Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 17 : Us and The Mask Festival (1)


__ADS_3

Mara masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Warna-warni nuansa permen begitu kental menghiasi lapangan yang telah berubah menjadi stand-stand makanan dan pernak-pernik lainnya, yang juga disulap menjadi lantai dansa di area lapangan basket.


Mara terperangah. Ah, kakinya yang terbalut high heels berdenyut lagi. Setelah berjam-jam berkeliling, membeli beberapa camilan, dan bercakap-cakap dengan murid-murid lain di sekitarnya, yang bahkan tak mengenalinya sama sekali, Mara mulai merasa lelah.


Mara berjalan dan duduk di kursi yang berada di pinggir dekat lantai dansa. Ia sengaja memilih tempat itu karena di sana cukup sepi. Kebanyakan orang-orang memilih untuk berdansa atau sekedar menonton acara Live music yang berada di panggung, tepat di area halaman dalam sekolah.


"Riga ke mana sih? Gue udah nunggu di lantai dansa berjam-jam," gumamnya sambil mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang dibawanya.


Ia lalu melihat layar ponsel itu. Sepi. Tak ada yang menghubunginya. Mara melirik jam. Tengah malam tepat dan ia sendirian.


"Apa ganti baju harus selama ini? Ah, pasti dia lupa." Mara mendengus.


Tatapannya kosong menatap orang-orang yang sedang berdansa di kejauhan. Ia mengerucutkan bibirnya. Ia juga ingin berdansa. Berbaur bersama yang lainnya menikmati alunan pelan melodi dengan pasangannya. Dengan Riga lebih tepatnya.


"Apa sih yang gue pikirin? Gue gak boleh mimpi! Riga tuh udah punya pacar! Inget, Ra! Pacar! Gak mungkin Riga sama gue!" Mara mencelos.


Ia menarik pandangannya dari lantai dansa. Ia memusatkan perhatiannya pada high heels merah mudanya. Ia benci sepatu itu, sama bencinya dengan keadaannya yang sendirian saat ini.


Tiba-tiba sebuah tangan terulur padanya. Tangan itu terbuka, berharap Mara meraihnya. Mara mengangkat kepalanya. Setengah mendongak, ia menatap heran seorang laki-laki bertopeng, dengan pakaian serba putih, berdiri dengan sedikit membungkuk dan mengulurkan tangan kanannya ke arahnya.


Apa cowok ini Riga yah? Bajunya sama kayak yang tadi Riga bawa. Putih. Mara mengamati laki-laki di hadapannya dari balik topeng yang dipakainya.


Jangan-jangan ini kejutan dari Riga? Riga gak lupa sama gue? Kok gue jadi seneng sendiri gini sih. Mara tertegun. Ia masih belum meraih tangan yang sejak tadi terulur padanya.


Gimana kalo dia bukan Riga? Mara masih ragu-ragu. Ia mengulurkan tangannya secara perlahan, lalu meletakkan tangannya pada tangan lelaki itu. Masa bodoh dengan lelaki di depannya yang belum diketahuinya sama sekali.


Dengan lembut laki-laki itu membawa Mara ke lantai dansa. Mara segera menggelengkan kepalanya pelan ketika ia telah berhadapan dengan lelaki berpakaian putih itu. Namun, lelaki itu justru menyunggingkan senyumannya sambil melingkarkan satu tangannya di pinggang Mara.


Mara pun sedikit terperanjat dengan tindakan laki-laki itu. Namun buru-buru ia menenangkan dirinya kembali. Jika lelaki di hadapannya itu Riga, bisa dibayangkan seberapa besar malunya pada lelaki itu karena sikapnya yang terbilang 'norak'.

__ADS_1


Mara memusatkan tatapannya pada manik mata lelaki itu. Keduanya masih saling tatap satu sama lain. Ia menelan ludah, berusaha menghilangkan rasa gugupnya. Ia pun menggelengkan kepala sekali lagi, lalu berkata dengan pelan, "Gue gak bisa dansa."


Laki-laki itu tersenyum lagi mendengar penjelasan Mara. Tiba-tiba ia memajukan kepalanya, mendekatkannya ke telinga Mara, dan sukses membuat jantung Mara makin berdebar tak karuan.


Laki-laki itu pun berbisik pelan ke telinganya," Gue bakal ajarin lo. Percaya sama gue."


Laki-laki itu menjauhkan kembali kepalanya. Ia menatap Mara sejenak sambil tersenyum. Dengan gerakan pelan, laki-laki itu mulai menarik Mara untuk berdansa.


Mara sendiri hanya pasrah. Ia membiarkan tubuhnya bergerak menurut dan mengikuti setiap instruksi yang dikatakan laki-laki bertopeng misterius berpakaian serba putih itu.


Lima belas menit pun berlalu, perlahan Mara mulai bisa berdansa sendiri. Ia menggerakkan langkahnya mengikuti alunan musik. Ah, bukankah ini yang sedari tadi diinginkannya? Mara tersenyum. Ia senang.


"Ngomong-ngomong, gue boleh tau lo siapa?" tanya Mara disela-sela tarian dansanya. Ia masih penasaran dengan lelaki itu. Matanya tak bisa terlepas dari tatapan dingin laki-laki itu, membuatnya bertanya-tanya, dan akhirnya pertanyaan yang mengganjal pikiran itu terlontar juga.


Laki-laki itu tersenyum simpul. Ia menatap Mara lekat-lekat. "Menurut lo?" Ia justru balik bertanya.


Mara termenung. Ia mengerutkan dahinya. Bingung. Ia sungguh-sungguh dibuat penasaran oleh laki-laki itu. Mara menarik napas sejenak. Ia mengumpulkan segala keberaniannya untuk menyebut satu nama yang sejak tadi memenuhi pikirannya.


Laki-laki itu tiba-tiba saja menghentikan dansanya yang sontak membuat Mara kebingungan. Apa tebakan gue salah yah?


Pletak!


Laki-laki itu menyentil Mara dengan jari tengahnya tepat di dahinya.


"Aw! Sakit bego!" pekik Mara sambil mengusap dahinya. Ia membuka topengnya lalu menatap tajam laki-laki di hadapannya. Berharap laki-laki itu tahu bahwa ia sedang kesal padanya.


"Bodo!" ujar laki-laki itu datar. Rupanya ia tak peduli dengan tindakan Mara barusan. Ia justru menatap lekat-lekat ke dalam bola mata Mara.


"Lo pikir di dunia ini, cowok cuma dia doang?" Laki-laki itu meninggikan nada bicaranya, "Emang segitunya gue mirip sama makhluk aneh bernama Riga itu, Hah?!"

__ADS_1


Dengan cepat laki-laki itu pun membuka topengnya. Mara terperangah. Bukan, ia begitu terkejut melihat laki-laki di hadapannya. Seperti mendapat serangan jantung dadakan, Mara merasa jantungnya telah berhenti berdetak seketika.


Mulut Mara menganga selebar-lebarnya. Bayangan ketika melihat laki-laki di hadapannya, yang semula ia gambarkan seperti malaikat berkuda putih yang datang dari langit untuknya, kini berubah 180 derajat menjadi iblis berjubah putih yang datang menjemput kematiannya.


"Asta? Ngapain lo di sini?" Mara cemberut menatap laki-laki di hadapannya.


"Nah! Tuh tau nama gue!" Asta berkata dengan datar sambil memalingkan wajah.


"Gue ke sini cuma mau ngingetin status lo! Lo pacar gue! Titik!"


Mara mendengus mendengar pernyataan lelaki itu. Ia pun mengalihkan pandangannya sambil melipat tangannya di depan dada. Ia kesal. Kenapa sih malem ini gue harus ketemu sama cowok gila kayak dia?


Mara tersontak. Ia melirik Asta tajam. Dengan geram diinjak dan ditendangnya kaki Asta dengan kaki yang masih terbungkus high heels-nya. Dan hal itu sukses membuat Asta mengerang kesakitan.


"Emang enak? Mimpi aja sana!" Mara ketus.


Bersamaan dengan itu, penutupan acara rupanya telah diumumkan dengan bunyi dari letupan-letupan kembang api di atas sana. Warna-warninya menghiasi langit yang hitam pekat. Sangat indah.


"Gak nyangka!" seru lelaki yang berdiri di sebelah Mara tiba-tiba.


"Apa?" Mara menatapnya galak.


"Lo bisa jadi cewek juga!" Asta tertawa geli dengan mata yang sedang memindai penampilan Mara.


Mara mendengus. Ia mengerucutkan bibirnya. Dasar cowok gila! Ia memalingkan wajahnya lagi. Rasanya malas menatap laki-laki yang masih menertawainya itu terlalu lama.


Tiba-tiba tangannya terasa hangat.


Rupanya Asta menggenggam tangannya. Mara pun terperanjat ketika Asta mendekatkan wajahnya sambil membisikkan tiga kata ke telinganya, "Manis tapi cantik!"

__ADS_1


Sesaat wajah Mara merona merah. Ia tersipu malu. Satu hal yang harus diakui Mara, Asta selalu bisa membuatnya tersipu malu dengan hal-hal sederhana dan spontanitasnya itu.


"Ayo kita taruhan!"


__ADS_2