Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 25 : U'r Getting Tired of It All (1)


__ADS_3

"Wah! Mengejutkan. Gue gak nyangka kalo ada cewek begonya nyamain Renata, sepupu gue. Lo gak paham kalo gak ada yang boleh masuk ke ruangan ini selain gue?"


Mara tak menjawab apa pun. Ia masih membiarkan gigi-giginya saling bertautan rapat. Matanya menatap tajam pada laki-laki yang sekarang duduk dengan posisi menghadap ke arahnya. Sekilas Mara terkejut ketika mengamati sesaat ruangan pribadi Asta. Apa yang dilakuin Asta di ruangan yang mirip kantor ini? Yah, masa bodohlah. Mara tak terlalu menghiraukannya.


"Kenapa lo ke sini? Lo kangen sama gue karena hampir sebulan kita gak ketemu? Atau lo pengen bilang nyerah sama gue?" Laki-laki itu bertanya lagi sambil tersenyum sinis yang membuat Mara muak.


Plakk!


Mara melayangkan tamparan kerasnya pada pipi Asta. Matanya memanas. Berkaca-kaca. Emosinya makin memuncak saat melihat Asta tersenyum simpul lagi.


Jika saja saat di koridor Mara tak melihat Chia yang digendong Adit waktu itu dengan kaki penuh darah, dan Mara tak mencoba mengikuti tetesan darah Chia hingga menuju kelas S. Mungkin Mara tak akan senekat itu menghampiri Asta seperti sekarang.


Sejujurnya Mara tak tahu pasti yang terjadi di antara Chia dan Asta yang akhirnya membuat Chia berakhir di rumah sakit. Namun insiden itu pasti bersangkutan dengannya. Mengingat bahwa Asta tahu siapa pelaku yang hampir membuat Mara celaka, pasti Asta telah melakukan sesuatu pada gadis itu.


Meski Mara masih kesal bahkan nyaris membenci Chia karena melakukan hal buruk padanya, namun perbuatan Asta juga tak bisa dibenarkan. Akhirnya Mara tak bisa tinggal diam begitu saja. Ada perasaan bersalah yang menyelusup ke hatinya. Ia tak menyangka Asta akan berbuat sejauh ini.


"B-A-N-C-I LO!" Mara sengaja berteriak dengan kata penuh penekanan. "Sekali lagi gue lihat lo ganggu dan nyakitin orang-orang di sekitar gue, jangan harap gue bakal diem gitu aja!"


Mara melotot saat Asta tersenyum penuh arti sambil berjalan ke arahnya. Tubuhnya menegang, mengantisipasi setiap pergerakan yang akan dilakukan laki-laki yang telah berdiri di hadapannya.


Terkejut, Mara mundur beberapa langkah saat Asta tiba-tiba menaruh tangannya di pipi dan puncak kepalanya. Laki-laki itu malah mengelus pipi dan rambutnya dengan lembut, membuat Mara makin salah tingkah.


"Lo kalo mau ngajak gue kencan, gak perlu marah-marah kayak gini."

__ADS_1


"Apaan sih! Lepas!" Mara menepis kedua tangan Asta dengan geram.


Sungguh! Sikap sok tenang lelaki di hadapannya itu, justru membuat Mara ingin menghajar dan mencincangnya habis-habisan.


"Gak ada yang mau ken ...." Mara berdecak kesal. Tanpa menunggu perkataannya selesai, lelaki itu telah menariknya keluar.


Mara membulatkan matanya saat lelaki aneh itu membawa dan memintanya duduk di salah satu meja kantin lantai satu. Mara meremas buku-buku jarinya. Sudah cukup. Sudah cukup semua perkataan dan perasaannya yang selalu diabaikan oleh lelaki yang duduk di sebelahnya dan masih sibuk memesan makanan.


Bibir Mara bergetar. Di atas kepalan tangannya yang ditaruh di atas roknya, bulir air mata jatuh dari bola matanya. Perasaannya sesak. Sejak awal seharusnya Mara tak perlu repot-repot menemui Asta.


"Makan!" tawar Asta dengan nada datar dan diabaikan oleh Mara yang masih menangis sambil menundukkan kepalanya.


"Lo cengeng banget! Segitunya terharu bisa makan bareng gue lagi?"


Mara mengeraskan rahangnya. Dengan cepat segelas besar yang berisi es teh direnggutnya dan langsung menumpahkan isinya di atas kepala Asta. Muak! Mara sangat muak dengan orang itu.


● ● ●


Asta tersenyum tipis sambil menatap pohon di hadapannya. Angin malam yang berhembus cukup kencang tak membuatnya tergerak untuk menyusuri trotoar lagi. Sudah cukup ia berjalan sangat jauh. Tadi ia memang sengaja meninggalkan mobilnya di parkiran sekolah. Ia sedang tak ingin mengemudi.


Uh, Asta memegangi pipinya yang tadi siang mendapat tamparan dari gadis yang ingin sekali dilihatnya masih menyisakan ngilu. Bukan ngilu yang berarti sebenarnya. Hatinya jauh lebih sakit daripada itu.


Asta tahu ia bodoh. Seharusnya ia tak perlu berkata hal-hal tak berguna di saat gadis itu dengan sendirinya menghampirinya. Ia sempat terkejut memang. Namun, bagian kecil di hatinya merasakan getaran bahagia karena bisa melihat gadis itu dari jarak sedekat itu lagi.

__ADS_1


Ah, perasaan rindu ini sangat menyesakkan dadanya. Perasaan ini membuat Asta kalap dan membuatnya hampir tak bisa mengendalikan diri sebulan ini. Asta merutuki dirinya sendiri tentang yang terjadi pada Chia dan membuat Mara marah kembali padanya. Jika seperti ini terus Asta akan benar-benar kehilangan Mara selamanya.


Asta meninju pohon di hadapannya sekuat tenaga. Kesal. Marah. Dan frustrasi.


"Wah, siapa yang ada di sini? Semesta Udaraja! Cowok sok berkuasa yang udah nendang gue dari sekolahnya!"


Asta mendelik tajam dan berbalik badan. Ia menatap sinis sekelompok murid laki-laki dari sekolah lain yang berpenampilan kacau layaknya preman.


Cih! Asta sedang dalam kondisi emosi yang buruk dan tak ingin melakukan apa pun. Mengabaikan orang-orang itu, Asta berbalik dan berjalan meninggalkan mereka dengan 'cuek'.


Brukk! Asta tersungkur di tanah. Entah siapa yang memukulnya ia tak peduli. Sepertinya ia tak akan bisa lolos dari sana dengan mudah. Asta berdesis.


Asta bangun. Sebelum tubuhnya bertopang lagi pada kakinya, ia telah dihajar lagi tanpa perlawanan.


Klik!


Cahaya flash dari kamera membuat Asta dan laki-laki yang tadi menghajarnya menoleh pada seseorang yang mendadak hadir.


"Udahlah, Toni! Gak ada hasil yang baik saat lo ngelakuin balas dendam," ujar orang itu kalem, membuat Asta membulatkan matanya dan mengamati laki-laki di hadapannya.


Toni? Ah Asta mengingat lelaki itu. Asta pernah mengusirnya dari sekolah karena mencoba mendekati Mara. Asta tersenyum miring. Balas dendam? Mengejutkan! Asta tak pernah mengira lelaki itu akan balas dendam secepat ini.


"Diem lo cewek pincang!" Toni mengerang kesal.

__ADS_1


Cewek pincang? Jangan-jangan ....


Asta menoleh dengan perasaan campur aduk. Sesuai dugaannya, gadis itu adalah Chia. Mata Asta menatap nanar pada gadis yang duduk di sebuah halte sambil membawa tongkat. Chia sedang sibuk dengan ponselnya sambil melempar tatapan datarnya ke arah Asta. Asta mengumpat. Ah, posisi gadis itu terlalu dekat dengannya. Dasar cewek bego! Keadaan bahaya gini dia malah duduk santai di sana!


__ADS_2