Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 21 : U Meet With Problem (2)


__ADS_3

Langkah Chia terhenti di depan pintu sebuah ruangan. Dengan gerakan kepala dari ketiga orang itu, ia masuk ke dalam sendirian.


Matanya menatap datar pada laki-laki yang duduk di atas meja setelah menutup pintu. Uh atmosfer di ruangan itu jauh berbeda dengan ruangan besar tadi. Chia baru sadar jika ia hanya berdua saja dengan laki-laki yang menatapnya tajam saat ini.


"Duduk!" perintah lelaki itu.


Chia menghela napas dan duduk di sebuah kursi yang telah disiapkan di tengah ruangan berukuran sedang. Ia mengamati sejenak. Ruangan itu lebih terlihat seperti kantor dibanding dengan ruangan kelas. Chia yakin ruangan itu bukan bagian dari ruang kelas S. Ah, Chia mulai mendapat titik terang dari hal yang selama ini diselidikinya sejak kelas satu.


"Jadi lo pacarnya Riga?" Laki-laki itu tampak mengamati Chia dari atas hingga ke bawah.


Chia tak menjawab. Ia justru ikut mengamati laki-laki yang duduk dengan postur sombong di hadapannya. Jadi ini rasanya tatap muka secara langsung sama Asta? Pantes Mara kabur terus! Percayalah! Menatap langsung tatapan tajam Asta akan membuat bulu kuduk berdiri sendiri. Laki-laki itu terlalu menakutkan dibanding Riga, sungguh.


"Selera Riga biasa banget!" cibir Asta sambil memutar kedua bola matanya.


"Selera Riga sama aja kayak lo," tutur Chia dengan nada datar, membuat Asta membelalakkan matanya.


"Lo pasti tau kalo Riga suka sama Mara," jelas Chia lagi tanpa melepaskan tatapannya dari laki-laki yang berjalan mendekat ke arahnya dengan tatapan membunuh.


"Lo tau apa yang mau gue lakuin sama lo?" Asta menyeringai sambil membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya pada Chia.


"Riga berani ngedeketin cewek gue! Gue bakal ngelakuin hal yang sama! Gue bahkan pengen bikin lo terluka saat gue inget ternyata cewek kayak lo berani nyelakain pacar gue dua kali. Gue pengen lihat ekspresi Riga saat lihat ceweknya terluka."


"Terserah," jawab Chia santai. "Riga gak akan datang. Riga gak akan peduli dengan apa yang terjadi sama gue."


Chia tetap bergeming saat Asta makin mendekatkan wajahnya. Laki-laki itu tiba-tiba saja memegang dagunya secara kasar.


"Oh ya? Kita lihat ucapan siapa yang bener!" bisik Asta dengan mata yang berkilat.


Chia tersenyum sesaat. "Cara lo kekanak-kanakkan biar cewek lo ngelirik ke arah lo."


"Lo ngomong apa? Lo berani sama gue?" Asta melotot. Chia mulai merasakan sakit saat Asta menekan dagunya dengan kencang dan meremas helaian rambutnya secara acak. Chia menahan napas saat Asta makin memajukan wajahnya.


"Asta?"


Chia dan Asta menoleh pada gadis yang membelalakkan matanya di depan pintu. Jelas sekali ia sangat terkejut melihat posisi Chia dan Asta yang sangat dekat.


Chia melirik Asta yang melepaskan kaitan jari-jarinya di helaian rambut panjangnya yang tergerai. Laki-laki itu berdiri sambil menyeringai, menatap tajam pada Chia.


"Untung lo dateng, Ren! Hampir aja cewek ini ngegoda gue buat bertindak yang gak seharusnya." Asta memalingkan wajah sambil berjalan menjauhi Chia. Laki-laki itu duduk santai dibalik meja kerjanya.

__ADS_1


Chia menoleh dan mendapati Renata melotot di hadapannya. Terlalu banyak yang dipikirkan Chia hingga ia tak tahu pergerakan gadis yang siap menerkamnya itu.


Plakk!


Sebuah tamparan keras melayang di pipi Chia. Dengan mata berkilat Renata menjambak rambut Chia dengan kencang, hingga Chia merasa rambutnya akan lepas dari kulit kepalanya.


"Setelah dibuang Riga, lo berani ngegoda sepupu gue, hah?" bentak Renata di wajah Chia. Ah ini pertama kali gadis itu membentaknya. Ia bahkan baru pertama kali melihat Renata semurka itu.


"Dasar cewek j*lang! Gak tau diri!" Renata menampar Chia lagi. Chia sendiri tak berkata apa pun. Matanya memandang ke arah Asta yang hanya diam saja menontonnya.


Ah! Chia mengerang saat Renata menjambak rambutnya ke atas dan membuatnya berdiri. Dengan kesal gadis itu menyeret Chia meninggalkan ruangan itu.


● ● ●


Asta melirik Damar yang berdiri di depan pintu dengan tatapan bingung.


"Kenapa?" tanyanya datar sambil membuang muka.


"Kenapa sama Renata? Dia kelihatan marah banget!"


"Gak tau!" jawab Asta malas.


"Hmm," gumam Asta. "Udah pergi sana!"


Asta beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Damar yang masih menatapnya bingung.


"Gue lagi pengen sendiri!" Asta mendorong tubuh Damar agar keluar dan langsung menutup pintu. Ah, masa bodoh dengan sahabatnya yang terperangah dengan tindakannya barusan.


Ia terdiam sejenak sambil membanting tubuhnya di atas kursi. Uh ia kesal! Tatapan dan ekspresi Chia barusan saat keluar dari ruangan itu tak bisa dihapus dari pikirannya. Apa-apaan sikap datar dan cueknya itu? Bikin gue muak ngelihatnya!


● ● ●


Chia menyilangkan tangannya di depan dada yang kini hanya terbalut pakaian dalam saja. Matanya menatap datar memandangi baju seragamnya yang telah disobek hingga tak bersisa dan kini berada di tangan Renata.


Chia masih mengatupkan mulutnya saat Renata tersenyum puas ke arahnya. Cih! Sepupu Asta itu sangat kejam jika sedang marah seperti itu.


"Ah sayang banget sekarang udah sore dan semua cowok-cowok udah pada pulang. Coba kalau mereka ada. Gue pengen lihat tatapan nakal mereka saat lihat lo kayak gini." Renata tertawa pelan. Sementara Chia hanya memandanginya.


"Yah kita tunggu aja besok. Siapa yang nemuin lo pertama kali dan lihat lo dalam keadaan kayak gini." Renata menyeringai sambil keluar dari toilet.

__ADS_1


Cklek! Chia mendengar Renata mengunci pintunya dari luar. Ah ia menghela napas, berusaha bangkit untuk mendobrak pintu itu dan membebaskan diri dari sana rasanya percuma. Chia tak memiliki tenaga sebesar itu. Akhirnya ia hanya pasrah dan duduk di atas toilet duduk yang tertutup.


"Selamat bermalam di toilet sekolah."


Chia memutar kedua bola matanya saat suara Renata terdengar dari balik pintu.


"Ini pelajaran buat cewek gatel kayak lo! Berani banget lo ngegoda sepupu gue! Bye!"


Suara Renata menghilang bersamaan dengan padamnya lampu di dalam toilet itu. Ah, tidak! Renata mematikan semua lampu toilet di dalam kamar mandi itu.


Bagus! Sekarang Chia sendirian, hanya memakai pakaian dalam, terjebak di toilet laki-laki dan keadaan di sekitarnya sangat gelap. Chia mendengus. Pasrah.


Satu jam, dua jam, ah entah sudah berapa lama ia berada di sana. Ia tak tahu jam berapa saat ini. Yang jelas pasti sudah gelap di luar sana. Uh, Chia merutuki dirinya yang meninggalkan ponselnya di dalam tas yang masih tertinggal di dalam kelas.


Saat Chia hampir memejamkan mata karena mengantuk, tiba-tiba suara ketukan pintu membangkitkan adrenalinnya, membuyarkan rasa kantuk yang tadi menghinggapinya.


"S-siapa?" tanya Chia sedikit ketakutan.


Ah sial! Keadaan yang terlalu gelap membuat Chia tak bisa melihat apa pun. Ia jadi cemas. Tak masalah jika yang mengetuk itu hantu penunggu kamar mandi. Barangkali ia bisa meminta bantuan untuk membuatnya berteleportasi keluar dari toilet. Tapi jika itu seorang laki-laki? Ah, Chia tak bisa membayangkan nasibnya sendiri. Sungguh jantungnya berdebar sangat cepat saat ini.


Cklek! Sial suara pintu terbuka. Chia buru-buru bangkit berdiri. Ia sangat tegang sambil berdiri di balik pintu. Tapi tetap saja percuma, toh ruangan itu sangat kecil. Siapa pun bisa melihat kondisinya dengan jelas saat itu.


"Siapa disitu?" pekik Chia saat mendengar suara kenop pintu yang diputar. Sial!


"Jangan dibuka! Siapa pun lo yang ada disitu, jangan ngebuka pintu ini! Berani lo ngebuka, gue tendang! Gue serius!"


Sialan! Ucapan Chia tak didengarkan. Ia makin panik. Dadanya naik turun tak karuan saat mendengar bunyi decitan pintu yang terbuka perlahan.


"Gue bilang jangan dibuk ...."


Brukk!!


Sebuah benda dengan permukaan seperti kain terlempar ke arahnya bersamaan dengan bunyi bedebam pintu yang ditutup kembali. Buru-buru Chia menyingkirkan benda yang menutupi wajahnya. Ia terperangah saat melihat ruangan itu menjadi terang. Pasti kerjaan orang yang ngelemparin ini ke gue.


Chia memandang mantel panjang berwarna hitam yang sangat tebal dengan bahan halus yang pasti harganya sangat mahal itu. Mantel ini kayaknya gue pernah lihat. Chia terdiam, mengingat-ingat. Oh jadi punya dia!


Buru-buru Chia memakainya. Dalam waktu lima menit Chia sudah terbalut mantel berukuran jumbo itu. Jelas sekali milik seorang laki-laki jika dilihat dari ukurannya. Yah masa bodoh! Yang penting gue bisa pulang.


Chia segera keluar dari dalam toilet yang sudah tak terkunci. Chia terkesima saat sepanjang koridor tampak terang karena cahaya lampu. Ya, ia sudah tahu siapa dalangnya. Tentu saja seseorang yang menolongnya barusan, yang memberikan mantel dan menaruh tasnya di atas wastafel.

__ADS_1


● ● ●


__ADS_2