
Chia menatap dalam diam pada secarik kertas yang terpampang di mading sekolah. Ia tampak tenang saja saat murid-murid yang mengerumuninya sengaja membicarakannya dengan suara keras.
Chia melirik pada Sani, Hana dan Krisha yang melemparkan tatapan seribu makna padanya. Ada rasa curiga, bingung, kaget dan marah dari raut wajah ketiga gadis itu.
Mata Chia teralih pada sekelompok gadis yang berdiri tak jauh dari mading, mereka berdiri di koridor. Tatapannya bertemu pada bola mata milik Renata yang tersenyum ke arahnya. Jadi Renata yang nempelin ini?
Chia menghela napas sejenak. Kakinya mundur beberapa langkah, membebaskan diri dari kerumunan. Matanya sempat menangkap tatapan dingin milik Riga yang berdiri di tengah kerumunan. Namun Chia tak peduli akan hal itu. Ia melenggang dengan santai menuju kelasnya, disaat semua mata tertuju padanya dengan tatapan kesal.
● ● ●
Mara tak tahu harus bagaimana untuk menjelaskan perasaannya saat ini. Terkejut, marah dan kesal jelas terbesit dari raut wajahnya. Apa-apaan ini? Hampir aja gue belain cewek itu di depan Asta!
Mata Mara masih mengamati foto Chia yang berdiri di dekat jendela kelas sambil memunggunginya, lalu beralih pada fotonya dengan Riga di tengah kerumunan sambil memandangi pecahan vas bunga.
Jadi Chia yang ngejatuhin vas bunga besar waktu itu ke gue? Mara mendengus kesal. Ah, ia teringat peristiwa kemarin dan kata-kata menyebalkan Chia saat bertemu dengannya sehari sebelum acara Festival Topeng.
Ya, sekarang ia sudah menangkap dengan jelas maksud dari gadis itu. Jadi Chia benci gue? Dia marah sama gue? Dia cemburu Riga deket sama gue?
Mara tak habis pikir. Ia melenggang dengan kesal meninggalkan papan mading sekolahnya.
● ● ●
"Lo yakin?" Sani kembali bertanya padanya dengan tatapan kecewa.
Chia mengendikan bahunya dengan santai sambil duduk di atas bangku. Ah, saat Chia meninggalkan papan mading tadi, rupanya ketiga sahabatnya mengekor di belakangnya, dan di sinilah ia, duduk di bangku dengan ketiga sahabat yang terus-terusan menginterogasinya dengan pertanyaan yang sama.
"Lo serius?" Hana nyaris membentak Chia.
"Kalian sendiri lihat foto tadi kan? Ya, di foto itu emang gue," jelas Chia dengan tenang. Ia tak ingin memungkiri apa pun. Toh jelas-jelas di foto tadi memang dirinya.
Chia sendiri sebenarnya tak tahu dari mana Renata mendapatkan fotonya di saat ia sendirian di dalam kelas saat jam istirahat waktu itu. Namun, bukan hal itu yang mengganggu pikirannya.
Apa Renata juga tahu apa yang gue lakuin sendirian waktu di dalam kelas saat itu? Pertanyaan itu mengusiknya sejak artikel tentang dirinya ada di mading.
"Jadi lo beneran yang jatuhin vas itu ke Mara karena lo cemburu?" Sani menyipitkan matanya. Krisha mendengus sebal sambil membantingkan diri di atas bangkunya.
__ADS_1
Hana menggelengkan kepalanya tak percaya. Chia sendiri hanya terdiam sambil menatap Sani datar.
"Gue gak nyangka lo berbuat kayak gini!" Sani kecewa sambil berjalan menuju bangkunya.
Chia memalingkan wajah, menatap keluar jendela, memandang bekas pot bunga berukuran besar yang dulu terletak di sana sebelum insiden saat itu.
● ● ●
"Udah gue bilang jangan masuk ke dalam ruangan pribadi gue!" Asta nyaris membentak Renata yang tampak 'cuek' melenggang dan duduk di depannya.
"Lo tau gak lo kecolongan berapa kali?"
Asta menyipitkan matanya, menatap sebal pada sepupunya itu. Meskipun Asta bersikap kasar pada gadis itu, nyatanya Asta tak pernah membencinya. Asta menyayanginya seperti adik sendiri, meski mereka bukan saudara kandung. Jadi, meski ia membentak gadis itu barusan, ia tak protes lagi saat gadis itu duduk di hadapannya.
"Lo pinter atau bego sih? Lo diem aja di sini sementara pacar lo lagi asik berduaan sama Riga di luar sana?"
"Berisik!" Asta memalingkan muka. Ia tak ingin protes tentang pertanyaan Renata barusan. Nyatanya memang benar. Ia tahu Riga masih mendekati Mara, dan ia malah membiarkan laki-laki itu berkeliaran di sekitar pacarnya.
"Gue gak tau apa aja isi di kepala lo!"
"Lo tau gak lo bisa bales perbuatan Riga dengan cara yang sama?"
Asta melirik Renata. Gadis itu tersenyum penuh makna dan membuat Asta mengerutkan dahi.
"Lo sekolah hampir tiga tahun, tapi lo gak pernah tau kan kalo Riga punya pacar di sekolah ini sejak kelas satu?"
Mata Asta terbelalak. Apa yang tadi Renata bilang? Jadi Riga udah punya pacar? Terus dia ngedeketin cewek gue gitu? Brengsek!
"Lo masih penasaran gak sama orang yang pernah gue ceritain, yang jatuhin vas bunga sama cewek lo? Lo belum nemu kan pelakunya siapa?"
"Hmm." Asta menggumam sambil mengalihkan pandangan. "Kalo pelakunya lo, gue bakal cekek lo sekarang juga! Gue tau seberapa sebelnya lo sama cewek gue."
"Bukan gue! Enak aja lo!" Renata mendengus. Asta tertawa pelan.
"Lo inget Chia? Cewek yang nabrak Mara pake sepeda kemaren?"
__ADS_1
"Iya. Udah gue peringatin dia!" jawab Asta masih dengan sikap acuh tak acuh.
"Dia pacarnya Riga!"
Deg! Jelas Asta terkejut. Ia memandang Renata lekat-lekat. Sudah berapa kali sepupunya itu mengejutkannya.
"Udah baca mading di gedung utama?"
"Gak tertarik!"
"Chia itu orang yang jatohin vas bunga ke Mara karena dia cemburu lihat Riga deket sama cewek lo!"
Glek! Asta menelan ludah. Gila! Berani banget tuh cewek! Matanya memandang serius pada sepupunya itu.
"Panggilin Dipa, Dimas sama Damar!" Jangan bertanya mengapa Asta selalu memanggil ketiga orang yang kebetulan huruf depannya sama itu. Dari sekian banyak temannya di kelas S, hanya mereka bertiga yang bisa Asta percaya.
"Mau ngapain?" Renata menatapnya bingung.
Asta tersenyum simpul sambil melemparkan tatapan dinginnya. "Lo pengen gue bertindak kan?"
● ● ●
Chia menutup buku yang baru saja akan dibacanya. Sambil menghela napas ia menaruh kembali buku itu di raknya. Tadinya ia pikir bisa mendapatkan ketenangan jika datang ke perpustakaan. Namun, nyatanya tidak.
Ketiga orang lelaki telah mengerumuninya. Chia kagum pada ketiga orang itu. Jaringan informasinya luas sekali hingga mereka bisa menemukan keberadaannya saat ini.
"Mau nagih coklat yang kemaren?" tanya Chia polos.
"Enggak!" jawab salah seorang dari ketiga laki-laki itu.
"Ikut kita! Asta pengen ketemu sama lo!" sahut laki-laki yang lain. Sementara laki-laki satunya lagi hanya terdiam seperti pertemuan pertama mereka.
Jadi pada akhirnya, ujung-ujungnya gue emang harus tetep berhadapan sama Asta juga? Chia memandang ketiga laki-laki itu dalam diam.
Ia tak berkomentar apa pun dan mulai berjalan mengekor ketiga orang itu. Untung saja perpustakaan hari itu tampak sepi, jadi tak banyak yang menatap heran ke arahnya saat berjalan mengikuti sahabat Asta itu. Lagi pula, siapa juga yang mau berurusan dengan siswa paling berkuasa di sekolah? Jika tak memiliki masalah dengannya, maka siapa pun masih bisa bernapas lega bersekolah di sana.
__ADS_1
Chia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Jadi ini ruangan kelas S? Ah, kelas yang seharusnya menjadi kelasnya itu, ternyata jauh lebih menakjubkan dari bayangannya.