
Tawa anak-anak adalah yang pertama kali Chia dengar begitu dirinya tiba di halaman belakang sebuah panti asuhan. Chia menyambut anak-anak kecil yang sedang berlarian itu sambil merentangkan tangan. Bocah-bocah itu berebut memeluk Chia. Semuanya ingin merasakan dipeluk oleh perempuan yang tidak datang sendiri itu.
Ya, Chia datang bersama dengan Jun. Seperti biasa. Yang membuatnya menjadi tak biasa adalah kehadiran seseorang yang sejak minggu lalu mencuri perhatian anak-anak di panti itu. Salah satu anak seperti menjadi komandan bagi yang lain untuk menghampiri laki-laki yang berdiri di belakang Jun. Mereka berusaha menarik perhatian si laki-laki yang masih dilempari tatapan sinis oleh pengacara kondang itu.
Chia tak bisa berkata apa-apa selain diam. Lalu melihat tubuh Riga oleng dan jatuh di atas rerumputan karena dorongan dari anak-anak tak sabaran itu. Entah kenapa anak-anak di panti begitu antusias untuk bertemu dengan lelaki itu. Katanya wajah si lelaki mirip artis di TV. Tak tahu saja kalau lelaki yang dikerumuni kawanan anak kecil itu adalah adik dari artis berbakat Sun. Chia tersenyum geli di dalam hati.
"Ehem!" Jun sengaja berdehem keras sambil berdiri di depan Chia. Memutus perhatian perempuan itu dari Riga yang masih dikerumuni anak-anak panti asuhan. "Lo mau fangirling di sini, atau ikut gue ke dalem ketemu sama Ibu Mila?"
"Ish! Gue ikut," seru Chia lalu mengekor langkah Jun yang sudah lebih dulu menapaki gedung bercat warna caramel itu. Sambil berjalan, sesekali mata Chia menengok ke belakang. Mencuri-curi pandang pada lelaki yang selalu dirindukannya itu. Ada senyum yang tercetak di wajah Riga. Senyum untuk anak-anak itu, atau senyum untuknya ....
"Aw!" pekik Chia sambil memegangi dahinya yang baru saja menabrak dada bidang milik Jun. "Kenapa? Kok berhenti mendadak?"
Yang ditatap Chia justru mengeluarkan hawa dingin yang misterius. Juga mengunci pandangan Chia dengan begitu tajam. "Semoga lo gak lupa peran, kalo lo sekarang udah milik orang lain."
Chia mendengus saat mendengar sindiran Jun barusan. Sambil berdecak, Chia melewati Jun begitu saja. "Gue gak lupa," sangkal Chia. Nyatanya, sejak kehadiran Riga di sisinya lagi, Chia bahkan benar-benar lupa pada seseorang yang kata 'Jun' adalah miliknya.
Chia lupa dia sudah terikat. Chia lupa ada janji yang harus ditepati. Chia terlalu larut dalam euforianya sendiri. Chia terlarut pada keinginan hati untuk kembali memiliki. Chia sungguh lupa, ada hal-hal yang tak akan pernah bisa diraih. Yaitu, kembali bersama dengan Riga.
"Jadi gimana?"
Pertanyaan Jun barusan membuat lamunan Chia memudar. "Gimana apanya?"
"Lo gak dengerin gue?" tanya Jun yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Chia. Jun menghela napas berat. "Gue ada urusan mendadak di kantor. Setelah ketemu Bu Mila, gue bakal langsung pulang. Lo mau ikut gue, atau tinggal dulu di sini?"
"Lo tenang aja. Lo bisa pergi duluan ke kantor. Biar Chia bareng sama gue. Gue yang anterin dia pulang," ujar suara datar yang tiba-tiba muncul di belakang Jun.
Chia dan Jun saling pandang sejenak lalu beralih menatap Riga secara bersamaan. Entah kenapa, Chia selalu merasa jika kedua lelaki itu bertemu dan berada di satu tempat yang sama, keduanya akan memancarkan aura tak biasa ketika saling beradu tatap. Jun dengan aura ketidaksukaan dan Riga dengan aura persaingan.
Chia bisa paham dengan rasa ketidaksukaan yang dimiliki Jun pada Riga. Sesungguhnya Jun tahu akan hubungan Chia dan Riga di masa lalu. Jun hanya bersikap defensif karena tak ingin Chia terluka lagi. Chia menderita lagi oleh orang yang sama. Maka, Chia tak pernah protes jika Jun selalu menatap sinis pada lelaki yg mendekati Chia. Apalagi terhadap Riga.
Namun, Chia sungguh tak mengerti dengan aura persaingan dari Riga terhadap Jun. Sepertinya Riga salah sangka pada pengacara yang selalu ada di sekitar Chia tersebut. Nyatanya, Riga menganggap Jun adalah saingan yang harus disingkirkan. Astaga. Bagaimana jika Riga tahu saingan lelaki itu yang sebenarnya? Apakah Riga akan tetap bersikap sama seperti ini? Ck! Chia tak yakin.
"Makasih buat tawaran lo. Tapi, gue masih bisa nganterin Chia pulang meski gue sibuk," ujar Jun dengan tersenyum penuh arti. "Gue pelindung Chia sekarang, kalau-kalau lo lupa. Gue yang bakal jaga dia setiap saat."
Mendengar perkataan Jun barusan, Chia hanya memutar kedua bola matanya.
"Kalau gitu lo boleh pensiun. Sekarang gue udah ada di sini. Mulai sekarang, gue yang jadi pelindung Chia."
Pernyataan tenang dari Riga barusan membuat hati Chia justru tak tenang. Chia merutuki kebodohan Riga yang berusaha menantang Jun. Riga tidak tahu kalau Jun adalah orang yang suka bersaing. Orang yang akan dengan senang hati menerima tantangan.
"Menjadi pelindung Chia itu gak mudah, apalagi berusaha merebut Chia dari gue." Mata Jun berkilat tajam pada Riga.
__ADS_1
Riga tersenyum simpul sambil mengangguk pelan. "Silakan. Tapi gue yakin, gue yang bakal menang."
Astaga! Berada di dalam situasi seperti saat ini, Chia justru mengangkat tangan. Dia menyerah. Tidak ingin berkata. Tidak ingin melerai. Biarkan saja. Chia tak mau ikut campur dalam persaingan dua lelaki bodoh yang seperti anak kecil sedang merebutkan permen.
Maka Chia memutuskan untuk pergi ke ruangan Bu Mila sendirian. Dia berbincang-bincang dengan kepala pengurus panti itu sebentar, lalu buru-buru meninggalkan gedung panti secara diam-diam lewat pintu belakang. Masa bodoh dengan Riga dan Jun yang masih berdebat di dalam.
∆ ∆ ∆
"Disuruh nganterin berkas yang ketinggalan lagi?" tanya Adit seraya menyejajarkan langkahnya dengan Chia.
Chia yang sedang buru-buru itu memang tak menyadari hawa keberadaan Adit yang ternyata sudah menunggunya di pintu masuk kantor Jun. Chia baru sadar saat Adit berjalan di sampingnya sambil menyunggingkan senyum.
"Iya. Kebiasaan. Jun pelupa," keluh Chia sambil berbelok lalu menaiki tangga. Adit masih mengekorinya di belakang.
"Setelah ngantern berkas, mau gak makan siang sama gue?" tanya Adit.
Chia akui kedatangannya itu memang selalu bertepatan dengan jam makan siang. Jun bilang, dia sibuk saat jam kerja. Jun tak ingin diganggu. Makanya, Jun selalu menyuruh Chia mengantarkan dokumen di saat jam istirahat.
Chia menoleh ke arah Adit. Chia dilema di dalam hati. Dia bukan tak mau menemani makan siang sahabatnya itu. Sesungguhnya Chia juga belum makan. Dia lapar. Namun, deadline tulisannya sebentar lagi. Akibat Riga yang meminta paksa untuk bertemu Chia belakangan ini, Chia lupa dengan naskah novelnya. Lupa dengan deadline yang bisa dihitung dengan jari. Bahkan sang editor sudah beberapa kali menghubunginya untuk menanyakan naskah cerita yang sedang digarap Chia.
Dengan wajah memelas Chia menggeleng lemah pada Adit. Adit terlihat kecewa. Namun lelaki itu tersenyum untuk menutupi rasa kekecewaannya. Chia masuk ke dalam ruangan Jun, sedangkan Adit menunggu di depan pintu.
"Akhir-akhir ini gue sibuk. Jangan tinggalin dokumen penting di apartemen gue, yang pada akhirnya gue harus mengantarkan itu sama lo," protes Chia yang hanya dijawab deheman pelan dari Jun. Jun dalam mode bekerja memang sangat menyebalkan.
Iya, orang yang pernah Chia temui waktu dirinya menunggu Adit mengeluarkan motor. Wajah asing yang entah kenapa mampu menyedot seluruh perhatian Chia terhadapnya. Chia terpaku begitu jarak antara lelaki itu semakin pendek dengannya. Chia bahkan sempat berhenti bernapas begitu lelaki tatapannya saling beradu. Kemudian lelaki itu melewatinya begitu saja memasuki ruang kerja Jun.
"Siapa dia?" tanya Chia pada Adit yang terlihat tenang dan biasa saja.
"Klien baru Jun," jawab Adit santai. Dia mendekat ke arah Chia sambil berbisik. "Tapi orangnya aneh."
Dahi Chia berkerut. "Kenapa?"
Adit mengacungkan jari di depan bibir Chia. Memberi kode agar Chia memelankan suaranya. "Coba aja dengerin." Adit menunjuk ke arah ruangan Jun.
"SAYA UDAH BILANG, SAYA INI PENGACARA. SAYA TIDAK BERTUGAS UNTUK MELAKUKAN PENYELIDIKAN PADA SIAPAPUN. SILAKAN ANDA CARI DETEKTIF YANG TERPERCAYA UNTUK MELAKUKAN HAL ITU." suara Jun yang menggelegar memang terdengar hingga keluar ruangan.
Chia dan Adit saling pandang, lalu pergi menjauhi ruangan pengacara yang moodnya terlihat sedang buruk. Chia maupun Adit tak ingin kena semprot seperti klien barusan.
"Orang itu terus-menerus neror Jun untuk membantu dia ngelakuin penyelidikan," jelas Adit sambil menuruni tangga. Dia tahu rasa penasaran Chia sepertinya belum tuntas.
"Emang penyelidikan apa?"
__ADS_1
"Entah. Denger-denger sih tentang penyelidikan seseorang yang punya masalah sama dia gitu."
Alis Chia bertaut. Dia mencoba mencerna penjelasan Adit barusan. "Dan dia ... pengen Jun yang nyelidikin?"
"Iya. Aneh 'kan? Bukannya minta tolong detektif, tapi malah minta tolong sama Jun."
Chia mengangguk. Lalu terpaku. Bergulat dengan pikirannya sendiri. Ada hal yang mengganjal hatinya. Chia merasakan ada sesuatu yang masih tak bisa dipahami. Perihal si orang aneh dengan tingkah anehnya.
♡ ♡ ♡
"Ayo!"
Fachri menoleh pada perempuan yang baru saja keluar dari rumahnya. Perempuan yang selalu memakai ornamen bernuansa pink itu, tanpa permisi memasuki mobilnya sendiri. Membiarkan Fachri menyusul dan duduk di balik kemudi.
"Lo yakin?" tanya Fachri memastikan.
Mara menoleh ke arah sahabatnya itu. Dia menatap Fachri dalam-dalam. Lalu berdecak sebal sambil mencubit lengan Fachri pelan. "Lo meragukan gue?"
"Bukan meragukan. Tapi memastikan. Gue mau hati lo siap untuk apapun yang nantinya akan lo bagi sama gue soal Asta."
Tangan Mara terlipat di depan dada. "Gue udah yakin seratus persen, Fachri. Jangan kebanyakan tanya dan akhirnya bikin gue berubah pikiran deh."
Fachri tersenyum lebar. Tangannya mencubit pipi Mara dengan gemas. "Iya, iya. Ngomong-ngomong. Lo kudu diet deh. Pipi lo makin berisi dan makin enak gue cubit."
"Lo minta digilas truk sama gue?" seru Mara berkilat marah. Sementara Fachri terkekeh geli sambil melajukan mobil mmasuki jalanan. Membaur dengan kendaraan lain yang sudah lebih dulu berlalu-lalang di jalan.
Sore itu Mara akan bercerita semua hal yang terjadi padanya beberapa tahun lalu. Dia akan memberitahu keberadaan Asta yang selama ini dirahasiakannya. Ya, Mara sudah sepenuhnya siap. Siap untuk membagi kisah. Siap untuk menata ulang hatinya. Siap untuk melupakan.
"Lo yakin ini tempatnya Mar?" tanya Fachri ketika memarkirkan mobilnya di bahu jalan setelah Mara bilang berhenti. Dia menoleh ke arah gadis di sampingnya yang tak kunjung bersuara. Fachri terkejut melihat wajah Mara yang berubah pucat. Senyum samar tercetak di wajahnya. "Tapi ... ini 'kan ...."
"Ya, Fachri. Asta tinggal di sini."
♡ ♡ ♡
Pertanyaannya :
ke mana Mara mengajak Fachri?
siapa sebenernya yang jadi pacarnya Chia?
😄😄😄
__ADS_1
yuk yuk tebak tebakan lagi 😆😆