
Mara menggosok-gosok tangannya. Sore itu terasa dingin karena hujan turun tadi siang dengan cukup deras. Jalanan yang agak becek, beberapa genangan air di jalan berlubang, juga angin semilir yang baru saja berhembus, membuat Mara bergidik kedinginan. Mara mencoba merapatkan jaket tipis yang dia kenakan.
Saat itu, Mara sedang menunggu Fachri di sebuah halte bus yang terletak di seberang kantornya. Mara sengaja menunggu di tempat itu agar Fachri tidak kesulitan untuk memutar balik arah agar dapat berbelok. Namun, hingga setengah jam Mara menunggu, Fachri tak kunjung datang. Batang hidungnya saja belum terlihat.
Sudah puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dilayangkan oleh Mara. Namun, Fachri tak segera membalas bahkan mengangkat panggilannya sekali pun. Mara menghentakkan kakinya dengan sebal. Sudah lelah untuk bersabar menunggu sahabatnya itu.
Tiba-tiba Mara dikejutkan dengan kehadiran sebuah motor sport putih yang terparkir di depannya. Pengemudi itu membuka helm dan sontak membuat Mara terkejut. Hingga tanpa sadar, Mara membuka mulutnya lebar-lebar dengan mata mengerjap berkali-kali.
"Riga? Lo udah pulang dari London?" tanya Mara tak percaya. "Seneng banget bisa ketemu lo di sini."
Mara sungguh tak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya. Dia hampir berjingkrak kalau saja dia tidak sadar bahwa dirinya sedang berada di pinggir jalan. Kalau dilihat lagi, kala itu jalanan sedang sangat ramai. Barangkali memang bertepatan dengan jam pulang para pekerja.
"Gue juga," jawab Riga sambil tersenyum. "Lo sekarang tinggal di Jakarta?"
"Iya. Buat sementara sih. Soalnya gue dipindahtugaskan gitu ke anak perusahaan. Katanya, bakal dipanggil lagi kalau tugas gue udah selesai di sini." Mara tersenyum getir.
Riga mengangguk mengerti.
"Lo sendiri, lagi apa di Jakarta?"
"Gue menetap di sini sekarang. Ikut sama keluarga gue."
Kali ini, gantian Mara yang menganggukkan kepalanya.
"Lagi apa lo sendirian diem di sini?"
"Eh? I-itu ... gue lagi nunggu Fachri. Katanya dia mau jemput gue, tapi sampai sekarang gak tau tuh kemana orangnya. Gak ada kabar dari tadi." Mara mulai merasa sebal lagi.
Mata Mara kembali menyapu jalanan. Barangkali ada sosok Fachri yang bisa ditangkapnya. Namun, hasilnya tetap nihil.
"Lo tinggal di mana? Biar gue yang anter."
Perhatian Mara kembali tertuju pada Riga. Diam-diam Mara memerhatikan lelaki itu. Setelah cassual serba putih membuat wajah Riga semakin terlihat bersinar di mata Mara. Apalagi senyum seiprit, yang menghiasi wajah ganteng dari lahir itu. Siapapun pasti akan menjerit saat itu juga. Namun, Mara sudah tidak memiliki rasa lagi dengan Riga. Makanya dia tetap bersikap biasa saja ketika Riga dalam mode seperti itu.
Mara bahkan menggeleng dengan santai untuk menjawab tawaran dari Riga. "Gue udah janji sama Fachri kalau bakal nungguin dia sampai datang. Tapi ... makasih ya tawarannya. Ngomong-ngomong lo mau ke mana?"
Riga mengangguk paham. "Nyari kakak gue."
Mara tampak berpikir. "Oh, Kak Sunshine," seru Mara. Hampir saja dia lupa kalau teman satu angkatannya sejak SMA itu adalah adik dari seorang bintang ternama di jagad raya. "Emangnya Kak Sunshine ke mana? Kok lo sampai nyariin? Gak coba hubungin dia lewat telepon?"
__ADS_1
"Nomornya gak aktif. Katanya dia tinggal di rumah salah satu temennya. Gue udah coba kunjungi beberapa teman dia, tapi gak ada satu pun yang tahu di mana kakak gue berada."
Mara mengembuskan napas panjang. "Susah juga kalau kayak gitu."
Bertepatan dengan itu, sebuah mobil terparkir tepat di belakang motor Riga. Mobil bercat pink yang sangat Mara kenali. "Sorry, Mar. Gue telat. Ban mobil lo bocor. Jadi gue ke bengkel dulu tadi," seru Fachri setelah keluar dari dalam mobil.
Begitu Fachri telah menghampiri Mara, dia sadar jika perempuan itu tidak sendirian. Fachri mengamati seseorang yang duduk di atas motor. Matanya memicing. Baru ketika dia sadar bahwa itu adalah Riga, Fachri langsung nyengir kuda.
"Hai, Ga. Gila! Udah lama gak ketemu kita. Lo apa kabar?" seru Fachri sambil bersalaman dengan lelaki yang dulu pernah menjadi teman satu timnya di klub basket itu.
Belum sempat Riga menjawab, Fachri telah berbicara lagi. Kali ini fokusnya tertuju pada Mara. "Kok lo masih diem di sini aja sih, Mar? Bukannya cepetan pulang sana."
Mendengar Fachri berbicara seperti itu, mendadak tekanan darah Mara naik drastis. Rasanya dia ingin menghajar Fachri habis-habisan saat itu. "Kan elo yang nyuruh gue jangan pindah tempat satu senti pun dari sini sampai lo datang."
Mara ingin menjedotkan kepala Fachri detik itu juga ketika melihatnya terkekeh.
"Ya elah, Mar. Kalau yang jemput dan nganter lo pulang adalah Riga, gue mah percaya-percaya aja," sahut Fachri. "Udah lo sana pulang sama Riga."
"Apaan sih lo. Enggak!"
Setelahnya, Mara dan Fachri justru berdebat panjang yang akhirnya menjadikan lelaki itu sebagai pemenang. Mara terpaksa mengalah dengan duduk di samping Riga yang akan mengemudikan mobilnya. Sementara Fachri telah melambaikan tangan dari atas motor milik Riga.
Dasar Fachri nyebelin. Ubur-ubur belang! umpat Mara di dalam hatinya.
∆ ∆ ∆
Chia merapatkan jaketnya. Masih pukul 7 malam. Dia memandangi dirinya di depan cermin sekali lagi. Setelah itu Chia bergegas keluar kamar. Begitu Chia hendak mengunci pintu apartemennya, dirinya dikagetkan oleh seorang lelaki yang berdiri di sana sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana.
"Mau ke mana?" tanya Sun.
"Ke luar sebentar," jawab Chia. Sengaja tak ingin memberikan detail tujuan kepergiannya kepada kakak dari Riga itu.
"Ke tempat makan bukan? Ikut dong. Gue laper soalnya." Sun terkekeh sambil mengelus perut six pack nya. Seperti dapat menebak jalan pikiran Chia yang memang hendak pergi ke suatu tempat makan.
Chia menelan salivanya. Dia tak ingin Sun ikut. Dia sungguh membutuhkan waktu sendiri malam ini. "Kak Sun bukannya masih dalam pencarian awak media. Mendingan Kak Sun tinggal di sini aja yah. Nanti Chia beliin. Kak Sun mau titip beli apa?"
Sun menggeleng cepat. "Gue lapernya sekarang. Kalau makannya nanti pas nunggu lo pulang, gue bisa pingsan. Gak lucu kalau tiba-tiba beredar berita 'seorang aktor ditemukan pingsan karena tidak makan selama satu hari dan temannya mengabaikan ketika aktor itu sudah berkata lapar', ya 'kan?"
Berita macam apa itu? Chia mendengus. Lalu memutar kedua bola matanya. Chia tak habis pikir dengan daya imajinasi Sun yang terlewat tinggi.
__ADS_1
"Gue ikut yah. Yah? Yah?" Sun cengengesan sambil merangkul lengan Chia.
"Terserah," jawab Chia pasrah. Menolak pun, Sun akan bersikeras untuk ikut dengannya. "Chia gak tanggung jawab kalau nanti ada yang ngenalin Kak Sun."
Sun terkekeh sambil mulai memakai masker yang dia keluarkan dari saku jaketnya. "Tenang. Penyamaran gue aman. Dijamin gak bakal ada yang ngenalin gue."
∆ ∆ ∆
Sun merapatkan mobilnya di bahu jalan. Katanya sengaja agar jika sewaktu-waktu dia ketahuan, Sun dapat segera kabur dengan mudah. Setelah memastikan penyamarannya dengan topi, kacamata tebal, dan masker wajah, Sun mengajak Chia turun.
"Selama tinggal di Jakarta, baru pertama kali gue datang ke sini," ujar Sun dengan mata yang mengamati bangunan seperti rumah. Yang telah disulap sedemikian rupa hingga terlihat mirip dengan sebuah restoran. Andai dia tidak melihat meja-meja dan kursi berjajar di halaman bangunan itu, mungkin tadi Sun akan melewatinya begitu saja.
Jujur, Sun tak menganggap tempat itu adalah sebuah restoran. Mungkin karena terbiasa mendatangi tempat makan yang cukup elit dan berbintang lima, makanya Sun agak meragukan tempat itu.
Chia mengembuskan napas berat. Dia tak paham dengan pemikiran Sun. Dari tadi lelaki itu terus berkata 'ayo masuk', tapi, langkahnya berhenti di tempat. Seolah meragu untuk melangkah lebih jauh lagi. Chia yang gemas seraya menepuk bahu lelaki itu untuk mengembalikan kesadarannya yang entah dilayangkan ke mana.
"Jadi masuk gak?" tegur Chia. "Atau Kak Sun mau tunggu di mobil. Biar Chia pesenin makanannya?" usul Chia. Berharap Sun akan setuju kali ini dengan gagasannya. Akan lebih bagus kalau lelaki itu berkata 'iya'. Sayang, Sun justru menggelengkan kepalanya dan membuat hati Chia mencelos seketika.
Sepertinya, misi Chia kali ini akan sedikit terhalang kendala. Uh menyebalkan!
"Ayo!" seru Sun. Kali ini kakinya melangkah maju. Chia hanya bisa pasrah mengikuti di samping lelaki itu masuk ke dalam restoran.
Sun mengarahkan Chia untuk duduk di sebuah meja yang paling dekat dengan pintu keluar. Kemudian lelaki itu memanggil seorang pelayang untuk memesan makanan.
Sementara Chia, semenjak masuk ke dalam restoran, matanya sudah beredar ke setiap sudut ruangan. Dia seperti mencari sesuatu. Ya, Chia memang sedang mencari seseorang. Namun, orang yang dicarinya tak kunjung terlihat ujung rambutnya sedikit pun.
"Mau pesen apa?" tanya Sun.
"Oh, samain aja deh, Kak," jawab Chia asal. Kepalanya menoleh ke luar jendela. Memandangi jalanan yang cukup ramai dengan hilir mudik kendaraan. Wajah Chia mendadak lesu.
"Kenapa? Kayaknya lo gak seneng malam ini. Gak suka yah pergi berdua sama gue?" tanya Sun.
Mata Chia mengerjap. Tak menyangka kakaknya Riga itu akan menjadi salah paham. "Enggak kok. Chia seneng jalan bareng Kak Sun. Chia cuma agak sakit kepala." Chia sengaja berbohong soal kepalanya. Dia tak ingin Sun semakin salah paham dan berpikir yang tidak-tidak. Apalagi sampai menanyai Chia dengan berbagai macam hal yang sulit untuk dia jawab.
"Masih sakit?" tanya Sun dengan raut yang terlihat khawatir meski wajahnya telah ditutupi dengan peralatan penyamaran.
"Enggak kok." Chia tersenyum. "Chia pamit ke toilet dulu yah Kak Sun."
Ide itu tiba-tiba saja terbersit di benaknya. Beruntung Sun tidak menaruh curiga dan membiarkan Chia pergi ke toilet. Meski sesungguhnya hal itu hanyalah alasan agar Chia sedikit memiliki ruang untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
∆ ∆ ∆