
Mara dan Chika menerobos kerumunan di lapangan voli. Penasaran, Mara melangkah lebih jauh, berhasil berdiri di barisan paling depan. Ah, ia tak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya saat melihat Chia sedang duduk bersimpuh tepat di hadapan Renata dan kawanannya yang tersenyum sinis.
Melihat wajah Chia yang tak berekspresi sama sekali saat Renata menggunting rambutnya, membuat Mara teringat akan kejadian yang nyaris membuatnya terluka. Sudah empat kali Chia hampir mencelakainya, dan hal itu membuat Mara tak tergerak sama sekali untuk menolongnya.
Chika menarik baju Mara dari belakang. "Pergi yuk!" bisik Chika.
Mara menoleh dan menatap wajah gadis berambut pendek itu ketakutan. Ya, Mara bisa memaklumi. Chika pasti takut jika Renata melihat dan mengetahui keberadaannya yang berdiri di antara kerumunan. Bisa-bisa Chika justru ikut ditindas dan berakhir seperti Chia saat ini.
Tanpa banyak bicara, Mara langsung menarik Chika keluar dari kerumunan. Samar, Mara melihat Chika bernapas lega sambil berjalan mengekor di belakangnya.
● ● ●
Riga tak bisa memungkiri jika perasaannya setengah gusar saat ini. Di tengah-tengah rapat OSIS yang sedang dilakukannya, sesekali matanya melirik keluar jendela.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu, namun pemandangan di lapangan voli menandakan bahwa murid-murid sepenuhnya belum pulang dari sekolah.
Riga tetap bergeming dari tempatnya saat melihat Renata mulai menggunting rambut Chia, setelah melemparkan air kotor ke wajahnya. Penampilan kacau dari gadis berwajah datar di lapangan voli itu membuat Riga nyaris kehilangan perhatiannya dari ruang rapat OSIS.
Riga tertegun saat tatapannya tertangkap oleh gadis itu. Posisi duduk Riga yang berada tepat di samping jendela, membuat siapa pun pasti bisa melihatnya dengan jelas dari lapangan voli, meski ruang OSIS berada di lantai dua.
Sial! Dia masih ngelihat ke arah gue. Riga memalingkan wajahnya. Perasaannya selalu menjadi kacau saat matanya memandang bola mata berwarna hitam kelam yang selalu menatapnya datar itu.
● ● ●
__ADS_1
Chia memasuki kelasnya dengan 'cuek'. Masa bodoh dengan teman-temannya yang menatapnya terkesima. Chia tahu, penampilannya pagi itu tampak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Rambut Chia yang biasa panjang lurus tergerai begitu saja, kini memiliki gaya yang berbeda. Perawatan khusus dari Renata dan teman-temannya, membuat model rambut Chia berbeda dari umumnya.
Saat sebelum berangkat tadi ia sempat memandangi penampilan barunya. Sebagian masih seperti awalnya, sebagian rambutnya memiliki panjang berbeda, bahkan ada bagian yang nyaris botak karena Renata memotongnya terlalu pendek.
Chia duduk di bangkunya dengan santai. Matanya sempat melihat Sani, Hana dan Krisha yang nyaris berdiri namun justru duduk kembali. Mungkin mereka mulai benci sama gue. Chia mengendikan bahu pelan sambil menatap keluar jendela. Yah, biarlah jika akhirnya ketiga temannya ikut menjauhinya. Chia tak terlalu peduli.
● ● ●
Chia masih memandangi sepeda tua pemberian mendiang ibunya yang sekarang berubah menjadi potongan-potongan besi berkarat, mirip seperti barang rongsokan. Chia menutup pintu gudangnya dengan berat hati. Ia tak pernah membayangkan jika akhirnya sepeda tua itu menjadi penghuni baru gudang rumahnya.
Sejak menemukan sepeda tuanya yang telah berubah menjadi potongan-potongan kecil kemarin saat jam pulang sekolah, Chia harus berangkat lebih pagi. Ia tahu rumahnya tak terlalu jauh dari sekolah. Namun, berjalan kaki akan memakan waktu lebih lama dibanding mengendarai sepeda tuanya.
Sambil berjalan, Chia masih berpikir siapa yang tega merusak kendaraan satu-satunya itu. Renata kah? Mengingat perkataan terakhir gadis itu sebelum meninggalkan Chia di lapangan voli beberapa hari lalu, Renata adalah kandidat pertama pelakunya.
"Gue tau lo udah tau tentang keluarga gue. Berani lo macem-macem dan nyebarin hal ini ke orang-orang, gue gak segan-segan ngelakuin hal lebih sama lo. Dan atas kehilangan rambut lo yang selalu lo rawat itu, salahin diri lo sendiri yang berani-beraninya nyari tau tentang keluarga gue! Ngerti lo!"
Chia menghela napas. Pasrah. Tak mau ambil pusing soal siapa yang melakukannya. Toh banyak sekali orang yang menyimpan dendam pada Chia. Termasuk lelaki yang saat ini telah memarkirkan motor hitamnya di depan Chia, dan laki-laki itu tengah berjalan ke arahnya.
"Rei," gumam Chia pelan sambil menatap datar padanya.
"Lo masih nyuekin gue? Voice note, panggilan atau sekedar pesan singkat dari gue, gak ada yang lo bales satu pun. Lo gak tau kalo gue kangen banget sama lo?"
Chia tersenyum tipis, geli. "Kangen? Lucu!" Chia memutar kedua bola matanya.
__ADS_1
"Lo gak bawa sepeda lo? Lo mau jalan kaki ke sekolah? Dua kilo tuh jauh. Gue anter ke sekolah, yuk!"
"Buat apa?" tanya Chia cepat. "Lo pengen Riga lihat lo ngeboncengin gue, terus dia cemburu dan datengin lo? Rasanya percuma."
"Gue gak ada niatan kayak gitu. Gue gak mau pacar gue jalan kaki jauh ke sekolah."
Chia menatap sebal ke arah Rei. Dari cara lelaki itu bicara sambil membuang muka, ia tahu niat Rei memang ingin membuat Riga cemburu. Cemburu? Bahkan cowok itu sama sekali gak peduli tentang gue.
Mengingat saat Chia menangkap Riga yang diam-diam memerhatikannya dari ruang OSIS waktu itu dan tak melakukan apa pun, sudah bisa dipastikan seberapa besar ketidakpedulian lelaki itu terhadapnya.
"Berhenti nyebut gue pacar lo," protes Chia masih dengan nada yang sama.
"Tapi gue tetep nganggep lo satu-satunya pacar gue!" Rei menatap Chia dengan mata yang berkilat.
"Terus Agnes? Lo anggap apa? Selingkuhan lo?" Pertanyaan Chia membuat raut wajah Rei berubah. Lelaki itu menelan ludah dan menundukkan kepalanya.
"Gue minta maaf soal Agnes. Waktu itu gue khilaf. Gue bisa jelasin semuanya sama lo, kalo lo mau balikan sama gue." Rei bicara penuh harap dan dibalas senyuman tipis dari sudut bibir Chia.
"Ngelihat seberapa besar usaha lo buat balas dendam sama gue dan Riga, udah ngejelasin seberapa sayangnya lo sama Agnes."
Lagi. Chia melihat lagi Rei tertegun dengan perkataan yang baru saja terlontar dari mulutnya. Lelaki itu bergeming, membeku di tempatnya. Chia yang tak ingin berlama-lama, bergegas berjalan melewati lelaki yang sedang mematung itu.
"Gue bakal bikin lo ngerasain gimana rasanya kehilangan Riga!"
__ADS_1
Chia menghentikan langkah. Ia berbalik badan dan menatap Rei penuh arti.
● ● ●