
Asta berdecak. Kesal sendiri karena Mara tak segera menerima bantuannya. Padahal Asta sungguh ingin segera pergi meninggalkan taman karena dia harus bekerja. Namun, Asta memilih untuk berbalik badan dan kembali lagi. Tak tega melihat Mara yang tampak sangat kesakitan dari jauh.
"Cepetan!" perintah Asta. "Tawaran gue gak berlaku lama yah. Lima detik. Setelah hitungan kelima lo gak mau juga, gue pergi."
"Jangan gila deh! Di sini banyak orang. Malu gue!" Mara nyaris berbisik. Matanya meneliti sekeliling. Terlalu ramai. Terlalu banyak orang di taman. Beberapa mata justru kini tengah memerhatikannya dan Asta. Uh menyebalkan!
"Satu!"
"Andra!" Mara mulai panik sendiri.
"Dua! Tiga!"
Mata Mara bergantian melihat Asta dan orang-orang di taman. "Kenapa sih lo maksa banget?" dengus Mara ketika hitungan Asta sudah mencapai angka empat.
Ya ampun! Mara bingung sendiri. Tak tahu keputusan apa yang harus dipilihnya. Sementara rasa berdenyut di kakinya semakin menjadi. Sambil menggigit bibir bawahnya, Mara melompat ke punggung Asta. Masa bodoh dengan rasa malu yang saat ini menyelimuti pikiran Mara, yang jelas dia harus mengamankan diri dari rasa sakit berkepanjangan.
"Pegangan!" seru Asta. Diam-diam Asta menarik garis lengkung di bibirnya. "Kalau lo gak pegangan, gue gak tanggung akibatnya kalau lo jatuh nanti."
"Iya bawel!" Mara memejamkan mata sambil mencebik. Kesal sendiri. Ada perasaan sedikit menyesal karena dirinya memilih untuk digendong lelaki itu.
Namun, Asta telah berjalan. Lelaki itu melangkah melewati kerumunan pengunjung yang melirik ke arah mereka diam-diam. Untung di antara pengunjung itu tak ada orang yang Mara kenali. Tapi, demi menjaga diri dari segala bentuk skandal dan nyinyiran, Mara memilih untuk menundukkan kepala. Merapatkan wajahnya dengan punggung Asta. Bersembunyi agar tidak ada orang yang bisa melihatnya.
Kalau hal seperti ini disebut romantis, maka Mara akan menjadi orang pertama yang menyuarakan dengan keras bahwa apa yang sedang di alaminya itu sangat memalukan. Memangnya ini di dalam kisah drama romantis? Kisah nyata Mara saja berakhir tragis. Boro-boro dia menginginkan hal romantis. Harapannya sudah terkikis sejak kepergian lelaki yang sangat dicintainnya. Mara tersenyum miris.
Ada sebagian kecil dari dirinya yang menginginkan untuk digendomg Asta seperti saat ini. Dulu, Asta selalu menolak. Alasannya, karena Mara terlalu berat. Asta lebih sayang punggungnya dari pada berkorban untuk menggendong Mara. Menyebalkan bukan?
__ADS_1
Sekarang, keinginan Mara justru terkabul oleh lelaki paling menyebalkan kedua setelah Asta. Haruskah Mara merayakan hal yang membuatnya meringis itu? Ck! Asta ... lo kenapa sih gak balik aja? Mara menghela napas.
Ya ampun! Kenapa pikirannya selalu kembali pada Asta? Jiks begini, Mara benar-benar akan kesulitan untuk move on. Tidak! Tidak boleh. Msra sudah berjanji untuk melupakan Asta. Mara sudah berjanji untuk menjadi bahagia meskipun tanpa Asta. Maka dia segera menggelengkan kepalanya. Mara buru-buru menghapus pikiran mengenai Asta.
"Ngapain sih lo? Gerak-gerak terus. Lo kira badan lo gak berat apa?" protes Asta yang masih berjalan menyusuri trotoar. Dia sengaja tidak mengantar Mara menggunakan motornya.
Motor pinjaman dari Raja itu sudah dirancang khusus untuk pekerjaan mengirim makanan yang memesan secara online. Bagian kursi belakang sudah terpasang kotak box aluminium untuk menaruh makanan. Maka, motor matic itu sengaja ditinggalkan Asta di halaman parkir di taman.
"Derita lo! Lo sendiri yang maksa minta buat gendong gue tadi!" seru Mara di balik punggung Asta.
Asta meringis. "Lo gak paham istilah basa-basi? Meski gue maksa, sebenernya gue berharap lo milih untuk menolak tawaran gue."
Ya ampun! Pantas dari tadi Mara merasa sangat menyesal. Makhluk Tuhan yang satu itu telah membuat Mara naik pitam. "Ya udah turunin gue kalau gitu. Simple 'kan?" Mara mencoba untuk tetap bersabar.
Hampir setengah jam, dan kini keduanya telah sampai di depan sebuah pintu lift gedung apartemen Mara. Asta menurunkan Mara di dalam lift. Diam-diam Mara memerhatikan Asta. Lelaki itu tampak kelelahan. Mara jadi tak tega padanya. Rasa kesal dan sebalnya perlahan sirna.
"Makasih yah lo udah nganterin gue sampai sini," ucap Mara. Dia memainkan jari jemari sambil sesdkali melirik bayangan Asta terpantul dari pintu lift. "Setelah lift berhenti, lo gak perlu anterin gue sampai pintu. Lo pasti capek. Lo boleh pulang. Gue bisa sendiri kok jalan sampai ke apartemen gue."
Mara mencoba meyakinkam Asta. Dia tak enak jika lelaki itu terus membantunya. Tapi, ucapan Mara barusan tak diindahkan lelaki jangkung yang berdiri di sebelah Mara. Asta justru menggendong Mara lagi. Kali ini Mara digendong di depan. Ala-ala pengantin baru yang hendak memasuki kamar untuk berbulan madu.
Pipi Mara mendadak bersemu merah. "Andra! Turunin gak? Gue malu gila! Lo ngapain sih gendong gue dengan posisi kayak gini?"
Asta melirik sinis. "Bawel lo. Kalau gue gendong belakang kayak awal, lo pasti udah ngacir duluan dan milih jalan sendiri."
Mara terkekeh di dalam hati. Perlahan ada rasa hangat menjalar di dalam hatinya. Bagi Mara, lelaki bernama Andra itu terkadang sangat menyebalkan seperti Asta. Namun, terkadang terlihat sangat manis seperti Asta juga.
__ADS_1
"Apa sih lo lihatin muka gue terus? Gue gak berminat ditaksir sama cewek bar-bar kayak lo," protes Asta dengan pandangan lurus ke depan tanpa melihat ke arah Mara.
Lihat 'kan? Baru saja Mara merasa lelaki itu baik, tapi ... lagi-lagi Mara dijatuhkan dengan begitu sadis hanya karena ucapan laki-laki itu.
Tiba-tiba sebuah pintu kamar terbuka ketika Mara sampai di depan apartemennya. Seorang lelaki dengan tergesa-gesa keluar. Lelaki itu terkejut melihat Mara baru saja diturunkan dari gendongan seseorang.
"Lo kenapa, Mar?" seru Fachri bingung sambil berjalan cepat menhampiri sahabatnya. Mata Fachri mengamati Asta sebentar kemudian beralih pada Mara yang terlihat meringis kesakitan. "Tadi, bukannya lo lagi ada di taman buat joging? Kenapa lo pulang malah bawa cowok? Hayoh ... habis ngapain lo? Pake acara gendong-gendongan segala lagi. Gerak cepat juga lo."
Mara memutar kedua bola matanya saat melihat Fachri terkekeh. "Gak usah kejauhan mikirnya. Tadi itu ada insiden kecil di taman. Gue jatoh. Kaki gue sakit banget. Andra yang tadi nolongin dan gendong gue sampe sini," jawab Mara.
Bukannya paham, senyum di wajah Fachri semakin terkembang. "Digendong sampai pelaminan juga boleh kali."
"Gak usah mulai!"
Fachri tertawa. Mara mendelik sebal. Sementara Asta hanya diam.
"Gue balikin cewek bawel ini sama lo," tukas Asta sambil berbalik badan dan berlalu pergi. Mara terpaku di tempat dengan mata yang tak lepas mengamati punggung Asta yang kian menjauh.
Fachri berdeham. "Dari matamu, matamu ku mulai jatuh cinta ...."
"Berisik! Gue gak punya receh!" potong Mara ketika sahabatnya itu baru saja mulai bernyanyi. Fachri tertawa mengekor Mara yang terlebih dulu masuk ke dalam apartemennya.
♡ ♡ ♡
maafkan updatenya malem. aku tidur seharian. efek obat 😅😅
__ADS_1