
"Sup ayam gue bisa jadi gosong kalau lo masaknya sambil ngelamun," komentar Asta yang diam-diam memerhatikan gerak-gerik Chia di dapur.
Perempuan itu terlihat diam merenung dengan tangan yang mengaduk-aduk sup di dalam panci. Sudah hampir 15 menit Asta melihat Chia seperti itu. Berdiri mematung layaknya patung manekin di etalase toko. Bedanya, manekin yang tengah Asta lihat saat ini dapat menggerakkan tangannya.
"Lo masih kepikiran soal Riga?" tanya Asta lagi.
Mata Asta masih menatap Chia yang berdiri membelakanginya. Asta yang merebahkan diri di atas sofa panjang depan televisi itu membetulkan posisi berbaringnya. Sejak kembali ke dalam apartemen Jun, perempuan yang tengah memasak itu menyuruh Asta untuk tiduran saja. Bahkan meski Asta haus, Chia akan rela mengambilkan segelas air untuknya.
Katanya, "Lo mendingan nurut dan cepet sembuh, atau lo tetep jalan-jalan terus dan tumbang lagi?"
Asta tersenyum tipis saat mengingat lagi ancaman Chia tadi. Namun, karena rasa inginnya untuk segera sembuh, Asta memutuskan untuk menurut saja. Toh tidak buruk juga. Asta tidak perlu repot sendiri.
Chia mematikan kompor. Mengambil mangkuk kecil dan mengisinya dengan sup ayam yang baru masak. Chia mengambil mangkuk kecil lain dan menaruh nasi di dalamnya. Kemudian membawa dua mangkuk itu ke ruang TV. Tempat Asta sedang berbaring dengan mata yang masih memandang ke arah Chia.
"Dimakan dulu supnya." Chia menaruh mangkuk-mangkuk itu di atas meja. Lalu dia menoleh ke arah Asta yang telah duduk di sofa.
"Lo ... baik-baik aja?" tanya Asta yang tengah memeluk bantal kecil. Matanya tak lepas memerhatikan Chia. Perempuan itu tampak jauh lebih pendiam dari biasanya. "Apa tindakan gue tadi salah? Apa Riga jadi salah paham dan mikir kita ada sesuatu?"
Chia menyunggingkan senyum kecil. "Kenapa lo bisa kepikiran gitu?"
"Saat lo lagi meracik sayuran, sesekali hape lo bunyi, kayaknya sih pesan gitu. Terus lo lihat pesan-pesan itu dengan wajah minta disiram pake air jeruk nipis. Makanya gue menyimpulkan kayak gitu."
Chia menaikkan salah satu alisnya. "Jeruk nipis?"
Asta mengambil mangkuk yang berisi nasi. Lalu menuangkan sedikit sup ayam ke dalam mangkuk itu. Iya. Muka lo kurang seger aja, makanya harus disiram pake air jeruk nipis."
Chia tertawa. Namun Asta tahu, tawa Chia tidak sungguh-sungguh tawa yabg berasal dari dalam hati. Perempuan itu sedang menutupi perasaan yang sebenarnya.
"Apa pesan-pesan itu dari Riga? Apa pesan-pesan itu mengganggu pikiran lo?"
Chia berhenti tertawa. Dia menggeleng."Bukan dari Riga kok." Chia jongkok dengan kedua mata memandang Asta yang sedang meniup sup di atas sendok. "Lo sendiri, sebenernya apa yang terjadi sampai lo jadi kayak gini? Apa yang membuat lo kepikiran dan merasa tertekan?"
Asta sedang mengunyah makanannya. Jadi dia hanya mengerutkan dahi untuk menjawab pertanyaan Chia barusan.
__ADS_1
"Gue pengen tahu apa yang terjadi sama lo sampai lo berubah wajah kayak gini. Juga kaki lo." Chia menatap sendu ke arah kaki Asta. "Gue juga pengen tahu siapa itu Lala dan Darmawan Adhyaksa. Dalam tidur, lo terus mengigau nama dua orang itu."
Asta tertegun. Pupil matanya membesar sebentar. Dia menatap Chia takut-takut. "Apa yang gue igauin pas tidur? Apa aja yang gue omongin?"
Chia mengalihkan pandangan. Tampak berpikir. "Mmh ... lo gak ngomong apa-apa sih. Cuma sebutin nama dua orang itu. Tapi sesekali lo seperti orang yang ketakutan. Kadang lo kayak orang marah. Juga, lo sempet mengeluarkan air mata. Gue ingin tahu apa yang membuat lo seperti itu? Apa lo punya rasa trauma?"
Asta dan Chia, keduanya saling menatap dalam kebisuan. Chia yang mencoba menebak-nebak, sedangkan Asta tak ingin ditebak dan sampai ketahuan. "Itu cuma mimpi ketemu setan. Gue selalu kayak gitu kok. Emangnya lo gak pernah?" tanya Asta sambil tertawa kecil.
Bohong! Ya Chia tahu Asta berbohong. Namun, dia tak ingin bertanya lagi dan membuat Asta tak nyaman. "Gue bakal nunggu sampai lo mau cerita yang sebenernya."
Chia bangkit berdiri. Lalu melangkah ke dapur. Melepaskan celemek motif lumba-lumba yang tadi dipakainya. Lalu kembali menoleh ke arah Asta yang masih memakan sup ayam buatannya. "Jangan luoa setelah makan lo minum obatnya. Gue taruh di atas nakas kamar lo. Gue harus pergi dulu. Gue mau nganterin makanan buat seseorang."
Asta mengangguk. "Siapa?"
Pertanyaan Asta itu hanya dijawab senyuman oleh Chia sebelum perempuan itu pergi.
Asta menghela napas lalu kembali fokus memakan supnya. Dalam lima menit, Asta telah menghabiskan makanan di dalam mangkuk. Dia berjalan ke dalam kamar untuk meminum obat. Pandangannya tiba-tiba teralih pada ponsel yang tergeletak di atas nakas.
Asta mengambil ponselnya. Benda pipih itu tidak menyala ketika Asta menekan sebuah tombol. Ah, ya ... Asta lupa untuk mengisi baterai. Matanya menengok ke kanan dan kiri. Mencari kabel dan Asta menemukannya tergeletak di dalam laci nakas.
"Kenapa?" tanya Asta ketika tiba-tiba sebuah panggilan telepon masuk atas nama Raja.
"Lo dimana?" tanya lelaki itu di seberang sana. "Lo udah gak pulang dari dua hari. Lo juga bolos kerja."
Asta mendesah pelan. "Gue lagi di apartemen Jun. Gue ijin untuk gak masuk kerja dulu."
Ya, Raja adalah atasan Asta. Dia pemilik restoran tempat Asta bekerja. Dia juga lelaki yang memberikan Asta tempat tinggal di sebuah kos-kosan yang letaknya cukup jauh dari restoran.
"Berapa lama?" tanya Raja lagi.
Asta termenung. Pertanyaan 'berapa lama?' adalah pertanyaan yang sering Asta tanyakan pada dirinya sendiri. Asta hampir bosan mendengar dua kata itu. Berapa lama lagi dia bersembunyi? Berapa lama lagi dia akan menjadi orang tak berguna? Berapa lama lagi dia akan berpura-pura di depan Mara? Dan berapa lama-berapa lama lainnya yang Asta sendiri tak bisa menjawabnya.
Mengingat Mara, Asta tersenyum kecut. Kemarin dia pergi tanpa pamit pada perempuan itu dari apartemen Fachri. Asta yakin Mara pasti kesal padanya. Mara memang seperti itu. Padahal Asta sangat senang ketika membuka mata dan menemukan wajah yang dirindukannya itu menatap khawatir padanya.
__ADS_1
Ah! Kenapa rasa rindu membuatnya sesak seperti ini?
Andai, pertemuan kembali dengan Mara tidak dalam kondisi sekarang, Asta pasti akan membuat perempuan itu kembali berada di sisinya. Mungkin Asta tak akan pernah melepaskan Mara lagi. Mungkin, saat ini Asta telah melamar secara resmi dan menikahi perempuan itu, tapi, ah sudahlah!
"Woi! Gue nanya dikacangin," protes Raja.
"Gak tau," jawab Asta akhirnya. "Sampai waktu yang gak ditentuin, gue gak akan pulang dulu."
"Jangan bilang lo masih mau lanjutin niat buat balas dendam?!"
Asta mendengus. Buru-buru memutuskan panggilan. Malas berdebat.
∆ ∆ ∆
"Mas Andra kemana yah?" tanya Selo kecewa sambil menerima kotak makanan yang tadi di pesannya.
"Iya, kemana sih Mas Andra, Mas? Saya 'kan kangen jadinya. Tiga hari order, yang datang Masnya lagi, Masnya lagi." Amel menambahkan dengan bibir yang dimajukan beberapa sentimeter ke depan.
Mara dan Gita hanya cekikikan di belakang begitu melihat wajah lelaki pengantar makanan itu berubah masam.
"Dibilang Mas Andranya cuti. Lagi ijin gak masuk. Saya juga gak tahu alasannya kenapa," kata lelaki bernama Soleh itu sambil menahan dongkol.
"Yah ...." Amel berseru kecewa. "Cari tahu kek Mas. Saya udah bosen lihat wajah Masnya. Saya pengen lihat yang agak ganteng dikit. Biar mata jadi lebih fresh."
"Iya nih. Saya kangen Mas Andra," sahut Selo dan membuat Soleh mengelus dada.
Gita maju untuk menengahi. Sambil memberikan uang pas, dia meminta Soleh untuk segera pergi dari pada berlama-lama dan makan hati karena komentar pelanggan-pelanggannya.
Mara yang sejak tadi sudah lebih dulu memakan makanan pesanannya mendadak termenung. Mara teringat seseorang yang dirawatnya tiga hari lalu. Lelaki yang sangat menyebalkan, karena pergi begitu saja dari apartemen sahabatnya tanpa pamit. Ya, siapa lagi kalau bukan si pengantar makanan yang dicari kedua temannya. Andra.
Mara pikir lelaki itu sudah sembuh karena berani kabur. Nyatanya, lelaki bernama Andra itu justru belum menampakkan diri. Padahal Mara dan ketiga temannya sengaja memesan makanan selama tiga hari berturut-turut.
Jangan-jangan masih sakit lagi? pikir Mara. Ah! Sudahlah. Mara tak ingin peduli. Siapa juga yang mau peduli dengan lelaki menyebalkan itu?
__ADS_1
∆ ∆ ∆