
"Orang bodoh!" komentar Asta puas lalu menggulung sebuah surat kabar dan membuangnya ke sembarang tempat. Kemudian Asta kembali menatap sebuah layar besar di depannya yang sedang menayangkan iklan minuman dengan mata berbinar.
Tiba-tiba .... Pletak!
Asta mengelus belakang kepalanya yang baru saja dipukul dengan sesuatu. Asta menoleh. Seorang perempuan dengan wajah sangat familiar, tengah berkacak pinggang. Salah satu tangan perempuan itu memegang erat gulungan koran yang tadi Asta buang.
"Jangan buang sampah sembarangan. Lo gak tahu apa ada denda buat orang yang buang sampah sembarangan?" omel perempuan yang melotot ke arah Asta itu.
Asta menanggapi perempuan itu dengan tersenyum di dalam hati. Si bawel tukang ngomel. Lo emang gak pernah berubah, ucap Asta di dalam hati. Sama kayak perasaan gue yang gak akan pernah berubah sama lo.
Andai perempuan itu memiliki kekuatan untuk membaca pikiran orang lain. Asta pasti dengan senang hati akan mentransfer seluruh pikirannya kepada perempuan itu. Agar dia tahu apa isi hati Asta yang sesungguhnya saat ini. Agar dia tahu, bahwa Asta tak pernah melupakannya sedetik pun.
"Korannya udah lo pegang 'kan? Ya tinggal lo buang aja sana ke tempat sampah," jawab Asta datar. Matanya kembali melihat iklan minuman yang terus diputar berulang-ulang.
Mara yang tadi berkacak pinggang, menahan dongkolnya. Dengan amat sangat berat hati, Mara membuang surat kabar itu ke dalam sebuah tong sampah yang letaknya sekitar 3 meter dari tempat Asta berdiri.
Pagi itu Mara sengaja berjogging di sekitaran komplek apartemennya. Mumpung hari itu libur, Mara ingin membuat tubuhnya agar lebih Fit dari biasam Maka pagi-pagi sekali Mara sudah keluar dan berlari hingga sampai di sebuah taman berair mancur.
Mara bersyukur. Dia tidak sendiri. Ada banyak orang yang berolah raga di taman itu. Dari anak kecil, remaja, sampai dewasa, segala usia tampak memenuhi taman yang cukup luas dengan penataan tanamannya yang menyejukkan mata.
Bunga-bunga, rumput, dan pepohonan ditata sedemikian rupa hingga sangat cocok untuk menjadi latar belakang sebuah foto. Bahkan ada area khusus untuk anak balita dan juga lansia. Lengkap.
"Andai gue ke sini sama Fachri. Gue bisa minta dia buat fotoin. Sayang banget deh banyak spot bagus tapi gak bisa gue abadikan," sesal Mara sambil bergumam sendiri. "Fachri sih sibuk riset makanan mulu."
Tak ingin merasa iri dengan orang-orang yang sedang berfoto, Mara melanjutkan jogingnya sambil berkeliling memutari lapangan. Dia dikejutkan pada sisi sebelah kanan yang dekat dengan pintu gerbang bagian belakang taman. Mara baru tahu, ternyata sisi itu digunakan para pedagang untuk berjualan.
Senyum Mara mengembang. Kebetulan sekali saat itu Mara merasa haus juga lapar karena belum sarapan. Mara menghampiri bagian yang berisi meja-meja dengan aneka makanan yang sengaja dipajang. Beberapa makanan ringan segera dibelinya.
"Pak, saya beli yang ini, ini, ini, juga ini yah," seru Mara sambil menunjuk-nunjuk makanan kepada beberapa penjual.
Sambil menyemil gorengan, Mara mengedarkan matanya ke sekeliling. Mencari makanan apa lagi yang dapat dibelinya lagi. Namun, langkah Mara terhenti di depan sebuah kios bakmi. Karena dari jauh wangi makanan itu sudah menggelitik hidungnya. Maka, Mars menghampiri kios dan segera memesan semangkuk bakmi.
Sambil menunggu pesanannya, Mara mengeluarkan ponsel ketika teringat sesuatu. Cepat-cepat dia mengetikkan pesan singkat pada seseorang.
__ADS_1
to Fachri : Lo pasti nyesel karena gak mau nemenin gue!
Setelah mengklik tombol kirim, Mara juga membagikan beberapa gambar yang tadi diambilnya pada sahabat satu-satunya itu. Namun, tiba-tiba Mara terpaku ketika mendengar suara yang tak asing di telinga.
Begitu telah menyapukan pandangan, Mara justru mendapati sosok lelaki yang dia cukup kenal. Si pengirim makanan sekaligus orang super menyebalkan yang Mara tahu. Andra.
Mara ingin segera pergi kembali menuju kios bakmi. Namun rasa penasaran mnggerogotu jiwa Mara seketika. Mara heran dengan lelaki yang masih menonton iklannya Sun itu terus-menerus. Memangnya ada apa dengan kakaknya Riga itu?
"Lo bilang dia bodoh, tapi masih aja lo tontonin," sindir Mara ketika telah berdiri di sebelah Asta.
Asta menaikkan salah satu alisnya. "Gak usah sok tau."
"Gue gak sok tahu yah. Barusan gue lihat sendiri kok lo ngatain Kak Sunshine bodoh."
"Mata lo juling yah? Kalau mau lihatin orang tuh, jangan setengah-setengah," ejek Asta sambil tersenyum penuh makna dan sukses membuat Mara melotot sambil mendengus kesal.
"Kepedan banget sih lo! Siapa juga yang bakal mau ngelihatin lo? Sampai lo jadian sama kucing tetangga juga ogah gue ngelihatin lo."
Mara berbalik badan. Memilih mengalah. Tidak mau bicara lagi dengan Andra. Entah kenapa, rasanya dia selalu menjadi dongkol sendiri setiap kali bercengkrama dengan lelaki bernama Andra itu.
Sial! Malu banget gue. Bisa diketawain sama Andra, rengek Mara di dalam hati.
Nyatanya, dugaan Mara sungguh terjadi. Meski tatapan Asta dingin, diam-diam lelaki itu menertawainya. Terlihat dari bahu Asta yang bergetar naik turun.
"Kalau mau ketawa ya ketawa aja. Gak usah ditahan," cibir Mara kesal pada Andra. Dia berusaha bangkit berdiri. Namun, rasa sakit di pergelangan kakinya membuat Mara meringis.
Tiba-tiba Andra mendekatinya lalu mengulurkan tangan.
Mara terharu. Hampir saja Mara meraih tangan Asta, tapi lelaki menyebalkan itu dengan pelan menampiknya.
"Gak usah geer. Gue bukan mau nolong lo. Gue mau minta uang," seru Asta datar.
"Kok lo minta uang ke gue?" protes Mara tak terima. Ingin rasanya Mara membawa petir dan menyambarkannya pada lelaki yang berdiri di hadapannya itu.
__ADS_1
Telunjuk Asta terangkat di udara. Lelaki itu menunjuk seorang anak lelaki bertubuh pendek dan gempal yang tadi menabrak Mara. "Uang anak ini, ketindihan badan lo. Dia minta tolong ke gue supaya mintain uang itu. Dia mau cepet-cepet beli es krim. Buruan lo bangun!"
Mara membuka mulutnya lebar-lebar. Tercengang. Tak percaya dengan sikap Asta yang lebih memilih untuk menolong anak kecil itu dibanding dirinya. Sambil menahan emosi dan rasa sakit di pergelangan kakinya, Mara bangkit berdiri.
Si anak kecil yang memandang Mara takut-takut, bergegas mengambil selembar uangnya dan segera berlari meninggalkan Asta dan Mara begitu saja. "Makasih Kak!" seru anak itu girang.
Mara sendiri memilih tak menjawab. Dia justru melongo melihat Asta pergi begitu saja meninggalkan Mara. "Kok bisa sih ada orang kayak Andra yang hidup di dunia ini?" Kemarahan Mara memuncak.
Dengan menyeret langkah dan agak terpincang, Mara segera menghampiri kios bakmi dan memakan bakmi pesanannya dengan cepat. Mara bahkan memesan satu porsi lagi. Dia sangat lapar. Apalagi dengan suasana hatinya yang berubah buruk pagi itu, rasanya Mara ingin sekali memakan semua makanan yang terlihat oleh matanya.
Setelah selesai dan membayar dua mangkuk bakmi, Mara memutuskan untuk pulang. Mara ingin beristirahat. Kakinya terasa semakin sakit ketika digerakkan. Tiba-tiba sebuah tangan terulur lagi ketika Mara hendak menaiki tangga.
Mara menatap tangan itu jengkel. Mara kira orang itu sudah pergi dari taman. "Apa? Mau minta uang lagi? Mau bilang kalau gue sekarang lagi nginjek uang lo?" cibir Mara.
"Buruan naik," perintah Asta setelah menarik uluran tangannya dan berganti dengan Asta yang tiba-tiba berjongkok di depan Mara.
"Ngapain sih lo?" tanya Mara kaget. "Cepetan bangun! Bangun gak?"
Asta berdiri. Kemudian berbalik badan sambil melemparkan tatapan dingin. "Lo yang buruan naik. Kaki lo terkilir. Masih sakit 'kan buat dipake jalan?"
"Sakit atau enggak 'kan bukan urusan lo. Lagian gue masih bisa jalan sendiri kok!" Mara membuang muka. Dia berjalan menaiki tangga tanpa melihat ke arah Asta. Namun, baru dua anak tangga, Mara telah mengaduh kesakitan lagi. Nyatanya, kaki Mara memang terasa sesakit itu.
Asta berdecak. Dia kembali berdiri di depan Mara sambil berkacak pinggang. "Ngeyel banget sih dibilangin!" Asta berbalik badan dan berjongkok lagi di depan Mara. "Buruan naik ke punggung gue sebelum kaki lo bertambah sakit."
Mara termenung. Merasa ragu untuk menerima bantuan dari lelaki itu atau tidak.
"Gak usah mikir yang aneh-aneh deh. Anggap aja ini ucapan terimakasih dari gue karena lo udah ngerawat gue yang lagi sakit waktu itu. Juga, permintaan maaf karena gue kabur gitu aja."
Mara tertegun mendengar perkataan Asta barusan. Tidak menyangka jika lelaki itu masih mengingat kejadian yang sudah berlalu beberapa hari itu. "Gue pikir lo lupa."
Asta berdecak. Kesal sendiri karena Mara tak segera menerima bantuannya. Padahal tadi Asta sungguh ingin segera pergi meninggalkan taman karena dia harus bekerja. Namun, melihat Mara dari kejauhan yang seperti kesakitan, Asta memutuskan untuk kembali pada perempuan itu.
"Cepetan!" perintah Asta. "Tawaran gue gak berlaku lama yah. Lima detik. Setelah hitungan kelima lo gak mau juga, gue pergi."
__ADS_1
♡ ♡ ♡
full mara asta lagi ❤❤❤