
Asta maju beberapa langkah. Ia menatap lurus-lurus ke arah laki-laki di hadapannya. Ia tahu laki-laki itu sudah sangat kelelahan. Dadanya terlihat naik-turun tak karuan. Asta mendorong tubuh laki-laki itu hingga terjatuh di lapangan. Asta menyunggingkan senyuman di bibirnya. Senyuman ejekan, pertanda kemenangannya.
"Ini tim basket sekolah kita? Cuma segini?" Asta menyeringai.
"Apa perlu gue saranin pelatih buat ganti semua anggota klub basketnya?"
Asta melirik ke arah Dipa dan Dimas yang sedang tertawa sambil mengacungkan jempol terbalik kepada Riga dan kawan-kawannya.
Asta berjongkok. Ah, ia tahu seluruh mata sedang mengamatinya saat ini. Terutama para anggota klub basket yang menatapnya penuh kebencian. Asta menyeringai.
"Ini baru permulaan, Riga! Gue bakal perhitungin semua perbuatan lo yang selalu ikut campur urusan gue! Inget itu!" Asta menatap laki-laki yang sedang terduduk lemas di lapangan itu dengan tajam.
Asta pun berdiri. Tanpa melepas tatapannya, ia meminta teman-temannya untuk pergi meninggalkan lapangan dengan gerakan kepalanya.
● ● ●
Riga menatap dingin laki-laki yang sedang berjalan meninggalkan lapangan. Ia masih berusaha mengatur napasnya. Ia terdiam. Tatapannya kosong. Perasaannya bercampur aduk. Ia mengepal tangannya, lalu meninjukannya ke tanah sekuat tenaga. Ia kesal.
● ● ●
Seseorang membuka pintu ruang klub basket dengan keras. Fachri? Chia menatap orang itu sambil tetap duduk di dekat jendela. Ah, laki-laki itu terlihat sangat kesal. Wajahnya tertunduk ketika tatapannya tertangkap oleh Chia. Setelah mengambil tas dan handuk yang Chia taruh di atas meja, Fachri keluar tanpa berkata apa pun padanya.
__ADS_1
● ● ●
Asta berjalan menuju mobilnya. Ia menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Ia bangga melihat kekalahan Riga. Laki-laki itu memang pantas mendapatkan kekalahan.
Ah, rupanya penantiannya tak sia-sia, setelah cukup lama ia menunggu hal ini terjadi. Asta terdiam. Ia mengepalkan tangannya sambil tersenyum. Lagi.
"Sekarang kita satu sama, Riga!" gumamnya.
● ● ●
Asta ... dasar cowok bego! Umpat Mara di dalam hati.
Sejak pertandingan antara Asta dan Riga berakhir, diam-diam Mara membuntuti Asta hingga di parkiran. Ia menjaga jarak agar Asta tidak mengetahui keberadaannya. Ia berdiri di dekat pepohonan yang tidak jauh dari tempat Asta memarkirkan mobilnya.
Pertandingan itu terjadi karena rasa dendam Asta pada laki-laki yang masih disukainya. Ia sedih karena kedua orang itu masih bermusuhan. Bahkan bukan hanya ia yang tahu bahwa keduanya bermusuhan. Seluruh siswa bahkan guru-guru di sekolahnya mengetahui jika hubungan Asta dan Riga tidak baik. Itu terjadi ketika mereka duduk di kelas satu. Tepat satu minggu setelah acara penerimaan siswa baru selesai.
Samar-samar Mara masih bisa mengingat peristiwa itu. Pertama kalinya Asta dan Riga bertemu. Keduanya berkelahi untuk mempertahankan alasan masing-masing.
Asta yang memang cucu dari kepala sekolah, sudah berbuat onar ketika hari pertama acara penerimaan siswa baru. Ia yang baru saja menjadi murid sekolah itu, langsung menindas murid-murid baru yang terlihat lemah. Lalu mengambil uang saku mereka. Ia bersikap seolah-olah dialah penguasa sekolah itu. Ia bahkan tak tanggung-tanggung mengerjai habis-habisan kakak kelas yang mengganggunya. Bahkan seluruh kelas dua dan tiga dibuat takluk olehnya. Sejak kejadian itu, lima orang murid tidak pernah terlihat lagi sejak hari pertama acara penerimaan siswa baru.
Riga yang karena kecerdasannya telah di daulat untuk menjadi calon ketua OSIS yang baru saat kelas dua nanti, merasa terganggu dengan kejadian itu. Ia tidak bisa menerima ketidakadilan yang terjadi. Pihak sekolah tidak peduli dengan tindakan semena-mena Asta.
__ADS_1
Guru-guru hanya diam saja dan pura-pura tidak tahu tentang kejadian itu. Seluruh guru tidak berani melakukan apapun pada Asta hanya karena ia cucu dari kepala sekolah. Akhirnya Riga maju untuk melawan Asta.
Perkelahian diantara keduanya pun tidak terelakkan. Dari perkelahian itu, Asta mendapat hukuman dari calon ketua OSIS yang baru itu. Asta yang selalu melanggar aturan, tak terima dikalahkan hanya dengan seorang siswa yang sebaya dengannya. Seorang siswa bernama Riga yang sangat menjunjung tinggi peraturan yang berlaku. Asta yang dendam selalu membuat ulah. Dan Riga akan selalu ada di sana mengganggu perbuatan onarnya. Sejak itulah, keduanya bermusuhan hingga kini.
Mara menghapus air mata yang tanpa disadari telah membasahi pipinya. Ia tercengang. Ia terpaku ketika melihat sepasang sepatu tepat di hadapannya. Ia melayangkan pandangannya hingga tepat pada wajah seseorang di hadapannya itu.
Laki-laki itu. Mara mengernyitkan dahinya. Ia kaget dan bingung. Mengapa Asta mengetahui keberadaannya? Asta menatap Mara datar. Keduanya saling bertatapan tanpa ada sepatah kata pun yang terlontar.
Tiba-tiba Mara mendengar Asta berdeham. Laki-laki itu menghela napas dengan keras. Seolah-olah ia sedang dihadapkan dengan masalah besar. Laki-laki itu pun menatap Mara.
"Stok air mata lo sebanyak apa sih? Gak cape apa produksi air mata terus?" tanyanya dengan santai.
"Lo pikir siapa yang bikin gue selalu kayak gini?"
Mara menatap Asta dengan kesal. Ia pun bangkit berdiri. Bagian kepalanya terasa panas. Seperti sekumpulan magma di dalam gunung berapi yang tak hentinya bergejolak. Ia masih menatap dengan penuh amarah pada laki-laki yang masih dingin menatapnya.
Buru-buru diangkatnya salah satu kaki. Dengan keras Mara mengayunkan kakinya. Ia menendang kaki Asta sekencang-kencangnya. Membuat laki-laki di hadapannya itu terkejut.
"Aww!! Sakit!!" Asta berteriak dengan keras. Ia mengerang kesakitan.
"Apa sih yang lo lakuin?" Asta masih protes.
__ADS_1
"Bodo! Rasain! Emang enak? Payah!" Ucap Mara dengan kesal. Ia pun buru-buru meninggalkan Asta. Meninggalkan lelaki yang masih mengerang kesakitan.
● ● ●