Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 32 : Unfair (2)


__ADS_3

"Tau gak? Lo itu cowok paling gila yang pernah gue temuin? Sinting! Gak waras! Brengsek! Psikopat! Banci sialan! LO MATI AJA SANA!" Mara mulai memaki tanpa henti.


Ia membuka mulutnya kembali, memotong sebuah perkataan yang hampir keluar dari mulut lelaki di hadapannya.


"Kalo akhirnya kayak gini, sejak awal gue gak perlu sayang sama lo. Dasar brengsek!" Mara terisak. Ia tak tahu kalau menyuarakan isi hatinya sekeras sekarang ini, rupanya memancing air matanya untuk keluar makin deras.


Mara benci hal itu. Ia benci menangis di depan Asta yang masih menatap penuh arti ke arahnya. Ia kesal karena terlihat lemah saat ini. Buru-buru ia mengusap air matanya, yang pada kenyataannya, sama sekali tak mau berhenti keluar.


Mara menutupi wajahnya. Tubuhnya bergetar. Hatinya pedih. Sungguh! Bagaimana bisa lelaki menyebalkan itu mengoyak hatinya hingga seperti ini? Ah! Ini terlalu menyakitkan!


"Kalo gue gak sayang sama lo, mungkin sejak awal, saat lo ngerusak hidup gue, gue udah ninggalin lo. Dan kenapa lo masih gak sadar juga soal ...."


Mara belum sempat melanjutkan perkataannya, ia sudah merasakan rasa hangat menjalar di bibirnya. Ya! Asta menciumnya. Tiba-tiba!


Mara mengerjap saat kesadarannya kembali. Ia mendorong tubuh lelaki itu sekuat tenaga untuk menjauh. Lagi pula untuk apa Asta menciumnya jika hanya berakhir dengan rasa sesak yang menyelimuti dada Mara?


"Ngapain sih lo?" Mara hampir menjerit. Melotot ke arah Asta yang tubuhnya berhasil didorong menjauh darinya. Namun, bukannya Mara mendapat jawaban, lelaki itu justru menciumnya lagi. Lebih lama.


Dengan tangan Mara yang digenggam Asta. Tak dibiarkan memberontak sedikitpun. Dan Mara hanya bisa merasakan air matanya yang terus-terusan mengalir serta rasa hangat di bibirnya.


"Ini salah lo! Suruh siapa lo bilang sayang sama gue? Jadi gue berhak nyium lo!" ujar Asta saat Mara mulai tenang.


Lelaki itu menjauhkan tubuhnya dari Mara sambil tersenyum penuh arti. Tatapannya berubah. Kembali seperti dulu. Dingin. Datar. Sombong. Dan mengintimidasi.


"Mulai sekarang gue gak akan pernah ngelepas lo. Bahkan sampai lo lelah dan gak pengen lagi sama gue, gue bakal tetep ngejar lo."

__ADS_1


Mara terpaku. Kali ini setiap perkataan lelaki itu langsung dengan cepat dicerna di kepalanya. Ia menangis sambil tertawa.


"Sikap gila lo kumat lagi," ejeknya sambil menutupi wajah dan menangis sekeras-kerasnya. Rasa sakit dan rasa bahagia luar biasa, bercampur aduk di dadanya.


Meski Mara tak melihatnya. Ia tahu Asta tengah memeluknya. Pelukan hangat yang membuat Mara tersipu sekaligus senang. Mara tersenyum disela tangis harunya.


● ● ●


Chia melebarkan senyumnya sambil berjalan mendekati Riga. Ia berdiri di sebelah lelaki itu. Matanya mulai berlayar memandangi arus sungai yang mengalir di bawahnya.


Sebenarnya itu hanya bentuk pengalihannya saja. Chia tak berani menatap mata Riga terlalu lama. Bisa-bisa jantungnya tak bisa bertahan dan tak mau berdetak kembali seperti dulu.


"Ada apa?" Riga sepertinya langsung pada topik pembicaraan. Ya! Memang karena alasan itulah Chia meminta Riga untuk bertemu mendadak seperti ini. Ada hal yang ingin dibicarakan Chia padanya.


Namun, Chia justru merasa kehilangan kata-katanya. Padahal ia sempat latihan di rumah sebelum bertemu dengan lelaki itu. Ya ampun! Sebegitukah sulitnya mengungkapkan sesuatu? Chia mendengus.


Chia mengembuskan napas berat sesaat sebelum menyuarakan pemikirannya. Menoleh, dipandangnya Riga yang tatapannya telah berubah menjadi teduh itu. Tidak sedatar seperti biasa. Menelah ludah Chia memantapkan hati.


"Ada hal yang harus gue kasih tau sama lo," katanya dengan pelan. Ia tahu Riga makin tertarik dan menunggu perkataan selanjutnya. Tidak tahukah jika Chia merasa berat untuk mengatakannya?


"Perasaan gue yang gak pernah gue ungkapin sama lo meski lo selalu bertanya berkali-kali. Dulu. Dan gue tau lo lupa soal hal itu." Chia tersenyum tipis sesaat sebelum melanjutkan perkataannya.


"Tapi gue udah janji sama lo. Meski pada akhirnya, sampai lo hilang ingatan kayak gini, gue gak pernah berani ngungkapin perasaan gue sama lo ...." Chia menggantung perkataannya lagi. Ah! Ia tahu pipinya mulai basah. Dan bibirnya bergetar. "... Gue sayang sama lo, Utaraka Meteoriga."


Akhirnya. Kata-kata yang terus memenuhi kepala Chia telah berhasil diungkapkannya. Namun rasa sesak justru malah makin hinggap di dada Chia. Dengan mata yang basah, ia menatap serius ke dalam bola mata milik Riga.

__ADS_1


"Lo gak perlu jawab apapun soal perkataan gue barusan," sergah Chia saat ia melihat mulut Riga terbuka untuk mengatakan sesuatu.


"Bukan itu inti yang mau gue omongin sama lo." Chia terdiam sejenak. Sungguh air matanya malah makin deras mengalir. Dan ia tahu lelaki di hadapannya semakin terlihat kebingungan.


"Gue pengen hubungan kita berakhir sampai di sini aja, Riga." Dengan nada lirih, akhirnya Chia memberitahukan keputusannya. Meski ia sendiri tak yakin apakah keputusannya ini tepat atau tidak.


Satu hal yang ia tahu, dalam keterdiaman Riga yang terlihat syok mendengar perkataannya barusan, Chia melihat lelaki itu menangis. Dan itu membuat hati Chia semakin sakit. Perih.


Namun Chia tak bisa kembali. Ia harus tetap kuat dengan keputusan yang telah dipilihnya. Meski sejujurnya ia sendiri hampir terpuruk karena keputusan bodohnya ini.


Dengan kaki bergetar, Chia berjalan mendekati Riga. "Ini keputusan terbaik untuk kita berdua," lirihnya disela tangis sambil mengusap air mata Riga yang masih mengalir di wajah tampannya.


"Kenapa lo kayak gini," protes Riga dengan suara setengah berbisik.


Deg! Ah! Kenapa Riga malah meminta alasannya? Bahkan Chia sendiri tak yakin dengan alasannya yang dibuat secara sepihak itu. Dan ia tahu Riga mungkin tak akan pernah menerima alasannya. "Kita berdua sama-sama gak pengen saling menyakiti. Dan ini yang terbaik."


"Ini gak adil."


Chia mengangguk pelan. Sambil mendekatkan wajahnya ke arah Riga. "Gue tau," katanya sebelum ia mencium bibir Riga selama dua detik. Dan Riga terlihat tak melakukan protes sama sekali.


"Gue sayang sama lo. Dan selamat tinggal, Riga." Chia mundur dengan air mata yang makin deras mengalir. Diamatinya sejenak wajah Riga. Ah! Mungkin ini terakhir kali ia melihatnya sedekat ini. Dan Chia tahu, ia pasti akan sangat merindukan wajah tampan dengan tatapan datarnya itu.


Sebelum Chia benar-benar runtuh di hadapan Riga, ia berbalik badan. Chia berlari sekuat tenaga meninggalkan lelaki itu. Dan inilah alasannya mengapa Chia meminta Riga bertemu dengannya di jembatan dekat kompleks rumah lelaki itu. Ia bisa dengan mudah kabur. Meski ia sendiri tak yakin apakah ia bisa lolos jika lelaki itu mengejarnya.


Ah sudahlah! Chia tak ingin memikirkannya. Ia hanya ingin segera pulang. Menangis di kamarnya. Meratapi semua kebodohannya.

__ADS_1


● ● ●


__ADS_2