Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Dua Belas


__ADS_3

Sudah 15 menit, Fachri berdiri di depan pintu gerbang sebuah rumah di salah satu kawasan perumahan paling elit di Bandung. Sebenarnya, dari semalam dia sudah ingin mewujudkan niatnya. Namun, ada beberapa masalah di restorannya lalu dia malah ketiduran. Alhasil, pagi ini dia buru-buru menyempatkan diri. Dia ingin mendatangi rumah seseorang. Rumah yang memiliki halaman sangat luas dengan kebun bunga dan buah di bagian depan, membuat rumah bak istana itu tampak sangat asri.


Fachri mulai jengah. Hanya berdiam diri dan tak melakukan apapun, justru tidak akan membuatnya lantas mendapatkan jawaban. Fachri memutuskan untuk turun dari motor. Dia memencet bel yang ada di dinding pintu pagar berwarna emas itu. Beberapa kali dibunyikannya, karena tak ada satu pun sahutan atau tanggapan.


Dari balik pohon mangga, seorang pria yang membawa gunting rumput, tergopoh-gopoh menghampiri Fachri. Dilihat dari setelannya, Fachri bisa menduga bahwa pria itu adalah salah satu tukang kebun di rumah besar itu.


"Muhun A', aya naon? (Iya, Mas. Ada apa?)" tanya si tukang kebun sambil tersenyum dan membungkukkan badan. Tubuhnya yang ringkih dan kulit kecoklatan akibat terlalu sering terkena paparan sinar matahari, membuat Fachri agak prihatin melihatnya.


Fachri membalas senyumnya sambil mengangguk. "Permisi, Pak. Numpang tanya, pemilik rumah ini ada di dalam gak yah?" jawab Fachri dengan bahasa Indonesia. Tinggal lama di Bandung, bukan berarti dia lancar bicara bahasa Sunda. Meski begitu, dia cukup paham apabila mendengar percakapan dengan bahasa daerah itu.


"Maksud Aa teh, Pak Darmawan begitu?"


Dahi Fachri berkerut. Memangnya Asta punya saudara bernama Darmawan? "Mmh ..


bukan, Pak. Ituloh Pak Dan Wisesa atau cucunya yang namanya Semesta Udaraja, yang suka dipanggil Asta."


"Waduh," seru tukang kebung itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kalo itu sih Mamang kurang kenal A'. Soalnya, sejak Mamang kerja di sini teh, majikan Mamang namanya Pak Darmawan. Paling juga adanya Bu Selena dan anaknya Aa Gamma. Tapi Aa Gammanya lagi di Jakarta. Jadi yang tinggal di rumah ini teh cuma Bapak sama Ibu doang."


"Yakin gak ada yang lain, Mang?" Fachri jadi ikut memanggil tukang kebun itu 'Mang'. Tatapannya penuh harap. Semoga dia mendapatkan informasi tentang keberadaan Asta.


"Yakin Aa'. Seratus persen A'. Barangkali, yang Aa' cari itu pemilik sebelumnya."


"Kayaknya sih gitu, Mang. Mamang gak tau gitu mereka pindahnya kemana? Juga alasan kenapa rumah ini dijual?"


"Aduh, Mamang mah gak paham itu. Mamang teh baru kerja dua bulan. Gantiin yang sebelumnya kerja di sini. Jadi Mamang kurang tau soal itu A'."


Kecewa? Sudah pasti. Hati Fachri mencelos seketika. Kepercayaan diri ketika memutuskan untuk datang ke rumah itu, nyatanya membuat Fachri justru merasa terlambat. Dia kehilangan jejak dan tak menemukan informasi apapun. Bahkan, keyakinannya untuk bertemu si Brengsek Asta pun perlahan memudar. Fachri mengumpat dalam hati. Tidak tahu lagi bagaimana cara dia mendapatkan info, kecuali dia memaksa Mara untuk membuka suara.


Beep ... Beep ....


Fachri merogoh saku jaketnya. Ponselnya bergetar dan layarnya menampilkan sebuah panggilan. Yang membuat Fachri tergesa untuk membukanya adalah nama yang tertera di benda itu. Alya. Alya memanggilnya. Hal yang langka. Masalahnya, perempuan itu tidak akan memanggilnya jika bukan hal yang serius.


"Kenapa, Al?"


"Kak Fachri ... Kak Fachri ... tut ... tut ... tut...." Panggilan dari Alya terputus begitu saja. Fachri termenung menatap layar ponselnya. Banyak praduga yang mulai bermunculan. Sebelum pikirannya makin menggila dengan hal yang tidak dia inginkan, Fachri buru-buru menaiki motor setelah menjejalkan ponselnya kembali ke dalam saku jaket.


∆ ∆ ∆


"Ngapain lo nelpon Fachri?" Mara merampas ponsel yang sedang digunakan Alya dalam satu kali gerakan.


Alya yang ketahuan, hanya meringkus sambil menunduk di dalam kamarnya. Takut kalau-kalau kakak sulungnya akan bertambah murka. Dia memainkan jari jemari sebagai penghilang rasa gugupnya. Dia menyesal. Kenapa juga Alya harus ketahuan, bahkan sebelum dia memberitahu kabar pada orang yang dihubunginya. Kenapa juga Alya tidak sadar jika Mara masuk ke dalam kamar barusan. Astaga.


"Malah diem," dengus Mara sambil berkacak pinggang. Perempuan itu memutar badan tanpa ada niat mengembalikan ponsel Alya yang telah dirampasnya. "Gue sita hape lo untuk waktu yang gak ditentukan. Biar lo gak bisa macem-macem."


Setelahnya, Mara melengos pergi. Alya hanya bisa pasrah tanpa melawan.


∆ ∆ ∆

__ADS_1


Mara masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan dongkol setengah mati. Bagaimana bisa adiknya menjadi seorang pelapor seperti itu? Mara tak habis pikir. Apalagi orang yang hampir mendapatkan laporan itu adalah Fachri, sahabatnya dari kecil. Astaga. Bisa mati kutu dirinya jika Fachri tahu apa yang terjadi pada Mara hari ini.


Mara mendengus.


Dia memilih untuk mengotak-atik ponsel adiknya itu. Dibukanya aplikasi chat tanpa seijin sang empunya. Netra Mara tertarik pada isi chat dari Fachri. Lagi-lagi dia membukanya tanpa sepengetahuan Alya. Bukan apa-apa, Mara hanya ingin tahu kedekatan antara adik dan sahabatnya itu. Barangkali di belakangnya, Fachri diam-diam mendekati Alya. Yang lebih ekstrim, bagaimana jika ternyata mereka berdua selama ini pacaran?


Mulut Mara menganga ketika membaca hasil chat adiknya dan Fachri. "Sejak kapan mereka sedekat ini?" Mara berteriak histeris. "Jadi di belakang gue, mereka berdua beneran chatan?"


Astaga! Bolehkah dia mencincang Fachri sekarang? "Dari sekian banyak cewek di dunia, kenapa juga dia harus ngedeketin adik gue yang masih polos itu? Enggak! Enggak! Enggak! Awas aja tuh Fachri gue pites kayak kutu."


Aw! Kepala Mara mulai terasa berdenyut lagi. Rasa pusing mulai menjalar dan mulai menyiksanya. Dari tadi dia sudah berusaha menekan rasa sakit. Tapi, lagi-lagi Mara kalah dengan rasa nyeri di kepalanya.


Mara menyembunyikan ponsel Alya di bawah bantal, dia lalu membaringkan diri secara pelan di atas tempat tidur. Matanya sudah terlalu lelah, maka Mara pasrah saja saat kedua netranya terpejam. Biarlah. Mungkin memang dirinya butuh istirahat sejenak.


Hingga ....


Matahari telah bergulir. Beristirahat di peraduannya. Digantikan sinar bulan yang tampak menenangkan jiwa. Mara mencoba membuka mata. Dia terkejut dengan suasana kamar yang terlihat terang. Seingat Mara, dia belum menyalakan saklar lampu. Dirinya terbiasa tidur dalam keadaan gelap.


"Apa, Bunda yah yang nyalain?" tebak Mara sambil mencoba bangun.


Sontak dirinya tersentak saat melihat Fachri ada di sana. Duduk di pinggiran kasur. Melipat kedua tangannya di depan dada. Melemparkan tatapan menusuk. Juga mengeluarkan hawa dingin yang ingin membunuh. Seram!


"Ngapain lo di sini?" seru Mara. Matanya hampir melompat keluar karena terlalu terkejut. "Gak sopan tahu masuk ke kamar cewek tanpa ijin. Buruan sana keluar!"


"Emangnya lo cewek?" tanya Fachri santai tanpa merubah cara dia melihat Mara. "Setau gue ... lo itu perempuan jadi-jadian."


Sakit di kepalanya berdenyut lagi. Dia masih belum bisa terlalu banyak bicara atau berpikir. Apalagi beraktifitas. Mara ingin beristirahat kembali. Dia harus memikirkan cara untuk menyudahi obrolan tidak jelasnya dengan Fachri.


"Udah deh. Mendingan lo sana keluar! Sebelum gue tendang. Asal lo tau, ancaman dari gue gak main-main. Buruan sana!" dengus Mara. "Ganggu orang tidur aja lo!"


"Gue juga bakal memperlakukan lo dengan cara sama." Fachri memandang Mara serius.


"Hah?"


"Lo pilih ikut gue dan jalan sendiri sekarang, atau gue seret paksa sampai ke mobil?" lanjut Fachri.


Mara melipat tangan di depan dada. Memandang Fachri sinis. "Apaan sih lo? Ngapain juga gue dengan bersuka hati ngikutin lo? Lagian lo mau bawa gue kemana?"


"Ke Rumah Sakit Jiwa! Udah cepetan! Gak usah banyak tanya. Gue itung sampai tiga. Satu ... dua ....."


"Apaan sih Fachri!"


"Tiga! Oke. Berarti pilih diseret."


"Enggak! Enak aja lo!" Mara mencoba mundur. Merapatkan diri dengan kasur. Berpegangan pada sandaran yang terbuat dari kayu dengan erat.


Sementara Fachri telah berdiri. Menghampiri Mara dan menaiki tempat tidur. Mara menjerit, mengancam akan memanggil ayah dan bundanya. Namun, siapa peduli? Toh, tanpa sepengetahuan Mara, Fachri sudah terlebih dulu meminta ijin untuk membawa Mara.

__ADS_1


Kalau tidak, kenapa juga dari tadi Fachri yang sengaja mengabaikan seluruh pekerjaannya di restoran, buru-buru meninggalkan rumah besar Asta, lalu rela duduk manis menunggu Mara terbangun? Bahkan, tadi dia berpikir untuk menculik dan membawa Mara yang masih tertidur andai perempuan itu tak kunjung membuka mata juga.


Fachri menangkap tubuh Mara. Agak sulit karena perempuan itu melawan dengan segala cara. Dari mencubit, memukul hingga tangan Fachri akhirnya dipenuhi oleh cakaran. Sesadis itu seorang Mara memang.


Sementara orang di dalam rumah memandang Fachri dan Mara dengan nanar dan pasrah, Mara telah dimasukkan dan didudukkan di dalam mobil miliknya sendiri. Fachri membanting pintu mobil, lalu berlari untuk ikut duduk di dalam kendaraan itu. Mengambil alih kemudi, lalu melajukannya dengan kecepatan yang membuat Mara hampir jantungan.


"Lo gila Fachri!" teriak Mara. "Pelanin gak? Pelanin gue bilang?"


"Terus ... membuat lo bisa kabur dengan cara melompat dari mobil? Sorry, gue gak akan kasih kesempatan itu," sahut Fachri.


Mara mendengus. Kenapa juga rencananya bisa terbaca dengan mudah oleh laki-laki itu? Ya, ya, ya. Dia 'kan Fachri. Sahabat Mara dari kecil yang hampir tahu segala hal tentangnya. Mara mendelik sebal.


"Udah cepetan pelanin. Gue gak akan kabur," rengek Mara. Kali ini dia berkata sungguhan. Dia terlalu takut karena Fachri makin mempercepat laju mobilnya. "Fachri! PELANIN GAK? GUE BELUM SIAP MATI MUDA! TERUS KALO GUE MATI, SIAPA NANTI YANG MAU BAYARIN CICILAN MOBIL GUE? CEPETAN PELANIN!"


Dari sudut matanya, Fachri tersenyum. Dia melambatkan laju kendaraan roda empat itu. Lalu menoleh sesaat ke arah Mara sambil mengulum senyum. "Di saat kayak gini lo masih mikirin cicilan mobil?"


"Iyalah. Meski bokap gue mampu beliin cash, ogah banget gue pake uang beliau. Gue udah kerja. Masa beli mobil aja pake uang orang tua? Gue juga bisa beli sendiri. Ya ... meskipun dengan cara nyicil," sewot Mara.


Fachri terkekeh geli. Rupanya masih ada sisi Mara yang belum berubah. Mara masih bisa diselamatkan. Dalam keheningan memandangi jalanan kota yang cukup lengang, dengan hiasan kerlip lampu dari gedung-gedung, Fachri berjanji pada diri sendiri. Dia tidak akan pernah meninggalkan Mara sendirian lagi.


"Lo mau ngapain bawa gue ke sini?" protes Mara membuyarkan lamunan Fachri. Perempuan itu menengok keluar jendela. Dengan alis bertaut, dia memandang sebal pada gedung bertuliskan 'Rumah Sakit' yang kini sedang didatanginya. Dia menoleh geram pada Fachri yang telah memarkirkan mobil. "Gue tanya, ngapain sih lo bawa gue ke sini? Hah?"


Fachri tersenyum lebar. "Tadinya ... gue mau bawa lo ke rumah sakit jiwa. Tapi gue kasian sama lo, jadi gue bawa lo ke sini aja."


"Gila lo yah!" kesal Mara sambil keluar dari mobil. Fachri buru-buru menyusul dan menarik tangan perempuan itu dengan paksa. "Lepasin gak?"


"Gak! Sekarang, lo lagi di bawah kuasa gue. Lo lagi gak diposisi bisa protes. Cukup diem dan ikutin gue. Kalo enggak, gue beneran bawa lo ke rumah sakit jiwa," ujar Fachri sambil menarik tubuh Mara untuk mengikuti langkahnya.


Melihat Fachri yang kelewat serius itu, juga bagaimana cara Fachri memaksa Mara, perempuan itu hanya bisa diam dan pasrah. Entahlah. Tiba-tiba saja, dia teringat seseorang. Tiba-tiba saja bayangan itu hadir dan melumpuhkan sel-sel dalam kepala Mara. Gadis itu sukses diam tak berkutik.


"Enggak, Mar. Sadar. Fachri adalah Fachri. Dia bukan Asta," gumam Mara dalam hati. Diam-diam memandangi punggung lelaki di depannya itu dengan sendu.


∆ ∆ ∆


Asta oh asta.. kamu masih menjadi misteri. bikin gegana mara terus. 😅😅


sabar yah geng, sebentar lagi juga akan terjawab kemana asta selama ini (jiah..


aku spoiler lagi 🤣)


pokoknya, sabar-sabarlah menanti. akan ada waktunya semua itu terjawab.


jadi, jangan bosen buat tetep pantengin terus cerita ini yah. apalagi diikutin sampai ending. waah aku bakal terhura dan bahagia banget.


oiya jangan lupa juga buat kasih dukungan sama cerita ini, biar aku makin semangat nulisnya ❤️


segitu dulu aja, sampai ketemu di bab selanjutnya ❤️

__ADS_1


__ADS_2