
"Chika! Chika! Tunggu!" Mara mencekal tangan gadis yang sejak tadi berjalan cepat di koridor.
"Apa sih!" Chika setengah membentaknya. Suatu hal yang tak pernah dibayangkan oleh Mara.
Mara menatap sedih gadis di hadapannya. Namun tidak dengan gadis yang justru melotot ke arahnya. Sorotan mata Chika yang penuh amarah dan kebencian baru disadari oleh Mara. Miris. Ia tak pernah tahu sisi berbeda dari temannya ini.
"Jelasin kenapa lo fitnah Chia di ruang kelas S? Mungkin emang Asta yang bikin Chia sampe cedera gitu. Tapi semua berawal dari lo. Kenapa lo tega ngelakuin hal ini sama dia? Lo punya dendam sama Chia?"
Mara menatap lurus-lurus ke dalam bola mata Chika yang melemparkan senyum penuh arti. Ia berharap gadis itu akan menyangkal pertanyaannya dan menjelaskan hal lain. Namun ekspresi dan senyuman dari Chika membuat Mara meragu.
"Jadi lo udah tau? Bagus deh gue gak perlu bersikap sok baik lagi di depan lo. Gue udah muak berhadapan dengan cewek tomboy yang cengeng kayak lo!"
Mara terdiam sesaat. "Jadi ini alasan lo ngejauhin gue belakangan ini?"
"Iya," jawab Chika singkat yang membuat Mara mengerutkan dahinya. "Lo gak jauh beda dari sepupu gue yang sok cantik itu."
"Maksud lo? Sepupu? Lo sama Chia saudara sepupu?"
"Ya gitu deh."
Mara tak bisa menyangkal keterkejutannya. Ia pikir, ia telah mengenal Chika seutuhnya selama beberapa bulan ini, dan sekarang kejutan dari gadis itu membuat Mara terjerat dipikirannya sendiri.
"Harusnya lo udah paham waktu insiden vas bunga jatuh dan kejadian lo hampir ketabrak sepeda Chia."
Mara masih terdiam.
"Menurut lo, alasan apa yang sampe bikin lo hampir kena kecelakaan tiga kali berturut-turut waktu itu?" Chika menyeringai.
Mara tertegun. Sungguh Chika bukan lagi gadis yang dikenalnya beberapa bulan lalu. Dan perkataannya tadi membuat Mara berpikir. Alasan gue hampir kecelakaan? Chika benar.
Mara mulai mendapatkan teror sejak ia dekat dengan Riga dan kecelakaan waktu itu karena Chia mungkin cemburu padanya. Namun hal itu tak bisa menjadikan alasan Chika membalaskan dendamnya pada Chia. Mara bahkan tak pernah merasa dendam. Lalu?
Mara menyipitkan matanya. Mengamati dengan saksama wajah gadis yang terlihat tenang di hadapannya. Menilik ke dalam ingatannya. Mencari tahu maksud tersembunyi dari setiap perkataannya barusan.
Seharusnya Chika gak perlu ngejauhin gue, kalo niat dia emang mau bales perbuatan Chia ke gue. Gue tau dia solidaritas banget sama temen. Tapi? Mara tertegun. Ada kesalahan dalam kesimpulannya.
__ADS_1
"Kenapa? Lo udah sadar tentang sesuatu?" Chika tersenyum simpul.
"Alasan kecelakaan waktu itu pasti ada sangkut pautnya sama Riga, dan semuanya ... bukan ulah Chia? Semuanya lo yang lakuin?" Mara masih meragu. Berharap Chika menyangkalnya.
Namun nyatanya Chika malah tertawa pelan. "Lo bener banget!"
"Lo pikir sepupu gue bakal ngelakuin hal kayak gitu sama lo?" Chika melemparkan tatapan mengejeknya. Mara menatapnya nanar dengan tangan bergetar.
Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya pada temannya itu. Ia merutuki diri sendiri yang mudah saja dibodohi. Percaya begitu saja.
Ya! Benar kata Chika. Seharusnya Mara tak langsung menuduh Chia. Meski Chia menyebalkan untuknya, namun gadis itu bahkan tak pernah berbuat jahat padanya.
Sekarang ia mengerti maksud perkataan Chia waktu itu, yang memintanya menjauhi Chika. Chia benar. Rasa keinginan Mara untuk tidak sendirian, untuk memiliki seorang teman, membuatnya tak berpikir jernih.
"Sekarang sepupu gue udah menghilang dari sekolah. Lo harus bersiap-siap. Ini saatnya giliran lo." Chika menajamkan tatapannya.
"Kenapa lo setega ini? Dia sepupu lo!"
Chika mengendikan bahu dengan santai. "Salahnya sendiri. Gue udah bilang jangan deketin Riga, karena dia milik gue."
Mara menggeleng-gelengkan kepala. Sejujurnya ia telah mengepalkan tangannya erat-erat. Hanya saja kepalannya belum melayang sama sekali sejak tadi. Ngotor-ngotorin tangan gue aja kalo gue beneran ninju dia!
Mara mengangkat salah satu alisnya. Tersenyum samar. "Oh ya? Silakan! Gue gak takut tuh sama lo."
Mara maju beberapa langkah. Menajamkan tatapannya saat jarak wajahnya dengan Chika hanya beberapa sentimeter. "Berani lo ganggu orang di sekolah ini lagi, gue gak bakal tinggal diem. Lo gak mau tau gue dapet informasi tentang lo dari mana? Gue bahkan punya bukti tentang semua kejahatan lo. Jadi berhenti ngelakuin hal-hal gak berguna. Atau lo bakal berakhir dengan di drop out dari sekolah!"
Mara mundur beberapa langkah. Menyaksikan ketegangan dari wajah Chika yang terperangah di tempat. Berakhir sudah. Pertemanannya dengan Chika telah berakhir. Mara telah memutuskan.
"Sekali aja gue lihat atau denger lo berulah lagi, saat itu juga lo berakhir, Chika Angela."
Mara berbalik badan dengan sorot mata penuh amarah. Disela-sela langkahnya yang berjalan menyusuri koridor, ia mendengar Chika mengumpat. "Awas lo Renata!"
Mara tersenyum miris. Pintar juga gadis itu. Bisa langsung menerka orang yang telah memberitahu Mara tentangnya. Mengabaikan, Mara terus berjalan. Menahan emosinya yang hampir tertumpah ruah.
● ● ●
__ADS_1
Chia masih menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Hampir tiga hari ia seperti itu. Menangis di pinggir pantai. Mengabaikan hirauan siapapun yang memanggilnya. Bahkan menolak untuk makan meski hanya satu sendok nasi. Tak peduli jika ia tertidur di pantai, kedinginan. Matanya masih berlinang air mata. Sembab dan bengkak.
"Sampai kapan lo bakal kayak gini?"
"Jun! Jangan terlalu keras sama Chia."
Chia terdiam. Ah ia tahu siapa dua orang yang saat ini berada di belakangnya. Jun dan ayahnya, Paman Aldi. Kedua orang yang hampir tiap jam menghampirinya. Menawarkan banyak hal padanya.
"Biarin aja, Yah! Emang mau sampai kapan dia terus-terusan kayak gini?"
"Tapi kamu gak perlu berbicara sekeras ini, Juna Mandala."
Chia masih tidak menanggapi perdebatan di antara anak dan ayah itu. Masih tenggelam di pikirannya sendiri.
"Lo cuma melarikan diri Chia! Lo pikir kedua orang tua lo bakal seneng lihat lo kayak gini seandainya mereka masih hidup? Lo pengecut Chia!"
"Juna!"
"Engga, Yah. Chia tuh emang harus mikir. Mau sampai kapan dia kayak gini? Masalahnya gak akan beres kalau dia cuma nangis di sini."
Chia mendengar helaan napas berat dari Paman Aldi. Sepertinya pria paruh baya itu harus mengalah dari pengacara seperti Jun, yang selalu memenangkan kasus dalam persidangan.
"Lo tau, Chia? Kalo gue jadi orang tua lo, gue pasti bakal nyesel pernah ngelahirin anak pengecut kayak lo!"
"Juna!"
Chia masih bergeming mendengar teriakan Paman Aldi yang masih memanggil-manggil nama anaknya.
"Jun gak bermaksud buruk sama kamu Chia." Terdengar nada bersalah dari perkataan Paman Aldi.
"Gak apa-apa kok Paman." Chia menyeka air matanya. Mengangkat wajah. Menatap lurus ke dalam bola mata Paman Aldi yang tersenyum hangat padanya.
"Jun bener Paman. Ini saatnya aku balik ke sekolah. Jika perkataan Jun benar soal hukumanku yang telah dicabut, itu berarti aku harus segera kembali ke sekolah. Benar kan Paman?"
Chia meneliti ke dalam bola mata yang masih menatapnya teduh. Ia akhirnya tersenyum saat melihat garis halus di wajah Paman Aldi. Chia memeluk pria yang sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri itu sesaat. Ia tersenyum lagi sebelum bergegas kembali ke dalam rumah Paman Aldi untuk mengemasi barang-barangnya.
__ADS_1
Yah! Masih ada hal yang harus diselesaikan. Belum saatnya gue pergi. Katanya sambil mempercepat langkahnya meninggalkan Paman Aldi yang masih berdiri di tempatnya.
● ● ●