
"Kenapa? Lo gak suka?"
Menaikkan salah satu alis, mata Mara melirik pada sosok jangkung yang terbalut tuxedo hitam sedang berdiri di sebelahnya. Lelaki itu bahkan tersenyum tipis ke arah Mara.
Mara mendengus sambil membuang muka. "Gak ada urusannya sama lo, Bapak Calon Direktur!" sindirnya.
"Cih! Apanya yang calon direktur! Jelas-jelas lo direktur utamanya dari sepuluh tahun yang lalu! Dan selama itu juga lo boongin semua orang. Pura-pura jadi anak sekolah biasa dan berlindung di belakang Pak Dan, tangan kanan Kakek lo! Dasar penipu!" Mara bicara tanpa jeda dengan amarah yang menggebu-gebu.
Ia melirik ke arah Asta yang terlihat terpaku. Tatapan galaknya jelas terarah pada lelaki itu. Menuntut penjelasan yang logis karena selama ini ia dibohongi lelaki gila itu.
"Pantes aja ruang pribadi lo di kelas S kayak gitu! Selama ini lo nutupin segalanya dari semua orang." Mara menggeleng-gelengkan kepala, tak percaya.
"Darimana lo tau?" tanya Asta yang telah terlihat lebih santai dari sebelumnya. Membuat Mara tak sabar ingin menghajarnya habis-habisan dengan sepatu heels yang sedang dipakainya.
"Chia yang ngasih tau semuanya sama gue," jawab Mara malas sambil mengalihkan pandangan. Wajah cemberutnya malah membuat lelaki yang berdiri di sampingnya itu mengulum senyum.
"Gak adil! Chia tau semua tentang keluarga lo, sedangkan gue engga." Mara mendengus sebal. Membuat lelaki di sebelahnya itu makin sumringah.
"Lo cemburu?"
"Engga!" bantah Mara cepat sambil memalingkan wajah. Menutupi pipinya yang mulai memerah karena malu ketahuan. Apa jadinya jika Asta tahu ia cemburu? Gue pasti diledekin deh sekarang!
Dan benar saja! Asta tertawa lebar. Membuat Mara makin gemas dan ingin menyumpal mulut lelaki itu dengan tas kecil yang dibawanya. Hanya saja Asta lebih cepat bertindak.
Lelaki itu membuat Mara tak berkutik.Terdiam mematung hanya karena sebuah ciuman mendarat di pipinya. Dasar Asta brengsek! Keluh Mara sambil menatap tajam lelaki yang telah berubah menjadi dingin kembali itu.
"Gue gak pernah ngasih tau siapapun. Termasuk Chia. Chia cari tau sendiri tentang gue diem-diem," jelas Asta dengan tenang.
__ADS_1
Ah! Sebenarnya Mara juga sudah tahu mengenai hal itu. Chia sendiri yang menjelaskannya. Hanya saja ia harus mengakui jika ia sedikit cemburu.
Yah! Sudahlah! Toh memang tidak ada hubungan apapun antara Asta dan Chia selain pertemanan. Dan Chia telah menjadi temannya. Ia harus percaya pada Chia ataupun Asta.
Mara terperanjat saat Asta tiba-tiba menarik tangannya. "Mau ke mana?"
Lelaki itu memilih mengabaikan Mara dan tetap berjalan. Memasuki ruangan pesta. Melewati orang-orang yang sedang menyantap makan malamnya. Lalu berdiri di samping ayah Mara yang tampak terkejut.
Mau ngapain sih psikopat gila? Meski mengumpat, Mara memilih bungkam. Menunggu tindakan selanjutnya lelaki yang masih menggengam erat tangannya.
"Permisi Om, Tante. Mohon maaf saya telah mengganggu makan malam Om sama Tante. Saya ingin bicara sesuatu." Asta memulai pembicaraan yang langsung mendapat anggukan kaku dari kedua orang tua Mara.
"Mungkin saat ini saya masih anak SMA biasa. Tapi saat saya telah lulus SMA dan kuliah nanti, juga telah bekerja di perusahaan ini, saya ingin menikah dengan Mara. Bagaimana Om, Tante?"
Ah! Menyebalkan! Apa-apaan dengan lelaki di samping Mara itu? Asta terlihat tenang-tenang saja. Padahal lelaki itulah yang membuat keadaan berubah menjadi setegang ini.
Dan Mara membulatkan matanya dengan mulut yang terbuka lebar saat melihat kedua orang tuanya mengangguk kaku. Parahnya, ia tercengang saat melihat Pak Dan, yang tidak tahu sejak kapan telah datang, kini tengah duduk di meja berhadapan dengan kedua orang tuanya.
"Bagaimana jika perbincangan ini kita lanjutkan antar orang tua?" Pria paruh baya itu tersenyum lebar lalu melirik Asta. Dengan isyarat matanya ia meminta Asta untuk pergi.
Belum sempat Mara mengatakan apa pun, Asta telah menariknya. Mara pasrah mengikuti. Meski sesekali matanya menoleh ke belakang dengan perasaan cemas.
"Aw!" pekik Mara saat ia telah tiba di balkon. Ia mendengus sambil mengelus pipinya yang dicubit Asta barusan.
"Makanya jangan mikirin macem-macem. Lo gak percaya sama Kakek gue?"
Mara memutar kedua bola matanya. Malas. "Kadang-kadang gue ngerasa lo itu dukun! Lo selalu tau apa yang gue pikirin."
__ADS_1
Asta tertawa. Ia mengulurkan tangan dan mencubit pipi Mara lagi dengan gemas. "Gue bukan dukun. Ekspresi muka lo aja yang gampang ketebak."
Mara mencebik sambil memalingkan wajah. Kesal!
"Dansa yuk!" bisik Asta yang langsung mendapat pelototan dari Mara, dan anehnya lelaki itu tetap tersenyum.
Mara terkesiap saat Asta mengacungkan tangan Mara yang sejak tadi digenggamnya. "Sejak kapan benda kecil itu ada di tangan gue?"
Ya! Ada benda kecil berkilauan terselip di jari manisnya. Yang entah sejak kapan melingkar di sana. Gara-gara benda itu juga, sekaranf Mara jadi salah tingkah di depan Asta.
"Sejak kebegoan lo gak ilang-ilang," jawab Asta santai.
"Serius! Kasih tau gue!"
"Engga! Sampe lo mau dansa sama gue."
"Ogah!"
"Ya udah!"
"Ya udah sana pergi!"
Asta tertawa. Mara mendengus. Nyatanya dari perdebatan itu justru Mara yang kalah. Mara malah menuruti Asta dan berdansa dengan lelaki itu.
"Jadi kapan lo diem-diem masangin cincin di jari gue?" Mara bertanya disela-sela dansanya. Sungguh ia sangat penasaran. Setahunya, sejak tadi tangannya itu digenggam Asta, dan ia tak merasakan Asta menyelipkan cincin di jarinya.
Ah! Mara frustrasi karena rasa penasarannya. Menyebalkannya, Asta hanya tersenyum dan tetap berdansa. Lelaki itu tidak memberikan jawaban apapun. Membuat Mara dongkol sendiri karena menuruti lelaki itu tadi.
__ADS_1
● ● ●