
Asta sebenarnya tak sungguh-sungguh tertidur. Tak mungkin ia bisa terlelap dengan jantung yang terus berdegup sangat cepat nyaris copot dari tempatnya.
Tidur di pangkuan gadis yang selalu dirindukannya adalah hal yang tak pernah diduganya. Asta senang. Ia tak pernah membayangkan bisa sedekat ini dengan gadis yang selalu membuat jantungnya hampir terlepas meski hanya bertemu pandang sesaat.
Ada sebuah rahasia yang tak pernah diberitahukan Asta pada siapapun. Termasuk ketiga sahabat karibnya yang memiliki inisial nama depan dengan huruf yang sama, 'D'.
Diam-diam Asta selalu datang ke perpustakaan di gedung utama. Saat pikirannya kusut dan tak bisa bekerja dengan baik karena kegaduhan yang ditimbulkan teman-temannya di kelas S, Asta akan berkunjung ke sana. Membaca beberapa buku untuk sekedar melepas penat.
Seperti hari ini. Asta telah mengambil dua buah buku yang bertemakan ruang angkasa dan membawanya ke bagian paling belakang ruangan itu. Ia selalu mengambil kursi paling ujung di dekat jendela yang menghadap langsung ke arah lapangan basket.
Tidak seperti biasanya. Pikirannya tetap kacau saat mendengar suara bising dari arah lapangan. Ia menoleh dan menatap keluar jendela. Seharusnya tak ada latihan hari ini, namun ia malah menemukan seorang gadis dan seorang lelaki sedang berlatih bermain basket.
Asta kenal lelaki itu. Dia Fachri. Siswa yang pernah Asta ajak bergabung untuk menjadi murid kelas S saat kelas satu dulu. Namun, Asta malah ditolak mentah-mentah. Asta tersenyum simpul menatap lelaki itu.
Matanya lalu beralih pada gadis yang menjadi lawan Fachri. Asta tak mengenalnya. Ini pertama kalinya Asta melihat gadis itu.
Asta terpana. Bukan karena gadis itu cantik. Ah! Ia sudah biasa dengan gadis yang lebih cantik darinya berseliweran di sekitar Asta. Namun, lihat cara bermain gadis itu membuat Asta tak bisa melepaskan pandangannya.
Asta tersenyum tipis. "Payah! Main basketnya jelek gitu. Fachri mau-maunya ngajarin cewek bego kayak dia," gumam Asta sambil menarik pandangannya.
Asta membalik halaman bukunya dan memusatkan kembali perhatiannya. Namun, suara gaduh dari tawa dan jeritan tak jelas gadis yang masih bermain basket itu membuat Asta kehilangan fokusnya.
__ADS_1
"Hei! Lo tau Semesta Udaraja?"
Asta menengok dan menatap Fachri yang sedang bertanya pada gadis yang masih berusaha merebut bola darinya.
"Siapa?"
"Cucu kepala sekolah!" jelas Fachri lagi.
"Oh cucu kepala sekolah sih tau. Gue baru tau namanya ... aneh gitu!"
Asta tersenyum samar mendengar jawaban santai gadis yang payah dalam bermain basket itu.
"Kalo lo ketemu dia, cepet-cepet pergi dan ngehindar. Pokoknya jauhin cowok itu."
"Kenapa? Menurut gue dia cowok yang baik."
Deg! Asta menatap gadis yang baru saja menjawab perkataan Fachri lekat-lekat. Ada apa dengan gadis itu. Baik? Barusan gadis itu berkata jika Asta orang baik! Ah, mungkin Asta salah dengar.
"Mungkin kelakuannya itu emang nakutin, dan gak bisa dimaafin gitu aja ...."
Lihat! Benar bukan. Asta memang salah dengar barusan.
__ADS_1
"... Tapi cowok itu tersenyum dan tertawa bebas bareng temen-temennya. Gue rasa dia gak jahat seperti yang orang lain pikirin. Mungkin dia punya alasan kenapa dia sejahat itu."
Deg! Lagi-lagi jantung Asta dibuat berdetak lebih kencang mendengar penjelasan gadis tadi. Ah! Sial! Wajah Asta memerah. Ini pertama kalinya seseorang mengatakan Asta adalah orang yang baik. Dan ini membuat Asta salah tingkah.
"Dasar cewek gila! Aneh!" gumamnya malu pada diri sendiri. Asta buru-buru membereskan buku-buku yang dibacanya dan beranjak pergi dari perpustakaan dengan wajah memerah dan jantung yang masih berdegup cepat.
Asta tersenyum samar. Ya, ia ingat saat pertama kali ia jatuh cinta dengan gadis di sampingnya ini. Gara-gara ucapan bodoh itu, Asta sampai harus mondar-mandir tiap hari di perpustakaan hanya untuk melihatnya berlatih basket.
Yah! Asta tahu tindakannya bodoh dan tak masuk akal. Lagi pula semua tindakan akan terlihat masuk di akal saat seseorang mulai jatuh cinta.
Asta tertawa. Menertawakan tindakan konyol saat ia bertatapan langsung untuk pertama kali dengan Mara. Ya! Saat di loker. Saat Mara pertama kali meninjunya. Saat Asta mencari tahu siapa nama gadis ini dari Dimas.
Saat Asta melakukan tindakan nekatnya untuk menjadikan gadis itu miliknya dengan memboikot radio sekolah. Asta tertawa. Menertawakan dirinya sendiri. Yang bahkan miris karena Mara menyukai orang lain.
"Kenapa lo tiba-tiba ketawa?"
Asta membuka matanya. Bola matanya memandang lurus ke dalam manik mata Mara. Ah! Sungguh ia sangat merindukan gadis ini. Jika saja hatinya diberikan untuk Asta, mungkin Asta tak akan pernah ragu untuk mengecup bibir gadis yang masih menatapnya polos itu.
Asta mengulurkan tangannya dan menyelipkannya dalam helaian rambut hitam Mara. Ia tahu gadis itu mulai kikuk. Ah! Biarlah! Asta ingin menikmati sebentar wajah kikuk yang tak pernah dilihatnya belakangan ini.
"Hei, kita main tebak-tebakan yuk!" ujar Asta tiba-tiba sambil tersenyum penuh arti yang membuat Mara mengerutkan keningnya.
__ADS_1
● ● ●