ini gak ada yang pernah mengharapkan kehadiran gue. Semuanya benci sama gue. Bahkan kedua orang tua gue pergi ninggalin gue. Kalo akhirnya kayak gini, buat apa gue dilahirkan? BUAT APA GUE HIDUP DI DUNIA YANG GAK PERNAH MENGINGINKAN GUE ADA?" Chia menjerit disela-sela isak tangisnya.
Tiba-tiba tubuhnya ditarik hingga ia terduduk. Jun menahan tangan Chia yang tadi digunakan untuk menutupi wajahnya. Mata sembab Chia mengikuti arahan tangan laki-laki yang ada di hadapannya.
Chia menggigit bibir bagian bawahnya. Menahan perih dan sesak di dasar hatinya yang semakin tak tertahan.
"Jika semua orang benci sama lo. Ada keluarga gue yang selalu merentangkan tangannya buat lo. Ada gue yang selalu siap buat bantu lo. Apa itu belum cukup, Chia?"
Chia mengeraskan isakan tangisnya. Ia meringkuk, memeluk lutut dan menenggelamkan kepalanya di pangkuannya. Menangis sekeras-kerasnya. Meratapi tindakan bodoh yang tak beralasan yang hampir merenggut nyawanya.
Sejak kapan hatinya segelap ini. Seharusnya ia tak pernah lupa. Ya, Jun benar! Seharusnya Chia tak perlu menuntut dunia untuk menerimanya. Selama masih ada Jun dan keluarganya, seharusnya ia sudah merasa cukup. Bodoh! Idiot! Chia benci pada dirinya sendiri. Benci dengan ketidakberdayaannya menghadapi masalah yang terus berbayang di sekitarnya.
● ● ●
__ADS_1
"Apaan ini?" Mara menatap kertas dan sepupu Asta secara bergantian. Keningnya berkerut. Ya, wajar saja. Ini pertama kalinya Renata menghampirinya secara terang-terangan.
Pernyataan perang kah? Gue bahkan gak minat! Mara mendengus.
"Baca aja! Lo bakal tau apa isinya," jawab Renata santai. Gadis itu sengaja mengurangi volume suaranya karena saat ini mereka berdua sedang di dalam perpustakaan.
"Atas dasar apa gue harus ngikutin perintah lo?" ketus Mara sambil menjauhkan sebuah map dari hadapannya.
Matanya memandang sebal ke arah Renata yang menyeringai.
"Terserah! Toh gue gak peduli sama lo! Gue cuma mau bersihin nama sepupu gue! Lo harus tahu yang sebenernya kejadian di antara Asta dan Chia," jawab Renata cuek yang membuat Mara kesal dan ingin sekali menjambak rambut gadis itu.
"Gue bakal denger cerita sebenernya dari Asta. Gue gak bakal denger apapun dari cewek kayak lo. Dan kenapa juga gue harus percaya sama lo?" Mara memutar kedua bola matanya malas.
Serius! Jika ini bukan perpustakaan, sudah sejak tadi Mara berdiri. Menyejajarkan matanya dengan gadis yang sejak tadi bersikap angkuh menatapnya sinis. Lalu tanpa segan mencolok mata gadis itu dan berteriak tepat di wajahnya. Sayangnya itu semua hanya bayangan yang berkeliaran di pikiran Mara saja.
"Lo kelas D yah? Pantesan bego! Kalo Asta tau cerita yang sebenernya, kenapa gue harus repot-repot nyamperin cewek alien kayak lo!"
Sialan nih nenek lampir! Seenak jidatnya ngatain gue! Mara meremas buku-buku jarinya dengan geram.
"Terus lo punya bukti apa yang bikin gue harus percaya sama nenek sihir barbar gak jelas kayak lo?" Mara tersenyum puas saat Renata melotot ke arahnya. Lagi pula bukan gadis itu saja yang berani mengatai lawan bicaranya. Mara menang saat Renata bersikap tenang kembali.
"Gue lihat semuanya. Tapi gue gagal nangkep pelakunya. Di map itu foto-foto yang gue abadiin sendiri pake ponsel gue."
Mara terdiam. Matanya menatap serius pada map yang masih tergeletak di atas meja. Saling berbagi tempat dengan buku-buku yang sedang dibacanya.
"Gue pastiin lo bakal terkejut sama isinya."
__ADS_1
Uh! Hampir saja Mara melemparkan buku-buku di atas meja saat melihat Renata tersenyum mengejeknya. Sayangnya gadis menyebalkan itu telah berlalu pergi, meninggalkan Mara yang masih terduduk dengan kesal di tempatnya.
● ● ●