Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Satu


__ADS_3

Kamu masih percaya dengan pepatah yang mengatakan 'kalau jodoh pasti bertemu'?


Sayangnya, Utaraka Meteroriga tidak percaya dengan pepatah menyebalkan itu. Bagaimana Riga dapat percaya? Bahkan sudah hampir 8 tahun dia masih belum dipertemukan dengan Cometta Fuschiara. Memangnya, Riga harus menunggu berapa lama lagi agar dirinya bisa bersama dengan gadis itu?


Ya, 8 tahun yang sangat panjang. Sangat amat panjang. Selama itu dia terus berada di dalam pelukan kesepian. Dan dalam naungan kesepian, dia terus-menerus merindukan Chia seorang diri. Menanti jika suatu hari nanti, dia dapat bertemu dengan gadis pujaannya. Atau barangkali, dalam suatu hal kejadian yang tidak terduga, dia dapat melihat senyuman manis gadis berwajah datar itu. Atau yang paling ekstrim, Chia menyusulnya ke London.


Ah! Lupakan. Chia bukan orang yang seperti itu. Membayangkan Chia menyusulnya saja adalah mimpi yang terlalu ketinggian. Kehaluan tingkat dewa. Jadi, lupakan soal pepatah kuno itu.


Lupakan juga soal saling tunggu menunggu dalam nasib yang penuh ketidak-jelasan ini. Memangnya kehidupan yang dijalaninya adalah kisah di dalam novel? Cih! Kalau begitu lupakan saja. Kisahnya bukan kisah drama yang sudah ditentukan dengan pasti bagaimana alurnya. Alur kisah hidup Riga penuh dengan ketidakpastian. Riga bahkan menghapus kata tunggu di dalam kamus hidupnya saking terlalu lelah dia dibuat menunggu.


Riga sudah lelah berada dalam kolam yang serba abu-abu. Lelah merindu sendiri. Lelah membayangkan wajah yang hanya muncul di angan-angan saja. Dia ingin melihat Chia dalam wujud yang nyata. Maka, biarkan Riga memutus tali 'penantian' ini. Riga ingin mengejar cinta yang sempat tertunda. Riga ingin segera merajut asa yang selama ini hanya menjadi impian semunya saja.


Maka, di sinilah Riga berada. Dia sedang berada di bandara. Dia telah kembali ke Indonesia. Dengan misi baru di pundaknya. Mencari Chia kembali dan menjadikan gadis itu miliknya seumur hidup. Riga sudah berjanji pada diri sendiri, dia tidak akan pernah melepaskan Cometta Fuschiara lagi. Tidak. Tidak akan pernah.


∆ ∆ ∆


Gemerlap cahaya lampu di ibukota, rupanya semakin menambah kemeriahan suasana di malam itu. Dengan langit yang cerah penuh bintang dan sinar bulan yang dapat membuat tenang.


Ah, tapi sayang sekali.


Di antara puluhan bahkan ratusan orang yang sedang menikmati keindahan cahaya bulan, seorang gadis justru terhisap ke dalam gelapnya suasana hati yang makin meredup malam itu. Dia sedang tak ingin bergabung untuk menikmati kebahagiaan di bawah naungan kerlipan bintang.


Dia memang sengaja menyendiri. Menyepi. Mengasingkan diri dari ingar-bingar di luar sana. Meski pada akhirnya percuma saja. Toh tempat yang didatanginya justru tempat paling ramai di dekat pusat kota. Alunan musik kencang terus menggema di dalam ruangan. Telinga perempuan itu bahkan hampir pecah ketika mendengar lagu-lagu yang tampak sangat asing itu diputar.


"Jadi, gimana kabar pacar lo itu?" tanya Sera pada Naigisa Amaranth yang terlihat mulai setengah sadar.


Mara, perempuan berumur 26 tahun itu baru saja menghabiskan segelas Martell. Entah kenapa, hari ini Mara sengaja mengajak Sera untuk mengunjungi sebuah bar yang tidak jauh dari pusat kota. Namun, yang Sera tahu, jika saat ini Mara sedang dirundung banyak pikiran. Terlihat dari wajahnya yang kusut saat mengajak Sera ke tempat itu.

__ADS_1


"Siapa pacar gue yang lo maksud?" tanya Mara balik dengan mata yang mulai berkunang-kunang.


"Gamma. Siapa lagi coba?"


"Huh! Lupain aja lah soal cowok brengsek tukang selingkuh itu." Mara menarik salah satu sudut bibirnya. "Dia pikir, dia siapa? Mau mempermainkan gue? Hah?"


Mara terdiam seperti sedang merenunng. Bahunya mulai bergetar. Dia tertawa perlahan, lalu semakin keras hingga membuat beberapa orang di dalam bar melirik ke arahnya. Sekeras itu memang tawanya. Bahkan suara musik yang sedang dimainkan oleh seorang DJ saja nyaris kalah dengan suara tawa milik Mara.


"Ya kali gue bisa dikadalin. Hahaha. Dia pengen gue nangis bombay dan ngemis-ngemis ke dia untuk jangan selingkuh gitu? Terus gue mohon-mohon supaya kita gak putus gitu? Helow! Mimpi Gamma ketinggian. Yang ada juga, harusnya dia tuh yang sujud-sujud sama gue. Bisa dapetin seorang Mara aja udah termasuk keberuntungan besar. Begonya, dia menyia-nyiakan kesempatan yang gue kasih." Mara tertawa lagi.


Sera terdiam. Memerhatikan Mara yang masih tertawa. Tampak bahagia di luar, namun sangat terlihat jelas bahwa dirinya sedang merasa kacau dan tidak baik-baik saja di dalam. "Jadi, kalian putus? Dia beneran selingkuh?" simpul Sera dengan hati-hati. Dirinya masih tidak percaya.


Masalahnya, setahu Sera, Gamma adalah orang yang baik. Tingkah laku dalam kesehariannya saja alim. Bicaranya sopan. Sikapnya santun. Bahkan, yang Sera lihat, laki-laki itu selalu melabuhkan tatapannya pada Mara seorang. Tak pernah sedetikpun Sera membayangkan jika seorang Gamma dapat selingkuh.


"Lo tahu dari mana deh kalau Gamma selingkuh? Awas loh ucapan itu doa."


Mara melirik tajam ke arah sahabatnya sejak dari jaman kuliah itu. Dia mengulurkan kedua tangan dan memegang bahu Sera erat. "Ucapan itu doa? Ya, anggap aja apa yang gue lihat tadi itu adalah doa. Doa ... supaya Tuhan menunjukkan kalau laki-laki brengsek seperti Gamma itu, emang gak pantas buat seorang Naigisa Amaranth."


"Hmm."


"Yakin? Di mana? Gamma selingkuh sama siapa deh?" Sera makin penasaran.


Rasa penasaran dan pertanyaan Sera barusan, sukse membuat Mara tersenyum miring. "Di mana? Pertanyaan yang bagus."


"Hah?"


"Lo mau tau 'kan, gue bisa tau darimana kalau Gamma selingkuh?"

__ADS_1


Sera menganggukkan kepalanya pelan. Dia sungguh dibuat penasaran dengan perkataan Mara sejak tadi.


Melihat bagaimana Sera merespon, senyum merekah terpampang jelas dari wajah Mara. Matanya yang tadi hampir terpejam karena kepalanya terasa berat, kini terbuka lebar. Mara menatap Sera penuh arti. Sekaligus membuat Sera makin kebingungan dengan situasi dan atmosfer aneh yang tiba-tiba saja terasa berubah.


Tak ingin membuat Sera menunggu terlalu lama, Mara merogoh tas kecilnya. Dia mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tas berornamen serba pink itu. Dia membuka ponsel dan menunjukkan sesuatu pada sahabat terbaiknya. "Nih."


Mata Sera membelalak seketika. Mulutnya menganga. Pandangannya bergantian beralih dari ponsel dan Mara yang mulai berdiri dengan terhuyung.


"Mara," panggil Sera lirih.


Byur!


Belum sempat Mara menjawab pertanyaan Sera, perempuan itu sudah meraih gelas milik sahabatnya yang masih terisi setengah. Tanpa ragu-ragu, Mara menuangkan seluruh isinya di atas kepala Sera. Mara menyimpan kembali gelas itu sambil tersenyum lebar. Lalu melenggang santai keluar dari bar, meninggalkan Sera yang tak bisa berkata-kata.


∆ ∆ ∆


**gimana-gimana bab 1 untuk season duanya? menarik gak? bikin penasaran gak?


iya, iya tahu, kalian pasti bertanya kenapa pacar Mara namanya Gamma. Bukannya di season 1 Mara udah adem ayem sama Asta. Terus Asta kemana?


Eits sabar yah. Simpan dulu pertanyaan kalian di dalam hati. Pantengin terus cerita ini dan temukan sendiri jawaban atas pertanyaan kalian.


Oke sekian dulu dari aku.


sampai ketemu lagi di bab selanjutnya.


❤️❤️❤️

__ADS_1


jangan lupa dukung cerita ini biar aku semangat nulisnya.


makasih**.


__ADS_2