
Mara kesal. Lihat saja, sepanjang ia berjalan di koridor, semua orang menatapnya dengan tatapan aneh yang membuat Mara ingin mencolok satu persatu semua mata itu.
Nyebelin! Hei! Gue bukan penjahat, buronan atau ******* yang harus dicurigain!
Mara mendengus. Kesal rasanya setiap hari mendapat tatapan seperti itu. Ia hanya seorang siswi SMA biasa seperti gadis-gadis lain. Ia bahkan tak pernah melakukan tindakan kriminal atau melanggar peraturan sekolah.
Yang bikin ulah kan Asta, bukan gue! Kalo mau curiga dan takut, ya sama tuh kecoa aja! Jangan sama gue! Kesal Mara di dalam hati.
Mara berbelok dan menghentikan langkahnya di ujung koridor. Tiba-tiba seseorang memeluk dan menariknya ke belakang. Mara dan orang itu terjatuh bersamaan dengan vas bunga berukuran besar yang jatuh dari lantai tiga.
"Lo gak apa-apa?"
Mara mengerjapkan matanya. Ia terlihat kebingungan dengan situasi yang dialaminya saat ini. Ia menatap laki-laki yang menolongnya itu sejenak. Riga? Dengan cepat Mara duduk dan sedikit menjauhkan diri dari lelaki itu.
"Iya," jawab Mara pelan.
Mara masih terkejut. Ia menatap vas bunga yang pecah berantakan di hadapannya. Tanahnya berserakan. Bunga mawar yang baru mekar pun telah rusak dan berceceran di lantai.
Mara beralih ke sekeliling. Orang-orang mulai ramai berdatangan. Mereka berbisik-bisik sambil menatap Mara dan Riga yang masih terduduk di lantai itu.
"Kita pergi dari sini!" Riga mengulurkan tangannya ke arah Mara.
Mara menatapnya sejenak. Agak ragu. Ya udahlah bodo amat orang mau bilang apa! Yang jelas gue harus pergi dari kerumunan orang-orang ini! Mara pun meraih tangan laki-laki itu dengan cepat.
● ● ●
Saat itu jam istirahat makan siang. Chia menginjakkan kakinya di undakan anak tangga yang terakhir. Sementara Sani, Hana dan Krisha, ketiga sahabatnya telah turun terlebih dahulu. Chia berjalan mengekor di belakang ketiga sahabatnya itu. Rencananya saat ini ia ingin mencicipi menu baru di kantin lantai satu bersama mereka.
Langkah Chia terhenti ketika terdengar suara keras benda terjatuh di ujung koridor. Ia dan ketiga sahabatnya itu saling menatap, sebelum akhirnya menghampiri kerumunan di belakang sana.
__ADS_1
Vas itu jatuh? Chia tampak mengamati kepingan tanah liat yang tercecer di lantai. Lalu matanya beralih menatap kedua orang yang sedang terduduk di tengah kerumunan.
Riga dan Mara. Ah, rasanya Chia harus segera pergi dari sana. Menyebalkan, saat ia harus mendengar ocehan gadis-gadis yang berkerumun itu. Terutama ketiga sahabatnya, yang sudah pasti akan mengomelinya sepanjang hari karena sikap 'cuek' Chia setelah melihat kejadian itu.
Ya, bodo amat. Itu bukan urusan gue.
● ● ●
Gini nih yang dijauhin satu sekolah! Mau makan aja susah. Huh! Keluh Mara saat ia harus puas melihat tempat favoritnya telah ditempati oleh siswa lain.
Mara berjalan dengan kesal meninggalkan tempat itu. Taman di dekat kantin lantai satu itu adalah tempatnya menghabiskan waktu istirahat makan siangnya. Sekarang, tempat itu akan menghilang selamanya.
Emang sih cara ngusirnya gak sekejam kayak waktu para penjual makanan di kantin ngusir gue dari sana. Bayangkan saja, saat itu Mara tengah asik menikmati nasi sotonya. Wajahnya sedang semringah, bahagia. Namun, tiba-tiba ia telah dikerumuni para pedagang di kantin itu.
"Dek, kami semua di sini gak punya niat jahat sama Adek." Bapak Penjual Siomay tampak ragu. Kaki dan tangannya terlihat gemetar.
"Kamu itu pelanggan terbaik saya Neng. Tapi saya masih butuh uang buat biayain anak-anak saya." Ibu Penjual Soto kini terlihat sedih.
"Jadi?" Mara terlihat bingung.
"Gini, Neng. Sudah satu bulan, kantin ini sepi. Neng bisa lihat sendiri kan?" Ibu Penjual Soto itu masih bicara.
"Saya gak tahu ada masalah apa, sampe jadi sepi begini. Tapi anu ...." Ibu itu menggantungkan perkataannya.
"Lanjut aja, Bu! Gak usah dijeda-jeda." Mara memutar kedua bola matanya. Ah, nafsu makannya mendadak hilang.
"... Dari gosip-gosip yang beredar ...." Lagi-lagi ibu itu menggantungkan perkataannya.
Yaelah, mau ngusir gue ceritanya? Mara mendengus. Ia bangkit berdiri sambil menaruh selembar uang berwarna biru di dekat mangkuk sotonya yang masih berisi separuh.
__ADS_1
"Ya udah deh, Bu. Saya ke kelas aja. Makasih buat sotonya. Enak!" ujar Mara sambil berjalan meninggalkan kerumunan para pedagang itu. Meski ia mendengar namanya dipanggil beberapa kali, disusul ucapan permohonan maaf, namun Mara enggan berbalik badan. Ia hanya melambaikan tangan, untuk menandakan bahwa ia baik-baik saja.
Mara menghela napas. Kenangan buruk itu jadi keinget lagi! Kesalnya saat pikirannya telah kembali. Ia tertegun, menatap sekeliling. Ah, karena melamun sambil berjalan, ia tak tahu bahwa ia telah berada di undakan terakhir anak tangga menuju beranda lantai tiga.
"Kok sepi? Tumben banget! Aneh deh!" komentarnya saat matanya mengintip dari celah-celah pintu yang terbuka sedikit.
Ia memegang gagang pintu dan membukanya lebih lebar.
"Riga?" Mara terkejut. "Kok dia ada di sini?"
Mara menatap laki-laki yang sedang duduk di beranda lantai tiga itu tanpa berkedip. Seperti terhipnotis, ia hanya mematung di sana. Tubuhnya kaku. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Napasnya mulai tak beraturan. Kaki dan tangannya sedikit bergetar. Bahkan udara yang dingin di sekitarnya pun tak membuat keringatnya berhenti bercucuran.
Lagi-lagi kayak gini! Kesalnya.
Uh, ingin sekali rasanya Mara memutar arah. Pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Namun, alam bawah sadarnya kembali mengambil alih kendali tubuhnya.
Tanpa Mara sadari tangannya telah memutar gagang pintu dan membuatnya terbuka lebar. Kakinya tiba-tiba bergerak maju ke depan. Menghampiri laki-laki yang duduk jauh di hadapannya. Langkahnya terhenti ketika jarak antara keduanya hanya 30 cm.
● ● ●
Sudah sepuluh menit Riga berada di beranda lantai tiga. Ia duduk di salah satu kursi yang menghadap ke arah pintu. Ia mengangkat kepalanya dan memandang langit.
Ketenangan seperti inilah yang dicarinya. Hingar bingar eluan para siswi di sekolahnya membuat kepalanya serasa panas dan akan meledak. Ia tak tahan.
Tiba-tiba Riga memutar kepalanya. Diperhatikannya gadis yang saat ini berdiri di depannya. Gadis yang tiba-tiba muncul dan memecah keheningannya. Ia menatap gadis itu cukup lama. Tampaknya gadis itu sedang melamun. Ia terlihat diam dan tak berkata apa pun.
"Kenapa?" tanya Riga dengan datar.
● ● ●
__ADS_1