
“Sorry gue gak bisa nemenin lo makan di sini," sesal Mara sambil memberikan satu buah kotak bekalnya pada Riga yang sedang duduk di beranda lantai tiga.
Laki-laki itu tak berkata apapun sambil meraih kotak yang diulurkan Mara.
"Yang satu punya gue. Satunya lagi punya Chika. Gue mau makan bareng dia. Sekarang kan gue udah punya temen cewek. Jadi gue gak akan sering-sering ganggu lo. Tapi tenang aja gue pasti anterin bekel makan siang buat lo." Mara buru-buru menjelaskan saat melihat Riga mengamati tas jinjingnya. Ia tersenyum getir.
Laki-laki itu tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepala.
"Ya udah gue duluan yah. Takut Chika nunggu kelamaan." Mara buru-buru melangkah tanpa menunggu jawaban dari laki-laki di hadapannya. Sorry Riga gue bohong sama lo! Gue gak mau Asta tau tentang kita! Ini demi keamanan lo!
Langkah Mara terhenti di undakan anak tangga terakhir. Ia lalu mengeluarkan ponselnya lalu menekan beberapa nomor. "Lo dimana, Asta? Ketemuan sama gue sekarang. Gue tunggu lo di taman deket kantin lantai satu. Gak pake lama. Bye!" Mara langsung berkata panjang lebar saat laki-laki di seberang sana baru saja mengangkat panggilan darinya.
Buru-buru ia menutup teleponnya lagi tanpa menunggu jawaban dari Asta. Dengan sigap Mara menjejalkan kembali ponselnya ke dalam saku baju sambil berjalan.
Matanya berpapasan dengan bola mata milik Chia, yang sedang berjalan dari arah berlawanan di koridor menuju taman kantin lantai satu. Perasaan gue doang atau Chia emang beneran lagi lihat ke arah gue?
Mara melirik sebentar saat Chia berjalan melewatinya. Saat yang bersamaan, rupanya Chia juga melirik ke arah Mara. Gue kok merinding sendiri ditatap sama cewek itu.
"Segitunya lo pengen punya temen?"
Mara menghentikan langkahnya sambil mengerutkan dahi. Tuh cewek ngomong sama gue? Mara berbalik badan dan saat itu juga ia melihat Chia sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan dingin yang penuh arti.
"Segitunya lo gak pengen sendirian?"
Mara tak menjawab. Sumpah gue gak suka sama tatapan cewek itu. Dan apa tadi dia bilang? Segitunya gue pengen punya temen? Segitunya gue gak mau sendirian? Ini pertama kalinya gue papasan sama dia, dan saat ini juga gue berikrar kalo gue gak suka sama dia!
"Apa lo gak bisa memilih-milih orang yang bisa lo percaya buat jadi temen lo?"
"Maksud lo?" Mara mendengus kesal. Nih cewek ngomong apaan sih!
"Jauhin Chika!" Gadis itu menjawab dengan enteng dan masih melemparkan tatapan dingin yang dibenci Mara.
Jauhin Chika? Mara terperangah. Uh ia makin sebal dengan gadis yang berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Tau apa lo tentang 'kesendirian'? Orang yang gak pernah sendirian kayak lo, gak akan tau gimana rasanya sendirian itu. Orang kayak lo yang selalu ditemenin sama orang-orang kesayangan lo, gak akan tau rasanya jadi gue." Mara mulai emosi.
"Siapa yang jadi temen gue, itu urusan gue. Gue temenan sama Chika atau engga, itu bukan urusan lo!" Mara menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah Chia.
Mara makin kesal saat melihat Chia tersenyum tipis ke arahnya.
"Sendirian?" Chia mengangguk-anggukan kepalanya sebentar. Lalu ia kembali menatap serius kepada Mara. "Terserah lo. Gue udah kasih tau lo dari awal."
Mara mengepalkan tangannya saat melihat Chia berbalik badan dan berjalan menjauhinya. Uh! Mara sungguh kesal dibuatnya. Ia tak suja gadis berwajah datar itu.
"Pantes aja Riga sikapnya gitu sama lo! Lo aja rese kayak gitu! Cocok tuh sama Asta! Gue jodohin juga nih mereka berdua!" Mara mendengus.
● ● ●
"Lama!"
Asta melirik seorang gadis yang baru saja tiba di taman dekat kantin lantai satu. Gadis yang berdiri di hadapannya itu tersenyum ke arahnya.
Tanpa menunggu persetujuan darinya, gadis itu langsung duduk di sebelahnya, yang sudah menunggu hampir sepuluh menit di taman dekat kantin lantai satu.
Asta menoleh dan menatap kotak makan yang disodorkan Mara. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengambil kotak makan itu.
Asta tak berkata apa-apa sambil membuka kotak makan di tangannya.
Ah, Asta tak tahu harus berekspresi seperti apa saat melihat nasi goreng yang ditata rapi dan membentuk sebuah wajah. Jika saja ia tak semarah sekarang, mungkin ia akan terkesan.
"Ini muka lo?" tanya Asta datar. Ah ia hanya basa-basi.
"Enak aja! Itu muka lo! Mirip kan?" sahut gadis itu sambil tersenyum. Asta melihat gadis itu ikut membuka kotak makan siangnya.
"Gue gak se-abstrak ini kali!" Asta menutup kembali kotak makan yang diberikan Mara. Lalu menaruhnya di atas kursi, tepat di sebelahnya.
"Kenapa ditutup lagi? Sorry deh kalo jelek. Gue kan bukan anak seni." Gadis itu mendengus.
__ADS_1
Asta mengabaikan pembelaan gadis itu. "Ngapain lo ngasih makanan ini ke gue?"
"Emang gak boleh?" tanya gadis itu cepat.
"Gue cuma pengen kita baikan. Kan udah lama tuh kita diem-dieman. Kan gak enak juga."
Asta terdiam. Ia mengamati wajah gadis di sampingnya.
"Lagian lo kenapa sih tiba-tiba diem gak jelas gitu? Lo marah sama gue? Gue bikin salah sama lo? Lo kenapa sih? Gue lebih suka lo yang banyak tingkah, daripada lo yang diem gak jelas kayak mumi gitu. Eh!"
Asta tersenyum tipis saat melihat gadis itu menutup mulutnya sebentar. "Oke! Berarti gue udah dikasih lampu hijau buat ganggu lo. Gue catet di otak gue!" Asta menahan tawanya saat melihat gadis itu terperangah.
"Siapa yang bilang lo boleh ganggu gue? Bego lo! Kebanyakan ngebuli orang sih! Jadi lemot!" Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Maksud gue tuh, kalo lo punya masalah jangan diem aja. Harusnya lo tuh ngomong sama gue. Bisa aja kan gue gak tau kalo lo lagi marah sama gue. Emang gue paranormal? Gitu!"
Asta hanya manggut-manggut mendengar penjelasan gadis itu sambil tersenyum jahil, dan ia sangat senang melihat gadis di sampingnya itu cemberut.
"Ah, udahlah males gue ngomong panjang lebar sama lo! Dijawabnya juga cuma pake senyuman khas psikopat. Serem gue lihatnya tau! Mendingan gue makan aja deh!"
Asta tertawa pelan saat melihat gadis itu menyendok nasi gorengnya dengan cepat.
"Mmmh enak banget lo! Lo gak mau coba? Ini gue buat dengan sepenuh hati loh! Gue bela-belain bangun pagi-pagi tau!"
Gadis itu membuat wajahnya sedemikian rupa, untuk mengekspresikan bahwa ia sedang memakan masakan yang sangat lezat. Masakan Sekelas hotel berbintang lima.
"Gak deh! Gue takut diracun sama lo!" jawab Asta dengan datar.
"Ngapain gue ngeracunin lo?" sahut Mara dengan sewot. "Eh! Gue masih pengen menikmati masa muda. Ogah banget gue hidup di penjara seumur hidup. Udah gitu gara-gara lo lagi. No way!"
Asta tertawa lagi.
"Ketawa lagi!" Gadis itu mengerucutkan bibirnya. "Cepetan cobain! Enak tau!"
__ADS_1
"Gue bakal makan, seandainya lo emang cuma bikinin bekel makanan itu buat gue doang," jawab Asta dengan santai.
Asta tersenyum melihat wajah gadis itu menegang. Gadis itu menoleh ke arahnya dan menatapnya serius. Asta menunjuk kotak makan pemberian Mara dengan jari telunjuknya.