
Chia tak yakin harus bagaimana menunjukkan ekspresinya saat melihat Rei telah berdiri di depan pintu masuk rumahnya. Lelaki itu telah menerobos masuk ke dalam rumah tanpa menunggu persetujuan darinya.
Chia menatap tajam ke arah Rei yang kini telah berdiri di ruang tamunya. Dengan bibir yang dipaksa tersenyum ke arah Chia, lelaki itu terlihat gusar.
"Ternyata lo baik-baik aja Chia," katanya dengan ekspresi wajah tak terjelaskan.
Chia terdiam. Mengamatinya. Alisnya terangkat satu. "Kenapa? Lo berharap gue berakhir kayak Agnes?" tanyanya datar.
Rei tersenyum samar. Matanya terarah pada lutut Chia yang masih diperban. "Bukan lo. Tapi Riga," katanya sambil melebarkan senyum. Menatap kembali ke dalam bola mata Chia.
"Lo udah ngekhianatin gue. Jadi lo juga harus ngerasain gimana kehilangan seseorang yang lo sayang." Rei masih berkata dengan senyuman disorot matanya.
Chia mengepalkan tangannya diam-diam. Ah! Menyebalkan! Disaat perasaannya sedang buruk seperti saat ini, ia malah bertemu dengan lelaki yang paling tidak ingin dilihatnya.
"Berkhianat? Lo lupa siapa yang ngebuang gue? Kita bahkan gak pernah pacaran Rei!" Chia nyaris berteriak. Dia sudah muak dengan semua perkataan lelaki itu.
Rei melotot. Mata merahnya menatap galak meski Chia terlihat tidak takut sama sekali. "Ini salah lo! Salah Riga! Salah lo berdua! Seandainya Riga gak pernah hidup, Agnes gak akan pernah mati! Dan lo gak akan pernah ninggalin gue! Gue gak akan ngebiarin lo hidup tenang! Sampai lo menderita dan kehilang ...."
"BERHENTI REI!" Napas Chia tersengal. Chia memejamkan mata dan menghela napas sesaat. Tatapannya menajam. Ah! Pertahanannya hampir saja runtuh.
Mulut Chia mulai bergetar. "Lo pengen gue kehilangan apalagi? Lo udah ngehukum gue dan Riga. Apa lo belum puas?"
"Lo lupa siapa penyebab kecelakaan itu? Lo udah bikin tiga orang kehilangan sekaligus. Lo udah bikin Riga kehilangan ingatannya. Lo bikin gue kehilangan orang-orang yang gue sayang ... dan ... lo bikin Renata kehilangan adiknya. Lebih parahnya, lo manfaatin dia? Lo manfaatin Renata?" Chia berdecak. Kesal.
Matanya memandang nanar pada Rei yang sekarang sedang menundukkan kepalanya. Kaki dan tangan lelaki itu terlihat bergetar. Ah! Masa bodoh. Chia tak ingin peduli.
"Kalau seandainya lo bukan seseorang yang pernah gue sayang, mungkin gue udah benci sama lo seumur hidup. Tapi gue gak bisa apa-apa. Karena lo, Rei. Karena lo orang yang pernah gue anggap penting!"
Chia menatap orang yang sedang berlutut di hadapannya dengan mata yang berkaca-kaca. Perasaannya semakin berkecamuk. Tak tentu. Sorot matanya memancarkan kemarahan luar biasa.
Chia benci dengan Rei. Rasa benci yang selama ini ditahannya, tumpah ruah malam itu. Jika saja ia tak menahan air matanya, mungkin saat ini ia telah menangis dan menjerit sekuat tenaga. Menumpahkan seluruh kekesalan yang selama ini ditahannya.
"Lo masih inget? Waktu itu gue minta lo nunggu gue sampai kita SMA, baru kita pacaran. Tapi lo gak tahan buat nunggu gue, dan akhirnya lo pacaran sama Ag ...."
__ADS_1
"Gue bisa jelasin soal Agnes." Rei memotong perkataan Chia.
"Dia yang deketin gue duluan. Dia yang maksa gue buat jadi pacarnya. Gue gak punya niat sedikitpun buat ngekhianatin lo." Rei ngotot dengan butir-butir air di pelupuk matanya. Wajah Rei mulai basah. Namun tak membuat hati Chia terketuk sedikitpun.
Chia justru menatap dengan tajam lelaki yang masih berlutut di ruang tamunya itu. Dilihatnya lelaki itu masih menunduk. Menyesal. Mungkin.
"Seandainya saat itu lo bisa sedikit bersabar buat nunggu gue lebih lama, Rei, mungkin akhirnya kita gak akan kayak gini. Mungkin kita udah bahagia tanpa nyakitin siapapun." Chia menatap lelaki itu dengan ekspresi terluka. Tanpa sadar air matanya luruh juga ke pipi.
"Gue minta maaf, Chia. Gue minta maaf sama lo," kata Rei parau.
Chia menggeleng. "Bukan sama gue. Harusnya lo minta maaf sama Renata. Cewek gak bersalah yang udah lo manfaatin."
Rei bergeming sambil sesenggukkan.
Chia berdecak. Lelah. Sudah cukup dengan drama di dalam hidupnya. Ia mengelap air matanya dan berbalik badan. Berjalan menjauh meninggalkan lelaki itu, menaiki tangga, lalu menuju kamarnya.
"Lo tau pintu keluarnya dimana kan Rei? Pergi aja kalau gak ada lagi yang mau lo omongin!" teriak Chia sebelum membanting pintu kamarnya.
Tubuh lemasnya langsung bersandar pada pintu. Ia pun menangis sekerasnya. Masa bodoh jika Rei akan mendengar isakan tangisnya.
● ● ●
Dan hari ini adalah hari terakhir ujian. Chia selesai sepuluh menit sebelum yang lainnya. Setelah mengumpulkan soal dan kertas jawaban ujiannya, ia berjalan keluar kelas.
Langkah malasnya diseret menuju kantin. Chia tak yakin jika saat ini ia sedang lapar. Ia hanya mengikuti permintaan ketiga sahabatnya untuk menunggu mereka di kantin jika Chia selesai duluan.
Maka di sinilah Chia berada sekarang. Duduk sendirian di salah satu meja dengan mata yang masih beredar ke sekeliling. Chia sengaja menggigit sepotong roti di tangannya dengan malas. Ia mendengus saat melihat jam di ponselnya. Sepuluh menit lebih sudah berlalu. Dan kemana mereka? Keluhnya.
"Boleh gue duduk di sini?"
● ● ●
Mara tersenyum. Tanpa menunggu persetujuan gadis yang sedang memakan roti sambil terperangah menatapnya, Mara langsung membanting tubuhnya. Duduk di sebelah gadis itu.
__ADS_1
Mara mengamatinya. Chia tak berkata apapun. Mara mengulum senyum saat gadis itu memilih mengabaikannya dan malah fokus memakan roti. Yang sebenarnya Mara tahu jika Chia menutupi rasa kikuknya.
"Nih buat lo." Mara mengulurkan sebuah kotak dan gadis itu terlihat terperanjat sambil menatapnya penuh tanya.
"Gue udah denger semuanya dari Asta. Soal lo yang deket sama Asta juga, Asta udah jelasin semua ...." Mara sengaja menggantung perkataannya. Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"... Gue pengen minta maaf sama lo Chia. Soal semua perlakuan gue sama lo. Soal Riga sama gue, gue serius cuma temenan sama dia. Soal gue yang udah berprasangka buruk tentang insiden vas bunga dan sepeda waktu itu. Terutama soal gue yang gak dengerin peringatan lo soal Chika. Gue minta maaf," tulus Mara dari dalam hatinya.
Dilihatnya Chia tersenyum sambil menggeleng pelan. "Lo gak salah kok. Semuanya bukan salah siapa-siapa. Mungkin emang udah jalannya aja kita harus ngelaluin semua itu. Kalau gak ada masalah ini, mungkin lo gak akan pernah baikan sama Asta."
Chia terdiam sejenak. Tampak terperanjat. "Dan ... lo udah tau soal Chika?"
Mara mengangguk mantap sambil tersenyum.
Chia mengangguk. Gadis itu terlihat lega. "Bagus deh. Maafin yah soal sepupu gue. Maafin atas semua sikap dan ulah yang dia buat sama lo." Gadis itu menggigit rotinya lagi.
Mara mengangguk. "Soal sepupu lo, lo tenang aja. Gue bakal ngawasin dia supaya gak ganggu orang lain lagi."
Mara melihat Chia tersenyum. Jarang sekali. Mungkin ini pertama kalinya ia melihat gadis itu tersenyum. Mara ikut menarik garis di sudut bibirnya.
"Lo suka coklat gak? Gue bikinin coklat buat lo," seru Mara semangat. Tangannya dengan sigap membuka kotak yang tadi disodorkannya ke arah Chia.
Matanya berbinar saat melihat tangan Chia yang dengan otomatis mengambil sebuah coklat buatannya. Lalu memakannya.
"Enak," komentar Chia sambil tersenyum. "Makasih."
Mara hanya membalasnya dengan senyuman. Ia malah mengerutkan dahinya. Mengamati Chia yang sedang menatapnya penuh arti. "Kenapa?"
"Lo udah kasih gue hadiah. Sekarang giliran gue kasih hadiah buat lo," kata gadis itu dengan raut wajah misterius. Mara dibuat salah tingkah sendiri. Terheran dengan perubahan sikap gadis itu yang berubah.
"Lo harus tahu rahasia Semesta Udaraja. Bahkan saat dia ngomong apa pun, jangan lo percaya."
"Hah?" Membingungkan. Mara tak mengerti maksud perkataan Chia barusan. Rahasia? Orang aneh kayak Asta punya rahasia? Mara tersenyum simpul.
__ADS_1
Mara embulatkan matanya. Ia meminta penjelasan pada Chia. Mulut Mara justru menganga saat Chia mulai membisikkan sesuatu di telinganya.
● ● ●