
Nyebelin! Protes Mara saat melihat beberapa gadis berlalu melewatinya sambil 'cekikikan' dengan teman-temannya. Mara melirik jam tangannya. Sudah lima belas menit ia terdiam mematung di koridor dekat ruang loker.
Ah! Percuma aja gue tetep nunggu dia kayak orang bego! Umpat Mara dengan mata yang masih bersiaga, berharap sosok Fachri dapat tertangkap olehnya.
'Cuma orang bego yang pergi ngejauhin Naigisa Amaranth!' Cih! Mengingat kembali ucapan sahabatnya itu, membuat Mara semakin naik darah.
“Sekarang lihat siapa orang begonya? Dasar Fachri sialan!” Mara menghela napas ketika menatap pesan-pesan yang ditulisnya di ponsel, tak mendapatkan satu balasan pun dari sahabatnya itu. Bahkan panggilan teleponnya tak ditanggapi sama sekali.
Mara memasukkan ponselnya ke dalam saku baju. Ia menatap koridor yang hampir kosong sebentar, sebelum akhirnya ia berjalan menyusurinya. Sekarang lo beneran ninggalin gue sendirian! Lo bahkan nyuekin gue kayak gini?
Mara menghentikan langkahnya tepat di pintu ruang loker. Ah, Mendadak seluruh tubuhnya bergetar hebat. Matanya terbelalak. Kakinya lemas. Ia seperti kehilangan tenaga. Ia pun menarik nafas dalam-dalam.
Kenapa Riga ada di situ? Terus kenapa dia diem di seberang lemari loker gue? Mara tampak gugup. Apa yang harus gue lakuin? Ngapain sih tuh orang diem disitu? Gue harus gimana? Puter balik-engga-puter balik-engga? Aduuuuh gue binguuung!
Mara memegangi dadanya. Ia bisa merasakan degupan jantungnya mulai tak karuan. Tenang Ra, tenang. Lo harus tenang. Tarik napas dalem-dalem. Semua bakal baik-baik aja. Lo cuma harus jalan ke depan dan cuekin dia. Iya bener. Lo cuma harus cuekin dia. Pura-pura ga lihat. Pura-pura ga lihat.
Sayangnya, tubuh Mara selalu tak sejalan dengan pikirannya. Tubuh Mara tetap gemetar. Ia bahkan berkeringat dingin. Dengan napas yang tersengal-sengal ia berdiri di depan lokernya.
Apa cewek-cewek lain selalu merasa seperti gue kalo ketemu Riga yah? Apa cuma gue doang yang harus bersikap gak normal saat ada Riga di hadapan gue? Mara melirik kaki dan tangannya yang masih bergetar. Suara degupan jantungnya pun hampir jelas terdengar.
Kenapa tubuh gue harus seheboh ini sih kalo lihat Riga? Padahal gue udah ditolak mentah-mentah, tapi tetep aja responnya selalu kayak gini tiap lihat Riga. Kalo gini terus gue bisa repot sendiri. Mara masih berkata di dalam hatinya.
“Hei! Apa sebelumnya, kita pernah saling kenal?”
Kesunyian di sekitar Mara tiba-tiba saja pecah. Darahnya tiba-tiba mendidih. Jantungnya berdegup semakin cepat. Sangat cepat. Hingga rasanya jantung itu akan terlepas dari tempatnya.
Riga ... Utaraka Meteoriga. Dia ... Dia ... Ngomong sama gue? Demi apa? Aaaarrrrggghhh gue gak mimpi kan? Ini nyata kan? Mara menepuk pipinya, memastikan bahwa ia tidak sedang mengkhayal. Tenang Mara! Tenang! Aaaaarrrrgggghhh gue seneng banget. Selama satu tahun lebih gue sekolah di sini, akhirnya dia ngomong sama gue. Momen. Ini momem berharga. Tenang Mara. Tenang. Iya harus tenang.
Mara terus berkata di dalam hatinya. Ia bahkan lupa bahwa tubuhnya selalu merespon berlawanan dari pikirannya. Entah kenapa, tubuhnya merespons sehebat itu hanya pada Riga. Ya, selalu begitu ketika Riga berada di sekitarnya. Hanya pada Riga.
Mara memegangi dadanya. Detak jantungnya semakin tidak karuan. Wajahnya memerah. Perasaan itu, perasaannya pada Riga belum berubah meski Riga pernah membuatnya patah hati. Penolakan Riga memang membuatnya jatuh sangat dalam. Namun satu hal yang tidak bisa ia pungkiri. Ia masih menyukai Utaraka Meteoriga.
“Apa kita pernah ketemu sebelumnya?” Laki-laki itu bertanya lagi.
Mara masih terdiam mematung. Ia masih sangat terkejut dengan sikap Riga yang tiba-tiba mengajaknya bicara itu. Ia mengerutkan dahinya ketika suara sepatu terdengar semakin mendekatinya. Jangan-jangan?
Mara melirik ke sebelah kirinya. Ah benar saja, laki-laki bernama Riga itu sekarang telah berdiri tepat di sebelahnya. Riga bersandar pada pintu loker sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dengan mata yang menatap entah ke mana.
__ADS_1
“Kenapa gue ngerasa bahwa lo bukan orang asing? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?”
Mara menunduk, ia bisa melihat kedua kakinya bergetar dan semakin lemas. Rasanya ia sudah tak sanggup berdiri lagi. Apa yang harus gue lakuin? Apa yang harus gue jawab?
Mara masih berpikir. Ia terus berputar-putar di pikirannya. Ia sibuk memikirkan jawaban apa yang harus dikatakannya. Ia bahkan lupa bahwa Riga masih berdiri di sampingnya. Riga masih menunggu jawabannya.
Mara menghela napas panjang. Ia menutup pintu lokernya. Ia menoleh dan menatap Riga. Ia masih berusaha bersikap tenang.
“K-kenal??” Mara mulai bicara meski harus terbata-bata. Sebuah senyum kecil menghiasi wajahnya yang penuh dengan kebingungan.
“Gue ga kenal sama lo,” lanjutnya.
Mara melirik laki-laki itu. Ah kepala laki-laki itu tertunduk. Tampaknya ia terlihat kecewa dengan jawaban dari Mara.
Mara meringis. Ia menelan ludahnya. Sedikit demi sedikit ia berjalan mundur untuk menciptakan jarak dengan Riga. Ia harus sadar dengan posisinya. Riga adalah milik Chia. Dan ia sendiri masih dibayang-bayangi Asta. Ia tidak boleh terlihat dekat dengan Riga. Ia tidak ingin Riga mendapat masalah seperti yang terjadi pada teman-temannya. Mara menatap Riga getir.
“Tapi mungkin gue tau siapa lo,” ucap Mara lagi.
Ia menatap Riga lekat-lekat. Laki-laki itu sepertinya tertarik dengan pernyataannya barusan. Ia terlihat menunggu perkataan Mara selanjutnya.
“Tapi gue rasa, lo gak tau siapa gue.”
Mara tersenyum. “Kita kan belom pernah bertatap muka secara langsung. Jadi gue rasa kita emang gak saling kenal.”
“Udah yah! Gue harus buru-buru pulang nih, dah!” ucap Mara sambil berlari meninggalkan Riga sendirian di sana. Ah, Mara benar-benar merasa bodoh dengan tindakannya itu.
● ● ●
Chia melihat Mara tiba-tiba berlari meninggalkan Riga yang mematung sambil bersandar pada lemari loker. Chia tampak terpaku sambil menatap kepergiannya. Ia lalu menyembunyikan kepalanya lagi, yang tadi sempat mengintip sebentar.
Ah! Chia menghela napas. Ia tak tahu mengapa ia harus bersembunyi seperti itu. Beberapa saat lalu, saat ia baru saja tiba di ruang loker, ia melihat Riga dan Mara tampak sedang berbicara di sana. Chia yang terkejut, dengan refleks langsung bersembunyi agar tak diketahui. Dasar bodoh!
Chia menegakkan badannya, lalu berjalan keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berjalan dengan cepat melewati laki-laki yang masih mematung di lokernya. Masa bodoh! Chia bersikap acuh tak acuh.
● ● ●
Raja iblis itu kenapa di sini sih?
__ADS_1
Mara tampak memelototi seorang laki-laki yang sedang bersandar pada bagian depan mobilnya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Laki-laki itu menutup matanya.
Pose yang keren! Komentar Mara sambil memutar kedua bola matanya, malas. Memang benar, jika saja penggemar laki-laki itu melihatnya, mungkin mereka akan berteriak histeris sambil mengabadikannya dalam bentuk foto.
Jika saja ia tak mengingat apa yang dilakukan laki-laki itu kemarin padanya dan sahabatnya, mungkin Mara akan bersikap biasa saja; berjalan menghampirinya, mengobrol sebentar, lalu duduk di samping kursi pengemudi.
Namun tidak dengan saat ini. Pikiran Mara dipenuhi kebencian pada laki-laki yang masih menunggunya itu. Tanpa berpikir panjang ia berjalan melewatinya dan pergi begitu saja.
Ia tidak peduli jika laki-laki itu akan menunggunya di sana. Ia benci laki-laki itu. Ia benci laki-laki bernama Semesta Udaraja. Ia benci laki-laki yang terus mengganggu kehidupan normalnya.
Terserah! Selama apapun lo nungguin gue, gue gak peduli. Mau lo sampe gosong juga gue ga peduli. Gue benci lo! Umpat Mara sambil mempercepat langkahnya.
Gue gak peduli! Gue gak peduli! Gue gak peduli! Gue gak akan balik lagi buat nyamperin dia! Siapa juga yang mau pulang bareng sama cowok kayak gitu! Pokoknya gue gak peduli! Titik!
Mara menghentikan langkahnya. Ia berdiri di depan sebuah toko buku yang tidak terlalu jauh dari sekolahnya. Kira-kira butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di sana dengan berjalan kaki.
Mara mengamati toko buku itu. Toko itu cukup ramai. Kebanyakan pengunjungnya adalah murid dari sekolahnya. Mungkin karena hari ini seluruh siswa di sekolahnya pulang dengan cepat.
Ah! Jadi keinget dulu, waktu gue masih punya banyak temen dan sering kesitu buat beli novel. Mara menghela napas. Dengan cepat ia menghapus khayalannya.
Mara hanya berdiri mematung sambil menatap sedih toko itu. Bahkan untuk sekedar masuk ke dalam pun ia tidak berani. Ia takut. Ia tidak siap melihat respon orang-orang di dalam sana. Pasti bakal langsung bubar kalo lihat gue!
Tiba-tiba Mara tersentak. Ia teringat lagi akan lelaki yang masih menunggunya di parkiran sekolah. Ia tahu Asta sangat keras kepala. Bahkan melebihinya.
Mara berbalik badan dan menatap jalan yang tadi dilaluinya. Ia menatap lurus ke depan. Ia termenung cukup lama. Ah ia kesal! Ia pun mendecakkan lidah sambil berjalan kembali. "Bego! Kenapa gue harus ngelakuin ini sih?"
Mara berjalan cepat menyusuri jalan yang tadi dilewatinya. Ia berbalik arah dan berjalan menuju sekolahnya lagi. Dua puluh menit Mara telah sampai di depan gedung tiga lantai itu. Ia sudah melewati gerbang tinggi berwarna putih.
Sambil terengah-engah, Mara berjalan menuju arah laki-laki yang masih berdiri mematung di dekat mobilnya itu. "Tuh kan! Masih nungguin gue!" Mara mendengus sambil berdiri tepat di hadapannya. Dengan napas tersengal ia memelototi Asta.
“Emangnya lo pikir lo itu siapa?” bentak Mara. Ia kesal. Sangat kesal. Lagi-lagi ia harus luluh pada orang yang dibencinya. Orang yang begitu keras kepala dan selalu bersikap sesukanya.
Mara berjalan dan masuk ke dalam mobil. Ia membanting pintu mobil mewah Asta dengan keras. Ah bodo amat deh kalo pintunya lecet! Kalo bisa, rusak aja sekalian! Biar gue gak dipaksa naik mobil beginian!
Mara memelototi Asta yang telah berjalan ke arahnya. Laki-laki itu langsung duduk di sebelahnya, tepat di belakang kemudi. Uh Mara sebal! Meski Mara telah memelototinya, hingga rasanya bola matanya akan lepas, Asta tetap tak melihat, atau berkata satu kata pun padanya.
● ● ●
__ADS_1