Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 28 : U and Me (1)


__ADS_3

Gara-gara gadis dedemit bernama Renata, sekarang Mara resah seperti sekarang ini. Matanya masih memindai setiap orang yang berjalan melewatinya di koridor.


"Terserah lo mau diapain tuh orang. Gue cuma berharap tindakan lo tepat! Atau ... gue yang bakal bertindak!"


Mara menggeleng-gelengkan kepalanya. Sialan! Perkataan Renata kemarin terus terngiang-ngiang di kepalanya. Apa maksudnya dengan kata terserah? Mara sendiri bahkan tak tahu harus mengambil keputusan seperti apa.


Bahkan meski hampir setengah jam berdiri di koridor, Mara masih belum yakin dengan tindakannya. Ah ia ragu. Bimbang. Takut. Resah. Ah Mara sungguh kebingungan.


Apa gue batalin dan pulang aja yah? Tapi gue males banget kalo Renata udah ikut bertindak. Gak ada yang beres kalo dedemit itu turun tangan!


Mara menghela napas. Ia hampir frustrasi saat orang yang ditunggunya sejak tadi belum muncul juga. Ke mana sih Chika?


Mata Mara membulat saat matanya beradu dengan bola mata berwarna hitam legam yang menatapnya dingin dari kejauhan. Mara mendesis.


Dari seseorang yang sedang ditunggu kehadirannya, Mara justru bertemu dengan laki-laki yang sudah lama tak pernah bertemu dengannya. Terakhir kali, ya, saat kejadian Mara menampar dan menumpahkan air minum di kantin waktu itu.


Ah, berkat Renata sekarang Mara tahu jika tindakannya saat itu berlebihan. Namun, tetap saja tindakan lelaki itu juga salah. Merasa impas, Mara tak perlu bersusah payah meminta maaf. Menurutnya.


Mara makin gelisah saat jarak Asta semakin dekat dengannya. Rasa bersalahnya membuatnya mematung di tempat saat lelaki itu berjalan dengan cuek melewatinya.


Tunggu! Asta baru saja melewatinya begitu saja? Sial! Mara diacuhkan. Kesal, kaki Mara bergerak maju mengekor di belakangnya. Ia ingin protes.


Bruk!


Ah! Ini hal memalukan yang pernah terjadi di hidupnya. Bisa-bisanya ia terjatuh hanya karena tali sepatunya terinjak. Payah! Mara bangun dan mendapati Asta sedang memerhatikannya.


Mara tertegun dengan posisi masih duduk di atas lantai. Hatinya berdesir. Malu tentunya. Pikirannya sedang menimang-nimang tentang tindakan yang akan dilakukan laki-laki itu selanjutnya. Tentunya tindakan yang jauh diluar ekspektasi Mara sendiri.


Lihat saja wajah Mara yang mulai merah padam dengan mulut yang terbuka lebar-lebar. Ia tak percaya dengan sikap cuek Asta yang pergi begitu saja meninggalkannya. Si brengsek itu!


Mara berdiri dengan geram. Langkahnya begitu saja mengekor secara otomatis di belakang Asta. Bukan karena Mara ingin pulang bersama seperti dulu, hanya saja ia ingin meminta maaf atas tindakan berlebihannya waktu itu.


Baiklah! Mungkin sekarang Mara terlihat sangat bodoh. Mara mengakuinya. Ini bukan seperti dirinya saja, yang malah mengikuti Asta secara diam-diam. Dan Mara menyesali tindakan bodohnya itu.


Mara tersentak kaget saat melihat Asta tiba-tiba berbalik badan dan berjalan ke arahnya. Ah, jantung Mara sekarang hampir lepas dari tempatnya dan tubuhnya membeku tak bergerak sama sekali.


Sudahlah. Mungkin Mara harus pasrah jika lelaki itu akan mengamuk padanya nanti. Anggap saja ini hukumannya karena pernah menampar laki-laki itu kemarin.


"Apa yang bikin lo ngikutin gue?"

__ADS_1


Mara tergagap. Mulutnya tak berhasil mengeluarkan suara sedikit pun saat tatapan dingin Asta menelusuk ke dalam bola matanya. Mara terperanjat saat Asta tersenyum tipis dan tiba-tiba menarik tangannya.


"Mau ke mana?" sergah Mara sambil mengikuti langkah lelaki itu.


"Ke sekolah," jawab Asta datar.


Kening Mara berkerut sambil berusaha menyejajarkan langkahnya dengan Asta. "Ngapain?"


"Bisa diem?"


Mara mendelik sebal ke arah Asta sambil mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Sepanjang jalan menuju parkiran Mara tak berkata apa-apa lagi hingga ia duduk manis di dalam mobil milik Asta.


"Lo tau gue lagi kesel banget dan saat ini kehadiran lo pas banget," ujar Asta sambil tersenyum simpul di balik kemudinya.


Mengerutkan dahi, Mara menyipitkan matanya. "Maksud lo? Lo mau ngelampiasin kekesalan lo ke gue?" Mara nyaris membentak.


"Menurut lo apa lagi?" Asta menyeringai sambil melajukan mobilnya.


Mara melotot. "Gue gak mau! Gue mau turun!"


"Telat!" sergah Asta cuek sambil mempercepat laju mobilnya.


Mara mendengus. Ia melipat tangannya di depan dada sambil menggigit bibir bagian bawahnya. Bagus! Karena ulah bodohnya, sekarang Mara harus siap mendapat balasan yang setimpal dari lelaki yang masih duduk di sampingnya. Tidak! Mungkin lebih. Mara tersenyum miris sambil membayangkan hukuman yang akan diterimanya.


Gila nih cowok! Tau aja dia tempat yang gue gak bisa kabur! Dengus Mara sambil keluar dari dalam mobil dengan ragu. Oke! Riwayat gue tamat di sini!


Mara menelan ludah sambil mengekor cowok di depannya yang sudah melenggang terlebih dulu menuju pantai. Mara mengamatinya. Seperti biasa, Asta menjinjing sepatunya dan kakinya bermain-main dengan ombak. Pasti lagi ada masalah!


Yah! Mara tahu betul gesture lelaki di depannya itu jika sedang ada masalah. Dan kehadirannya di tempat itu menunjukkan jika Asta sedang memikirkan sesuatu.


Mara duduk di sebelah Asta, yang telah menghampirinya dan duduk di sampingnya. Seperti biasa, lelaki itu hanya akan bungkam sambil memandang lautan lepas di depan sana.


"Selonjorin kaki lo!"


Mengernyitkan alisnya, Mara menatap kakinya yang terlipat. "Ngapain?"


Asta menyeringai. "Jangan protes! Gue udah bilang kan gue lagi kesel. Gue mau lampiasin semuanya ke elo."


"Enggak! Gue gak mau!" sergah Mara sambil memeluk lututnya dengan kencang. "Jangan macem-macem. Berani macem-macem gue hajar lo!"

__ADS_1


"Kenapa? Tempat ini sepi. Gak ada yang bakal lihat apa yang bakal gue lakuin ke elo."


Mara memicingkan matanya. Sial! Bulu kuduknya mulai berdiri. Ia merinding dengan tatapan Asta yang penuh arti. Kenapa sih Asta senyum-senyum gak jelas gitu!


Mara mundur. Menjauhkan diri dari lelaki yang masih menatapnya aneh. Sungguh! Mara mulai ketakutan karenanya. Namun, respon Asta justru sebaliknya. Mara mulai resah saat Asta makin mendekatkan jarak dengannya.


Mara menatap nanar saat tangan Asta mencengkeram pergelangan kakinya. Ya ampun! Ada apa dengan sikap lelaki ini. Mara tahu ia salah. Itu pun hanya karena ia menampar Asta waktu itu. Sungguh tak adil jika hukumannya semenakutkan ini.


"Kenapa? Lo takut?" Asta masih menyeringai yang langsung dibalas pelototan oleh Mara.


Mara tiba-tiba terperanjat saat Asta berhasil menarik pergelangan kakinya dan membuatnya berselonjor ke depan. Gawat! Mara makin ketakutan. Panik. Tangannya bergetar.


"ASTA JANGAN MACEM-MACEM!" teriak Mara sambil menutup mata.


Terlambat! Asta sudah menjatuhkan kepalanya ke bawah. Ah! Mara tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan lelaki itu selanjutnya.


"Dasar bego! Lebay banget lo jadi cewek!"


Mara membuka matanya dengan cepat dan langsung melihat kakinya. Wajahnya memerah. Ia terperangah. Malu. "Ngapain lo tidur di pangkuan gue?"


Asta tak menjawab.


"Asta turunin kepala lo! Kalo ada yang lihat gimana?" dengus Mara.


"Lo beneran idiot yah? Kan tadi gue bilang, tempat ini sepi. Gak akan ada yang lihat apa yang gue lakuin ke elo."


Asta cuek sambil memejamkan matanya.


"Biarin gue tidur dengan posisi kayak gini sebentar aja," pinta Asta yang membuat Mara kehilangan kata-katanya.


"Kenapa? Tumben lo gak protes?"


Mara mendengus sebal. "Percuma! Toh gue protes juga ujung-ujungnya gak akan lo dengerin."


Asta tertawa pelan. Mara spontan mencubit tangannya dengan geram.


"Bagus deh! Gue males denger suara cempreng lo."


"Enak aja! Suara gue gak cempreng!" protes Mara sambil memukuli Asta secara membabi buta. Sedangkan lelaki itu malah tertawa puas.

__ADS_1


Lelah, akhirnya Mara berhenti. Begitu pun dengan laki-laki yang masih tidur di pangkuannya yang telah memejamkan mata, memasuki alam mimpinya.


● ● ●


__ADS_2