
Pelan-pelan dibukanya pintu beranda lantai tiga. Hangatnya matahari langsung menjalar ke tubuhnya. Rambutnya yang panjang sebahu terkibas oleh angin pagi itu. Mara menginjakkan kaki di sana. Ia berjalan dengan pelan sambil memandangi langit yang berwarna biru cerah. Ia tersenyum.
Ah, suasana di beranda lantai tiga tampak lebih indah pagi itu. Tidak seperti biasanya yang sedikit berembun atau langitnya yang agak mendung. Perasaan Mara kembali membaik.
Sejak tadi pagi ia masih dibayang-bayangi soal pertandingan Riga dan Asta. Ia terus teringat tentang permusuhan di antara keduanya. Ia ingin semua ini berakhir. Ia ingin kehidupan di sekolah yang seperti itu berakhir. Tanpa ada permusuhan, tanpa ada penindasan dan tanpa kesendirian. Semua saling tersenyum. Bahagia. Mara menghela napas panjang.
"Semangaaaat!!!" Mara berteriak sekuat tenaga. Ya, begini lebih baik. Ia sedikit merasa lega.
"Lo berisik banget!"
Mara tertegun. Buru-buru dikatupkan kembali kedua bibirnya. Apa ada orang lain di sini?
Mara memutar kepalanya, mengedarkan pandangan ke seluruh area beranda lantai tiga. Tatapannya terhenti ketika mendapati seseorang sedang berbaring di atas kursi tepat di sudut kanan beranda lantai tiga.
Siapa? Mara mengangkat salah satu alisnya. Ia mengendap-endap mendekati orang yang sedang berbaring itu. Ia ingin memastikan suara tadi. Ia merasa pendengarannya masih sangat baik. Jelas-jelas ia mendengar sebuah suara. Sudah pasti dari orang yang sedang berbaring itu. Ia berdiri tepat di samping orang itu.
Riga? Mimpi apa gue semalem bisa ketemu dia di sini? Mara gugup. Ia melemparkan tatapan menyelidiknya, mencoba mengamati laki-laki itu. Kenapa lo ada di sini? Lo tidur atau pura-pura sih?
Laki-laki itu masih menutup matanya. Tak ada tanda-tanda gerakan dari sekujur tubuhnya. Lagi tidur aja tetep ganteng! Kalo gue lagi gak sadar, gue pasti udah lompat ke atasnya dan pelukin dia erat-erat. Eh! Mara menggigit bibir bagian bawahnya, menahan diri agar tidak menjerit histeris.
"Seharusnya lo bilang sama gue kalo lo ada di sini. Gue kan jadi gak perlu ke sini. Malu tau gak udah teriak-teriak kayak gitu di depan lo." Tanpa sadar, Mara menyuarakan isi hatinya dengan keras.
"Apa gue harus bilang dulu sama lo kalo gue mau ke sini?"
Hah? Buru-buru Mara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia tidak mengira, bahwa laki-laki yang masih memejamkan mata itu akan menjawab ucapannya barusan. Dengan cepat ia berjalan menjauhi laki-laki itu.
"Engga kok. Lo gak perlu bilang dulu sama gue." Mara berkata dengan gugup. Ia segera berbalik badan dan berjalan dengan cepat.
"Oy!"
__ADS_1
Langkah Mara terhenti ketika Riga memanggilnya. Ia terdiam tanpa menoleh ke arah laki-laki itu. Mau apalagi sih ah! Gak tau apa gue udah malu banget gara-gara lo! Mara mendengus.
"Lo yakin kita gak saling kenal?" tanyanya.
Mara tertegun. Pertanyaan itu lagi, pikirnya. Lidahnya terasa kelu. Ia mendadak kehilangan kata-katanya.
"Iya lah. Gue sama lo udah pasti gak saling kenal. Dah!" Buru-buru Mara pergi meninggalkan laki-laki bernama Riga itu, tanpa peduli ketika Riga memanggilnya lagi.
● ● ●
Riga masih memerhatikan gadis yang berjalan lima meter di depannya. Rasa penasaran membuat hatinya terdorong untuk mengikuti gadis itu. Ia benar-benar ingin mengetahui siapa gadis itu. Dari informasi yang didengar, gadis itu adalah pacar Semesta Udaraja. Namun, bukan hal itu yang membuatnya nekat membuntuti gadis itu seperti saat ini.
Riga menghentikan langkahnya. Karena tiba-tiba saja gadis yang berjalan lima meter di depannya itu berhenti. Gadis itu menoleh dan menatap Riga. Buru-buru Riga mengalihkan pandangannya ketika tatapan keduanya bertemu.
Ia melirik sebentar. Gadis itu telah berjalan kembali. Langkahnya semakin cepat. Riga terdiam. Oh, jadi lo sadar gue ikutin? Ia pun ikut berjalan menyamakan langkah gadis itu.
● ● ●
Setelah menerima uang kembali, Chia segera keluar. Ia menaruh bungkusan berisi dua buah buku yang dibelinya ke dalam keranjang di sepeda. Didudukinya jok sepeda dengan santai. Salah satu kakinya telah menginjak pedal. Ia sudah diposisi siap berjalan. Namun, ia masih terpaku di depan toko buku untuk beberapa saat.
Di depan sana, Chia melihat dua orang berseragam sama dengannya, baru saja melewatinya. Salah satunya seorang gadis sebaya dengannya. Sisanya seorang laki-laki yang berjalan tidak jauh di belakangnya. Itu adalah Mara dan Riga.
● ● ●
Hari semakin gelap. Warna jingga kemerahan sudah separuhnya terlukis di langit. Satu jam lebih Asta berdiri di depan mobilnya. Gadis yang sedang ditunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Asta melihat sekeliling. Suasana di parkiran sudah sepi. Hanya ada ia dan mobilnya yang tersisa. Ia mendecakkan lidah. Ia menggerakkan tubuhnya. Ia sudah lelah menunggu.
Asta berjalan menuju kelas Mara. Tak cukup lama, ia sudah berdiri di depan pintu kelas gadis itu. Ia menggeser dan membuka pintunya. Dua orang yang sedang duduk di kursi paling belakang serentak terkejut akan kehadiran Asta yang tiba-tiba. Tampaknya kedua orang itu sedang mengerjakan piket kelas, terlihat dari sapu dan kain pel yang digenggam keduanya.
__ADS_1
Asta masuk ke dalam kelas dengan langkah santai. Ia tak tahu harus berekspresi seperti apa, ketika melihat kedua orang itu menatapnya tajam dengan posisi siap menghajarnya. Asta hanya tersenyum pada sudut matanya.
Kayaknya gue udah bikin mereka benci banget sama gue. Yah bodo amat deh!
"Mau ngapain lo ke sini?" Fachri, laki-laki yang sedang memegang erat gagang sapu bertanya pada Asta. Ya, dari kedua orang itu, memang laki-laki itulah yang paling membencinya, mengingat apa yang telah dilakukan Asta padanya.
Asta tersenyum simpul. Ia mendecakkan lidah sambil memalingkan muka. "Gue gak ada urusan sama kalian berdua!"
"Seenggaknya buat saat ini," lanjutnya sambil menyeringai. Asta menatap Fachri dan Fajar dalam-dalam, "Lo berdua gak perlu natap gue kayak gitu!"
Kedua laki-laki itu tak menjawab. Gak percaya banget sama gue! Asta mengalihkan pandangannya. Rasanya malas menatap kedua orang yang sedang melemparkan tatapan menyebalkan seperti itu padanya.
"Dimana dia?" Asta tak ingin berbasa-basi.
"Percuma lo nyari dia. Dia udah pulang dari tadi." Kali ini Fajar menjawab pertanyaannya. Kelihatannya laki-laki itu sedikit lebih rileks saat Asta menuturkan tujuannya barusan.
"Oh." Asta menganggukkan kepalanya. Ia berbalik badan. Ia hendak meninggalkan kelas itu.
"Buat apa lo nyari dia?" Fajar melemparkan tatapan menyelidik.
"Jangan ganggu dia! Berhenti ngeganggu hidupnya! Gue gak akan biarin lo nyakitin sahabat gue!" Fachri meremas gagang sapu yang dipegangnya sejak tadi.
"Berisik! Bukan urusan lo!" Asta melirik ke arah Fachri dengan mata yang dipicingkan.
"Tapi karena lo udah ngomong gitu, gue jadi pengen makin ngeganggu dia. Lagian lo gak akan pernah bisa bantuin dia lagi kan?" Asta menyeringai. Ia keluar dari dalam kelas sambil membanting pintu.
"Brengsek!!" Samar-samar terdengar suara Fachri berteriak.
Asta tersenyum sambil melangkah dengan cepat. Rasanya menyenangkan ketika ia membuat Fachri marah seperti itu. Dasar bego!
__ADS_1
● ● ●