
Asta mengedarkan pandangan. Belum jam 8 malam, restoran tempatnya bekerja sudah terlihat sangat ramai. Tidak ada kursi yang kosong. Kalau pun ada, langsung diisi kembali oleh pengunjung yang datang selanjutnya.
Asta terkejut melihat empat perempuan yang cukup dikenalnya. Bahkan pandangan Asta sempat bertubrukan dengan perempuan yang memandangnya dengan aneh itu. Aneh saja. Baru kali ini Asta melihat Mara melemparkan tatapan cemburu kepada sosoknya sebagai Andra. Jika sebagai Asta, dia sudah terbiasa mendapatkan tatapan itu dulu. Kali ini ... rasanya berbeda.
Asta menoleh ke arah Chia. Ya, dia tidak datang sendiri. Malam itu Chia sengaja ikut dengannya ke restoran. Setelah pulang dari rumah Lala, Asta mendapat telepon dari Raja. Asta diminta untuk membantu di restoran. Dua orang termasuk Asta sedang cuti. Sementara hari itu adalah akhir pekan. Restoran milik Raja akan selalu dipadati pengunjung ketika akhir pekan tiba. Terutama kaula muda. Maka disinilah Asta berada sekarang.
Jangan tanya kenapa Chia ikut. Perempuan itu menawarkan diri untuk membantu. Asta tidak setuju. Begitu pun Jun. Namun, setelah melakukan perdebatan sepanjang jalan, Jun dan Asta akhirnya mengalah. Dengan mobilnya, Jun mengantar Asta dan Chia ke restoran milik Raja. Sementara dia kembali ke kantor karena memiliki urusan di sana.
Asta tersentak tiba-tiba. Jangan-jangan Mara jealous sama Chia? duga Asta di dalam hati.
Buru-buru Asta menepis pikirannya. Tidak. Itu tidak mungkin. Suatu hal yang mustahil jika Mara cemburu pada Asta yang sekarang berada di dalam sosok Andra.
Asta menghapus praduga itu. Dia memilih untuk mengajak Chia berjalan menuju Raja yang sedang berdiri di balik meja kasir. Lelaki itu tengah sibuk dengan lembaran uang kertas di tangan. Menghitung kembalian kepada salah satu pembeli yang sedang mengantri pembayaran.
∆ ∆ ∆
Bete!
Itulah perasaan yang sedang terlintas dan terngiang-ngiang di pikiran Mara. Apa-apaan tadi? Sok-sokan gak lihat gue? Emangnya gue gak pantes dilihat apa? Wah! Gue kesel! Dengan sekuat tenaga Mara menusuk daging steak di atas piring. Entah kenapa Mara merasa begitu sebal ketika Andra memutuskan tatapannya. Seolah berpura-pura tidak kenal.
Emangnya, dengan dia kayak gitu gue bakal peduli? Bahkan kalau pun dia bersikap biasa-biasa aja, gue yang bakalan pura-pura gak kenal dia! Mara masih mengomel di dalam hati. Daging steak di dalam mulutnya menjadi pelampiasan.
"Siapa yah cewek yang di sebelah Mas Andra? Apakah dia pacarnya ... atau gebetannya?" tanya Amel dengan gaya pembawa acara gosip di televisi.
"Mana gue tau. Bukan urusan gue juga!" sewot Mara masih sambil mengiris lalu menusuk daging steaknya dengan sadis sekali lagi.
"Dih, jutek amat! Kesambet apaan lo? Jangan bilang lo kesambet wajah gantengnya Mas Andra? Naksir juga 'kan lo sama dia? Ngaku lo!" goda Selo.
"Bener gak?" goda Gita sambil mengadukan bahunya dengan bahu Mara secara pelan.
Mara melirik sinis. "Apaan sih kalian. Ya kali gue naksir dia. Kayak gak ada orang yang lebih ganteng aja."
__ADS_1
"Mara!" panggil seseorang tiba-tiba.
Yang dipanggil mendongakkan kepalanya. Lalu menarik pandangan ke arah tiga orang laki-laki yang berdiri di dekat meja mereka. Dari ketiganya, hanya satu yang Mara kenali, dan dia yakin orang itulah yang barusan memanggil namanya.
"Lo kenal dia Riga?" tanya salah seorang lelaki yang berdiri di samping kanan Riga.
Riga menjawabnya dengan anggukan. "Dia sahabat SMA gue."
"Cantik banget. Yakin lo, kalau kalian cuma sahabatan doang?" goda teman Riga yang lain.
Mara yang dipuji hanya diam. Begitupun Riga yang memilih untuk tidak menanggapi candaan kedua temannya itu. Dia kembali memandang Mara. "Lo lagi apa di sini?"
"Makan," jawab Mara tak yakin dan lengannya langsung dicubit Selo pelan. "Apaan sih?"
Mara mengelus bagian lengan bekas cubitan Selo. Kenapa juga temannya itu mencubit Mara. Toh jawaban Mara tidak salah 'kan? Dia memang sedang makan.
"Kalian lagi mau makan di sini juga?" tanya Amel sok kenal sok dekat. Matanya berkedip-kedip centil dan membuat Mara merinding seketika.
"Iya," jawab Riga datar.
Ya ampun! Apakah kedua temannya itu sedang kesambet? Mara mendengus sambil memutar kedua bola matanya menanggapi Gita yang mulai terkena virus alay dari Selo dan Amel.
Sementara Selo--yang belum menunjukkan gejala--sedang sibuk sendiri. Dari tadi kepalanya menengok ke kanan dan kiri. Melihat situasi restoran saat itu. Ternyata seluruh kursi di restoran sudah penuh. Mendadak Mara melihat senyum aneh mengembang dari wajah hitam manisnya Selo.
"Kalian mau ikut gabung di sini gak?" Begitulah ide gila yang tercetus dari mulut Selo. Kebetulan mereka duduk di sofa panjang. Tinggal bergeser sedikit, mereka bisa memberikan ruang untuk para lelaki itu duduk.
∆ ∆ ∆
Ting tong!
"Pesanan untuk meja 5, 8, dan 20!" seru Raja si pemilik restoran yang beralih kerjaan menjadi pelayan. Penjaga mesin kasir digantikan oleh Chia. Dia sendiri sedang mengamati Raja yang melangkah ke luar restoran. Mengantarkan pesanan bagi pengunjung yang duduk di bagian outdoor.
__ADS_1
Fokus Chia beralih pada mangkuk dan piring penuh asap yang diletakkan di dekatnya. Menunggu seseorang untuk diambil lalu diantarkan ke pengunjung, dan Asta lah yang melakukannya. Meski gerakan kaki Asta terbatas, tetapi lelaki itu terlihat sangat gesit. Berjalan mondar-mandir. Mencatat dan mengantarkan pesanan.
Pantas Raja meminta Asta datang. Dalam sekejap, antrian pengunjung di restoran perlahan berkurang. Begitu pun keterlambatan untuk menerima pesanan sudah tidak terjadi lagi. Kini semuanya dapat dikondisikan dengan baik. Chia pun bisa sedikit memiliki jeda untuk bernapas sebelum kembali melayani pelanggan yang ingin membayar, dan tadi itu adalah yang terakhir.
Chia menghela napas lega. Dia bisa bersantai sejenak. Mata Chia menyapu seluruh area restoran. Tapi tak berlangsung lama. Kini fokusnya hanya tertuju pada satu arah. Menatao dalam diam ke arah meja yang sedang diduduki Mara dan kawan-kawannya.
Saat masuk ke restoran tadi, Chia sudah melihat Mara sebelum dirinya melewati pintu masuk. Chia merasa tak enak karena belum menyapa perempuan itu. Apalagi Chia datang bersama Asta. Meski Mara tak tahu, tapi cara kedua orang itu saling beradu pandang, membuat Chia menarik kesimpulan bahwa mereka sudah sering bertemu. Meski Asta masih menggunakan identitas palsunya. Tapi keduanya sudah saling mengenal.
"Kenapa? Cemburu?" tanya Asta sambil memberikan catatan pesanan pada Raja yang sudah kembali ke tempatnya. Berdiri dibalik meja panjang ala bartender bersama dengan Chia.
'Siapa?" tanya Chia dengan kening berkerut.
Asta berdecak jengkel. Dengan kepalanya dia menunjuk meja Mara. "Kalau lo merasa khawatir, lo tinggal samperin aja. Biar gue yang jaga mesin kasir."
Chia menengok ke arah orang yang ditunjuk Asta. Ah, dia lupa soal lelaki itu. Lelaki yang sedang duduk di samping Mara sambil berbincang dengan teman-temannya. Riga terlihat santai dan akrab. Sesekali lelaki itu tertawa pelan. Chia tersenyum.
"Gue gak merasa khawatir," jawab Chia yang telah melihat Asta duduk. Lelaki itu terlihat kehausan dari caranya meminum air putih satu gelas dalam sekali tegukan. "Gue justru lebih khawatir sama lo."
"Soal?" tanya Asta sambil menaruh gelas plastik yang tadi diambil dari dalam lemari.
"Kedeketan Mara sama Riga. Lo yakin gak merasa cemburu?"
Deg! Kini ganti Asta yang memandang ke arah meja Mara. Dari tadi dia menahan diri untuk tidak mengamuk. Untuk tidak berprasangka. Riga adalah temannya. Meski begitu, bohong kalau hati Asta tenang-tenang saja. Dari tadi jantungnya meminta untuk melompat keluar. Asta bahkan tak bisa lagi membaca ritmenya.
Namun, bukankah dia sudah berjanji untuk melepaskan Mara? Membiarkan perempuan itu mencari cinta yang lain? Kalau hatinya secepat itu goyah, maka Asta sendiri yang akan menerima akibatnya.
"Gue gak cemburu. Gue sama seperti lo. Kita sama-sama telah merelakan rasa cinta yang kita punya. Kalau pun akhirnya mereka bersama, lo udah siapin hati untuk gak sakit 'kan?"
Perkataan Asta menohok relung hati Chia. Ada rasa sakit yang menyusup ke dada. Tapi, seperti perkataan Asta barusan. Chia sudah siap untuk patah hati. Entah siapapun yang nanti bersama Riga, Chia harus siap dan mendukungnya. Semoga saja, ketika hari itu tiba, hati Chia bisa sekuat perkiraannya.
"Lo yakin untuk gak memberitahu Mara?" tanya Chia lagi dan pertanyaan itu hanya dijawab senyuman dingin. Asta sudah keburu mengantarkan pesanan lagi ke meja-meja pengunjung. Chia menghela napas pelan.
__ADS_1
∆ ∆ ∆
maafkan yah upnya malem lagi 🤧😭❤️