
Sebuah motor matic berwarna biru, baru saja memasuki pekarangan sebuah gedung apartemen. Adit sengaja memarkirkannya di dekat pintu masuk gedung. Dia tidak akan membiarkan Chia berjalan terlalu jauh.
Chia turun sambil memberikan helm pada Adit. "Padahal gue udah bilang anterin gue kak kantor Jun lagi," dengus Chia. Dia mengkhawatirkan sepedanya yang tertinggal di tempat itu.
Adit justru terkekeh. "Lo masih aja bahas. Udah dibilang, biar gue yang anterin ke sini. Jadi, di sini 'kan tempat tinggal lo? Di lantai berapa?"
"Di lantai dua," jawab Chia singkat dengan pasrah. Dia tidak mau lagi berdebat dengan sahabatnya itu. Toh, Chia juga sudah sampai di apartemennya.
"Lo masih takut ketinggian?"
"Ledek aja terus, gak apa-apa."
Melihat wajah sebal Chia, Adit sontak tak kuasa menahan tawanya. Dibalik itu, ada rasa syukur karena Chia tak sedatar atau sedingin saat mereka duduk di bangku SMA dulu. Adit mengulurkan tangannya, dan mengacak rambut Chia pelan. Hobinya jika berhadapan dengan gadis itu.
"Ish kebiasaan! Berhenti ngacak-ngacak rambut gue," protes Chia sambil berjalan mundur untuk menghindari jangkauan tangan Adit yang sedang duduk di atas motor. "Ya udah. Lo cepet sana balik. Bentar lagi jam istirahat lo habis 'kan? Jun orang yang disiplin. Dia gak suka sama orang yang telat. Jangan sampai di hari pertama lo kerja, lo jadi punya kesan buruk."
"Cie, perhatian sama gue," goda Adit yang langsung dihujani tatapan sebal oleh Chia. "Ya udah, gue berangkat setelah lihat lo masuk ke dalem."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Chia melangkahkan kakinya menuju pintu masuk. Namun, belum sampai kakinya melewati daun pintu yang terbuat dari kaca itu, tangan Chia sudah ditarik seseorang.
"Kok lo malah nyusul gue sih? Katanya mau balik ke kantor." Chia mengerutkan dahi dan menatap Adit dengan heran. Namun, perkataannya tidak mendapat respon. Adit justru terdiam sambil menyelami manik mata milik Chia. Chia mendengus.
"Malah bengong. Udah buruan sana. Nanti lo kena semprot sama Jun. Dia kalo marahin orang gak pandang bulu." Chia melepaskan tangannya dari genggaman Adit. Dia malah mendorong tubuh lelaki itu dengan pelan. Tentunya, tak ada bagian dari tubuh Adit yang bergerak satu senti pun.
"Gue sayang sama lo, Chia," ucap Adit tiba-tiba dan membuat gerakan tangan Chia terhenti. Dua kali sudah, dalam sehari Chia di buat tercengang, dan oleh orang yang sama.
"Gue sayang sama lo. Gue pengen bareng sama lo. Menjalani hidup didampingin elo. Menua bersama lo. Bahkan sampai meninggal. Lo ... mau 'kan nerima gue?" Adit menatap dalam-dalam bola mata Chia.
Chia terpaku dan hampir tersihir dengan tatapan teduh yang selalu dilemparkan Adit kepadanya. Tatapan penuh harap, yang tak pernah luntur dari masa ke masa. Tetap sama. Dari orang yang sama. "Gue ...."
"Kenapa? Masih gak bisa juga?"
Chia skakmat. Tidak ada kata-kata yang bisa dia keluarkan, karena sejatinya tebakan Adit barusan adalah benar.
"Kenapa, Chia? Jangan bilang alasannya adalah lo lebih nyaman dengan hubungan persahabatan di antara kita."
"Tapi itu kenyataannya, Dit."
"Chia! Delapan tahun, Chia. Gue menghabiskan waktu sebanyak itu untuk mencoba melupakan lo. Tapi gue gak bisa. Rasa sayang itu masih ada. Nama lo masih ada di sini, di hati gue. Apa lo gak bisa kasih gue satu kali kesempatan buat nunjukkin kalo gue adalah laki-laki yang tepat? Laki-laki yang bisa bahagiain lo?"
"Dit ...," panggil Chia lirih.
"Apa? Karena lo masih sayang sama Riga?"
Chia terpaku. Dia memandang Adit dengan nanar. Apalagi setelah mendengar nama Riga. Kakinya mendadak lemas. Kalau saja tidak ada Adit saat ini, Chia mungkin akan terduduk, lalu menangis tersedu-sedu dan rapuh kembali.
Chia mencoba tersenyum. Dia menggeleng pelan dan membuat dahi Adit berkerut. "Bukan itu alasannya. Gue ... bener-bener gak bisa. Gue udah punya seseorang di samping gue, Dit. Maaf. Maaf. Maaf. Hanya itu yang bisa gue ucapkan."
Adit tertegun melihat raut wajah Chia berubah menjadi sedih. Adit merutuki kebodohannya karena telah menekan Chia secara tidak sengaja. Tapi, rasa penasaran membuat Adit membuka mulutnya kembali. Dia ingin tahu, siapa pria yang telah mencuri wanita yang sangat dicintainya itu sejak dulu. "Siapa, Chia? Kasih tahu gue. Kak Jun maksud lo?"
Chia menggeleng lemah dan tersenyum tipis. "Bukan. Seseorang yang gak akan lo duga sebelumnya."
__ADS_1
∆ ∆ ∆
"Cut!"
Seiring dengan seruan dari sang sutradara barusan, adegan yang baru saja diperankan sang aktris dan aktor terhenti.
"Ok! Good! Yang tadi udah oke banget. Kalian istirahat dulu, nanti kita lanjut syuting adegan terakhir," ujar Pak Sutradara sambil berdiri dan mengajak kru-krunya untuk beristirahat.
Begitu pun dengan para pemain film tersebut yang mulai berhamburan menuju tenda-tenda yang telah disediakan untuk membuat penat dan berteduh dari teriknya sinar matahari.
Seorang aktor pemeran utama justru berjalan menghampiri sebuah pohon besar. Ada pemuda yang tengah bersandar di bawah pohon itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Aktor itu tersenyum lebar dan melambaikan tangan pada si pemuda.
"Kapan lo balik?" tanya si Aktor sambil memeluk dan menepuk-nepuk pundak si Pemuda.
Pemuda itu alias Riga menjawab tanpa merubah ekspresi, "Kemaren. Dua hari yang lalu tepatnya."
"Sorry, gue gak sempet ngejemput lo di bandara."
"Ya," jawab Riga datar dan membuat si Aktor tersenyum kecut.
"Lo pulang ke rumah Mama?"
"Iya."
"Pantes." Si Aktor mengangguk-anggukan kepala.
"Kenapa?"
"Iya," jawab Riga masih dengan nada datar.
"Aih! Dari tadi iya, iya doang. Andai lo bukan adik gue, dan gue gak dilarang Mama, pengen deh gue mengacak dan menciptakan ulang wajah lo itu biar punya ekspresi."
Riga hanya menatap wajah si Aktor dengan dingin tanpa berniat menanggapi.
"Kak Sun?"
Riga dan si Aktor menoleh secara bersamaan pada sumber suara yang memanggil 'Kak Sun' barusan. Perempuan yang menjadi lawan main Sun itu adalah tersangkanya. Perempuan itu kini berdiri di dekat keduanya sambil tersenyum penuh makna.
"Kenapa, Freya?" tanya Sun ramah.
"Ini kotak makan siang punya Kak Sun. Kakak lupa lagi 'kan?" jawab Freya yang tampak sangat bersemangat hari itu.
Sun mengerutkan dahi sebentar, sebelum akhirnya meraih kotak berwarna putih itu. "Makasih ya, Frey. Gue jadi ngerepotin lo."
"Ish, Kak Sun kayak ke siapa aja," kekeh Freya. Tatapan gadis itu beralih pada Riga yang tidak berekspresi sama sekali. Padahal setiap lelaki yang menatap Freya akan jatuh cinta dan mengejar-ngejarnya. Siapa yang tidak tahu Freya Kirana. Aktris top nomor 1 yang sedang menjadi buah bibir dimana-mana karena segudang prestasi juga kecantikannya.
"Oh iya, ini ... siapa Kak?" tanya Freya basa-basi. Padahal sejak tadi niat sebenarnya adalah mencari tahu siapa pemuda yang sedang bersama rekan artisnya itu. Freya penasaran dengan wajah ganteng yang datar itu. Yang membuat Freya jatuh cinta seketika.
"Eh? Ah iya, gue belum kenalin. Ini adik gue. Namanya Riga." Sun menyenggol lengan Riga dengan sikutnya. "Riga, ini Freya. Temen sesama artis gue."
Freya terlebih dulu berinisiatif mengulurkan tangan. Wajahnya tercetak cengiran yang membuat gadis itu terlihat makin cantik. Sayang, Riga tak tertarik sama sekali. Dia bahkan tidak menyambut uluran tangan gadis itu.
__ADS_1
"Gue Freya," ucal Freya yang mulai kesal dan pegal karena tangannya dibiarkan terulur sendiri cukup lama.
"Riga," jawab Riga singkat, padat dan dingin. Tanpa tergugah untuk menerima uluran dari Freya.
Freya tampak sebal dibalik senyuman lebarnya. Dia menarik kembali tangannya dan beralih memandang Sun. "Ya udah Kak. Freya balik dulu ke tenda yah?" pamit gadis itu.
"Iya," kekeh Sun berusaha mencairkan suasana.
"Oh iya, senang berkenalan sama lo Riga," ucap Freya sebelum melangkah pergi. "Ah iya, kakak lo orang yang baik. Tolong jangan lo sakitin dia."
Setelah Freya pergi, kini tersisa Sun dengan dahi berkerut. Ia menoleh ke arah Riga yang tidak merubah ekspresi wajahnya sama sekali. "Lo kalo sama cewek jangan dingin banget kenapa? Lo gak tertarik sama dia tuh? Dia itu Freya loh."
"Caper."
"Hah?"
"Gue gak tertarik sama orang yang caper. Gak peduli wajahnya cantik apa enggak," jelas Riga santai.
Sun dibuat terbelalak dalam beberapa detik. Kemudian dia tertawa geli.
"Nih."
Tawa Sun mereda. Fokusnya kini teralih pada kotak makan yang baru saja diberikan Riga. Seolah mengerti apa yang akan ditanyakan Sun, Riga pun melanjutkan perkataannya, "Itu dari Mama. Katanya buat makan siang lo. Lo suka lupa makan kalo udah asyik syuting."
Sun tersenyum sumringah dan meraih kotak berwarna hitam itu secepat kilat. "Jadi lo ke sini buat jadi kurir pengantar makanan?" kekeh Sun. "Thanks yah, Brother."
Riga mengangguk. "Lo kapan ngunjungin Mama? Lo minta Mama dan Papa beli rumah dan pindah ke Jakarta, tapi lo masih asyik tinggal di apartemen lo."
"Setelah syuting film yang ini kelar, gue balik kok ke rumah. Tinggal beberapa hari lagi. Salam yah buat mereka. Bilang gue kangen banget sama mereka."
Riga berdecak sambil melangkah pergi. "Ogah! Ngomong sendiri. Buat apa lo punya hape canggih kalau gak dimanfaatin dengan maksimal?"
Sun mencibir sambil memandangi kepergian adiknya. Perlahan senyumnya tercetak lagi sebelum dia mulai memakan bekal dari mamanya.
∆ ∆ ∆
Riga udah nongol yah gengs. Meski aku tahu yang dicari itu Asta, tapi jangan anak tirikan si ganteng yang juga tokoh utama ini 🤧🤧🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Aku tahu kalian rindu banget sama Asta, tapi akan ada waktunya dia nongol kembali. dia akan muncul sesuai alur. mohon bersabarlah. semoga kalian masih kepo dan ngikutin cerita ini sampai selesai.
berjuta-juta terimakasih dari aku ❤️❤️❤️❤️
#yaaah aku spoiler lagi 🤣🤣🤣
oiya, barangkali ada yang mau denger suara aku... aih aku narsis.. 🤣🤣... kepedean amat yah 🤭🤭
tapi gapapa lah yah aku tetep mau promo. wkwkkw
buat yang mau, aku dubbing di cerita My Introvert Husband karya Nona Lancaster (ini MIH yg pertama) sama Penyesalan karya Melisa Liem. Dengerinnya yg versi audio booknya yah 🤭.. jangan lupa kasih like kalo suka 🤭🤭🤩🤩❤️❤️ makasih..
btw, adakah yang jadi dubber juga? coba tulis di komentar yah.. nnti kalo senggang, aku melipir buat dengerin ❤️❤️🤩🤩
__ADS_1