
Setelah keluar dari toilet, diam-diam Chia mencari salah satu pegawai restoran. Chia harus mendapatkan informasi. Atau paling tidak dia dapat menemukan sosok yang ingin ditemuinya sejak tadi. Lelaki yang menggunakan satu kaki palsu. Baruna Andromeda.
Ya, restoran tempat Chia berada sekarang adalah restoran yang Chia yakini sebagai tempat bekerja Andra. Kemaren, Chia sempat membaca nama restoran ini dari kotak besar yang terpasang di motornya. Sebenarnya Chia tidak terlalu suka ikut campur dengan urusan orang lain. Dia lebih memilih untuk diam dan tidak tahu apa-apa. Namun, kali ini rasanya berbeda. Chia begitu penasaran dengan sosok Andra yang belum terlihat sama sekali di mana pun malam itu.
"Maaf, Mbak. Mau tanya, di sini bener ada pegawai yang namanya Andra?" tanya Chia pada salah seorang pramusaji yang kebetulan lewat di depannya.
"Oh Kak Andra yang bagian pengiriman maksudnya?"
"Ah iya bener. Orangnya di mana yah? Bisa gak saya ketemu sebentar?" tanya Chia.
Pramusaji itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kebetulan orangnya udah pulang tadi sore. Biasanya, dia kerja lembur sampai malem. Cuma hari ini dia ijin pulang cepet."
Hati Chia mencelos. Dia gagal bertemu dengan Andra. "Kalau alamat rumahnya, tau gak, Mbak?"
"Duh, Kak Andra orangnya dingin dan misterius. Dia gak pernah ngasih tau alamat tempat tinggalnya. Kami semua yang kerja di sini aja gak ada yang tahu, Kak."
Kepala Chia mengangguk lemah. Dia kecewa. Sepertinya Chia memang harus mengikuti perkataan Jun. Chia harus menyerah dan tidak perlu melibatkan diri.
Chia keluar dari lorong yang menuju ke toilet. Betapa terkejutnya dia ketika melihat meja yang di tempati Sun telah dikerubuni banyak orang.
"Aish! Kenapa biss ketahuan?" umpat Chia sambil bergumam.
∆ ∆ ∆
Sun sedang mengamati pemandangan di luar jendela sambil menikmati alunan musik jazz yang mengalun merdu di telinga. Dia masih menunggu Chia yang belum juga keluar dari toilet. Hingga pelayan mengantarkan pesanannya dan menaruh makanan di atas meja. Lalu ... petaka itu datang.
"S-S-Sunshine 'kan?" tanya si pelayan yang mengantarkan makanan di meja Sun dengan dahi berkerut. Kedua matanya menelisik dan mengamati lamat-lamat wajah Sun yang masih terbungkus penyamaran. "Sunshine 'kan yah?"
"Eh, bukan. Saya cuma orang biasa. Mbaknya salah kenalin orang. Masa orang kayak saya disamain sama bintang pilem?" kekeh Sun mencoba berkelit senatural mungkin.
Namun, kecurigaan pelayan di depannya itu sangat menjengkelkan. Perempuan itu terus mengamati wajah Sun yang jelas-jelas tertutup masker dsn kacamata tebal. Sun yakin penyamarannya itu tak akan mudah dikenali. Dia sudah mengetesnya tadi siang ketika iseng berjalan-jalan sendirian di halaman apartemen. Lalu, bagaimana bisa pelayan ini mau membongkar kedoknya yang sudah ditutupi dengan rapi itu? Tidak bisa. Sun tidak akan membiarkan hal itu.
"Mas pasti Sunshine. Saya gak salah ngenalin orang deh. Suaranya aja sama."
Astaga! Demi Jun yang pernah kecebur di dalam got, pelayan di depannya itu sungguh membuat Sun naik darah. Dia kesal hingga ke ubun-ubun. Namun, Sun mencoba untuk tenang. "Mbaknya fans fanatik yah? Sampe hapal betul gimana suaranya."
__ADS_1
"Justru karena saya memang fans fanatik. Makanya saya gak salah ngenalin orang. Apalagi jaket ini. Cuma Sunshine yang pakai."
Sun tertohok. Buru-buru dilihatnya jaket navy yang dikenakan. Astaga, kenapa dia sampai lupa dengan jaket yang menjadi ikon dirinya sendiri itu. Ini namanya Sun menggali lubang sendiri tanpa sadar.
Sun mendengus. Belum sempat Sun angkat bicara lagi untuk berkelit, pelayan di depannya itu telah memanggil teman-temannya. Yang kemudian, dalam hitungan detik kehebohan pun terjadi. Satu persatu orang mulai mengenali dirinya. Bahkan ada yang dengan kurang ajar melepas masker dari wajahnya. Lalu mereka mulai berebutan untuk meminta foto. Ada juga yang menanyainya soal klarifikasi gosip antara Sun dengan Freya.
Tuhan, tolong kirimkan malaikat untuk membantu gue. Sun janji gak akan bandel lagi. Sun merengek di dalam hati seperti anak kecil.
Wajah yang awalnya masam dan jengah itu, kini berubah sumringah ketika sebuah tangan terulur padanya. "Chia! Lo emang malaikat gue!" batin Sun senang.
Buru-buru Sun meraih tangan itu. Dia tidak akan membiarkan sedetikpun waktu terbuang untuknya melarikan diri. Dengan cepat Sun dan Chia berlari keluar dari restoran. Fans fanatik lelaki itu mengekor di belakang. Sampai di mobil, Sun segera melajukan mobilnya dengan cepat membelah jalanan ibukota.
Chia yang terengah-engah menoleh ke arah lelaki di sampingnya itu. Sun terlihat sudah tenang. Fokusnya terpusat ke jalan. Chia mengembuskan napas pelan. "Untung kejar-kejarannya gak sampai lama dan jauh." Chia sengaja membuka suara untuk menepis rasa ketegangan di antara ke duanya. "Kak Sun bilang gak bakal sampai ketahuan."
"Gue lupa sama jaket ini."
Chia merosot dari duduknya sambil geleng-geleng kepala.
"Gue minta maaf soal kejadian ini. Sebagai permintaan maaf, mau makan di tempat lain gak? Gue yang traktir deh."
"Loudspeaker," perintah Jun dari seberang sana.
Chia segera mengikuti kemauan lelaki itu. Dia menekan tombol pengeras suara. "Udah," ujar Chia pelan untuk memberitahu Jun.
"Sunshine Tenggarasha, sampai 30 menit lagi lo belum pulangin Cometta Fuschiara ke apartemennya, gue pastiin besok pagi, lo bakal gue arak sampai ke awak media."
Setelah berseru begitu, Jun segera mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Sementara Chia terdiam sambil menatap ponselnya sendiri, Sun justru merespon lain. Sun terkikik geli mendengar perkataan Jun barusan.
"Acara makan malam berdua kita terpaksa batal. Penjaga lo lebih horor dari pada malaikat penjaga pintu neraka. Gila! Sepertinya, gue bakal dibuat susah untuk nikahin lo nanti," canda Sun sambil terkekeh.
Chia hanya tertawa getir menanggapi candaan Sun tersebut.
∆ ∆ ∆
"Udah sama Riga aja sih!" Lagi-lagi Fachri menyeletuk di tengah acara cuci mencuci piring di apartemen lelaki itu. Apartemen yang letaknya tepat di sebelah apartemen Mara.
__ADS_1
Mara yang sengaja dijebak pemilik apartemen untuk membantu beres-beres setelah acara makan malam bersama Riga itu, mulai merasa jengah. Dia melempar asal lap di tangannya ke atas meja makan. Kemudian bertolak pinggang sambil melotot ke arah Fachri.
"Lo itu minta digorok, disantet, dijadiin sate, atau gue mutilasi?" kesal Mara. "Kenapa sih lo dari tadi bahas Riga mulu?"
Ya, sejak Fachri memasak hingga dia makan malam bertiga dengan Mara serta Riga, Fachri terus saja berupaya menjodohkan kedua sahabatnya itu. Mara sampai bosan mendengar Fachri mengulang kata yang sama hampir setiap sepuluh menit sekali.
"Kali aja 'kan kalian jodoh. Lo jomblo, Riga juga. Udah ... cocok."
Mara memutar kedua bola matanya. Entah setan apa yang sedang merasuki tubuh Fachri, hingga sahabatnya itu tiba-tiba bersikap begitu. "Jangan sok tahu deh lo."
"Gue gak sok tahu. Gue itu udah baca situasi, kondisi dan keadaan. Gini deh, Mar." Fachri sengaja menjeda aktifitasnya. Dia menaruh kembali piring porselen di tangannya itu ke dalam wastafel. Berjejal dengan peralatan makan yang belum selesai dicuci.
"Riga 'kan udah tau soal Asta. Dia juga dari tadi gak bahas-bahas soal Chia pas kita berbagi cerita. Berarti kalian sama-sama single. Jadi udah gak ada yang ngalangin kalian lagi. Udah waktunya lo CLBK alias cinta lama bersemi kembali dan balik ke cinta pertama lo, Riga," jelas Fachri panjang lebar.
"Eh, Ubur-Ubur Jagung Jenggotan. Gak dibahas bukan berarti gak ada hubungan. Mau lo kemanain Chia? Udah jelas-jelas Riga itu punyanya Chia. Lo jangan jadi ibu tiri jahat yang sok-sokan misahin mereka deh. Pake ngatain sahabat lo itu jomblo segala. Atau jangan-jangan lo belum move on dan pengen ngerebut Chia dari Riga dengan menjadikan gue tumbal. Iya 'kan? Ngaku lo."
Fachri menoyor kepala Mara pelan. Temannya satu itu selalu saja berpikir negatif. "Enak aja. Perasaan gue udah biasa aja ke Chia kok. Gue bakalan seneng kalau dia bahagia."
Mara tersenyum miring. "Kalau gitu, awas yah nanti. Kalau pas nanti lo ketemu dia dan mata lo gak kedip-kedip, lo wajib traktir gue selama sebulan penuh dan bayarin sewa apartemen gue selama 6 bulan. Gimana?"
Mara melipatkan kedua tangannya di depan dada. Wajahnya sumringah melihat Fachri yang tersudutkan. Lagi pula suruh siapa jadi sahabat kelewat resenya? Emang enak gue tantangin? kekeh Mara di dalam hati.
"Oke! Gue gak takut. Siap-siap aja lo kalah. Karena gue jamin, cepat atau lambat lo bakal jadian sama Riga."
"Dih! Gak akan!" seru Mara sambil berdecak. Dia sudah malas membantu Fachri. Maka dia melenggang cepat-cepat meninggalkan apartemen sahabatnya itu. Tak peduli pada Fachri yang memanggil-manggil di belakang sana. Tak peduli dengan pekerjaan yang belum selesai dikerjakannya. Mara lelah. Dia ingin beristirahat dan buru-buru masuk ke dalam kamar.
∆ ∆ ∆
siapa yang setuju untuk ceburin Fachri ke dalam sumur lubang buaya? 🤧🤧 nih anak satu emang kudu di ruqyah biar gak ngasih ajaran sesat sama Mara.
Untung Maranya sabar yah 🤭🤭🤣🤣
Kalau aku yang jadi Mara, udah aku kurung Fachri di kamar mandi..
#eh jiwa jahatku keluar 🤣🤣🤣
__ADS_1