Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 23 : U Can Cry (2)


__ADS_3

Gara-gara perkataan Rei beberapa hari lalu, Chia jadi bertindak bodoh. Seperti saat ini. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, ia mengikuti seseorang. Ia malah diam-diam berdiri di tempat yang cukup jauh, agar kehadirannya tidak diketahui oleh dua orang yang sedang berdiri di depan sebuah toko buku di dekat sekolahnya.


Dari semua tempat, kenapa tempat itu yang dipilih buat kencan? Dengus Chia sambil menggelengkan kepalanya.


"Lo gak mau masuk, Ra?"


"Gue gak berani masuk, Riga."


Chia tak berkomentar mendengar perdebatan kedua orang yang ia tahu itu adalah Riga dan Mara. Chia terkejut sesaat saat Riga tiba-tiba menggenggam tangan Mara dan menarik gadis itu mengikutinya masuk ke dalam toko buku.


Chia memalingkan wajah dan tersenyum miris memandangi telapak tangan kanannya. Sekarang ia benar-benar merutuki kebodohannya saat bayangan masa lalunya tiba-tiba terbesit lagi di kepalanya. Ingatan yang bahkan berusaha dilupakannya.


Chia tertegun saat seorang lelaki telah berdiri di depan pintu rumahnya. Tak banyak orang yang tahu alamat rumahnya, karena Chia memang baru beberapa hari pindah ke rumah itu. Kecuali laki-laki itu yang memang membantu Chia saat pindahan kemarin.


Laki-laki itu berbalik badan sambil tersenyum. Sementara Chia hanya terdiam menatapnya. Tiba-tiba Chia terkesiap saat laki-laki itu mengaitkan jari-jarinya dengan jari-jari milik Chia, lalu menarik tubuh Chia hingga ia terpaksa mengekor di belakang laki-laki itu.


"Mau kemana?" protes Chia menghentikan langkah lelaki itu tepat setelah mereka melewati pintu pagar.


Laki-laki itu menoleh dan menatap kesal ke arah Chia. "Berangkat ke sekolah bareng," tuturnya tegas.


Chia terperangah saat laki-laki itu menarik tangannya lagi dan membuat Chia terhuyung mengejar langkahnya.


"Lepasin!" ronta Chia sambil berjalan dengan tangan kiri yang berusaha membebaskan tangan kanannya. Chia melirik dengan kesal laki-laki yang bahkan tak menjawab permohonannya.


"Lepasin gak?" Chia makin sebal saat gedung sekolahnya terlihat makin jelas dari kejauhan.


"Gue gak mau lepasin!"


Chia mendengus. "Lo pengen semua orang lihat dan ngira kita pacaran?"


"Kita emang pacaran," jawab laki-laki itu datar.

__ADS_1


"RIGA!" Ya, laki-laki yang ngotot sekali itu adalah Utaraka Meteoriga. Chia menghentikan langkahnya, nyaris menabrak punggung laki-laki yang mendadak berhenti berjalan itu.


Chia memandangi bola mata berwarna coklat yang menatap kesal ke arahnya.


"Gue udah bilang kan, gue serius sama lo. Apa yang bikin lo gak mau semua orang tau tentang hubungan kita?"


Chia menelan ludah dan tak menjawab apa pun.


"Lo takut cewek-cewek yang suka sama gue menindas lo lagi kayak waktu di SMP dulu?"


Ah. Chia menghela napas. Tanpa perlu menjawab pun, Riga memang telah mengetahui jawabannya.


"Bego!" Riga mencubit pipi Chia dan membuatnya mengelus pipinya. "Buat apa ada gue yang selalu ada di sisi lo?"


Chia menghela napas. Menghapus dengan cepat semua ingatan-ingatan yang memberontak untuk kembali hadir di kepalanya. Ah, ini bukan waktu yang tepat untuk bernostalgia. Chia mendengus, nyaris saja perhatiannya teralih.


Buru-buru matanya kembali fokus menatap kedua orang yang baru saja keluar dari toko buku itu. Chia kembali berjalan mengikuti kedua orang yang bergerak menjauh darinya. Ah, ada perasaan berdesir saat menatap kedua orang yang sedang mengobrol dan tampak akrab itu. Pilihan membuntuti mereka memang merupakan pilihan yang salah untuk Chia.


Chia terkesiap saat melihat motor besar melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan. Tanpa berpikir panjang, Chia telah berlari ke arah Riga. Chia menabrakkan tubuhnya pada punggung Riga dan mendorong tubuh lelaki itu agar lebih condong ke kiri.


Chia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang sambil melotot. Matanya beradu dengan pengendara motor besar itu yang menatapnya tajam dari kaca spion. Rei!


● ● ●


Riga terkejut saat seseorang menabraknya dari belakang dan mendorong tubuhnya ke kiri. Ia melirik Mara yang tadi memekik sesaat lalu buru-buru memegangi bahu gadis itu agar tidak terjatuh. Riga menoleh dan menatap dengan kesal seseorang yang menubruknya tadi.


"Ngapain lo di sini?" ujar Riga sambil mengamati gadis yang tadi menabraknya.


Alih-alih menjawab pertanyaan Riga, gadis itu malah berbalik badan menoleh ke belakang, entah sedang memandang apa. Riga yang kesal langsung menarik lengan gadis itu dan membuatnya memutar badan ke arahnya.


Deg! Perasaan Riga tiba-tiba kacau saat mendapati wajah gadis itu pucat pasi, seperti tak ada darah yang mengalir di tubuhnya. Mata gadis itu terlihat kosong dengan bulir-bulir air mata di pelupuk matanya.

__ADS_1


Ekspresi ini lagi? Iya, ini adalah ekspresi yang sama dengan yang ditunjukkan Chia saat Riga pernah menolongnya. Wajah pucat Chia terlihat tak bernyawa seperti mayat hidup.


Sial! Riga berdecak kesal. Ini sudah kedua kalinya dan perasaan Riga makin berkecamuk.


● ● ●


Kesadaran Chia kembali. Ia terkejut saat melihat dua orang yang tadi diikutinya, sekarang menatapnya penuh arti. Ia tahu kehadirannya yang tiba-tiba itu membuat mereka terkejut.


Dengan perasaan tak menentu Chia berlari meninggalkan kedua orang itu. Perasaannya kacau. Kepalanya terasa berdenyut. Chia menjatuhkan dirinya di sebuah kursi halte di perempatan yang tak jauh dari sekolahnya, saat kakinya tak sanggup berlari.


Pilihannya memang salah. Seharusnya ia tak nekat mengikuti Riga seperti itu. Dengan begitu ia bisa mengendalikan semua ingatannya yang terus saja berontak untuk berkeliaran lagi di pikirannya.


Rasa sakit dan frustrasi menjalar ke seluruh tubuh Chia. Ia bahkan tak bisa menghentikan air mata yang selama ini selalu disembunyikannya mengalir deras di pipinya. Ia rapuh. Sekali lagi.


● ● ●


Riga membanting tubuhnya dengan malas di sebuah kursi dengan komputer di atas meja di ruang klub sastra. Jika ia tak harus menyelesaikan bagiannya untuk penerbitan majalah sekolah bulan depan, yang tinggal satu minggu lagi, ia tak akan repot-repot duduk di sebelah gadis yang potongan rambutnya aneh itu. Meski gadis itu sekarang telah mengikat rambutnya, tetap saja bagian yang nyaris botak masih terlihat dengan jelas.


Riga melirik gadis yang duduk di sebelahnya itu. Kenapa harus Chia yang duduk di sebelah gue? Penasaran, Riga justru memandangi gadis itu. Ia masih tak mengerti alasan gadis itu tiba-tiba muncul dari belakang dan menubruknya kemarin.


Cemburu? Riga tersenyum simpul. Hal yang mustahil jika gadis di sebelahnya itu cemburu padanya. Gadis yang gak punya hati kayak dia, gak mungkin ngerasain cemburu.


Riga tertegun saat mengamati gadis itu. Gadis itu sungguh terlihat seperti patung. Matanya menatap kosong layar komputer di hadapannya. Bahkan jari-jarinya yang bertumpu di atas keyboard tak bergerak sama sekali. Sungguh pemandangan yang membuat Riga makin terusik dan penasaran.


● ● ●


Chia masih tak yakin dengan pilihannya. Meski ia ragu, ia tetap berjalan menuju gedung kelas S. Ia penasaran dengan seseorang yang memintanya datang ke ruang kelas S di tengah-tengah jam pelajaran masih berlangsung seperti itu. Chia yang masih di skors tak masalah dengan hal itu. Ia bebas bergerak dan berkeliaran di area sekolah meski masih jam pelajaran. Namun bagaimana dengan kelas S? Mereka pasti lagi belajar juga kan? Chia hanya tak ingin mengganggu saja.


Bunyi pecahan kaca membuat Chia menghentikan tangannya saat hampir memutar kenop pintu. Ada apa di dalem? Chia mengerutkan dahinya. Dengan tenang ia memutar gagang pintu dan membukanya. Uh ia benar-benar terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Ia tertegun di depan pintu.


● ● ●

__ADS_1


__ADS_2