Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 24 : U and Tears (2)


__ADS_3

Chia memekik pelan. Ia menatap ngeri pada lutut kanannya yang masih terbalut perban karena luka bekas tertusuk jari-jari sepeda yang belum tertutup sepenuhnya. Ah, kali ini luka itu terbuka lagi dan membesar dilihat dari pecahan kaca yang menancap di lututnya.


Darah mulai mencuat keluar. Tetes demi tetesnya mulai mengenai pecahan kaca yang tadi sempat menjadi tempat mendarat untuk Chia. Ia bangun dan berusaha berdiri sambil menahan rasa ngilu yang luar biasa.


Chia biasa terluka. Memar, lebam, goresan dan berdarah bukan hal asing baginya. Tapi menatap pecahan kaca yang masih menempel di lututnya, dan ia sendiri tak kuasa mencabut kaca itu, akhirnya Chia hanya tersenyum miris dan berdiri di depan Asta yang masih marah besar padanya.


"Pergi dari sini sebelum gue ngelakuin hal lebih!"


Chia tak menjawab. Ia berjalan dengan terpincang melewati Asta yang bahkan berteriak tanpa melihat ke arahnya tadi. Uh rasa ngilunya membuat Chia tak bisa berjalan dengan cepat. Menekuk lututnya dan berusaha berjalan normal pun rasanya percuma. Kakinya terasa sangat sakit.


Chia menatap sebentar pada salah satu teman Asta yang membukakan pintu untuknya sambil memandangnya penuh rasa khawatir. Chia tersenyum pada laki-laki itu sebelum ia berjalan terseok melewatinya.


● ● ●


"Asta lo yakin ngebiarin cewek itu terluka kayak gitu?"


Asta mendelik tajam ke arah Damar yang berdiri di dekat pintu. "Gue gak peduli!" jawab Asta enteng.


Ia lalu menunjuk teman-temannya yang tampak membisu di tempatnya. "Lo semua beresin!" perintah Asta sambil berjalan menuju ruangan pribadinya.


● ● ●


Chia sudah tak kuat berjalan. Napasnya tersengal-sengal. Pandangannya mulai kabur. Ia tak tahu sudah berapa banyak darah yang terus mengalir dari lututnya.


Ia menghempaskan diri di koridor. Matanya yang berkunang-kunang membuat Chia tak tahu jelas ia duduk di koridor mana. Ia menyandarkan badannya ke tembok sambil meluruskan kakinya. Ia tersenyum miris memandangi kaos kakinya yang hampir berubah warna menjadi merah semua.


Chia memejamkan matanya. Tadinya ia ingin beristirahat sebentar sebelum berjalan kembali menuju UKS dan mengobati lukanya. Namun rasanya matanya tak ingin terbuka.


Menggerakkan satu jarinya pun terasa sulit. Badannya terlalu lemas untuk digerakkan.


Chia nyaris kehilangan kesadarannya jika saja ia tak mendengar seseorang menyerukan namanya dengan nada khawatir. Dengan susah payah Chia membuka matanya kembali.


Meski pandangannya masih kabur, Chia masih bisa melihat wajah orang yang saat ini sedang menggendongnya sambil berteriak tak jelas. Chia hanya diam saja ketika lelaki itu memasukkannya ke dalam sebuah mobil dan memeluknya dengan erat saat mobil mulai melaju.


Sebenarnya Chia ingin mengatakan sesuatu. Berterima kasih karena lelaki itu selalu hadir untuk membantunya. Namun seluruh kata-katanya tertahan. Akhirnya Chia hanya diam saja sambil memejamkan matanya lagi. Kali ini ia sungguh-sungguh kehilangan kesadarannya.


● ● ●


Chia membuka matanya perlahan. Ia tersenyum tipis saat melihat ruangan bernuansa serba putih. Ia benci tempat itu. Tempat yang membuat ibunya meninggal karena melahirkannya. Namun nyatanya Chia malah berakhir dan berbaring di tempat yang dibencinya itu.


Chia melirik lututnya yang mulai terasa berdenyut lagi. Kali ini pemandangan pada lututnya tak sengeri saat lutut itu belum di perban seperti ini. Berapa jahitan yang gue dapet? Chia tak terlalu peduli. Tatapannya beralih pada seseorang yang duduk di samping ranjangnya dengan muka masam menahan amarah.

__ADS_1


"Makasih, Dit," ucap Chia parau dan membuat laki-laki itu melihat ke arahnya. Hanya itu yang bisa diucapkan Chia pada laki-laki yang sekarang sedang mengelus pipinya dengan tatapan sedih.


"Apa yang terjadi?" tanya Adit.


"Lo tau kan gue gak pernah mau inget soal apa yang udah terjadi sama gue," jawab Chia pelan sambil memalingkan wajahnya.


"Gue lihat bekas darah lo sampe ke gedung kelas S. Apa Asta yang bikin lo kayak gini?"


"Bukan," dalih Chia.


"Gue harus kasih tau Riga!"


"Enggak!" bantah Chia cepat sambil memelototi Adit yang telah bangkit berdiri.


"Mau sampai kapan lo diem terus kayak gini? Sampe lo berakhir di kuburan karena Asta atau Renata?"


"Mereka gak akan kayak gitu!"


"Terus apa penjelasan lo dengan sembilan jahitan di lutut lo?"


Chia terdiam sejenak. "Gue gak apa-apa," ujar Chia lirih sambil menundukkan kepalanya.


"Gue harus pergi!"


"Riga harus tau apa yang terjadi sama lo. Kalo bukan karena dia yang ngejauhin lo, lo gak akan berakhir kayak gini!"


"Jangan kasih tahu apa pun sama Riga! Gue mohon!" Chia menggigit bibir bawahnya, menahan air matanya yang nyaris terjatuh. Ia tak boleh rapuh. Tidak boleh terlihat rapuh bahkan di depan Adit sekalipun.


"GUE HARUS!"


"Adit!"


"Sorry, Chia! Gue gak bisa ngebiarin cewek yang gue sayang terluka dan berakhir lagi di rumah sakit kayak sekarang."


Chia tercengang saat Adit membuka pintu dan keluar dengan cepat tanpa memberi kesempatan untuk Chia mencegah kepergian laki-laki itu.


"ADIT GUE MOHON JANGAN BILANG APAPUN SAMA RIGA! ADIT!" Chia meneteskan air matanya yang sudah tak terbendung lagi. Berteriak sekencangnya seperti barusan malah membuat Chia menguras emosinya. Chia meremas selimutnya sambil menggigit bibir bagian bawahnya. Harusnya ia tak menangis lagi seperti ini.


● ● ●


"Gimana kondisi Chia? Tadi gue lihat lo gendong dia dan dia pucet banget. Kakinya berdarah lagi. Chia kenapa?"

__ADS_1


Riga memandangi Sani yang tadi bertanya dan langsung meloncat mendekati Adit, yang baru saja membuka pintu ruang klub sastra. Ia tak berkomentar apa pun dan hanya menatap datar laki-laki yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Lo lihat gue tadi?" Alih-alih menjawab pertanyaan Sani, Adit malah menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah Riga.


"Hmm," jawab Riga datar sambil menarik pandangannya kembali ke komputer.


Riga terkejut saat Adit mencekal kerah bajunya dan menariknya hingga tubuh Riga berdiri. Dengan sorot mata penuh amarah dan benci, laki-laki itu langsung memukul Riga dengan kencang hingga ia terduduk di lantai.


"KALO LO LIHAT GUE, SEHARUSNYA LO IKUT NOLONG DIA! BRENGSEK!" Adit berteriak di depan wajah Riga dan memukul wajahnya berkali-kali.


Riga sendiri hanya pasrah menerima tinju dari sahabatnya itu. Tak ada niat untuk melawan dan membalas pukulan bertubi-tubi dari Adit.


"Kenapa gue harus nolong dia?"


"Lo pikir gara-gara siapa dia kayak gitu, hah?"


Riga menarik ujung bibirnya saat Adit berhenti meninjunya. "Kenapa lo semarah ini? Karena lo sayang sama cewek yang masih punya status pacar gue?"


Riga menatapnya dingin, menunggu jawaban yang akan diberikan oleh sahabatnya itu.


"Iya! Gue sayang sama Chia! Gue sayang sama dia jauh sebelum pengkhianat kayak lo ngerebut dia dari gue!"


Riga terkejut mendengar jawaban dari laki-laki yang masih mengepalkan tangan di depan wajahnya. "Lo ngomong apaan sih?"


"Gue yang kenal dia lebih dulu. Gue yang ngenalin lo sama dia. Dan lo tega selama setahun ngebohongin gue. Lo nusuk gue dari belakang dan diem-diem pacaran sama dia!"


"Jangan ngomongin hal yang bahkan gue gak inget!"


"Lo harus inget! HARUS RIGA! BRENGSEK!"


Tanpa aba-aba, Adit memukul wajah Riga berkali-kali. Riga sendiri masih diam dan pasrah begitu saja. Sani dan Kiki yang berada di dalam ruangan berusaha melerai namun kalap karena tenaga Adit yang begitu kuat.


Riga menatap ke dalam bola mata milik Adit lagi saat laki-laki itu berhenti meninjunya.


"Kalo gue gak inget lo sahabat gue, udah abis lo saat ini!" ujar Adit dengan setiap kata penuh penekanan.


Laki-laki itu menjatuhkan tubuh Riga ke lantai setelah melepaskan cekalannya pada kerah baju Riga. Dari sudut mata Riga, Adit berdiri tanpa melepas tatapannya.


"Gue peringatin sama lo! Sekali lagi gue lihat dia berakhir di rumah sakit kayak hari ini, gue gak akan biarin lo! Jauhin Chia! Jangan pernah muncul sedikit pun di depan dia! Udah cukup lo nyakitin dia kayak gitu! Berani lo muncul di depan Chia, abis lo di tangan gue!"


Riga masih mengatupkan kedua rahangnya rapat-rapat sambil mengamati kepergian Adit dari ruang klub sastra.

__ADS_1


● ● ●


__ADS_2