Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Tiga Puluh Lima


__ADS_3

"Udah buruan ikut. Nanti juga lo bakalan tahu," seru Mara.


Kemudian perempuan itu menyeret langkah Fachri untuk mengikutinya. Yang ditarik hanya bisa pasrah sambil menengadahkan tangan ke atas untuk merapalkan doa. Masalahnya, Mara yang berekspresi seperti sekarang ini, menandakan bahwa kejadian buruk yang tak mengenakan akan segera terjadi, dan Fachri tak sanggup membayangkan hal itu. Tidak.


"Mar, gue gak ikut deh," rengek Fachri ketika keduanya telah sampai di basemen.


Dengan gerakan matanya, Mara menyuruh Fachri duduk di kursi samping kemudi. Fachri hanya bisa meringis dan pasrah. Wajah memelas yang ditunjukkannya tetap tidak bisa membuat Mara berubah pikiran.


"Gue emang nyesel, Mar. Tapi jangan hukum gue yang sadis-sadis," rengek Fachri begitu telah duduk di dalam mobil milik Mara.


Mara mendelik lalu tertawa di balik kemudi. "Lo udah terlambat, Fachri. Udah deh duduk manis terus diem. Udah gak ada jalan untuk lo kembali." Setelahnya Mara melajukan mobil tersebut menembus jalanan ibukota.


Mara memasukkan mobilnya ke halaman sebuah mall. Setelah memarkirkan mobil tersebut, dia mengajak Fachri untuk masuk ke dalam.


"Kita sampai," seru Mara sambil menatap puas apa yang sekarang ada di depan matanya.


"Mau ngapain kita di sini? Emangnya kita anak kecil?" tanya Fachri heran. "Males ah gue. Gak ada tempat lain apa?"


Mara menggeleng sambil tersenyum jahat. "Gak ada. Gue mau ke sini. Seharian gue mau jadi anak kecil lagi, dan lo ... wajib temenin gue. Lo harus lawan gue. Kalau lo menang, kita udahan cari tempat lain. Tapi kalo lo kalah, lo harus lawan gue terus sampai lo menang."


Fachri menelan salivanya. Dia sungguh merasa terjebak saat ini. Mara memang paling tahu kalau Fachri sangat tidak suka pergi ke tempat permainan itu. Fachri lemah jika harus memainkan mesin capit boneka, atau lantai menari, balap mobil, balap motor, apapun. Tak ada yang bisa dimainkan oleh lelaki itu.


Sementara Mara paling jago. Dia hampir bisa segala jenis permainan di tempat itu. Dia bisa memenangkan puluhan ribu tiket dalam waktu singkat. Jadi, Mara pasti tak akan membiarkan Fachri menang begitu saja.


"Karena lo nyebelin, lo harus bayarin semuanya yah," seru Mara sambil tertawa-tawa. Dia mengibas-ibaskan tiket ditangannya yang baru saja didapatkan dalam waktu lima menit.


Fachri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Gue udah menduga ini bakalan jadi malapetaka buat gue," dengkusnya sambil tetap mengekor langkah Mara di belakang.


Di tempat itu Mara sungguh terlihat seperti anak kecil. Kadang tertawa-tawa, berteriak, jingkrak-jingkrak, atau meledek Fachri sampai puas. Sementara Fachri hanya bisa pasrah karena dia gagal berkali-kali untuk menang dari Mara.


"Mendingan gue main game di hape deh," keluh Fachri dengan tangan yang masih fokus mengarahkan tombol yang dipegangnya. Fachri mencoba menyapit sebuah boneka sapi yang ada di dalam mesin. Namun, lagi-lagi dia gagal. Ditendangnya pelan mesin itu untuk melampiaskan rasa kesal. "Gue nyerah ah! Kesel gue."


"Dih! Gak asik lo. Baru segitu aja udah nyerah. Baru sebentar, lo udah merasa gak sanggup. Ayo buruan! Lo gak boleh berhenti sampai lo menang dari gue," seru Mara yang sedang berkonsentrasi pada capit mesin di depannya. Begitu mesin itu mengenai boneka keropi, boneka itu pun berhasil dikeluarkan Mara dengan aman tanpa terjatuh lagi.


Mara berteriak senang. Dia menggoyang-goyangkan boneka kodok berwarna hijau itu tepat di depan wajah Fachri untuk mengejeknya. Yang diejek hanya bisa mendelik sebal. Sadar diri kalau dia memang belum memenangkan satu pun boneka dari mesin di hadapannya.


"Mar, udah yuk pulang." Mata Fachri memandang tumpukan boneka yang ditaruh di atas lantai dan disandarkan pada mesin capit itu. Boneka-boneka dengan berbagai jenis dan bentuk itu sudah lebih dari sepuluh buah yang berhasil Mara dapatkan.


"Boneka yang lo udah dapet terlalu banyak. Lo bisa bangkrutin tempat ini. Belum lagi lo bisa dikira curang. Asal lo tahu, penjaga tempat ini udah ngawasin lo dari tadi," sambung Fachri yang melihat Mara kembali asik memainkan mesin capit di depannya. "Lagian kita udah main sekitar dua jam. Apanya yang lo sebut sebentar?"


"Dua jam itu masih sebentar, Fachri. Gue aja bisa seharian cuma buat rebahan nontonin drama, dan lo udah mengganggu jam nonton gue. Jadi, pilihannya cuma satu supaya gue berhenti. Lo ... kalahin gue." Mara berkata tanpa melihat Fachri. Namun, gara-gara konsentrasinya pecah, kali ini Mara gagal mendapatkan boneka incarannya.


"Oh ya, gue sih masa bodoh dikatain curang. Toh banyak saksinya kalau gue dari tadi main adil."


Sejujurnya, Fachri setuju dengan perkataan Mara barusan. Sejak tadi, mereka memang sudah dikelilingi penonton dadakan. Orang-orang itu tertarik dengan cara bermain Mara yang selalu berhasil. Mungkin juga karena Mara terlalu heboh untuk mengekspresikan kemenangannya. Karena itu pula, para penjaga toko diam-diam mengawasi dari jauh.


Fachri mengedarkan pandang ke segala arah. Mencari cara agar Mara bisa berhenti dari kegilaannya. Meski jauh di dalam hati, Fachri merasa bahagia karena tingkah Mara yang seperti anak kecil saat ini. Kurang lebih Fachri tahu alasan dibalik sikap Mara. Menghukum Fachri adalah alasan palsu yang dibuat perempuan itu. Namun Fachri bersyukur, Mara tidak melampiaskan kegelapan hatinya lagi dengan minum-minum di bar atau berpura-pura seperti dulu.


Mata Fachri kemudian menangkap mesin basket di ujung kiri sana. Senyumnya mendadak terbit. Dia jelas tahu kelemahan Mara dan cara membuat perempuan itu kalah. "Taruhan sama gue, siapa yang paling jago masukin bola basket ke ringnya."


Tiba-tiba tangan Mara terhenti. Perempuan itu menoleh dan memandang Fachri lamat-lamat. Matanya beralih pada mesin yang ditunjuk Fachri. Kemudian Mara mengangguk sambil menyeringai. "Fine! Jangan nangis kalau lo kalah dari gue." Setelahnya Mara melengos pergi meninggalkan mesin capit boneka itu.


Fachri segera menyusul setelah mengamankan seluruh boneka yang didapat Mara siang itu. Dia bisa diamuk jika Mara tahu bahwa ada salah satu bonekanya yang hilang. Maka, lebih baik Fachri mengantisipasi dari awal. Fachri pun menitipkan barang-barang itu di meja kasir.

__ADS_1


"Siap?" tanya Fachri dengan sebuah bola basket di tangannya.


"Yap!" Mara mengangguk yakin. "Mulai!"


Kemudian yang terdengar hanyalah suara gaduh dari bola basket yang terlempar ke dinding. Keduanya berlomba-lomba untuk memasukkan bola lebih banyak. Berkompetisi untuk menentukan siapa yang unggul, dan Fachri sadar, ternyata Mara cukup sulit dikalahkan dalam permainan itu.


"Hahahaha!" tawa Mara pecah seiring langkahnya yang berjalan keluar dari pusat permainan game itu. "Dua puluh kali tanding, dan lo baru menang sekarang?"


Fachri mencibir diam-diam. Kesal dan tidak terima dengan kemenangannya yang didapat hanya satu kali dari dua puluh satu kali permainan. "Yang penting gue udah menang dan kita akhirnya keluar dari tempat itu. Titik."


Mara tertawa lagi. "Payah lo."


Langkah Mara tiba-tiba terhenti. Matanya memicing begitu menangkap sosok jangkung yang sedang tertawa di depan sebuah foto box. Kalau Mara tidak salah lihat, sosok itu adalah Sunshine. Sang bintang idola yang juga merupakan kakak dari Riga. Kakak yang dicari-cari Riga beberapa hari ini. Kalau Mara tidak salah ingat, Riga bilang kakaknya tinggal dengan salah satu temannya. Tapi, yang Mara lihat saat ini, justru Sunshine sedang bersama dengan seorang perempuan.


"Jangan-jangan ... tinggalnya bareng sama cewek itu?" duga Mara sambil berseru karena syok.


"Apaan sih lo tiba-tiba berhenti terus teriak?" tanya Fachri dengan kebingungan. "Siapa yang tinggal bareng sama cewek?"


Tanpa menjawab pertanyaan Fachri, langkah Mara tertuju pada lelaki di depan sana. Fachri yang kerepotan membawa boneka dan hadiah dari tiket yang Mara tukarkan, mengikuti pelan di belakang.


"Kak Sunshine?" panggil Mara.


Kemudian kedua orang di depan Mara itu menoleh ke arahnya. Begitu perempuan yang tadi memunggungi Mara berbalik badan, betapa terkejutnya dia saat mengetahui bahwa perempuan yang bersama Sunshine adalah sosok yang sangat dikenalnya.


"Chia?" gumam Fachri pelan begitu telah berdiri di samping Mara. Kantung-kantung di tangan lelaki itu tiba-tiba merosot dan jatuh ke lantai begitu saja. Fachri terkejut melihat perempuan yang sempat mengisi relung hatinya itu, rupanya tinggal di kota yang sama dengan dirinya. Entah Fachri harus merasa senang atau tidak.


"Fachri? Mara?" sapa Chia balik.


Tiba-tiba Mara maju dan memeluk Chia erat. "Lo kemana aja sih? Gue sebel tahu gak lo tinggal pergi gitu aja tanpa kasih kabar?!"


"Kalau gue lagi gak baik-baik aja, lo mau apa?" tanya Mara yang tiba-tiba saja air matanya jatuh ke pipi.


Chia terdiam. Mendengar jawaban Mara yang seperti itu, Chia lantas teringat Andra. Teringat lelaki pengantar makanan yang ternyata adalah Asta. Chia yakin perempuan itu menganggap Asta telah pergi selamanya. Chia yakin Mara tidak tahu bahwa Asta masih hidup dengan menjadi sosok yang lain. Lagi-lagi Chia menjadi orang yang tahu tanpa di sengaja. Lalu ... haruskah Chia mengatakan yang sebenarnya pada perempuan yang sedang memeluknya sambil menangis itu?


Chia dilema sendiri.


∆ ∆ ∆


"Dunia sempit yah. Gue gak nyangka bisa ketemu lo lagi di sini. Di kota yang berbeda," seru Mara sambil memakan sushi pesanannya yang baru saja tersaji di atas meja.


Ya, setelah pertemuan tanpa di sengaja tadi, keempat orang itu memutuskan untuk makan siang bersama di sebuah restoran bergaya Jepang yang letaknya berseberangan dari mall itu. Mereka memilih kursi paling belakang, yang agak jauh dari pengunjung lain atas saran Sun sendiri.


"Lo, tinggal di mana sebenernya selama lo ngilang dan gak ngasih kabar?" lanjut Mara yang masih saja mengoceh sambil memakan makanannya.


Sementara ketiga orang yang sedang menikmati hidangan sesuai dengan pesanan masing-masing bergantian melirik Mara. Chia membuka mulutnya untuk menjawab, "Gue tinggal di sebuah desa yang agak terpencil bareng keluarganya Jun."


"Jun?" Kali ini Fachri yang angkat bicara.


"Ah, gue belum bilang. Jun itu udah kayak kakak sekaligus wali buat gue. Keluarganya lah yang selama ini menyokong hidup gue selama hidup sendiri untuk sekolah di SMA yang sama dengan kalian," jelas Chia setelah mengunyah sesuap udon dari mangkuk di hadapannya.


Mara dan Fachri mengangguk-anggukan kepalanya. Berbeda dengan Sun yang sudah tahu hal itu sejak lama. Lelaki itu tetap tenang sambil mengamati ketiga orang yang sedang makan bersama dengannya itu.


Diam-diam ternyata Mara mencuri pandang pada lelaki yang tidak kalah ganteng dari Riga itu. Ada rasa mengganjal dibenak Mara. Selama ini, Mara tidak tahu siapa saja orang yang ada di lingkup pertemanan Chia. Tapi, melihat Chia dan Sun begitu akrab seperti tadi, Mara yakin kakak dari Riga itu sangat dekat dengan perempuan milik adiknya.

__ADS_1


Ah! Tidak salah 'kan Mara berkata begitu? Nyatanya Chia memang milik Riga. Meski dulu keduanya memilih untuk putus dan berjalan di jalan masing-masing, Mara yakin kedua orang itu masih sama-sama menyimpan perasaan di dalam hatinya yang terdalam.


Namun, kalau dilihat dari kebingungan Riga hari itu, sepertinya Riga tak tahu kalau kakaknya bersama dengan Chia saat ini. Juga, sepertinya Riga belum pernah bertemu dengan Chia. Jika diingat lagi, lelaki itu memang tak pernah menyinggung nama Chia di depannya. Lalu, apakah teman Sun yang dimaksud Riga adalah Chia? Jadi, mereka tinggal bersama kah? Ah, Mara tak ingin berasumsi meski dia sangat penasaran.


"Kenapa sih lo malah bengong?" tegur Fachri yang diam-diam mengambil sebuah sushi dari piring Mara.


"Sushi gue!" seru Mara sebal saat makanan itu telah berakhir di dalam mulut sahabatnya. Sementara Fachri terkekeh-kekeh sambil mengunyah. "Awas loh yah!"


Mata Mara mengincar katsu di dalam mangkuk berisi ramen yang Fachri pesan. Sumpitnya nyaris mencapit daging itu kalau saja sumpit milik Fachri tidak menghadangnya. Chia dan Sun ikut tersenyum melihat dua orang yang sedang beradu sumpit itu.


Lelah, akhirnya Mara memilih berhenti dengan tidak menghasilkan apa-apa. Dia gagal untuk membalaskan dendam sushinya yang dimakan tanpa ijin. Namun, tiba-tiba saja mata Mara terpaku dengan pemandangan di depan matanya.


Rasa mengganjal terus terbesit dibenak Mara ketika melihat kedekatan Sun dan Chia. Bagaimana mereka berinteraksi. Bagaimana cara Sun memandang Chia. Bagaimana keduanya saling bertukar tawa. Mara merasa ada kedekatan lebih dari keduanya.


Membuang rasa penasaran, akhirnya Mara angkat bicara. "Kak Sunshine?" panggil Mara dengan kedua mata yang fokus menatap lelaki itu.


"Ehem." Sun sengaja berdeham keras. "Mmh ... panggil nama guenya gak perlu lengkap. Panggil gue Sun aja."


Lelaki yang duduk di seberang Fachri itu memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan. Melirik pada pengunjung lain kalau-kalau ada yang melihat ke arah mereka. Mara paham akan hal itu. Sun sedang tidak ingin ada orang yang mengenalinya.


"Kak Sun? Gue boleh tanya gak?" Mara ragu-ragu memandang lelaki yang senyumnya secerah cahaya matahari itu.


"Boleh. Kenapa?" tanya Sun balik dengan ramah.


"Kak Sun lagi dalam mode sembunyi 'kan? Kemaren gue ketemu Riga. Katanya dia lagi cari Kak Sun. Kak Sun tinggal di mana sekarang?"


Ya ampun! Kenapa gue jadi orang yang penasaran banget kayak gini sih? Astaga*! Mara berseru di dalam hatinya. Bisa dikata cewek SKSD nih gue. Sok pengen tahu urusan orang*.


Namun, Mara sudah terlanjur maju. Dia tidak bisa mundur. Dalam diam, Mara berharap-harap cemas menunggu jawaban dari lelaki itu.


"Gue tinggal di apartemen bareng Chia," jawab Sun santai, tapi hampir membuat bola mata Mara menggelinding keluar.


"Tinggal bareng, Chia?" Apa jangan-jangan mereka udah nikah? lanjut Mara di dalam hati


Chia memutar kedua bola matanya. "Kak Sun jangan bikin orang lain salah paham dengan jawaban ambigu deh."


Sun terkekeh mendengar protesan Chia.


Kemudian Chia beralih memandang Mara dan Fachri yang duduk di seberang meja. "Kak Sun tinggal di apartement yang sama kayak gue. Dia nginep di apartemennya Jun yang letaknya satu lantai di bawah gue."


Mendengar penjelasan Chia, kedua orang itu bernapas lega tanpa sebab sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Kayaknya kalian berdua deket." Kali ini Fachri yang angkat bicara untuk menyuarakan rasa penasarannya.


Sun mengangguk dengan mantap sambil tersenyum bangga. "Ya, bisa dibilang gitu."


"Kalian punya hubungan lebih kah?" Fachri masih bertanya.


Lagi-lagi senyuman Sun yang terbit lebih dulu sebelum lelaki itu bicara. Tiba-tiba dia merangkul bahu Chia dengan tangan kanannya. "Coba tebak, menurut kalian, hubungan diantara gue sama Chia ini apa?"


Sontak Mara dan Fachri saling beradu pandang. Entah apa yang keduanya pikirkan. Yang jelas, mereka punya kesimpulan sendiri akan hal yang terlihat di depan mata keduanya saat ini.


∆ ∆ ∆

__ADS_1


segini dulu gengs 🤧🤧


nanti dilanjut lagi ❤️❤️❤️


__ADS_2