Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Empat Puluh Tujuh


__ADS_3

"Gimana?"


Chia menggeleng sekali lagi. Kemudian menatap layar ponselnya. Lagi-lagi panggilan Chia berakhir dengan jawaban dari operator. Jun belum mengangkat panggilan darinya padahal tadi itu adalah yang kesebelas kali.


"Masih belum ada kabar dari Jun." Chia menjawab pertanyaan dari Asta.


Lelaki itu menoleh ke arah jam di tangannya. Chia mengikuti. Pukul 11 malam. Sudah terlalu larut bagi Chia untuk berada di luar. Biasanya jam-jam begini Chia sudah terlelap di atas kasur atau mengetik sesuatu di layar laptopnya untuk membunuh waktu. Tapi kali ini, Chia melakukannya dengan menunggu di restoran milik Raja. Sengaja tetap ada di sana hingga jam tutup restoran.


Sebenarnya restoran itu sudah tutup sejak jam 10 tadi. Namun, para kru juga Asta harus melakukan bersih-bersih seluruh ruangan sebelum pulang ke rumah masing-masing. Makanya Chia memilih untuk tetap tinggal dan membantu orang-orang itu.


Hampir 15 menit Chia masih duduk di salah satu kursi. Tangannya sedang mengetikkan pesan. Mencoba untuk menghubungi Jun sekali lagi. Namun, sudah beberapa kali Chia mengirim pesan maupun chat, Jun tetap tak menjawab. Lelaki itu bak hilang ditelan bumi. Tanpa jejak. Chia mencelos. Kecewa.


"Jadi gimana nih?" tanya Asta sekali lagi. Lelaki itu duduk di kursi lain dengan kedua kaki yang terangkat di atas meja.


Ck! Gestur yang tidak pernah berubah. Meski keadaan kaya atau seperti sekarang, Asta tetap terlihat angkuh jika duduk dengan pose seperti itu. Benar-benar seperti Asta yang asli. Tapi, minus wajahnya.


Chia bolak-balik melemparkan tatapan antara Asta dengan ponselnya. Ada rasa keraguan ketika Chia mencoba mengutarakan pendapat. Dia mengendikan bahu. Lalu menghela napas pasrah. "Gimana lagi, gue bakal pulang sendiri aja naik kendaraan umum."


"Gak!"


Tuh 'kan, pernyataan Chia langsung ditentang Asta. Belum juga Chia mewujudkan perkataannya. Ah, bisa-bisa dia terus tertahan di dalam restoran bersama dengan Asta. Itu juga kalau dia rela menunggu Chia. Tapi dilihat dari wajah letihnya, Chia yakin sebentar lagi Asta akan memilih untuk pulang.


"Mau gimana lagi? Jun gak bisa dihubungin. Gak mungkin gue nunggu terus di sini apalagi sampe nginep."


"Ya udah," jawab Asta enteng. Dia menurunkan salah satu kakinya. Kemudian kaki lainnya menyusul.


"Ya udah apa?"


"Ya udah ... berarti lo bareng gue."


"Hah?" Chia melongo. Kedua matanya mengerjap sambil mengamati Asta yang tengah bersiap diri. Lalu bangun dan berjalan mendekat ke arah Chia.


"Lo gak mau 'kan nungguin Jun yang gak ada kabarnya terus?" tanya Asta dengan tatapan menusuk dan sedingin es.

__ADS_1


Asta membuat Chia merasa ciut dan terlihat kecil ketika saling berhadapan dengan lelaki itu. Aura mengintimidasi dari Asta memang sangat kuat terpancar. Siapa pun akan dapat merasakannya ketika berada di dalam radius yang begitu dekat dengan lelaki itu.


Chia akhirnya mengangguk lemah. Mulutnya terbuka. Bersiap untuk mengatakan sesuatu. Namun, Asta buru-buru memotong.


"Gue gak ngijinin lo naik kendaraan umum. Entah itu bus, angkot, taxi biasa atau taxi dan ojek online. Gak! Gue gak ngijinin." Asta berseru. "Gue gak mau digorok Jun setelah hari ini dengan alasan apa pun. Sekarang udah hampir tengah malem. Jadi, please. Nurut aja dan pulang sama gue."


Alis Chia terangkat satu. Baru tahu kalau orang seperti Asta ternyata memiliki rasa ketakutan juga. Apalagi terhadap Jun yang kurang lebih sama-sama punya sifat dingin dan kaku. Lucu. Chia mengulum senyum.


"Gue bisa aja pulang bareng lo. Tapi, motor lo gimana?" tanya Chia sambil sesekali melirik motor yang biasa dipakai Asta untuk mengirim pesanan yang terparkir di luar sana. Di halaman parkiran.


Asta mengikuti kemana arah mata Chia melirik dan mengangguk. Seperti paham maksud dari Chia. Lelaki itu tersenyum tipis kemudian. "Itu bukan motor gue. Itu motor cuma buat kerja. Motor gue yang asli ada di rumah. Tapi gue jarang pake. Repot."


Mendengar penjelasan Asta, pikiran Chia tiba-tiba melayang. Dia teringat lagi dengan motor besar yang pernah dilihatnya dulu. Itu, saat Chia dan Asta pertama kali bertemu di depan kantor milik Jun. "Oh motor yang itu." Chia mengangguk-anggukan kepala.


"Terus kita pake apa?" tanya Chia bingung.


"Gampang. Lo tunggu di sini aja. Gue nyamperin Raja dulu buat minjem motornya," perintah Asta sambil berjalan meninggalkan Chia sendirian. Sementara Chia, sambil duduk, dia hanya memandang punggung Asta yang kian menjauh.


Begitu sampai di depan ruangan kerja Raja, Asta segera mengetuk pintunya. "Lo gak lagi tidur 'kan?" tanya Asta sambil memutar kenop pintu.


Raja yang sedang duduk di balik komputer segera melepaskan kacamatanya. "Kenapa? Tumben lo mau nyapa gue di ruangan ini lagi," canda Raja.


Memang, harus Asta akui, semenjak dua bulan lalu dia jarang datang ke ruangan kerja bosnya. Paling sesekali saja. Itu pun hanya untuk mengambil uang gajian. Alasannya, karena Asta sibuk meneror Jun hampir setiap hari. "Gak usah lebay deh. Bukannya lo malah seneng gue gak ke sini terus?"


"Iya emang. Lo ganggu gue banget. Sana keluar," canda Raja sambil tertawa. Lelaki berbadan besar dengan brewok di sekitar dagunya itu menopang dagunya dengan kepalan tangan sambil tersenyum ke arah Asta. "Gue salut sama lo."


"Gue gak nyangka lo gigih juga. Akhirnya lo bisa naklukin hati seorang Jun, si manusia kanebo itu. Dan gue cukup puas dengan langkah yang kalian ambil. Meski tetep aja bakal ada resiko kalau si Gendut diem-diem cari tahu soal kalian," lanjut Raja sambil menunjukkan sebuah artikel bertuliskan nama Darmawan Adhyaksa di sana, dan membuat Asta paham kemana arah pembicaraan ini menuju. "Jadi Jun sepakat buat bantu sampai akhir 'kan? Dia mau nurutin permintaan lo?"


Asta terdiam. Menjatuhkan pantatnya di atas sofa panjang yang biasa dipakai Raja untuk tidur. Matanya menatap lekat-lekat ke arah lelaki itu. "Jun bilang bakal bantu. Tapi gue harus siap dengan segala resikonya. Darmawan bukan orang yang mudah. Gue harus mengorbankan banyak hal untuk mencapai misi gue."


Raja mengangguk mengerti. "Tapi lo udah siap 'kan?"


Harusnya, mengucapkan kata siap adalah hal mudah. Satu kalimat yang bisa meluncur dengan bebas dari mulut siapa saja. Tapi tidak dengan Asta. Mulutnya terkatup rapat tiba-tiba. Dia meragu sesaat. "Gue siap, dan harus siap!"

__ADS_1


"Oke! Gue cuma bisa bilang good luck buat lo, dan mendukung lo dari belakang. Yang perlu lo inget, apa pun dan kapan pun lo butuh bantuan gue, gue siap bantu."


"Thanks, Raja."


Raja mengangguk sekali lagi. "Oh iya!" seru lelaki itu sambil mengambil sebuah kalender. Kemudian mengambil spidol merah dan mulai menggambar lingkaran kecil di atas beberapa angka. "Jangan lupa gaji lo gue potong, karena lo mangkir selama beberapa hari."


"Iya. Lo tinggal catet aja," jawab Asta.


"Kostan lo juga. Udah seminggu lo nunggak. Hampir seminggu juga tempat itu gak ditinggalin. Hmm ... enaknya, gue kasih denda dan naikin harga kali yah?" kekeh Raja sambil mengelus-elus jenggotnya.


"Mau jadi rentenir lo?" sebal Asta sambil bangkit berdiri dan langsung mengundang tawa Raja lagi. "Ngomong-ngomong, di mana kunci motor lo?"


Mata Raja memicing. "Buat apa?"


Ck! Hal yang paling malas dilakukan Asta adalah menjelaskan sesuatu. Inginnya dia segera mendapatkan kunci dan buru-buru pergi. Sebab, memberikan penjelasan pada seorang Raja pasti akan berujung menjadi panjang. Asta bukan orang yang pintar berbasa-basi atau lelaki yang senang mengobrol lama-lama. Makanya, memberikan penjelasan termasuk hal yang melelahkan baginya.


"Gue mau nganterin Chia,"jawab Asta dengan malas.


"Chia? Siapa? Oh, perempuan yang tadi." Raja manggut-manggut. "Pacar lo?"


lihat? Benar bukan? Raja pasti akan menanyakan lagi dan lagi yang akhirnya Asta harus mengobrol dengan lelaki itu terus menerus. "Bukan."


"Yang bener lo? Cantik padahal. Manis. Buat gue aja lah kalau lo gak mau." Raja memandang Asta dengan mata berbinar. Gigi-giginya terus tersungging hingga Asta dapat melihat dengan jelas meski jarak mereka berjauhan.


"Gak usah aneh-aneh. Dia punya temen gue. Buruan, gue gak bisa lama-lama. Chia udah ditungguin. Mana kunci?" tanya Asta dengan tangan terulur. Menengadah ke arah Raja dengan raut wajah serius.


Melihat ekspresi Asta yang sepertinya tak ingin bercanda lagi, Raja pun mengambil kunci dari laci mejanya. Kemudian melempar ke arah Asta. "Jagain si Cantiknya gue. Kalau sampai lecet, awas lo," canda Raja dengan jari terkepal. Siap memberi tinju.


Asta hanya menggeleng. Heran dengan tingkah laku salah satu teman Jun itu. Setelah mengucapkan terima kasih, Asta mengangkat kakinya dari ruangan kerja Raja. Buru-buru Asta menuruni tangga. Sambil sesekali melirik jam di tangan, Asta berjalan cepat-cepat menuju tempat Chia berada. Namun, begitu sampai, Asta tak menemukan Chia di sana. Perempuan itu mendadak hilang. Entah kemana.


∆ ∆ ∆


chia kemana yah? 🤧

__ADS_1


__ADS_2