
Chia tak tahu harus berkata apa saat Fachri mempererat pelukannya. Ia hanya bisa meremas buku-buku jarinya dalam diam sambil mendengar isak tangis dari laki-laki itu.
Uh, jika saja Chia tak melihat kejadian itu, melihat Fachri dipukuli dan mendengar perbincangan Asta dan teman-temannya, mungkin sejak tadi Chia tak akan pasrah begitu saja saat Fachri memeluknya.
"Lo harus jaga diri lo baik-baik. Mulai saat ini gue gak akan bisa nolongin lo lagi."
"Hmm," jawab Chia sambil bergumam.
Ia menatap Fachri yang telah melepaskan pelukannya. Ah, masih ada sisa-sisa air mata di pelupuk matanya, meski Chia yakin Fachri pasti telah menghapusnya.
"Lo yakin lo bakal baik-baik aja?"
"Iya." Chia mengangguk pelan.
Fachri mengusap pelan puncak kepala Chia. "Sampai kapan pun gue bakal selalu sayang sama lo. Gue pasti bakal kangen banget sama lo."
Chia tak menjawab. Matanya fokus menatap ke dalam bola mata Fachri. Chia ingin mengatakan sesuatu. Namun rasanya kata-kata tercekat di tenggorokannya.
"Gue pergi."
"Hmm." Chia bergumam dengan mata yang masih terarah pada Fachri, yang tersenyum dan mulai berjalan meninggalkan beranda lantai tiga. Ada perasaan sesak saat ia sadar tak akan pernah melihat lelaki itu lagi.
Gue tau gue emang bodoh! Dan ... pengecut! Chia kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa menjelaskan apa yang dilihat dan didengarnya pada laki-laki itu, sama seperti dulu, saat Chia melihat Fachri dipukuli Asta pertama kalinya.
Tess!
Chia membiarkan air matanya terjatuh, tepat saat Fachri telah menghilang dari penglihatannya.
● ● ●
"PENGKHIANAT LO!"
Mara mendapati orang-orang memandanginya. Ah! Masa bodoh. Mata sembabnya hanya tertuju pada seorang lelaki yang sedang bersalaman dengan Riga di halaman depan sekolah.
Mara melewati murid-murid yang sedang berjalan pulang meninggalkan sekolah dengan langkah cepat. Ia meninju sekencang-kencangnya pada Fachri yang melongo sambil menatapnya.
"Brengsek lo! Lo gak bisa ninggalin gue kayak gini! Lo udah janji bakal selalu sama-sama! Apa perlu gue sujud dan mohon-mohon sama bokap lo, biar lo gak dibawa ke London?" Mara terisak. Ia menenggelamkan dirinya dipelukkan sahabat kecilnya itu.
"Please! Jangan pergi! Jangan tinggalin gue! Gak masalah lo mengabaikan gue kayak waktu itu. Gak masalah lo jauhin gue kayak kemaren ...." Mara menggantung kalimatnya. Ia sedang berusaha mengatur napasnya.
"... Tapi jangan pergi. Jangan kayak gini! Jangan tinggalin gue. Sumpah gue gak mau lo pergi." Mara makin terisak saat Fachri mempererat pelukannya. Bahkan lelaki itu mengelus puncak kepala Mara dengan lembut.
__ADS_1
"Saat ini, gue masih jadi seorang pengecut yang gak bisa ngelindungin lo."
Mara terdiam. Ia ingin mendengar dengan jelas perkataan laki-laki itu.
"Tapi suatu hari, saat gue balik lagi, saat gue masih lihat lo nangis gara-gara Asta atau siapapun, gue gak akan pernah biarin lo deket sama cowok-cowok itu."
Mara menangis lagi. Bukan ini yang ingin didengarnya. Ia hanya ingin mendengar Fachri membatalkan kepergiannya.
"Gue harus gimana supaya bikin lo gak jadi pergi?"Mara menatap sayu pada Fachri yang telah melepaskan pelukannya.
"Berhenti nangis," mohon Fachri sambil mengusap air mata Mara yang tak berhenti juga.
"Kalo lo gini terus, gue gak bisa tenang ninggalin lo. Karena gue tau lo pasti bakal gak baik-baik aja. Please, berhenti nangis demi gue."
"Kalo lo tau, lo harusnya gak keras kepala buat tetep ninggalin gue." Mara makin tersedu. Ia menghempas tangan laki-laki yang sejak tadi masih mengusap pipinya.
"Gue harus pergi."
"Gue bakal benci lo selamanya."
"Gue tahu!"
"Hmm."
Mara menatap tajam pada Fachri yang tersenyum tipis sesaat. "Gue serius!"
"Iya."
Mara terdiam. Ia sudah tak memiliki kata-kata lagi untuk diucapkan agar mencegah kepergian sahabatnya itu.
Mara hanya terpaku dengan mulut bergetar sambil menatap Fachri berjalan menjauhinya. Mara berjongkok saat Fachri memasuki mobil dan melambaikan tangan untuk terakhir kali. Mara menutup wajahnya dan menangis sekeras-kerasnya.
● ● ●
Mara mendesah. Matanya masih tertuju pada bangku kosong yang telah ditinggalkan pemiliknya seminggu yang lalu. Lo beneran ninggalin gue, Fachri.
Mara beralih menatap kelasnya yang kosong. Ah, ia ingat. Sudah setengah jam Mara masih duduk di bangkunya sejak bel pulang berbunyi.
Dengan malas Mara bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan kelasnya. Langkahnya terhenti saat ia baru saja melewati gerbang sekolah.
Mara mendengus saat mendapati beberapa siswa memblokir jalannya. Ia menatap sebal pada orang-orang itu.
__ADS_1
"Asta pengen ketemu sama lo!"
Mara melotot pada Dipa yang telah menarik tangannya. Mara menyeringai.
"Gue gak mau!" Mara menekan setiap perkataannya.
Dengan paksa Mara melepaskan pergelangan tangannya. Buru-buru ia berjalan melewati anak buah lelaki yang paling dibencinya itu.
Yang bener aja! Gue harus ketemu sama cowok yang bikin Fachri babak belur dan pindah sekolah? Jangan harap gue mau!
Mara mempercepat langkahnya saat mengetahui ternyata Dipa mengikutinya. Ih tuh orang keras kepala banget sih! Mara mendecakkan lidah.
Langkahnya tertahan saat beberapa motor besar menghalangi jalannya. Brengsek! Mara berbalik badan dan melotot ke arah Dipa.
"Lo ngelakuin segala cara yah?!" Mara nyaris membentak.
"Ini permintaan Asta! Gue harus bawa lo gimana pun caranya!"
Mara menyipitkan matanya, menatap tajam pada sahabat Asta itu. Mara melangkah dengan cepat ke arahnya. Lalu dengan sekuat tenaga ia menendang laki-laki itu dan berlari secepat yang ia bisa.
"KEJAR!"
Mara mendecakkan lidah saat suara lantang Dipa terdengar sebelum ia berbelok menuju gang sempit. Sial! Kalo gini caranya gue gak bisa lolos dengan mudah!
Mara membuyarkan lamunannya. Ia memusatkan kembali perhatiannya pada jalanan yang sedang dilaluinya. Ada gunanya gue tau jalan tikus kayak gini! Mara tersenyum simpul sambil mempercepat larinya.
Mara berhenti berlari saat ia hampir mencapai ujung jalan itu. Matanya menatap galak pada seseorang yang sedang duduk di atas motor besarnya yang dipaksa masuk ke dalam gang sempit yang sedang dilaluinya.
"Lo pikir cuma lo doang yang tau jalan ini?" tanya Dipa sambil tersenyum miring.
Mara mendengus sambil berbalik badan.
"Percuma. Di ujung sana udah ada Dimas sama Damar yang jaga."
Mara mendelik. Matanya memancarkan kemarahan pada laki-laki di depannya. "Licik lo!"
"Udah nyerah aja! Gue bakal maksa supaya lo mau naik motor gue dan ketemu sama Asta!"
Mara terpaku. Uh, ia sebal. Sambil melotot pada Dipa, ia meraih helm yang disodorkan padanya dan langsung duduk di belakang lelaki itu.
● ● ●
__ADS_1