Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 15 : U’r Mission (3)


__ADS_3

"Apa Riga juga dibikinin nasi goreng yang dibentuk mukanya kayak gini?" Asta masih bicara dengan santai.


Gadis itu tak menjawab. Ia terlihat kikuk.


"Gue tau kok apa yang lo mau." Asta menyeringai. "Lo lagi nyogok gue kan? Lo takut gue gangguin Fachri. Lo takut gue tau kedekatan lo sama Riga. Apa perlu gue jelasin, kalo lo selalu ngasih bekel makanan ini setiap hari buat Riga?"


Asta melihat ketegangan pada sorot mata gadis itu. Asta menatap gadis itu serius. Jika saja ia tak sekesal ini, mungkin ia telah menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Kenapa harus Riga, Mara?


"Lo udah kayak dukun aja bisa tau rencana gue!" dalih gadis itu sambil berdiri.


Asta tak menjawab.


"Bagus deh kalo lo udah tau! Gue gak perlu masang muka bego lagi di depan lo!"


"Nyogok?" Asta tiba-tiba tertawa. "Gak tulus banget lo bikinin bekel buat gue!"


"Emang!" Gadis itu langsung menjawab dengan cepat.


"Males banget gue harus bikinin bekel makan siang sama psikopat sinting kayak lo. Untung aja gue ketahuannya sekarang! Gue jadi gak perlu diskusi bareng sama lo, tentang datang ke acara tahunan sekolah kita."


Asta tetap memasang wajah tenangnya meski ia tahu gadis itu sedang marah saat ini. Acara tahunan sekolah? Asta menyeringai.


"Lo pikir gue bakal ngajak lo buat datang bareng ke acara itu?" tanya Asta dengan santai. "Coba lo pikir ulang!"


"Gue juga ogah banget kok! Lo tenang aja!" Mara semakin emosi.


"Kenapa? Lo mau ngajakin Riga buat jadi pasangan lo di acara itu?" Asta menyeringai. Meski hatinya sebenarnya cemas, berharap Mara akan mengatakan tidak untuk pertanyaan bodohnya.


"Iya! Puas lo!"


Degg! Asta tersenyum tipis mendengar jawaban gadis itu. Sepertinya gadis itu tak akan mengatakan tidak untuk Riga.


Asta tak bergeming saat gadis itu beranjak pergi sambil menahan tangis. Matanya beralih menatap isi kotak makan yang telah berceceran di atas tanah.


"Mara!" Panggil Asta seraya menghentikan langkahnya. Ah! Ini pertama kalinya Asta memanggil nama gadis itu. Cukup kejam memang selama berbulan-bulan berpacaran dengan gadis itu, Asta tak sekalipun memanggil namanya.

__ADS_1


"Jaga baik-baik Fachri. Karena, saat ada celah sedikit aja, gue pastiin Fachri bakal tamat di tangan gue." Asta merutuki kata-kata yang meluncur begitu saja dari mulutnya di dalam hati.


"Brengsek lo! Gue gak akan ngebiarin lo ngeganggu Fachri seujung jari pun!"


Asta tersenyum tipis saat mendengar gadis itu berlari menjauh sambil terisak. Gue emang bego!


● ● ●


Penghujung semester kedua telah tiba. Setelah melalui ujian akhir semester yang cukup panjang, akhirnya seluruh murid SMA Tunas Utama dapat bernapas dengan lega.


Saat ini mereka tengah sibuk berdesak-desakan di depan papan pengumuman. Sebuah kegiatan sakral yang harus dilakukan setiap akhir semester. Karena pada papan pengumuman itu, terdapat daftar nilai dari seluruh murid yang memang sengaja dipajang pihak sekolah. Tentu saja nilai hasil ujian mereka.


"Weh! Peringkat 65 bro! Dari seluruh angkatan kita. Mantap!" komentar Fachri ketika melihat namanya di papan nilai.


"Bego lo!" komentar Fajar.


"Emang lo peringkat berapa?" dengus Fachri tak terima dikatakan bodoh oleh temannya itu.


"Gue peringkat 64!" jawab Fajar sambil tertawa lebar.


"Lo sama aja begonya!" Fachri ikut tertawa setelah memukul kepala Fajar dengan halus.


"Ciee! Cewek aneh kayak lo pinter juga!" goda Fachri sambil mengacak rambut Mara dengan gemas.


"Enak aja gue disebut cewek aneh!" protes Mara.


Tiba-tiba Mara tersontak. Ia teringat sesuatu. Eh Riga peringkat berapa yah? Pasti kesatu sih! Ia lalu melayangkan pandangannya lagi pada daftar nilai di papan pengumuman. Tuh kan Riga pasti peringkat kesatu! Mana nilainya sempurna semua lagi! Mara mendengus.


Matanya terpaku pada sebuah nama tepat di bawah nama Riga. Nama seseorang yang menyandang peringkat kedua. Kok cowok psikopat kayak Asta bisa peringkat kedua?!


"Eh lo peringkat ketiga lagi Chia!" seru Sani yang berdiri tak jauh dari Mara.


"Gila lo pinter banget sih Chia!" Komentar Krisha.


"Bagi-bagi kek isi otak lo! Gue kan juga mau pinter kayak lo!" Hana ikut menanggapi sambil tersenyum.

__ADS_1


Sementara Chia hanya tersenyum tipis. Matanya masih mengamati dengan serius nama-nama di daftar nilai di hadapannya.


"Wah peringkat lo ke 8 Dit! Gila lo keren!" komentar Kiki sambil tersenyum lebar, menunjukkan gigi-giginya yang masih dipenjara.


"Emang lo peringkat berapa Ki?" tanya Sani.


"Gue mah stay aja di 75." Kiki terkekeh dengan santai. Sepertinya ia tak terlalu memikirkan dengan hasil ujiannya.


"Malah ketawa! Nilai lo jeblok gitu! Peringkat 75 dari 160 orang. Sadar woi! Sadar! Dasar lo!" sergah Sani sambil mencubit lengang Kiki dengan geram. Tingkah laku kedua orang itu, sontak membuat teman-temannya tertawa melihat keakraban keduanya.


"Eh, gue masih gak ngerti nih sama pembagian kelas di sekolah ini. Chia kan peringkat tiga, terus kenapa dia di kelas C? Riga juga, kenapa dia kelas A? Gue sih setujunya kalo mereka duduk di kelas S. Iya gak sih?" tutur Hana.


"Iya sih bener! Aneh kan?" Sani ikut menanggapi. "Dulu gue udah pernah tanya-tanya ke wali kelas. Tapi gak ada tanggapan gitu."


"Kok aneh banget! Apa ada yang gak beres sama pembagian kelasnya yah?" Krisha tampak berpikir.


"Ssstt! Jangan pada ngegosip! Udah terima aja sama keputusan sekolah." Adit berusaha menengahi.


"Tau nih! Dasar cewek! Udah kayak ibu-ibu yang belanja di tukang sayur aja. Gosip mulu kerjaannya!" Kiki ikut berkomentar.


"Iya kita ibu-ibunya, lo kan tukang sayurnya! Cocok sama muka lo! Hahaha," sahut Sani sambil tertawa.


Chia hanya tersenyum mendengar tawa teman-temannya.


● ● ●


Chia menjatuhkan tas ranselnya di atas kasur. Masih berbalut seragam sekolahnya, ia menghampiri laci meja riasnya. Ia membuka laci itu dengan satu kali gerakan.


Ia terdiam. Tatapannya terpusat pada secarik kertas yang disimpannya dengan rapi sejak lama. Secarik kertas yang ditemukannya jatuh tergeletak di koridor sekolah dua tahun lalu, tepat beberapa hari setelah upacara penerimaan siswa baru. Tampaknya seseorang tak sengaja telah menjatuhkannya.


Ia berjalan dan duduk di atas kasurnya tanpa melepaskan pandangannya dari kertas itu. Matanya fokus menatap tulisan yang menjelaskan daftar nama-nama murid kelas S angkatannya.


Daftar urutan nama-nama sepuluh murid yang seharusnya duduk di kelas S. Tentu saja ada nama Chia dan Riga di sana. Dengan Riga berada di urutan pertama dan Chia berada di urutan ketiga.


Urutan kedua tak perlu dijelaskan lagi, karena posisi itu telah diduduki oleh Asta Udaraja. Sedangkan urutan keempat dan selanjutnya, diduduki oleh Renata, Damar, Dipa, Dimas, Adit, Rezky dan Gian.

__ADS_1


Chia tampak termenung cukup lama sambil menatap secarik kertas itu. Tiba-tiba ia bangkit dan berjalan keluar dari kamar setelah memasang headset di telinganya, mengabaikan kertas yang dibiarkan tergeletak di atas kasur.


● ● ●


__ADS_2