
"Lihat Fachri gak? Lihat Fachri gak?" tanya Mara pada gadis-gadis yang dijumpainya di sepanjang koridor lantai dua.
"Eh ... Eh lihat Fachri gak?"
Gadis-gadis yang dijumpainya hanya menggelengkan kepala, tanda jawaban untuk tidak tahu.
Mara makin resah. Dimana sih lo Fachri? Mengingat kembali perkataan Chika di kantin tadi, membuat hatinya berdetak tak karuan. Ia gelisah. Ia memiliki perasaan tak enak tentang sahabatnya, Fachri.
Hal seperti ini pernah terjadi. Tepat beberapa bulan yang lalu. Tiba-tiba saja Asta tak berbicara padanya. Tiba-tiba saja laki-laki itu tak mengindahkan keberadaannya. Lalu beberapa hari kemudian, Mara menemukan Fachri sedang duduk di dalam kelas. Tepat di bangku laki-laki itu sendiri, dengan tubuh penuh luka dan darah dimana-mana.
Jika kejadian itu terulang kembali, Mara bersumpah tak akan pernah memaafkan laki-laki yang bernama Asta itu seumur hidupnya. Tak peduli dengan permohonan maafnya. Tak peduli dengan sikap-sikap manisnya padanya. Ia hanya akan melakukan satu hal. Membenci laki-laki itu. Itu saja.
Mara masih berjalan dengan cepat di koridor. Setiap orang yang dijumpainya akan ditanyainya. Tak peduli apakah mereka orang yang dikenalnya atau tidak. Tak peduli apakah orang itu duduk di kelas satu, dua atau tiga. Tak peduli apakah orang-orang itu mengenal seseorang yang bernama Fachri atau tidak.
Mara berdiri di depan kelasnya. Ia mengedarkan pandangannya dari luar jendela. Menatap lurus-lurus ke dalam kelas. Mencari sesosok laki-laki yang sangat jelas dikenalinya.
"Sial!" umpat Mara sambil berlalu pergi dengan langkah panjangnya saat tak menemukan Fachri di sana.
Mara mendengus kesal sambil berlari. Ia menggigit bibir bagian bawahnya saat tak juga menemukan sahabatnya itu di mana pun.
Kemana sih lo? Di lapang basket gak ada! Di belakang sekolah juga! Lagi situasi genting gini lo malah ngilang gak jelas! Ia nyaris frustasi.
Mara mengatur napasnya saat tubuhnya telah berdiri di depan gedung kelas S, kelas Semesta Udaraja. Kelas khusus yang seharusnya digunakan untuk para murid cerdas seperti Riga. Namun menjadi salah fungsi ketika Asta yang memakainya.
Awas aja kalo gue nemu lo ada di dalam sana! Gue cincang lo!
Dengan perasaan campur aduk Mara maju mendekati gedung itu. Jantungnya berdebar dengan keras. Rasa takutnya semakin kuat. Ia benar-benar cemas. Apa yang akan dilakukannya jika Fachri benar-benar di dalam sana? Di dalam kelas S dan menjadi bahan penindasan.
Tiba-tiba sebuah getaran dari saku bajunya membuat Mara terperanjat saat ia hendak membuka pintu kelas S. Duh kenapa di saat kayak gini sih! Mara merogoh saku bajunya. Ia menatap sebuah pesan dari Chika di layar ponselnya.
Mara terpaku menatap layar ponselnya. Ia buru-buru menghapus air mata yang tak sengaja menetes di pipinya sambil berlari dengan kecepatan penuh.
Ia tak peduli jika saat ini seorang guru akan menemukannya berlarian di koridor dan memarahinya. Ia hanya memiliki satu tujuan di pikirannya. Beranda lantai tiga. Ya, ia harus segera tiba di sana.
Sambil mengatur napasnya ia pun membuka pintu beranda lantai tiga dengan cepat. Kilauan matahari tembus mengenai retina matanya, membuat Mara sedikit memicingkan matanya untuk melihat ke dalam.
Ah, bolehkah Mara berteriak sekarang? Mara berjalan tanpa melepaskan pandangannya, menghampiri seseorang yang sedang berdiri memunggunginya sambil bercanda gurau dengan teman satu klubnya.
Gue lihat Fachri di beranda lantai tiga. Dia lagi ngobrol-ngobrol sama temen-temen klubnya.
Pesan dari Chika barusan terus terngiang-ngiang di pikirannya. Jika saja Chika tak membantunya mencari laki-laki itu, mungkin Mara akan merutuki dirinya seperti dulu.
Mara berdiri di belakang laki-laki bernama Fachri itu. Dasar bego! Kalo lo baik-baik aja, seenggaknya lo bilang sama gue. Ia mengulurkan tangannya. Ia mencubit sedikit baju bagian belakang Fachri. Lalu dengan tangan kirinya, ditutupinya wajahnya yang tak kuasa menahan tangis.
Mara sesenggukan. Ah, masa bodoh dengan Fachri yang telah berbalik badan dan pasti sedang menatapnya dengan heran saat ini.
"Ke-kenapa Ra?"
Suara Fachri yang terdengar di telinga Mara, membuat air matanya semakin deras mengalir. Lo bego atau apa sih Fachri? Gue kayak gini tuh karena khawatir sama lo! Dasar Fachri sialan! Mara mengeraskan suara tangisannya.
__ADS_1
Ah, ia mulai mendengar suara laki-laki lain mulai menanyainya. Laki-laki yang Mara pastikan adalah teman-teman Fachri di klub basket. Namun Mara enggan menjawab. Ia justru merentangkan tangannya, lalu memeluk Fachri dengan erat.
● ● ●
"Bos! Ini beneran harus pake rok renda-renda gini? Harus pegang pompom juga? Harus didandanin pake bulu mata beginian bos?"
Asta tak menjawab. Tatapannya dingin menatap Egi dan murid kelas satu lainnya sedang menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berusaha menutupi tubuh bagian atasnya yang telanjang. Meskipun hasilnya percuma saja. Toh tubuh telanjang dadanya tetap terlihat dan menjadi bahan tertawaan Asta dan yang lainnya.
"Yoi lah! Lo mau gue ganti kostum lo pake bikini?" Dipa yang akhirnya menanggapi pertanyaan adik kelasnya itu sambil tertawa.
"Jangan bikini bos! Nnti keseksian gue kelihatan," sanggah Egi dengan wajah yang dibuat malu-malu.
"Udah buruan! Yang hot joget pompom girls-nya! Hahaha!" Rano dan Marcell berteriak bersamaan.
Asta hanya tersenyum tipis mendengar sorakan dan teriakan dari teman-temannya. Ia bahkan tak peduli dengan adik kelasnya itu yang tampak malu-malu.
"Ya udah! Nih lihat yah bos! Awas jatuh cinta sama gue!" seru Egi ketika musik dengan suara yang hampir memecahkan gendang telinga diputar, musik yang lebih terdengar seperti musik beraliran rock.
"Najis!" sergah Dipa cepat.
"Lah bos! Musik apaan nih! Kok musik metal?" tanya salah satu murid kelas satu yang sedang menari mengikuti gerakan Egi.
"Metal men!" Dipa mengangkat ibu jari, jari telunjuk dan jari kelingkingnya ke atas.
"Metal! Metal! Gila lo mah bray!" Rano tertawa. Disusul gelak tawa dari yang lain.
Sementara Asta masih mengatupkan mulutnya ketika kelasnya ricuh lagi karena tarian aneh yang dilakukan Egi. Dengan musik beraliran rock yang sedang diputar, Egi justru menunjukkan gerakan pencak silatnya. Anehnya, seluruh teman-temannya justru menikmati pertunjukan tak jelas itu.
Namun, lagi-lagi ingatan tentang gadis itu yang datang mengobati Riga di kantin lantai satu kembali terngiang dibenaknya, membuatnya tak bisa fokus pada Egi dan teman-temannya.
'Lihatkan? Gue gak bohong sama lo!'
Perkataan Renata, saat mengajaknya untuk melihat sendiri kedekatan Mara dan Riga seminggu lalu, membuat Asta mengeraskan rahang dan mengepalkan tangannya. Satu hal yang terus terlintas dibenaknya. Menghajar Riga habis-habisan menjadi satu-satunya pilihan untuk membalas dendam.
"Ada orang yang ke sini tadi."
Asta melirik pada seseorang yang tadi menepuk bahunya pelan. Ia melihat Dimas menatapnya dengan serius.
"Siapa?" tanya Asta datar.
"Pacar lo!"
Asta mengerutkan dahinya, meminta penjelasan lebih.
"Dia gak sempet masuk tadi. Gue cuma lihat dia diem di depan pintu sebentar. Udah gitu pergi."
Asta terdiam. Tampaknya ia sedang memikirkan perkataan Dimas barusan.
"Cari tau kenapa dia ke sini! Cari tau apa yang dia cari!"
__ADS_1
"Oke!" Dimas menganggukkan kepalanya. Dengan cepat laki-laki itu berlalu pergi.
Saat Asta mendengar suara pintu ditutup, seseorang telah duduk di sampingnya. Asta mendelik ke arah Damar yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Ada masalah apa?" Damar bertanya.
"Bukan urusan lo!" Asta menjawab dengan ketus. Ia sedang malas membahas apa pun pada siapa pun.
"Lo masih marah sama Mara?"
Asta menoleh dan menatap Damar dingin. Ah, salah satu sahabatnya itu memang lebih peka dari yang lainnya. Seolah selalu mengerti apa yang sedang dipikirkan Asta. Hanya saja kepekaannya itu membuat Asta kesal setengah mati pada Damar saat itu.
Asta menyipitkan matanya, menatap tajam laki-laki itu. Tatapannya menegaskan agar Damar tak berkata apa pun lagi. Untungnya Damar cukup mengerti. Tak ada perbincangan lagi di antara keduanya. Hingga Asta terperanjat, karena seseorang menepuk bahunya lagi.
"Gue udah tau alasannya."
"Apa?" tanya Asta datar.
"Kata cewek-cewek yang gue temuin di koridor, Mara lagi nyari-nyari Fachri," jelas Dimas.
"Fachri?"
Asta melirik Damar sesaat. Lalu ia kembali menatap Egi dan kawanannya. Asta menyeringai.
"Jadi dia mulai tau apa yang bakal gue lakuin?" Asta berkata pada dirinya sendiri.
"Udahlah Asta. Mau sampai kapan lo kayak gini?" Damar berkata dengan tenang sambil menepuk bahu Asta.
"Berisik! Bukan urusan lo!" Asta meninggikan nada bicaranya.
Ia lalu bangkit berdiri. Asta menatap kedua temannya yang sedang terpaku itu dengan tatapan dingin sarat amarah.
"Rano matiin!" seru Asta.
Namun tampaknya laki-laki berwajah blasteran indo-jerman itu, yang sedang berdiri di sebelah speaker sound system, rupanya tak menggubris perintah dari Asta. Ia masih menggoyangkan kepalanya mengikuti irama lagu beraliran rock itu.
Asta mendecakkan lidahnya. Brengsek!
"RANO! MATIIN LAGUNYA SEKARANG!!!" Asta membuat urat-urat nadinya keluar dan membentuk tonjolan-tonjolan garis di lehernya.
Rano yang mendengar teriakan dari pimpinan kelas S itu, buru-buru menekan tombol off pada sound system yang bertengger di sebelahnya. Mendadak ruangan yang tadi ricuh menjadi hening seketika. Semua mata kini terpusat pada Asta dengan penuh keheranan.
"Bubar semuanya!" Asta masih memerintah.
Asta pun mengalunkan tangannya ke atas membentuk sudut siku-siku dengan tubuhnya. Ia menunjuk Egi dan kawanannya dengan tatapan tajamnya.
"Kalian! Ganti baju dan perbaiki dandanan kalian sebelum keluar dari ruangan ini! Jangan bikin kelas S malu! Bubar semua!!" Asta nyaris membentak.
Dengan cepat Asta melenggangkan kaki meninggalkan teman-temannya yang tampak kebingungan. Ia masuk ke dalam ruangan yang tampak seperti ruang kerja khusus. Ruangan pribadi yang dikhususkan untuknya yang lebih menyukai kesendirian dibanding hiruk pikuk keramaian di luar sana. Ruangan yang memang baru dibangun setelah Asta menguasai gedung kelas S. Asta pun menutup pintunya dengan suara bantingan yang cukup keras.
__ADS_1
● ● ●