
Chia membuka pintu kamar ruang tamu yang ditempati Asta. Sementara Jun masuk terlebih dahulu. Dilihatnya lelaki bernama Asta itu tengah berbaring dengan tangan yang terjuntai lemas di atas nakas. Chia berinisiatif untuk kembali ke dapur. Mengambil sapu dan kantung plastik untuk membersihkan pecahan gelas kaca di lantai.
Jun duduk di pinggir kasur. Wajah Asta semakin berkeringat. Terlihat napas lelaki yang sedang memejamkan mata itu tersengal-sengal. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan alis yang saling bertaut. Apa dia lagi mimpi buruk? pikir Jun.
Jun menepuk-nepuk pipi Asta agar lelaki itu terbangun. Sesekali dia memanggil Asta lirih dengan nama samarannya; Andra. Namun, bukannya terbangun Asta semakin memejamkan matanya. Kedua tangan lelaki itu meremas seprai bermotif kotak-kotak dengan kuat.
"Dia kenapa?" tanya Chia setelah selesai membersihkan pecahan kaca. Dia memandang prihatin pada wajah Asta yang semakin dipenuhi peluh. "Asta! Asta! Bangun! Ini gue, Chia."
Namun, tak ada kemajuan. Asta masih belum membuka matanya. Reaksi lelaki itu justru semakin kuat. "Apa yang lagi dimimpiin Asta? Apa dia punya ketakutan tertentu atau rasa trauma di masa lalu?" tanya Chia kepada Jun ketika kedua mata mereka saling bertemu pandang.
Jun terdiam. Tidak menjawab pertanyaan Chia. Sejujurnya, sejak tadi Jun juga sedang memikirkan hal yang sama. Hanya saja dia belum mendapatkan jawaban yang pasti. Akhirnya, Jun memilih untuk tetap menepuk-nepuk lengan Asta untuk membangunkannya. Sesekali dia menggoyang tubuh Asta pelan sambil memanggil nama lelaki itu.
Melihat tindakan Jun tidak menimbulkan hasil, Chia mengambil inisiatif. Duduk di sisi kasur yang lain lalu menggenggam tangan Asta pelan. Chia mengusap kepala Asta lembut. Tindakan Chia itu sama persis dengan apa yang dilakukannya ketika dulu membangunkan Riga dari koma. Chia hanya berharap, barangkali dengan tindakannya itu dapat berhasil membangunkan Asta.
"Asta," panggil Chia lembut tepat di telinga lelaki itu. "Asta ini gue, Chia. Buka mata lo. Jangan takut. Ada gue sama Jun di sini. Kita bakal nemenin lo. Bangun, Ta. Asta!"
"Asta! Asta! ASTA!" Chia masih memanggil-manggil dengan nada yang semakin meninggi.
Tiba-tiba, genggaman tangan Chia dihentakan dengan keras begitu saja. Lelaki bernama Asta itu mendadak membuka matanya dan langsung terduduk di atas kasur. Chia lihat, kedua mata Asta berkaca-kaca. Keringat dari kepalanya, sudah mulai membasahi kerah baju milik Asta.
"Lo baik-baik aja?" tanya Chia dengan raut wajah khawatir. Sementara Jun di seberang tempat tidur, memegang dahi Asta yang terasa begitu panas.
"Chia, ambilin minum buat Andra. Sekalian tolong lo hubungin dokter buat datang ke sini dan periksa kondisi dia," perintah Jun yang langsung dijawab 'iya' oleh Chia.
Chia bergegas ke dapur. Mengambilkan segelas air putih setelah menghubungi salah satu dokter kenalan Jun. Chia membawa gelas di tangannya ke kamar tamu. Lalu meminumkan air itu kepada Asta. Setelah beberapa teguk, napas Asta yang tadi masih tersengal-sengal, kini mulai membaik. Lelaki itu berbaring kembali atas saran Jun.
"Sial!" umpat Asta sambil bergumam. "Kenapa kondisi gue harus begini."
Dari posisi terlentang, Asta melirik ke arah Jun yang telah berdiri dan hendak meninggalkan kamar. Buru-buru Asta memanggil pengacara itu hingga membuatnya menoleh kembali.
"Jun, gue harus bicara sama lo sekarang juga. Penting," ujar Asta dengan suara parau.
Chia yang sedang memeras handuk kecil dan menaruhnya di atas dahi Asta begitu kering, hanya terdiam sambil memandangi kedua lelaki yang berada satu ruangan dengannya itu.
Jun menatap Asta lurus-lurus setelah menghela napas. "Kita bicara nanti. Setelah kondisi lo udah membaik. Kurang lebih gue udah tau apa yang bakal lo omongin."
Setelah berkata begitu, Jun berbalik badan dan berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi ke belakang, meski Asta terus memanggil namanya.
"Gue baik-baik aja," lirih Asta pasrah begitu melihat pintu yang sudah ditutup oleh Jun. "Kita kehabisan waktu. Kita harus bertindak."
"Asta, lo lagi gak baik-baik aja. Demam lo tinggi. Lo harus istirahat. Jun bukan orang yang ga nepatin janji. Dia pasti bakal ngomong sama lo setelah sembuh. Ya?" Chia mencoba meyakinkan.
Namun Asta menggeleng lemah. "Waktu kita udah mepet, dan gue gak yakin Jun bakal nurutin permintaan gue."
"Gue jamin, Jun bakal dengerin permintaan lo kali ini. Gue bakal bantu lo ngomong sama Jun. Asal, lo bener-bener istirahat total sampai sembuh. Gak ada pilihan lain selain lo nurutin apa maunya Jun." Chia bangkit berdiri. Dia hendak meninggalkan Asta sendirian. "Gue bakal balik setelah dokter datang."
Setelah itu, Chia benar-benar meninggalkan Asta sendirian di dalam kamar.
"Sial!" umpat Asta. Bayang-bayang wajah Lala yang menangis. Juga wajah para anak didiknya yang sendu membuat Asta kesal sendiri.
∆ ∆ ∆
Mata Chia sedang memindai barang-barang yang ditata rapi, berderet berjajar di dalam sebuah rak. Tersusun sedemikian rupa dari yang terbesar hingga terkecil sesuai dengan kategori masing-masing. Pagi itu Chia sedang menjelajahi rak yang berisi deretan bumbu dapur.
Chia menyusuri satu persatu nama yang tertera. Takut kalau-kalau ada yang terlewat. Sebab ada satu bahan yang sejak tadi dicarinya, dan Chia belum menemukan bahan itu. Oregano bubuk. Chia mencari bumbu itu untuk tambahan di dalam sup ayam jahenya.
"Ah, tinggal satu lagi," seru Chia ketika menemukan botol yang dimaksud perempuan itu.
__ADS_1
Buru-buru Chia mengulurkan tangan. Menggapai untuk meraih botol kecil yang diletakkan di rak bagian atas. Chia nyaris meraih botol itu, tapi botol itu lebih dulu diambil orang yang berdiri di belakang Chia. Chia menghela napasnya. Sebal.
"Lo butuh ini? Kenapa lo gak minta tolong gue?" tanya seseorang yang Chia amat kenal suaranya.
Chia menoleh ke belakang, dan mendapati Riga sedang berdiri tepat di dekatnya. Botol oregano masih tergenggam erat di tangan lelaki itu. Chia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lo ... lagi apa di sini?"
Riga tersenyum. Sebenarnya tadi Riga berencana untuk mengajak Chia pergi keluar. Kebetulan dia melihat perempuan itu baru saja keluar gedung apartemennya. Masih duduk di dalam mobil, mata Riga mengekor arah Chia berjalan. Perempuan itu rupanya memasuki supermarket yang ada di lantai paling bawah gedung apartemen itu.
Riga buru-buru memarkirkan mobilnya. Dia segera keluar dan berlari menyusul ke tempat Chia menghilang tadi. Sebenarnya Riga telah kehilangan jejak Chia. Lelaki itu memutari supermarket dan akhirnya berhasil menemukan Chia di antara deretan rak yang berisi bumbu.
"Cari lo," jawab Riga datar dengan jujur.
Chia terpaku. Dia mengamati Riga cukup lama dalam diam. Mendadak Chia teringat kembali perkataan lelaki itu beberapa hari lalu. Saat berteduh di bawah hujan. Kepala Chia menjadi tertunduk. Entah apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi lelaki bernama Utaraka Meteoriga ini.
"Mau apa lo cari gue?" tanya Chia akhirnya.
"Apa lo harus tanya setiap kali gue nyari lo?"
Chia mendelik lalu beralih menatap oregano yang masih di tangan Riga. "Kalau lo mau ngajak gue pergi, gue gak bisa. Gue ada urusan penting. Tolong oreganonya. Gue butuh itu."
Hati Riga mencelos. Meski dia tahu sejak awal bahwa dirinya akan ditolak. Masih menatap Chia datar, Riga pun berkata lagi, "Gue bakal kasih oreganonya, kalau lo mau pergi sama gue."
"Gue gak bisa. Hari ini gue beneran gak bisa." Sampai kapan pun Chia akan menolak. Di dalam apartemen Jun masih ada Asta yang terbaring sakit. Chia tidak mungkin membiarkan lelaki itu sendirian di dalam kamar. "Tolong oregano itu kalau lo emang gak butuh."
"Janji dulu lo bakal pergi sama gue besok."
Chia menelan salivanya. Tiba-tiba seseorang memanggil nama Riga sebelum Chia sempat menjawab. Setidaknya Chia dapat bernapas lega detik itu.
"Riga 'kan?" sapa seorang perempuan dengan senyum sumringah.
Ya, dia adalah Freya yang artis itu. Perempuan yang beberapa kali menjadi lawan main kakaknya Riga. Sekaligus artis yang terlibat skandal dengan Sun juga, yang membuat kakak Riga kabur-kaburan dan baru kembali ke rumah dua hari lalu.
"Lo lagi apa di sini? Apa lo tinggal di apartemen ini juga?" tanya Freya lagi dengan bersemangat. Matanya sejak tadi hanya melihat ke arah Riga. Pura-pura tak menyadari keberadaan Chia.
"Bukan urusan lo," jawab Riga dingin.
Freya gondok setengah mati. Namun dia tetap tersenyum. "Kebetulan banget lo ada di sini. Gue lagi mau masak-masak buat ngerayain sepupu gue yang baru beli apartemen baru. Makanya gue lagi nemenin dia belanja di sini," jelas Freya tanpa diminta. "Lo ... mau ikut gak makan-makan sama gue? Apartemennya, di gedung sebelah. Paling atas. Ikut yuk! Biar makin seru."
Dengan cepat kepala Riga menggeleng. "Gue gak bisa. Gue juga lagi nemenin dia belanja." Riga menjawab Freya datar.
Sementara Chia memutar kedua bola matanya diam-diam. Menemani apanya? Chia mendengus. Sejak dulu Riga selalu begitu. Menjadikan Chia sebagai alasan untuk menolak perempuan-perempuan yang mendekatinya.
Freya menoleh ke arah Chia dengan berat hati. Dia agak tercengang saat sadar perempuan di sebelah Riga itu adalah orang yang cukup dia kenal. Senyum miring terbit di wajahnya. "Lo yakin lagi nemenin dia?"
"Iya, kenapa? Bukan urusan lo 'kan?" tanya Riga balik.
Di belakang Riga, Chia memalingkan wajah dan sukses membuat senyum Freya makin mengembang.
"Apa lo belum bilang sama Riga, Chia?" tanya Freya pada perempuan yang berdiri di belakang Riga. Kemudian pandangannya beralih kembali. "Riga, mendingan lo pikir-pikir lagi deh kalau lo mau deketin dia. Lebih bagus kalau lo jauh-jauh dari cewek ini. Gue gak mau lo sakit hati. Dia itu ... cewek yang cuma bisa matahin hati orang."
Kepala Chia semakin tertunduk. Dia tak ingin berkata apa pun untuk menyanggah perkataan Freya. Nyatanya, Chia memang telah mematahkan hati orang. Sejak dulu.
"Thanks buat info dan sarannya. Tapi hidup gue ... gue yang tentuin. Bukan lo!" seru Riga sambil mengulurkan tangannya. Kemudian menggenggam tangan Chia erat hingga perempuan itu terlonjak kaget. "Ayo, Chia!"
Chia hanya bisa pasrah mengekori langkah Riga. Tatapannya tidak berani beradu dengan mata Freya yang menatapnya tajam sejak tadi. Freya hanya bisa menggelengkan kepala dengan kedua tangan terlipat di depan dada melihat kepergian dua orang itu. Tidak terima.
"Apa bagusnya sih cewek itu? Semua orang aja suka sama dia!" kesal Freya lalu berbalik badan. Menyusul sepupunya yang tadi mengantri pembayaran di kasir.
__ADS_1
∆ ∆ ∆
"Lo kenal Freya dari mana?" tanya Riga begitu dia telah berada di luar supermarket bersama Chia.
Bohong kalau Riga tidak menjadi kepikiran soal perkataan Freya barusan. Kalau boleh jujur, Riga memang tidak tahu apa-apa tentang Chia selama 8 tahun tidak bertemu. Bukan tidak tahu, tepatnya Riga tidak ingin tahu apa-apa.
Riga sengaja tidak berasumsi. Menutup mata dan telinganya agar tidak mengetahui apa pun tentang gadis yang masih dicintainya itu. Riga tidak ingin mendengar kabar apa pun yang akan membuat hatinya berdenyut sakit. Bahkan Riga tak rela kalau dia sampai harus menjauh lagi dari Chia. Ya, katakan saja Riga bodoh. Nyatanya dia lebih memilih menjadi bodoh daripada tahu segalanya.
"Gue pernah beberapa kali ngobrol," jawab Chia datar. Haruskah Chia mengakui saat ini juga agar Riga berhenti mendekatinya?
Namun, hati kecil Chia tidak bisa menerima begitu saja kalau seandainya dia harus berpisah lagi dengan Riga. Meski pada kenyataannya, cepat atau lambat, Riga akan tahu segalanya. Jahat jika Chia terus diam tanpa memberitahu tentang dirinya pada Riga. Sekarang atau nanti, Riga akan tetap merasakan sakit hati.
"Jadi lo di sini? Lama banget sih!" seru seseorang di depan pintu apartemen dan membuat kedua orang yang tengah berbincang itu menoleh ke arahnya.
Mata Chia terbelalak ketika mendapati tubuh lunglai milik Asta sedang bersandar ke tembok. Lelaki itu, dengan sempoyongan menghampiri Chia yang masih terdiam di tempat.
"Kenapa lo di sini? Lo harus istirahat," seru Chia begitu Asta telah berdiri di hadapannya.
Asta menatap Riga. Lelaki itu tersenyum pada Riga yang hanya membalas dengan melemparkan tatapan sedingin es. "Sorry, jangan salah paham dulu. Gue butuh dia karena gue lapar. Dia bilang, dia mau masakin gue sup ayam."
Asta menoleh pada botol oregano yang masih digenggam Riga. Tangan Asta terulur, kemudian merebut paksa botol kecil itu. "Ini 'kan yang bikin lo menunda masak?" tanya Asta pada Chia. Tanpa menunggu jawaban perempuan itu, Asta memasukkan botol oregano ke dalam saku piyamanya. Kemudian merangkulkan tangan di bahu Chia. "Ayo pulang. Gue udah gak sanggup nahan lapar."
Chia dan Riga sama-sama terpaku. Bedanya, Asta telah memaksa Chia berjalan mengikutinya. Sementara Riga terpaksa membiarkan Chia pergi dan hanya pasrah diam di tempat sambil memandangi punggung ke dua orang yang kian menjauh.
"Kenapa lo turun?" tanya Chia begitu keduanya telah berada di depan pintu lift.
"Menyelamatkan adik dari kesulitan dan kebingungan adalah tugas dari seorang kakak. Iya 'kan?" jawab Asta ringan.
Napas Asta yang tersengal-sengal masih terdengar jelas oleh Chia. Bahkan suhu badannya belum turun. Chia merasakan ketika kulit mereka tak sengaja bersentuhan. "Harusnya lo gak perlu turun ke bawah."
"Gue bosen jadi penonton di balik jendela. Lihatin dua orang yang kelihatan serius. Gak tau ngomongin apa. Tapi lihat gerak-gerik lo, gue pikir lo lagi menghindar dari sesuatu."
Chia menoleh. Tak menyangka Asta akan berpikir hingga sejauh itu.
"Lihat respon lo sekarang, gue yakin gue bener," ujar Asta dengan tersenyum miring begitu pintu lift terbuka.
Chia masuk ke dalam lift begitu Asta telah berada di sana lebih dulu. Kepala Chia tertunduk. "Lo bener. Gue belum siap untuk mengatakan dan menjelaskan apa pun sama dia. Dan ngomong-ngomong, makasih buat pertolongannya."
∆ ∆ ∆
aku mau komen apa yah? hmm . episode ini emang full chia.. semoga kalian suka yah . ❤️❤️❤️❤️❤️
gak nyangka, besok udah episode 40 aja.. beneran gak nyangka dan seneng. di luar ekspektasi, aku beneran bisa nulis cerita ini sampai sejauh ini. cerita yg bener-bener spontanitas tanpa pake kerangka dulu. 🤧🤧
cuma ada premis doang di kepala. Tapi aku gak nyangka ternyata aku berhasil mewujudkannya dalam bentuk tulisan. padahal, penulis juga aslinya emang lagi gamang seperti tokoh-tokohnya.
#kenapa aku selalu curcol tiap bikin note begini 🤣🤣🤣🤣
terimakasih untuk temen temen yang masih setia membaca dan tetep mengikuti cerita ini. tanpa kalian yang support terus dan ngasih semangat, aku mungkin udah nyerah dari kemaren kemaren.
makasih banyak yaah ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
kalau viewersnya udah nyampe 100k (viewers yah.. bukan popularitas 🤭🤭) aku mau ngadain give away kecil-kecilan ah. Tapi, gak tau kapan itu bisa terjadi dan aku dapet kesempatan itu. Semoga aja terwujudkan.. aamiin.. #ngarepdotcom
kan kali aja yah dari mimpi bisa jadi kenyataan 🤭🤭
doain yah manteman. sampai ketemu di bab selanjutnya ❤️❤️
__ADS_1