Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 18 : U Can’t Leave Me (1)


__ADS_3

Brakk!!


Suara pintu yang dibuka dengan paksa, membuat seluruh penghuni di ruangan rapat guru beralih menatap Mara yang berdiri di depan pintu.


"Siapa murid perempuan itu?" pekik salah satu guru yang telah memelototi Mara dari balik kaca matanya.


"Gak sopan! Dari kelas mana kamu?"


"Siapa wali kelasmu?"


Mara memutar kedua bola matanya sambil mendesis ketika mendengar suara ribut guru-guru di dalam ruangan. Ia tahu kehadirannya itu akan langsung menjadi pusat perhatian. Namun ia tak peduli.


Mara justru masih berdiri di depan pintu, sambil memelototi salah satu murid yang sedang duduk dan menundukkan kepalanya. Mara tahu siswa laki-laki itu tak akan berani menatap dirinya yang sedang marah saat ini.


"Eh Fachri bego! Sini lo!" Mara berkata dengan suara yang sengaja dikeraskannya. Ia ingin membuat seluruh penghuni sekolah mendengarnya. Biar saja. Biar salah satu teman di sekolahnya itu malu dengan perbuatannya sendiri.


"Heh kamu! Siapa nama kamu? Kamu kelas berapa?" Salah satu guru hendak berdiri dan menghampiri Mara. Wajahnya terlihat seperti kepiting rebus. Ah, sudah pasti ia marah besar.


"Tanya aja sama siswa Bapak yang duduk manis di sana kayak maling habis digebukin!" Mara menunjuk siswa laki-laki dengan gerakan kepalanya. Tentu saja tindakannya itu telah melebihi batas kesopanan. Alhasil guru-guru di dalam ruangan rapat itu berdiri dan menghampiri Mara.


"Apa sih, Pak?" Mara meronta ketika guru-guru itu menyuruhnya keluar dari ruangan. Namun, bukan Mara namanya jika dia mudah sekali menyerah. Sifat keras kepalanya tak akan kalah oleh siapa pun. Meski hanya satu orang yang berhasil meluluhkan kekeras-kepalaannya itu.


"Udah-udah, Pak! Bu! Saya kenal kok cewek ini," ujar seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul dari belakang guru-guru itu. Laki-laki itu berdiri di tengah. Berusaha melerai keributan yang sedang terjadi.


Mara mendengus sambil mencibir laki-laki yang berusaha menjadi pahlawannya. Ia kesal dan memelototi laki-laki itu. Bukankah keributan ini tak akan terjadi, jika bukan karena dia?


"Bapak-Ibu, ini anak udah kayak cacing kepanasan. Kalo mulutnya gak di sumpel, bakal bikin ribut terus di sini." Laki-laki itu masih berkata. Sementara Mara hanya memelototi laki-laki itu dari belakang.


Awas aja lo! Setelah keluar dari ruangan ini, abis lo! Mara berkata di dalam hatinya.

__ADS_1


"Biar saya aja yang tanganin. Bapak dan Ibu guru sekalian terusin rapatnya sama orang tua saya aja."


Mara dan laki-laki itu melirik pria paruh baya yang berdiri di paling belakang. Wajah kurusnya terlihat kaku, apalagi ditambah tatapan dinginnya, Mara ingin sekali mencolok matanya jika pria itu bukan ayah dari sahabatnya.


"Ya udah, kamu bawa dia keluar! Sekali lagi bikin keributan, Bapak hukum kalian berdua!" Pak Setyo, wali kelas Mara angkat bicara.


Tiba-tiba tangan Mara ditarik laki-laki yang berdiri di depannya, setelah laki-laki itu mengucapkan permisi. Mara sendiri hanya pasrah ketika tubuhnya dipaksa meninggalkan ruangan.


Mara menghentikan langkahnya ketika ia dan laki-laki itu telah berada di koridor sekolah. Mara melepaskan tangannya dengan paksa dari genggaman laki-laki itu.


Sementara laki-laki yang masih dipelototinya tidak protes sama sekali. Bahkan kini keadaan menjadi terbalik. Tangan laki-laki itu telah berada di cengkeraman Mara. Dengan langkah cepat, Mara membawa laki-laki itu ke dalam ruang laboratorium. Kebetulan ruangan itu yang sedang kosong dan paling dekat dengan posisinya sekarang.


Mara menutup pintu setelah keduanya berada di dalam ruang laboratorium. Setelah mengunci pintu rapat-rapat, Mara berbalik badan dan menatap laki-laki di hadapannya dengan tajam.


Sementara laki-laki itu hanya memasang ekspresi wajah tenang dan santai. Ia berkata, "Seneng banget lo bikin keribut ..."


Berlebihan memang, hingga Mara menamparnya empat kali. Namun, ini adalah cara Mara mengekspresikan perasaannya saat ini.


"Brengsek lo, Fachri!" umpat Mara setengah menjerit. Ah, perasaan kesalnya tak bisa dibendung lagi.


"Brengsek lo nipu gue! Kayak gini lo sebut sahabat? Gila yah lo!" Mara menahan air matanya sebisa mungkin.


Tidak. Ia tak akan menangis. Ia sudah mengikrarkan diri saat penutupan kelas duanya untuk tidak menangis. Tak mungkin bukan ia harus mengingkarinya?


"Nipu gimana, Ra?" Fachri bicara dengan nada polos, yang membuat Mara semakin gemas padanya.


"Dua minggu ngilang gak ada kabar! Lo lupa? Lo bilang apa waktu itu sama gue, hah? Lo bilang pergi ke luar negeri buat urusan keluarga. Ke luar negeri dari Hongkong!"


Mara melipat kedua lengannya di depan dada. Matanya masih menyalak galak. Seperti pemburu yang sedang mengintai mangsanya. Jika laki-laki di hadapannya itu salah sedikit dalam berkata, Mara pasti akan menerkamnya.

__ADS_1


"Gue emang pergi keluar negeri kok." Laki-laki itu mengendikan bahunya.


"Nih gue bawain lo oleh-oleh," sambungnya sambil menyodorkan satu buah bungkusan berwarna merah muda.


Mara melirik sebentar bungkusan itu. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya merebut bungkusan itu dan melemparkannya sekuat tenaga ke lantai.


"Gue gak butuh oleh-oleh dari lo, Fachri sialan!"


"Ya udah kalo lo gak mau. Mau gue kasihin ke Chia aja." Laki-laki itu masih berkata dengan santai. Ia justru membungkukkan badannya hendak mengambil bungkusan yang tadi dilemparkan Mara.


Mara yang melihat itu, langsung menendang kantung kertas yang tergeletak di lantai sejauh mungkin, ketika ujung jari laki-laki itu baru menyentuhnya.


"Jangan anggap gue bego, Fachri! Mana ada orang yang keluar negeri babak belur kayak gitu, dan berakhir di ruang guru? Hah? Gue emang gak sepinter Riga atau Chia, cewek yang lo suka itu! Tapi gue juga gak bego! Sialan lo! Dasar tukang tipu!"


"Lo kenapa sih? Ngomong panjang lebar gak jelas gitu?" Lelaki itu mengulurkan tangannya dan mengelus puncak kepala Mara dengan lembut.


Buru-buru Mara menyingkirkan tangan laki-laki itu, lalu menendang kakinya sekuat tenaga.


"Lo tanya gue kenapa?" Mara menjeda perkataannya, ketika melihat laki-laki itu mengangguk pelan. Menyebalkan memang, karena laki-laki itu bersikap seolah tak tahu apa-apa.


"Ngobrol tuh sama tengkorak di pojok ruangan sana! Tanyain kenapa gue kayak gini. Kali aja dia tau semua jawaban atas pertanyaan lo! Brengsek!"


Mara melangkah melewati laki-laki itu. Ia membuka kunci pintu dengan gerakan cepat. Setelah keluar, ia membanting pintu sekuat tenaga dan menutupnya rapat-rapat.


Sebelum pergi, Mara menatap pintu ruangan laboratorium sejenak dengan matanya yang telah berkaca-kaca.


"Yang harusnya nanya tuh gue, bukan lo! Lo yang kenapa bisa sampe babak belur kayak gitu? Sialan lo Fachri! Lo bikin gue ingkarin janji lagi," gumam Mara pelan sambil menyeka air matanya yang terus mengalir.


● ● ●

__ADS_1


__ADS_2