
Malam semakin larut. Mara dan Fachri sedang berada di cafe es krim yang ada di Lembang, Bandung. Iya, Mara tahu. Makan es krim dalam keadaan hampir mendekati puncak malam begini dan angin yang berembus menusuk hingga ke tulang, adalah keputusan yang sangat bodoh. Harusnya dia memilih makanan panas untuk menghangatkan diri.
Tapi Mara tak ingin terlalu lama menunggu waktu sampai dia bisa bernostalgia. Dia sudah terlalu rindu pada cafe es krim favoritnya itu. Tempat biasa dia dan Fachri 'kencan' berdua saja di sana. Makanya, setelah mentraktir Fachri makan di restoran mahal, Mara memaksa laki-laki itu membawanya ke Lembang hanya untuk makan es krim.
Seketerlaluan itu memang. Bayangkan saja, Fachri bahkan belum menginjakkan kaki di rumah setelah kepulangannya dari negeri orang. Parahnya, dia diseret paksa Mara untuk ke sana-sini, menjadi supir pribadi gadis itu, belum lagi ditambah rengekannya yang meminta untuk memakan es krim. Astaga! Untung kadar kesabaran Fachri belum mencapai ambang batas.
"Lo masih punya utang sama gue ngomong-ngomong," ujar Fachri tepat ketika Mara baru saja menghabiskan banana splitnya.
"Utang apaan? Lo jangan ngarang deh. Baru ketemu udah nagih utang." Perhatian Mara kembali teralih pada waffle di atas meja yang belum tersentuh. Waffle coklat dengan taburan berbagai topping dan es krim yang rasanya otentik itu memang menggelitik rasa lapar Mara untuk meraung-raung dengan ganas. Mara segera menyikatnya dengan cepat tanpa peduli rasa malu dengan cara makannya yang bar-bar.
Ah sudahlah. Yang di depannya ini hanyalah seorang Fachri. Cowok yang notabenenya sudah tahu betul baik dan buruknya seorang Naigisa Amaranth. Lantas, tidak ada alasan bagi Mara untuk menjaga image lagi di hadapan laki-laki itu.
"Pelan-pelan aja sih makannya kenapa?! Lo udah kayak yang gak pernah makan es krim seumur hidup aja." Dibanding merasa jijik atau illfeel, Fachri justru lebih merasa prihatin.
Entahlah. Fachri merasa bahwa Mara tampak berbeda sekarang. Memang, pada dasarnya waktu dapat merubah setiap insan di dunia. Tapi, masa iya, berubahnya sedrastis seperti Mara saat ini?
"Jadi? sebutin alasan yang logis sebelum gue menentukan hukuman yang tepat buat lo."
"Dih! Gak bisa! Gak bisa! Enak aja. Kalau udah dikasih alasan logis. Lo gak boleh ngehukum gue. Titik." Mara protes setelah wafflenya ludes dalam sekejap. Berbanding terbalik dengan Fachri yang bahkan hanya duduk untuk menemani Mara. Laki-laki itu sudah kenyang dan sedang tak ingin memakan es krim saat itu.
"Dibilang tergantung sama jawaban yang lo kasih," tukas Fachri santai. Dia mengubah posisi duduknya. Fachri menumpangkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain. Raut wajahnya berubah serius.
"Nih yah dengerin! Gue bakal kasih jawaban yang jujur. Setelah itu lo gak boleh ngehukum gue. Titik."
"Iya deh iya terserah lo. Asal lo bahagia gue mah."
Mara tertawa riang. "Gitu dong. Ini baru namanya sahabat kesayangan gue."
"Udah buruan."
Mara mendengus. Dia memandang Fachri sebentar lalu menghela napas berat. "Jadi .... ceritanya di mulai waktu kemaren."
Di tengah kesibukkannya membereskan segala berkas di atas meja, Mara menyempatkan diri melirik jam di tangan. "Ya ampun gue udah telat."
"Mara? Udah kelar belum?" tanya Sera yang tiba-tiba sudah berada di bilik meja kerja sahabatnya itu.
__ADS_1
"Udah nih. Bentar lagi."
"Gue bantu deh biar cepet," ujar Sera yang tangannya dengan sigap membereskan beberapa berkas yang masih tertinggal di atas meja. Namun, berkat bantuan tangan cekatan Sera, aktifitas beres-beres Mara selesai jauh lebih cepat. "Udah selesai 'kan? Ya udah yuk berangkat. Entar ketinggalan yang lain."
"Acaranya di restoran hotel punya si Bos 'kan?" tanya Mara memastikan sambil masuk ke dalam lift. Sera mengekor di belakangnya.
"Iya."
"Ya udah, lo bareng aja deh sama gue."
Sera mengerjap. "Enggak deh. Gak enak gue. 'Kan lo bareng sama Gamma. Entar gue jadi setan di antara kalian gimana? Ogah ah."
"Ish! Bandel banget sih kalo dibilangin. Pokoknya lo bareng gue sama Gamma. Titik."
"Dasar si Ratu Maksa."
Mara tertawa lepas. "Iya dong! Gue 'kan dulu berguru sama rajanya para raja tukang maksa."
"Raja? Wah? Siapa tuh?" goda Sera.
"Makasih yah Sayang, udah nungguin," ujar Mara sambil bergelayut manja pada tangan Gamma. Gamma hanya terkekeh sambil mengelus puncak kepala kekasihnya itu.
"Ya udah yuk buruan. Si Bos 'kan gak mau ada yang telat ke acara ulang tahun pernikahannya," ujar Mara sambil membuka pintu belakang mini cooper miliknya. "Ayo Ser, duduk di belakang sama gue."
"Awalnya, semua baik-baik aja. Acara ulang tahun berjalan lancar. Semua yang ada di pesta senang. Tapi, mood gue berubah, waktu gue sadar bahwa pacar gue gak balik-balik ke restoran setelah beralasan mau ngambil barangnya di mobil." Mara menghela napas berat. "Sampai akhirnya, saat gue mau nyusulin ke parkiran, ternyata di sudut yang gak terlihat CCTV, gue menemukan pacar gue mencium seorang cewek. Bodohnya, gue malah video adegan saat pacar gue selingkuh sama orang yang udah gue anggap penting. Pulang dari acara itu gue pergi ke bar. Minum segelas dan paginya gue terdampar kayak duyung sampai sore. Cerita tamat."
"Bentar deh. Dari tadi lo sebut 'pacar gue A, pacar gue B'. Pacar yang lo maksud itu si brengsek Asta?" Fachri menelisik netra Mara yang tiba-tiba tak berkedip. Berusaha mencari jawaban dari sahabatnya itu.
Namun rupanya, pertanyaan Fachri barusan berefek sangat hebat kepada Mara. Mara yang semula ceria dan acuh tak acuh, mendadak membeku di tempat. Tatapannya berubah datar dan sedingin es pada Fachri. Bahkan, saat Fachri mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan gadis itu. Hanya rasa dingin yang jauh lebih menusuk ketimbang udara di malam hari itu.
"Mara?" lirih Fachri sambil menggenggam tangan Mara yang ternyata terasa sangat dingin. "Lo baik-ba ...."
"JANGAN PERNAH SEBUT NAMA ITU LAGI DI DEPAN GUE!" seru Mara tiba-tiba dengan nada yang datar dan dingin.
"Siapa maksud lo?" Fachri masih mencerna perkataan Mara barusan. Dia memandang Mara bingung. Mencoba memahami situasi yang terjadi saat ini. "Lo kenapa sih? Hah?"
__ADS_1
Mara memalingkan wajah. Dia tak ingin menatap Fachri. Dia bahkan menarik tangannya yang sedang coba dihangatkan oleh sahabatnya itu.
"Jadi dia ... yang bikin lo berubah kayak gini? Jawab Mar! Apa yang dia lakuin sama lo sampe lo kayak gini?"
Mara berdecak sebal. Dia menendang kaki meja dengan pelan. "Emangnya gue kenapa sih? Perasaan gue biasa ...."
"LO BERUBAH! Lo gak jadi diri lo sendiri. Lo beda. Lo asing saat ini buat gue."
Deg! Bagaimana bisa selucu itu. Bahkan Fachri yang baru bersamanya beberapa jam saja bisa merasakan bagaimana Mara yang sekarang dibanding dulu. Mara tersenyum miring.
"Lo tau apa sih tentang diri gue? Udah deh Fachri, lo gak perlu sok tau ... apalagi mau tau urusan orang."
"Gue perlu tau, Mar! Lupa sama janji gue waktu ninggalin lo?" Fachri melemparkan tatapan lurus ke arah Mara. "Gue gak akan biarin Asta brengsek itu bikin lo nangis lagi apalagi sampai kayak gini!"
"CUKUP FACHRI!!!" jerit Mara tak tahan. Dia bahkan sampai berdiri dan menggebrak meja. Lalu memandang nanar ke arah sahabatnya itu. "Bukan hal seperti ini yang gue inginkan saat bertemu sama lo lagi. Asal lo tau."
Mara kecewa? Ya! Sangat. Tidak pernah terbayangkan bahwa pertemuan pertamanya dengan Fachri setelah sekian tahun, akan berakhir dengan pertengkaran. Mara menggembungkan dadanya. Menghirup oksigen banyak-banyak lalu mengeluarkannya secara perlahan. Dia mencoba menenangkan diri.
"Gue peringatin terakhir kalinya sama lo. Jangan ... pernah ... sebut ... nama ... itu ... atau ... bahas apapun ... yang menyangkut soal dia ... di depan gue. PAHAM?"
Setelah berkata begitu Mara meninggalkan cafe. Dia meminta bill dan memberikan sejumlah uang pada pelayan. Mara bergegas masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan mesin. Dia melajukan mobilnya dan pergi begitu saja tanpa peduli Fachri yang berlari mengejarnya.
Mara bahkan nyaris seperti seorang pembalap. Di jalanan yang cukup meliuk-liuk dan rawan kecelakaan itu, Mara justru melajukan mobilnya dengan kecepatan 100 KM/jam. Untung saja malam itu jalanan kosong.
Mara berhenti dengan kegilaannya setelah cukup jauh dari tempat Fachri berada. Mara mulai memperlambat lajunya begitu dia telah memasuki jalan raya besar. Dalam keheningan menunggu lampu merah berakhir, Mara termenung.
"Dari semua orang yang ada, kenapa harus lo yang mengingatkan gue dengan nama itu lagi Fachri?" lirih Mara dengan tatapan sendunya.
Tolong jangan sebut nama itu lagi Fachri. Karena ... begitu nama itu disebut, akan ada hati yang terluka, akan ada bekas sayatan yang terbuka, akan ada kenangan yang tak pernah terlupa.
∆ ∆ ∆
coba tebak, sebenernya mara sama asta kenapa? 😫 kira kira ada yang bisa tebak gak Asta kemana? 🤧🤧🤧🤧
jawab di kolom komentar yah ❤️❤️❤️
__ADS_1