Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Tiga Puluh Satu


__ADS_3

Malam itu Mara tertidur pulas. Hingga paginya dia masih merasakan kantuk yang teramat sangat. Sepanjang perjalanan dia berusaha untuk tetap terjaga. Meski beberapa kali obrolan Fachri tak sekali pun digubrisnya.


Entahlah. Mara benar-benar merasa sangat mengantuk hari itu. Hingga ...


Gedebuk!


Mara baru saja terjatuh dari kursinya. Astaga! Mara tak sadar jika dirinya tertidur di dalam kantor. Tepat ketika masih jam kerja. Mara meringis. Malu. Gita pun membantu perempuan itu untuk bangun dan duduk kembali di kursinya.


"Lo gak apa-apa?" tanya Gita yang hanya dijawab gelengan pelan dari kepala Mara.


"Gue cuci muka dulu deh."


Mara lalu pergi ke toilet. Mencuci wajahnya dengan air. Dia memandang wajahnya yang basah di cermin. "Astaga Mara! Bisa-bisanya lo tidur," ringis Mara sambil bergumam.


Mara menepuk-nepuk wajahnya pelan beberapa kali. Untuk membuatnya sadar dan terbangun. Dia mengintip jam di tangannya. Pukul 03.30 sore. Sudah hampir waktunya pulang. Mara mendesah pelan. Dia berbalik badan untuk kembali ke meja kerjanya. Namun, yang dilakukan Mara justru berteriak kaget tiba-tiba.


∆ ∆ ∆


Asta baru saja memasuki sebuah gedung perkantoran. Langkahnya terburu karena dia nyaris terlambat. Sore itu dia harus mengantarkan pesanan kue untuk seseorang dari departemen design. Sesekali dia menengok kotak kecil yang dibawanya. Mencoba membetulkan posisi agar tetap datar dan lurus. Takut kalau-kalau kue di dalamnya hancur sebelum sampai di tangan si pemesan.


Begitu sampai di ruangan, rupanya dua orang perempuan yang cukup dikenalnya telah menunggu kedatangan Asta di depan pintu.


"Mas Andra, buruan." Gita nyaris berbisik untul memberi kode agar Asta segera masuk ke dalam ruangan yang cukup luas itu.


Asta yang kebingungan hanya pasrah begitu tangannya ditarik dua perempuan itu. Rasa bingung dan firasat anehnya muncul ketika dua perempuan itu menatap Asta dalam-dalam tanpa berkedip.


"Mas Andra mau 'kan bantuin kita?" tanya perempuan yang Asta ingat namanya Amel. Rambut ikal dan cara bicaranya yang khas membuat Asta mudah mengingat perempuan itu.

__ADS_1


"Bantu apa?" tanya Asta datar.


Dua perempuan di depannya itu seraya menyunggingkan senyuman misterius dan menakutkan setelah keduanya saling beradu pandang.


"Mas Andra jangan pulang dulu yah. Yang mau nerima kuenya lagi di ruang si Bos. Lagi dikerjain dan pura-pura diomelin," seru Amel lagi sambil terkekeh.


"Iya, Mas Andra bantu kita yah. Mas Andra sembunyi di toilet ini dulu. Nanti saya nyusul buat kasih kode Mas Andra untuk keluar sambil bawa kuenya. Oke?" tambah Gita seraya membuka pintu toilet di depannya. Lalu mendorong tubuh Asta untuk masuk ke dalam.


Woi! Tapi ini toilet cewek. Asta mendengus. Sial! Baru saja dia hendak melakukan protes, namun pintu telah ditutup dengan cepat. Asta dibiarkan terjebak di dalam toilet perempuan. Dengan kedua tangan yang harus menjaga kue. Juga dengan seorang perempuan yang sedang mencuci mukanya di wastafel. What? Asta terjebak dengan seorang perempuan di toilet? Bisa diarak masa dirinya jika perempuan itu ternyata tidak tahu alasan Asta ada di sana.


Namun, ada hal yang jauh lebih mengejutkan. Asta tidak terjebak dengan sembarangan perempuan. Orang yang ada di hadapannya, jelas-jelas adalah orang yang Asta kenal. Bahkan mungkin ... diam-diam Asta menyimpan rindu padanya.


Asta terkejut begitu perempuan itu berbalik badan. Lebih terkejut lagi saat melihat perempuan itu nyaris berteriak. Buru-buru Asta menyimpan kotak kue di atas meja, lalu segera menutup mulut perempuan di depannya itu.


"Lo bisa diem gak?" ancam Asta pada perempuan bernama Mara itu.


"Ngomong apaan sih?" kesal Asta.


Mara menunjuk-nunjuk tangan Asta yang masih membekap mulutnya.


"Gue lepas. Tapi lo gak boleh teriak."


Mara mengangguk-angguk setuju. Apalagi? Satu-satunya cara dia terbebas, apalagi selain mencoba menuruti dan berkompromi pada lelaki di depannya itu.


Perlahan Asta menarik tangannya. Mara kini bebas. Tanpa memberi kesempatan, Mara segera menyerang lelaki itu. Memukulinya asal. Yang penting lelaki itu mendapat pelajaran karena seenaknya masuk ke dalam ranah khusus perempuan.


"Mau ngapain lo di sini? Keluar gak?" seru Mara.

__ADS_1


Tiba-tiba kedua tangannya ditangkap lalu dicekal oleh lelaki yang Mara tahu adalah si pengantar makanan. Jangan tanyakan namanya. Mara saja selalu lupa dengan merk sabun mandi yang biasa dipakai Fachri. Sudah sering Mara dititipi untuk belanja oleh sahabatnya itu, namun tak ada satu pun yang pernah benar. Jadi, jangan salahkan daya ingat Mara yang tidak tahu sama sekali nama si pengantar makanan ini.


"Jangan bar-bar deh," tukas Asta sambil melempar tatapan dingin.


"Ih sakit tau gak? Lepas!" Mara balas melotot. Huh! Jangan anggap Mara akan takut pada lelaki itu. "Lagian yang bar-bar itu elo. Ngapain sih lo ada di toilet cewek? Punya kepribadian ganda lo?"


Yang dikatai oleh Mara menatap sinis dan tajam. Kemarahan Asta hampir saja berada di puncak tahta. Untung yang ada si hadapannya itu adalah Mara. Kalau tidak, sudah habis rasa kesabaran Asta saat itu juga.


Senyum miring tersungging di bibir Asta. Lelaki itu maju beberapa langkah. Menghapus jarak antara dia dan Mara. Wajahnya sengaja didekatkan beberapa senti ke depan. Hingga deru napasnya dapat terasa oleh perempuan di depannya itu.


"Kenapa? Lo berharap gue masuk ke sini karena ada lo gitu? Lo berharap gue mau ngelakuin sesuatu sama lo gitu? Coba pikir ulang! Dari sisi mana dan segi apa gue bisa tertarik sama perempuan bar-bar kayak lo?" ujar Asta nyaris berbisik. Kemudian lelaki itu menjauhkan wajahnya lagi dengan senyuman di sorot mata.


Mara yang kesal, dengan sengaja mengangkat kaki. Lalu menginjak kaki Asta dengan keras hingga lelaki itu mengerang kesakitan. "Emang enak? Rasain! Makanya jadi cowok jangan kelewat pede."


Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Gita masuk dengan tergesa-gesa. Kedua orang yang sejak tadi berada di dalam tempat itu seraya menoleh.


"Kalian kenapa? Ini ada apa ini?" tanya Gita bingung.


"Kebetulan Mbak Gita di sini. Lihat deh, Mbak. Aneh gak sih Mbak, kok bisa ada dia di toilet cewek? Mbak harus hati-hati." Mara menjadi orang pertama yang bersuara di antara dia dan si lelaki itu.


Gita hanya geleng-geleng kepala. "Lo lupa? Tadi pagi udah gue kirim pesan buat rencana kejutan ulang tahun Selo hari ini, dan Mas Andra 'kan udah kesepakatan bersama kalau dia hadiah dari kita bertiga. Gimana sih Mar? Lo gak inget?" jelas Gita.


"Emang iya yah? Kok gue gak inget?" Mara buru-buru mengecek ponselnya. Mencari pesan dari salah satu rekan kerjanya itu.


∆ ∆ ∆


cut dulu.. dilanjut besok pagi. 🤧

__ADS_1


__ADS_2