
"Apa yang bikin lo tumben masuk ke kamar gue? Lo tau, gue paling gak suka diganggu saat lagi kerja?" Asta melepaskan kacamatanya dan mendelik tajam ke arah pria paruh baya yang duduk di seberang mejanya.
Jika mood-nya sedang buruk seperti malam ini, seluruh batas kesopanan dihilangkannya, hingga ia berbicara dengan kakeknya itu dengan sebutan 'lo-gue'.
"Apa kamu kenal baik sama Chia?" Pria itu memicingkan matanya, menatap penuh menyelidik ke dalam bola mata milik Asta.
"Gak," jawab Asta sambil beralih menatap layar laptopnya.
"Kenapa kamu memintaku untuk menghukum gadis itu secepatnya tanpa perlu penyelidikan? Gadis itu bahkan mengatakan bahwa dia bukan pelakunya."
"Foto-foto itu belum cukup buat bukti?" tanya Asta tanpa melepaskan pandangan dari berkas-berkas yang sedang ditandatanganinya.
"Aku hanya tidak yakin dia pelakunya."
Asta menjatuhkan pulpennya di atas tumpukan kertas di hadapannya. Matanya menatap tajam pada pria paruh baya yang tengah asyik memandangi kamarnya yang lebih mirip seperti ruangan kantor.
"Gue gak suka sama cewek itu. Masalah dia pelakunya atau bukan, gue gak peduli. Yang jelas dia harus dihukum."
Dan--atau nama aslinya Danny--menoleh sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan santai. Asta mendengus dan kembali melakukan aktivitasnya.
"Gadis itu tadi siang datang ke ruanganku dan menunjukkan kertas ini." Danny menaruh secarik kertas di hadapan Asta yang langsung direnggut olehnya sambil melotot memandangi isinya.
"Dia memanggilku dengan nama Danny Wirasena dan mengatakan bahwa dia tahu semuanya tentang keluarga Wisesa," jelas Danny dengan raut kebingungan.
Asta terpaku sambil memandangi secarik kertas yang dipegangnya. Ia ingat kertas yang dihilangkannya waktu kelas satu dulu. Pantas saja Asta tak pernah menemukannya, rupanya gadis bermuka datar itu yang mengambilnya. Ah, ia tak menyangka gadis itu diam-diam menyelidikinya juga.
"Kamu tak keberatan?" tanya Danny resah saat Asta tak berkomentar apa pun mengenai penjelasannya.
Asta memandangnya sejenak. "Kenapa? Cepat atau lambat semuanya bakal terungkap juga. Guru-guru di sekolah juga udah pada tau. Apa yang lo khawatirin kalo cuma cewek itu yang tau?"
__ADS_1
"Posisimu! Bagaimana jika semua orang tahu tentang keluarga ini karena gadis itu?"
Asta terdiam. Ia kembali menandatangani dokumen yang masih menumpuk di atas meja setelah melirik jam tangannya. Sejak semua yang terjadi di dalam keluarganya, ia telah lupa bagaimana menjadi anak remaja normal seusianya. Bahkan ia selalu nyaris tidur pukul dua atau tiga pagi setiap harinya, hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya itu.
"Gue gak peduli," ujar Asta 'cuek'.
"Aku sudah berjanji kepada mendiang kakekmu untuk tidak membiarkan siapa pun tahu sebelum kamu lulus dari sekolah dan posisimu di perusahaan aman," jelas Danny sambil mengembuskan napas berat membuat Asta memerhatikannya dalam diam.
Asta menghela napas. Rasanya menyebalkan ketika pria di hadapannya itu mengingatkannya kembali tentang hal yang tidak ingin didengarnya.
"Kalo lo khawatir, kenapa gak lo awasin aja dia selama di sekolah?" Asta masih acuh tak acuh. Bagaimanapun juga ia hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya itu secepatnya dan pergi tidur. Ia sudah sangat lelah dan ingin beristirahat.
"Kamu tahu Asta? Berpura-pura menjadi kakekmu itu terlalu sulit. Aku tahu semua orang menatapku curiga setiap melihat kita berdiri berjajar dan menemukan banyak perbedaan. Hidung mancungmu justru kontras dengan hidungku yang nyaris tak terlihat. Bahkan wajah tampanmu itu tak cocok menjadi cucu pria bermuka suram sepertiku."
"Lo tau gue lagi sibuk? Berhenti ngoceh gak jelas dan cepet tidur! Lo udah tua, gak baik tidur malem-malem."
Asta menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak dengan tangan yang masih fokus membubuhkan coretan di atas kertas. Ia berdeham saat mendengar Danny mendesah pelan.
"Mau sampe kapan lo ngedongeng di kamar gue?" Asta melotot ke arah pria paruh baya itu.
Sejujurnya Asta benar-benar menganggap pria konyol di hadapannya ini sebagai kakek kandungnya sendiri. Ia bahkan sangat menyayangi pria aneh pengoleksi topeng itu. Jika saja tak ada surat wasiat dari kakeknya itu, Asta mungkin tak akan bertemu pria berbadan gemuk dan bertubuh pendek seperti pria di hadapannya. Tanpa surat itu mungkin saja Asta juga tak akan seperti sekarang ini, bahkan malah menjadi seorang pecundang yang tak berguna untuk keluarganya.
Ya, sebenarnya Asta tak pernah mempermasalahkan soal fisik mereka yang memang sangat kentara sekali perbedaannya. Dasar bego! Lo gak pernah inget omongan gue? Gue kan gak peduli orang bilang apa. Yang jelas lo tetep kakek gue! Alasan inilah yang membuat Asta masih memelototi pria di hadapannya yang dibalas tawaan keras dari pria itu.
"Mau kopi?" tawar Danny dengan nada lembut sambil tersenyum.
"Hmm." Asta menjawab dengan gumaman sambil menarik kembali perhatiannya pada dokumen di atas meja.
● ● ●
__ADS_1
"Kak Andien?"
Perempuan yang berusia lima tahun lebih tua dari Chia itu seraya menoleh ke belakang. Chia langsung menyunggingkan senyum saat perempuan itu menatapnya.
"Tumben kamu datang pagi banget, Chia," balas perempuan itu sambil tersenyum. Tangannya masih sibuk membereskan buku-buku dan mengembalikannya ke tempatnya.
Chia mengangguk sambil berdeham pelan. Tanpa banyak bicara, Chia langsung ikut membantu Andien--pegawai tetap perpustakaan kota--membereskan buku-buku yang masih tergeletak di lantai.
Sebenarnya ini terlalu pagi untuk Chia bekerja di perpustakaan itu. Bahkan tempat itu belum sama sekali dibuka. Yah, mending di sini daripada gue sendirian di rumah.
Sendirian? Ah, ia jadi ingat tentang perkataan Mara, gadis yang bertanya tentang kesendirian padanya. Chia tersenyum miris. Apa gue harus jelasin apa artinya kesendirian buat gue sama cewek itu? Chia mendengus.
Kepala Chia menoleh ke belakang saat ia merasakan Andien menepuk pelan bahunya.
"Kebetulan kamu di sini. Bisa bantuin beresin ini ke gudang?"
Chia tersenyum dan meraih keranjang yang berisi buku-buku tua yang bahkan kertasnya saja sudah lapuk dari Andien. Ah mengingat gudang di perpustakaannya, membawa ingatannya kembali pada kejadian saat Chia menemui Pak Dan. Ia tahu ia adalah gadis terbodoh yang tidak sabaran.
Seharusnya ia tetap membiarkan pengetahuannya tentang keluarga Asta tetap tinggal di dalam otaknya dan gudang tua perpustakaan kota, tempat Chia diam-diam mencari tahu semua hal tentang keluarga itu.
Gue aja gak tahu kalo gudang ini masih nyimpen semua surat kabar dan artikel dengan lengkap, yang jelasin tentang kematian keluarga Asta. Padahal seluruh berita tentang keluarga Wisesa sudah dihapus sejak lama. Mungkin gak ada yang ingat bahkan sama sekali gak tahu dengan musibah yang menimpa keluarga itu. Karena yang Chia tahu, artikel dan surat kabar itu tidak pernah dipublikasikan ke masyarakat.
Chia mengambil sebuah map berwarna biru dan membukanya. Ia membaca ulang artikel tentang kecelakaan sebuah pesawat terbang yang tenggelam di laut saat menuju benua Eropa dua belas tahun yang lalu, yang membuat seluruh keluarga besar Asta, termasuk kedua orang tua Renata dan Agnes--adik gadis itu--meninggal.
Gue tahu keluarga Wisesa keluarga penting dan paling berpengaruh dalam industri dunia, tapi kenapa mereka harus nyembunyiin berita ini dari semua orang?
Chia sendiri tak habis pikir bagaimana Pak Dan bisa berakhir menjadi kakek dari Asta yang hanya seorang pelayan keluarga elit itu. Yah masa bodoh! Chia sudah tak peduli.
Chia menghela napas pelan sambil merapikan buku-buku yang tadi dipinta Andien untuk dibereskan. Chia menyesal. Jika saja ia tak menemukan secarik kertas yang telah diberikannya pada Pak Dan, jika saja ia tak penasaran maksud isi kertas itu, jika saja ia tak bekerja sampingan di perpustakasn kota, dan jika saja ia tak menemukan map biru di gudang itu, maka ia tak akan melakukan hal bodoh seperti kemarin yang saat ini disesalinya.
__ADS_1
● ● ●