
Chia mengamati punggung Riga dari pintu beranda lantai tiga. Pelan-pelan didekatinya lelaki yang masih asyik dengan pikirannya sendiri itu. Chia duduk di sebelahnya.
Matanya ikut memandang ke bawah sana. Mengamati Fachri dan gadis bernama Mara yang sedang berlatih bermain basket. Ah, wajar saja. Hari ini tak ada latihan di klub basketnya. Jadi tak masalah jika siapa pun ingin menggunakan lapangan basket untuk berlatih.
Chia tersenyum getir. Ia sudah tahu alasan Riga selama dua bulan ini sering datang ke beranda lantai tiga saat tak ada latihan. Apalagi? Mengamati diam-diam ke arah dua sahabat yang sedang tertawa bersama di bawah sana.
Ah, sebenarnya Chia sudah lama menyiapkan hati jika hal ini terjadi. Ia tahu, suatu saat Riga pasti menemukan gadis impiannya. Sekarang gadis itu ada di depan matanya. Sangat dekat. Bahkan gadis itu telah menyatakan perasaannya pada Riga.
"Kenapa lo nolak dia?"
Chia membuat Riga menoleh ke arahnya. Tatapan laki-laki itu dingin, namun menuntut jawaban.
"Cewek itu. Dia tipe lo kan? Lo bahkan ngejomblo buat nyariin dia." Chia menghela napas. Mungkin rasanya berat. Namun ia harus melepaskan Riga. Ia tak ingin Riga terpaksa bertahan dengannya hanya karena ingin menjaga perasaan Chia. Riga juga harus bahagia.
Pletak!
"Dasar bego! Jangan berpikiran macem-macem!"
Chia mendengus. Tangannya mengelus-elus kepalanya yang tadi dipukul pelan oleh Riga.
"Gue gak berpikiran macem-macem," jawab Chia sambil membuang muka. Ia tetap tak menoleh ke arah Riga meski ia mendengar helaan napas dari laki-laki itu.
Hingga ia terperangah saat Riga tiba-tiba menarik tubuh Chia mendekat ke arahnya. Laki-laki itu menundukkan kepalanya. Menyejajarkan kedua bola matanya dengan Chia dan sukses membuat jantung Chia hampir lepas dari tempatnya.
Tubuh Chia membeku saat tatapan dingin dan serius milik Riga terarah kepadanya. "Gue bertahan sama lo karena gue sayang sama lo. Masa bodoh dengan cewek idaman gue. Sekarang di hati gue cuma ada lo. Jelas?"
Chia menelan ludah. Menunduk. Sebal. Selalu saja Riga bisa mengerti pikirannya tanpa perlu penjelasan.
__ADS_1
Chia menitikkan air matanya. Sakit! Hatinya semakin sakit. Ia memejamkan matanya. Membiarkan tubuhnya sepenuhnya masuk ke dalam deburan ombak.
Ah, air laut terasa sangat dingin saat itu. Tubuh menggigilnya sudah berbaur dengan dinginnya air, membuatnya mati rasa dengan suhu yang bahkan bisa menusuk ke dalam tulangnya.
"Chia!"
"Hmm?" Chia menoleh. Meneliti Riga yang sedang terhanyut memandang pertunjukan air mancur di depannya. Pertunjukan yang sangat disukai Chia.
"Udah setahun lebih kita pacaran. Kapan lo bakal bilang sayang sama gue? Sekalipun gue belum denger dari mulut lo."
Chia membelalakkan matanya. Tertegun. Ia mengalihkan pandangan. Tak tahu harus menjawab apa.
"Lo masih kepikiran soal Rei? Lo masih sayang sama dia?"
Deg! Lagi-lagi pertanyaan Riga membuat Chia terdiam. Ia hanya memaki kebisuannya di dalam hati.
Sedikit demi sedikit Chia mulai kesulitan memperoleh oksigen. Napasnya mulai berat. Ia sudah merasakan telinganya mulai berdengung. Beberapa kali air laut tertelan melewati tenggorokannya.
Namun, hari ini ia sudah menetapkan hatinya. Bersusah payah meyakinkan diri untuk bisa mengungkapkan perasaan yang sebenarnya pada Riga. Perasaan yang tak pernah bisa diungkapkannya selama ini.
Memang tak adil. Sudah setahun lebih ia menggantungkan perasaan Riga. Membuat lelaki itu cemas karena perasaannya tak terbalas oleh Chia. Maka dari itu. Hari ini, Chia akan mengungkapkan perasaannya. Menumpahkan seluruh hatinya untuk Riga.
"Gue beli minum dulu yah," kata Riga tiba-tiba sambil melepaskan kaitan jari-jemarinya dari tangan Chia.
"Gue mau ngomong suatu hal sama lo sebentar," cegah Chia. Ia tak ingin Riga pergi. Ah, ia tak tahan berlama-lama memendam perasaannya.
"Gue pergi sebentar. Gue janji langsung balik ke sini."
__ADS_1
Chia tak menjawab. Matanya menatap lurus ke arah Riga. Sungguh, ia tak ingin lelaki itu pergi sebelum ia bicara tentang perasaannya. Riga sungguh payah. Ia tak tahu bagaimana sulitnya untuk Chia mengumpulkan keberaniannya.
"Lima menit gue balik. Oke?"
Chia masih terdiam.
"Gue janji, yah?"
Chia mendengus. Ia akhirnya mengiyakan permohonan Riga. Tak tahan melihat wajah memelas lelaki itu.
Sepuluh menit, dua puluh menit Riga belum kembali. Resah. Chia tak bisa menutupi rasa gelisahnya. Ia bergerak. Mencari laki-laki dingin itu. Ia tertegun saat Riga berada di seberang dan melambai ke arahnya.
Chia menatap kesal pada laki-laki yang baru saja menyeberang jalan sambil tersenyum ke arahnya.
"Sorry lama. Tadi antriannya panjang," ujar Riga sambil menyerahkan sebuah gelas plastik pada Chia.
Chia meraih gelas itu sambil bernapas lega. Syukurlah tak ada yang perlu diresahkannya lagi. Chia menyeruput minumannya dengan tenang. Lalu semuanya tiba-tiba terjadi begitu cepat.
Ia tak tahu kapan Riga berlari meninggalkannya. Chia tak tahu ada seorang wanita sedang menjerit karena anak balitanya sedang berjalan ke tengah jalan. Bahkan ia tak menyangka jika saat itu sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Gelas plastik di tangan Chia terjatuh. Sungguh, kali ini jantung Chia nyaris berhenti berdetak. Kaki lemasnya langsung berlari pada tubuh penuh darah yang terkapar di atas aspal yang masih memeluk seorang balita yang langsung diselamatkan ibunya.
Chia berhenti bernapas sesaat. Suaranya hilang. Tubuh kakunya masih terduduk di samping seseorang yang sedang memejamkan matanya. Mata nanarnya masih menatap takut pada tubuh yang tak bergerak itu. Pelupuk mata Chia sudah berair sejak tadi.
Tiba-tiba ia menjerit sekencang-kencangnya. Tubuhnya bergetar. Ia merebahkan tubuhnya di samping lelaki penuh darah di jalanan. Sebelum seluruh penglihatannya menjadi gelap, ia melirik mobil yang tadi menabrak lelakinya. Ia hafal pelat nomor mobil yang telah menabrak pohon besar itu. Milik Rei.
Chia mulai merasa paru-parunya telah dipenuhi dengan air. Ia tak bisa menarik atau mengembuskan napasnya sedikitpun. Berat dan sesak. Ah, biarlah. Tak apa jika lautan terus menariknya ke dasar. Mungkin ia sudah diijinkan untuk menyatu dengan laut. Susah payah, akhirnya Chia bisa menarik senyum di bibirnya untuk terakhir kali.
__ADS_1
"Pada akhirnya gue gak akan pernah bisa ngungkapin perasaan gue ke elo, Utaraka Meteoriga."
● ● ●